F-R-I-E-N-D-S

F-R-I-E-N-D-S
Part 16: Depresi



Lia yang mengamuk tak terkontrol disana karena merasa depresi dengan segala masalahnya itu pun mengusir Fany dari sana dan terus mengatakan ingin menyendiri saja. Dirinya sudah tidak bisa lagi menahan semua amarah dan kesedihannya itu sehingga membuatnya memutuskan untuk melampiaskannya saat itu juga dengan mengamuk dan membentak Fany disana.


Dilihat dari desain ruangan itu pun,Fany dapat menyimpulkan bahwa disini adalah ruangan yang selalu digunakan Lia untuk menyimpan segala rasa depresi dan tertekannya dengan kehidupannya yang mungkin sudah cukup berat di usianya yang masih muda itu. Tidak seperti kafe yang memiliki suasana cerah dan ceria diluarnya,ruangan ini lebih mirip penjara yang begitu kelam dan menyedihkan.


Ternyata setelah dilihat kembali,mungkin saja kafe ini merupakan penggambaran dari diri Lia sendiri yang cerah dan ceria diluar namun begitu depresi dan tertekan di dalamnya.


Lia mungkin memiliki hati yang begitu rapuh,sehingga dirinya membuat ruangan khusus di kafe miliknya ini. Fany pikir,karena tidak ada lagi tempat bersandar baginya untuk mengungkapkan segala perasaan sakit hati dan kesedihannya itu,Lia pun hanya bisa mengungkapkannya dengan menangis sepuasnya di ruangan yang gelap nan kelam ini.


Masalah seperti ini sudah bukan masalah yang sepele lagi,melainkan masalah serius yang harus segera ditangani Lia dengan bantuan orang lain supaya tidak berdampak terlalu jauh padanya.


Ia tidak ingin orang seperti Lia yang tersakiti hatinya untuk kedua kalinya oleh sahabatnya sendiri itu terus merasa sendirian tanpa teman satupun yang bersedia menjadi tempat bersandar dan berbagi segala kesedihan dan depresinya dengan kehidupannya yang sudah begitu berat itu hingga nanti bisa membuatnya melakukan hal-hal diluar nalar.


Sehingga,Fany yang langsung menyadari rasa depresi Lia itu pun tidak bisa membiarkannya merasa tertekan sendirian begitu saja karena tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Lia. Fany kemudian pergi mendekati Lia yang masih mengamuk tak terkontrol di sofa tempat duduknya itu untuk mencoba menenangkan dirinya yang sedang meluapkan segala amarahnya itu.


Meluapkan amarah dan kesedihan bukanlah hal yang salah untuk dilakukan setiap orang. Namun,dalam meluapkannya tentunya ada porsinya sendiri supaya tidak menjadi suatu rasa stres yang akhirnya malah bisa menumpuk kembali di dalam hatinya yang malah membuatnya semakin depresi.


Sehingga,lebih baik untuk meluapkan rasa sedih dan kesal itu dengan menceritakannya dengan orang dekat yang dimiliki daripada harus mengamuk seperti Lia ini yang malah bisa membuat emosi memuncak dan menyebabkan timbulnya rasa stres di dalam hati dan pikiran lagi.


Fany begitu paham dengan hal-hal berkaitan perasaan orang seperti Lia yang terus menumpuk rasa sedih dan kesalnya di dalam hatinya sendiri ini karena dirinya yang merupakan mahasiswi di bidang psikologi. Sehingga,ia pun bisa langsung tahu apa yang harus dilakukannya saat ini untuk menenangkan Lia yang sedang mengamuk itu.


Fany kemudian duduk kembali di dekat Lia yang masih tidak terkontrol dengan baik itu untuk kemudian meminta Lia agar mau bercerita tentang masalah yang sebenarnya dialaminya kepadanya itu. Sebelum itu,Fany pun berusaha terlebih dahulu memeluk Lia yang sedang meluapkan segala rasa kesal dan sedihnya secara berlebihan hingga melupakan kesehatan mentalnya lagi itu dengan erat dan penuh rasa peduli padanya.


