F-R-I-E-N-D-S

F-R-I-E-N-D-S
Part 11: Kesalahan Serupa Tapi Tak Sama



Mengingat kejadian dua minggu lalu yang benar-benar menempatkannya dalam masalah besar karena kelalaiannya waktu itu membuat Geri yang mengulangi kesalahan yang sama lagi saat ini pun menjadi panik di tengah jalan. Lagi-lagi,ia tidak dapat menepati janjinya dengan Lia yang sudah dengan bahagia dan sabar menantinya itu.


Geri merasa sangat bersalah pada Lia atas segala kelalaiannya itu untuk kedua kalinya dalam hubungan persahabatan ini. Ia tahu bahwa Lia juga tidak suka dengan seseorang yang mengulangi kesalahannya berulang kali padanya,sehingga Geri pun mulai cemas jika nanti Lia tidak akan memaafkannya untuk kedua kalinya.


Namun,situasi kali ini sedikit berbeda karena kali ini bukanlah sepenuhnya kelalaian Geri melainkan setengahnya adalah disebabkan rasa kemanusiaan Geri yang bergerak begitu melihat Fany yang malang dikepung dan dipalak oleh kedua berandal tadi.


Memang kali ini Geri sungguh sudah sangat kelewatan karena lupa lagi dengan janjinya sendiri pada Lia dan sangat terlambat dari waktu yang ditentukannya sendiri,namun kelalaiannya itu bukanlah disebabkan oleh dirinya sendiri melainkan disebabkan karena ada suatu kejadian mendesak yang membutuhkan pertolongannya segera tadi sehingga membuatnya yang cukup peduli dengan orang lain itu tidak tega meninggalkannya begitu saja.


Geri memang lebih memprioritaskan orang lain di atas dirinya sendiri dalam beberapa hal,sehingga sangat sulit baginya tadi meninggalkan Fany begitu saja meski sudah melihatnya begitu tertekan disana sendirian.


Namun,memprioritaskan orang lain di atas kepentingannya sendiri bukanlah suatu hal yang selalu benar dan tepat dilakukan karena jika dirinya terus mementingkan orang lain tanpa memikirkan juga resiko dari dirinya yang mengesampingkan urusannya sendiri itu dapat membuat dirinya sendiri malah jatuh ke dalam masalah yang bisa saja akan membesar seperti masalahnya kali ini. Dan kali ini,tentunya resiko yang sangat besar pun sudah menantinya yang tidak menepati janjinya dengan Lia untuk kedua kalinya itu.


Geri pun berpikiran bahwa kali ini untuk mendapatkan maaf dari Lia akan lebih berat dan sulit lagi karena Lia tidak akan bisa semudah itu memaafkan kesalahannya yang sama untuk kedua kalinya dalam hubungan persahabatan mereka ini. Dan,pemikiran Geri kali ini pun benar-benar terjadi di depannya saat ini dimulai dengan Lia yang tidak mau mengangkat teleponnya dari tadi.


Geri yang cemas dan panik disana pun berusaha memikirkan sebuah cara untuknya meminta maaf untuk kedua kalinya pada Lia atas kesalahannya yang mirip dengan kesalahannya dua minggu yang lalu itu. Dan pada akhirnya,Geri pun terpikirkan oleh sebuah cara yang menurutnya mungkin akan membantunya mendapatkan maaf dari Lia.


Geri berencana untuk datang langsung saja ke rumah Lia untuk meminta maaf tatap muka dengannya karena ia pikir tentunya Lia sudah tidak ada di tempat yang dijanjikannya dari jauh-jauh hari itu. Sehingga,tanpa membuang-buang waktu lagi Geri pun memutuskan untuk segera pergi ke rumah Lia saat itu juga sebelum Lia benar-benar marah kepadanya seperti kejadian dua minggu lalu.


Namun,kali ini tentunya ia tidak akan berangkat sendirian saja kesana karena dirinya juga membutuhkan bantuan orang lain dalam rencananya itu. Dan orang lain itu adalah yang tak lain dan tak bukan lagi tentunya adalah Fany yang sedang bersamanya saat itu.


Ia membutuhkan Fany sebagai saksi dari kejadian tadi untuk memperkuat ceritanya pada Lia agar Lia lebih mudah memaafkannya nanti. Dengan adanya Fany nanti,itu akan sangat membantu Geri dalam menceritakan pada Lia mengenai apa yang sebenarnya terjadi tadi hingga membuatnya terpaksa tidak menepati janjinya padanya itu.


Meskipun Lia memiliki sisi yang begitu mengerikan saat dirinya marah,namun dirinya tetaplah seorang perempuan yang memiliki hati yang lemah lembut dan berjiwa kemanusiaan dalam dirinya.


