F-R-I-E-N-D-S

F-R-I-E-N-D-S
Part 23: Hidangan Dari Hati



Sambil terus memikirkan tentang ayahnya yang telah berubah seratus delapan puluh derajat dari yang dulu itu,Lia pun membersihkan rambut dan tubuhnya di dalam kamar mandi pribadi miliknya yang berada di kamarnya.


Hingga pada akhirnya,Lia pun selesai mandi dan berganti pakaian lalu pergi berjalan keluar dari kamar mandi menuju ke tempat cuci jemur miliknya yang berada di samping kamar mandinya itu untuk menjemur handuk yang digunakannya tadi. Lia kemudian beribadah shalat maghrib terlebih dahulu sebelum duduk bersantai di kamarnya untuk menenangkan dirinya yang cukup stres itu.


Kemudian,ibu Lia yang dari tadi sibuk di dapur itu pun memanggilnya yang baru saja selesai menunaikan ibadah itu untuk duduk terlebih dahulu di meja makan kamar Lia itu.


"Lia,sini dulu nak",panggil Esti,ibu Lia begitu melihat Lia keluar dari area cuci jemur kamarnya itu.


"Eh,iya ada apa bu?",sahut Lia menanggapi ibunya yang terlihat sedang mempersiapkan sesuatu di meja makannya itu.


Lia kemudian berjalan menghampiri tempat dimana ibunya yang ternyata sedang menyiapkan makanan dan minuman hangat untuk menenangkan dan menghangatkan pikiran dan tubuh Lia yang tadi sungguh tertekan tadi itu.


Dan ternyata,ibunya itu menyajikan makanan western penghangat tubuh favorit Lia,Solyanka khas Rusia dan minuman western yang juga digemari Lia yaitu Champurrado khas Spanyol.


Esti paham betul apa yang disukai anaknya,Lia itu sehingga dirinya pun langsung membuat kedua hidangan itu di dapur Lia yang memiliki bahan-bahan lengkap dan berkualitas tinggi itu saat Lia sedang mandi. Dirinya juga tahu Lia yang baru saja disiksa oleh ayah dan keluarga tirinya itu pasti merasa begitu tertekan dan stres dalam hatinya,sehingga setidaknya ibunya itu bisa sedikit menenangkan kondisi psikis dan fisik Lia yang lelah karena stres dan tertekan itu dengan memberinya hidangan favorit Lia.


"Makan dulu yuk,nak... ini ada Solyanka sama Champurrado favoritmu,tadi ibu masakin buat kamu",kata ibu Lia sambil menyuguhkan semangkuk Solyanka dan segelas Champurrado favorit Lia di atas meja makan di hadapan Lia yang baru selesai mandi itu.


"Wah... ibu bikin semua ini buat aku? makasih ya bu",kata Lia merasa senang dengan ibunya yang membuatkan hidangan favoritnya itu khusus untuknya.


"Iya,ayo duduk makan dulu mumpung masih hangat ini Solyankanya",kata Esti mempersilahkan Lia untuk segera menyantap hidangan buatannya itu selagi masih hangat.


Lia kemudian duduk di hadapan meja makan yang sudah tersaji dua hidangan favoritnya itu lalu dengan antusias langsung mengambil sendok untuk menyantap Solyanka buatan ibunya itu.


Namun sebelum Lia menyantap makanan buatan ibunya itu,terlebih dahulu Lia mengambil sesuap Solyanka dan mengajukan sendoknya ke arah mulut ibunya.


Lia yang merupakan anak kandung dari Esti itu merasa tidak enak jika menyantapnya sendiri padahal di depannya ada ibunya yang sudah dengan tulus dan penuh cinta membuat masakan itu untuknya,sehingga Lia pun berniat untuk membagi Solyanka favoritnya itu dengan ibunya tercinta.


"Eh,ngapain Lia... udah,ibu nggak usah makan biar kamu aja... ibu udah kenyang kok",kata ibu Lia itu menolak sesuap Solyanka yang diberikan oleh Lia dengan tulus dan penuh cinta itu.


Sudah sering sekali Lia mendengar kalimat ibunya yang selalu menolak suapan darinya yang memang dengan tulus membaginya itu. Selalu saja ketika ditawari makanan,ibunya itu selalu menolak dan mengatakan bahwa dirinya sudah kenyang padahal jika dilihat saja tubuhnya itu lemas seperti tidak berisi sama sekali.