Perlahan,Lia yang tadinya sama sekali tidak bisa mengontrol dirinya sendiri itu pun sedikit demi sedikit mulai menenangkan dirinya sendiri berkat Fany yang begitu sayang dan peduli pada Lia yang baru dikenalnya itu.


Menyadari Lia sudah menenangkan dirinya kembali,Fany pun memulai berbicara kembali padanya untuk membujuknya agar mau menceritakan masalahnya yang sebenarnya yang membuat perempuan dengan image yang baik seperti dirinya ini bisa menjadi perempuan yang sangat tertekan dengan kehidupannya sendiri ini.


"Lia,jadi apa yang sebenarnya membuatmu sampai bertingkah seperti ini?",tanya Fany lembut dan halus mencoba membujuk Lia untuk mau membuka hati dan mulutnya yang terkunci rapat itu agar Fany bisa mengetahui masalahnya yang sebenarnya menimpanya itu.


"Ceritakan saja kepadaku... aku siap kok jadi temanmu yang bakal setia mendengarkan segala permasalahan yang kamu alami,jadi ayo ceritakan saja...",sambung Fany yang sangat peduli pada Lia,perempuan yang baru dikenalnya beberapa saat yang lalu itu.


Fany kemudian melanjutkan kembali pembicaraannya tadi agar Lia mau segera membuka kembali hati dan mulutnya itu untuk menceritakan masalah hidupnya yang begitu berat itu.


Memang dengan menangis di pundaknya dapat mengurangi rasa kesal dan sedihnya yang sudah dipendamnya dari lama itu,namun lebih baik lagi jika dirinya mau bercerita kepada Fany tentang masalah yang sebenarnya menimpanya hingga membuat dirinya depresi itu. Fany hanya ingin mencoba membantu menyelesaikan permasalahan antara Geri dan Lia yang malah berkelanjutan hingga membuat Lia depresi ini.


Fany sendiri pun sebenarnya juga bingung jika tidak tahu apa yang sebenarnya yang menjadi masalah antara Lia dan Geri ini jika dirinya hanya baru sedikit saja tahu tentang secuil masalah yang menyebabkan Lia marah pada Geri hari ini. Fany perlu tahu lebih mendalam lagi tentang persoalan antara dua sahabat ini supaya bisa menemukan solusi yang tepat untuk membantu Lia keluar dari rasa tertekan dalam hatinya itu dan mendamaikan keduanya segera.


"Pasti berat ya hidupmu...",kata Fany mengasihani Lia yang menjalani hidupnya dengan penuh tekanan dan kekesalan yang membuatnya depresi itu.


"Sudahlah,sekarang kamu bisa ceritakan semuanya ke aku,Lia... aku bakal setia dengerin kamu kok",sambung Fany terus membujuk Lia untuk menceritakan masalah yang sebenarnya menimpanya itu.


Selang beberapa saat,akhirnya Lia yang membisu dan menutup hatinya dari tadi pun akhirnya perlahan mulai menceritakan masalah yang sebenarnya dialaminya baik masalahnya dengan keluarganya maupun dengan Geri,sahabatnya itu. Lia bercerita panjang lebar mengenai masalah yang menimpanya hingga membuatnya sangat depresi dan tertekan menjalani hidupnya yang tanpa disadari Fany begitu berat itu.


Fany pikir,menjadi keturunan dari keluarga orang kaya akan membuat Lia hidup dengan bahagia karena selalu dikelilingi dengan harta yang dapat memberinya kebahagian dan nikmat dunia ini. Namun,ternyata pendapatnya mengenai hal itu salah kaprah setelah melihat Lia yang justru depresi dengan kehidupannya yang bahkan malah lebih berat dari Fany yang berasal dari keluarga pas-pasan itu.


...----------------...


Sekian dulu untuk part ini,semoga para Friendlies selalu menyukai setiap part cerita dari author ini ya,makasih!😘😘😘


Dan untuk para Friendlies...


Dukung terus novel ini ya!😘


Dengan Like,Comment,Favoritkan,Rate Bintang 5,dan Votenya!❤️🤗


Terimakasih


Salam hangat dari author ❤️❤️❤️