Sama seperti Geri,Lia juga sedikit cenderung mementingkan kepentingan orang lain daripada kepentingannya sendiri dalam beberapa hal khusus seperti di saat-saat melihat seseorang terdesak ataupun terancam. Sehingga hal inilah yang membuat Geri semakin yakin bahwa Lia akan lebih mudah memaafkannya jika dirinya datang bersama Fany yang berusaha ditolongnya tadi.


Geri yang sudah mantap dengan rencananya meminta maaf kepada Lia itu pun langsung mengajak Fany untuk ikut bersamanya ke rumah Lia saat itu juga agar masalahnya ini cepat selesai.


"Fany,lo bisa ikut gue sebentar nggak?",tanya Geri berusaha mengajak Fany untuk ikut bersamanya ke rumah Lia saat itu.


"Kemana emangnya?",tanya Fany.


"Ke rumah temen gue",jawab Geri.


"Udah gawat banget,gue butuh bantuan lo nih...",kata Geri panik dan khawatir dengan amarah Lia yang mungkin akan terus memuncak padanya seiring berjalannya waktu itu.


"Oke deh,tapi emangnya ada apa sih kok dari tadi kamu keliatan panik banget gitu?",tanya Fany yang dari tadi terus penasaran dengan Geri yang terlihat begitu panik dan cemas itu.


"Nanti gue ceritain di jalan,pokoknya lo ikut gue aja deh",jawab Geri tergesa-gesa ingin segera pergi ke rumah Lia untuk meminta maaf padanya itu.


"Iya deh",balas Fany.


Geri kemudian memutar sepedanya berbalik arah dengan cepat untuk kemudian mengayuhnya pergi menuju ke rumah Lia yang cukup jauh dari posisinya saat ini. Geri pun merasa ada yang aneh begitu dirinya mengayuh sepedanya saat itu.


"Geri!",panggil perempuan itu.


Geri yang menyadari hal itu pun langsung menghentikan laju sepedanya dan menengok ke belakangnya untuk mengecek siapa yang berteriak memanggil namanya itu. Dan ternyata,perempuan yang memanggil namanya dari belakangnya itu adalah Fany yang diajaknya untuk ikut bersamanya ke rumah Lia tadi.


Ternyata,Fany sempat turun dari sepeda saat Geri tengah sibuk menelepon dan memikirkan Lia yang akan marah besar padanya itu. Namun,Geri yang sudah panik dan cemas disana tadi tidak menyadarinya sehingga tanpa mengecek ke belakangnya Geri pun langsung mengayuh sepedanya yang baru saja berkurang bebannya tadi.


Geri kemudian memutar kembali sepedanya itu dan menghampiri Fany yang ditinggal dengan tak bertanggung jawab sendirian oleh Geri tadi.


"Aku belum naik udah langsung main kayuh-kayuh aja kamu",kata Fany kesal dengan Geri yang sudah tergesa-gesa hingga meninggalkannya sendirian disana itu.


"Eh,iya-iya maaf... pantesan aja tadi kerasa enteng banget,hehe",balas Geri meminta maaf sambil tersenyum ke arah Fany yang sudah kesal dengannya itu.


"Ya entenglah,dasar ih",kata Fany kesal kepada Geri.


"Ya udah,yuk cepetan naik sekarang udah nggak keburu lagi nih... kali ini naik yang bener,ya",balas Geri.


"Udah nih",kata Fany selesai naik dan duduk di belakang Geri.


"Beneran udah nih? ini Fany yang asli atau hantu nih,kok berat?",kata Geri malah meledek Fany yang sudah naik dan siap berangkat itu sambil tersenyum lucu padanya.


"Ih,apaan sih?! nggak lucu tau,ayo berangkat cepet katanya udah nggak keburu",balas Fany tambah kesal dengan lelucon Geri padanya itu.


"Iya-iya,siap-siap ya...",kata Geri sambil memulai mengayuh sepedanya kembali saat itu.


Geri dan Fany kemudian berangkat bersama dengan tergesa-gesa ke rumah sahabat Geri,Lia yang sedang marah besar pada Geri yang sudah ingkar janji lagi padanya itu.


...----------------...


Sekian dulu part ini,semoga para Friendlies selalu menyukai setiap part cerita dari author ini ya,makasih!😘😘😘


Dan untuk para Friendlies...


Dukung terus novel ini ya!😘


Dengan Like,Comment,Favoritkan,Rate Bintang 5,dan Votenya!❤️🤗


Terimakasih


Salam hangat dari author ❤️❤️❤️