Dan biasanya,ibunya itu selalu hanya mengambil beberapa bagian dari masakannya sendiri yang menempel di panci tempat memasaknya tadi dan sama sekali tidak pernah mengambil bagiannya sendiri saat masakannya masih cukup banyak.


Ibu Lia itu selalu melakukan hal itu hanya pada saat memasakkan makanan untuk Lia dan suaminya,sehingga membuat Lia terkadang merasa tidak nyaman saat menikmati makanannya sendirian.


Tak berhenti di situ saja,bahkan setelah Lia selesai makan pun ibunya itu tidak pernah membiarkan Lia yang sudah dewasa itu untuk mencuci piring bekas makannya sendiri karena memedulikan kecantikan dan kemulusan tangan Lia yang mendapat perawatan secara rutin setiap harinya itu sehingga membuat Lia terkadang merasa diperlakukan seperti anak kecil.


Dan sekarang,hasil dari seluruh perawatan dan perlindungannya pada Lia itu pun sama sekali tidak mengecewakan hatinya. Lia yang sudah mendapat perawatan kecantikan dari lahir itu pun sekarang berhasil tumbuh menjadi seorang perempuan berwajah cantik nan menawan dengan bentuk tubuh sempurna sesuai apa yang diharapkan ibunya yang merawatnya itu.


Ibu Lia yang melihatnya tumbuh menjadi perempuan cantik juga baik itu pun merasa bangga akan dirinya sendiri karena akhirnya berhasil merawat Lia sesuai dengan apa yang diharapkannya selama 23 tahun hidup bersama Lia ini.


Kembali lagi di saat Lia hendak menyuapi ibunya yang kelihatan kelelahan dan lemas seperti dirinya itu. Lia yang bersikukuh untuk membagi makanan favoritnya dengan ibunya tercinta itu pun membujuk ibunya yang juga bersikukuh untuk menolak suapannya itu dengan halus dan lembut.


Sehingga,sampai sesendok Solyanka buatan Esti yang berada di depan mulut ibu Lia itu dingin terkena angin pun belum tersentuh sama sekali karena ibu dan anak yang sama-sama bersikukuh dengan keputusannya masing-masing itu.


"Sudahlah Lia,kamu habisin sendirian aja... ibu udah makan diluar kok tadi",kata ibu Lia berbohong kepada Lia supaya dirinya itu mau segera menghabiskannya sendirian tanpa memperhatikan ibunya yang terlihat lemas itu.


"Nggak,ibu pasti bohong... ibu aja kelihatan lemas gitu kok,sudahlah bu kita makan bareng aja",sanggah Lia yang sudah paham dengan kebohongan ibunya itu.


"Sudahlah Lia,kamu makan sendiri saja... ibu nggak papa kok",kata ibu Lia itu terus menolak sesuap Solyanka dari Lia itu.


Sehingga,di malam itu Lia dan ibunya itu pun terus berdebat persoalan sesuap Solyanka dari Lia untuk ibunya yang terus ditolak itu hingga pada akhirnya mereka berdua pun lelah berdebat dan Solyanka yang tadinya masih panas pun berubah menjadi dingin karena dibiarkan di meja makan itu terlalu lama.


Ibu dan anak itu pun akhirnya mengakhiri perdebatan sepele yang melelahkan itu dan memutuskan untuk memakan Solyanka yang sudah dingin itu bersama-sama saja karena ibunya yang juga pada akhirnya mengalah padanya karena tahu Lia yang memang kurang suka dengan Solyanka yang sudah dingin itu.


Mereka berdua kemudian mengakhiri hari mereka yang sama-sama melelahkan itu dengan menyantap Solyanka yang sudah dingin itu bersama lalu menunaikan ibadah dan tidur berdua dengan nyenyak di kamar Lia yang memiliki tempat tidur yang sangat besar untuk dua orang itu agar siap menyambut hari esok yang diharap lebih baik.


...----------------...


Sekian dulu untuk part ini,semoga para Friendlies selalu menyukai setiap part cerita dari author ini ya,makasih!😘😘😘


Dan untuk para Friendlies...


Dukung terus novel ini ya!😘


Dengan Like,Comment,Favoritkan,Rate Bintang 5,dan Votenya!❤️🤗


Terimakasih


Salam hangat dari author ❤️❤️❤️