F-R-I-E-N-D-S

F-R-I-E-N-D-S
Part 28: Warteg Langganan



Suatu pagi di hari selasa yang mendung...


Saat itu langit terlihat begitu gelap dipenuhi awan mendung yang mengepung dari segala penjuru hingga sang surya tak tampak dari tanah tempat Geri berpijak.


Geri yang sudah siap berangkat ke kampusnya pagi ini pun mengambil jas hujannya lalu memasukkannya ke dalam jok motornya untuk jaga-jaga jika nanti hujan di jalan. Ia kemudian mengunci pintu kostannya lalu berjalan kembali menuju motor dan langsung tancap gas menuju kampusnya.


Geri yang berangkat pagi-pagi sekali itu mengendarai motornya dengan santai di tengah jalanan kota yang masih sepi akan kendaraan bermotor lainnya itu hingga pada akhirnya,setelah 10 menit perjalanan dari rumahnya itu dirinya pun sampai di depan kampus perguruan tinggi tempatnya menempuh ilmu kedokteran disana.


Suasana fakultas kedokteran saat itu masih sepi tanpa ada satupun mahasiswa di dalamnya karena jarum jam yang ternyata masih menunjukkan pukul 05.30 itu. Hanya ada pak satpam dan karyawan kebersihan di dalam sana yang tentunya sudah berada disana jauh lebih lama sebelum Geri yang baru saja sampai di depan fakultas kedokterannya itu.


Geri yang berangkat pagi-pagi buta meski sudah tahu pasti belum ada satupun dari mahasiswa fakultasnya yang berangkat secepat dirinya itu pun memiliki alasannya sendiri,yaitu ingin mencari sarapan di sekitar kampusnya sebelum memulai jam kuliah paginya nanti.


Gas di kostannya baru saja habis tadi pagi ketika dirinya hendak memasak mie instan sebagai sarapannya dan belum ada satupun toko kelontong penjual gas yang sudah buka pagi itu,sehingga mau tak mau Geri pun harus sarapan di luar demi mengisi perutnya yang sudah keroncongan pagi-pagi itu.


Geri kemudian memarkirkan motornya di depan warteg langganannya yang berada di area pertokoan depan fakultas kedokterannya itu untuk kemudian sarapan disana sendirian.


Geri yang sudah akrab dengan ibu penjaga warteg itu pun langsung menghampirinya di dalam tempatnya melayani semua orang yang hendak makan disana untuk memesan menu sarapan favoritnya di warteg favorit mahasiswa pas-pasan seperti dirinya itu.


"Eh,mas Geri... sarapan mas?",kata bu Wati,pemilik warteg menyadari kedatangan Geri,pelanggan setianya yang hampir setiap hari mampir ke warteg miliknya itu.


"Iya nih,kayak biasa aja ya bu!",balas Geri memesan makanan yang biasa disantapnya disana yang tentunya sudah dihafal oleh bu Wati.


"Pasti gasnya habis lagi ya mas...",kata bu Wati langsung hafal pula dengan alasan Geri yang sarapan pagi disana itu.


"Tau aja nih,bu Wati...",jawab Geri santai asik bercengkrama dengan ibu pemilik warteg itu.


"Ya iyalah,kenapa lagi kan kalo mas Geri dateng sarapan kesini... hahaha",ucap bu Wati bercanda tawa dengan Geri,pelanggan setianya itu.


Geri dan bu Wati pun bercanda tawa di hadapan seluruh orang di warteg yang sedang menikmati sarapan mereka masing-masing pagi itu hingga pada akhirnya,bu Wati pun selesai menyiapkan nasi dan lauk pesanan Juna tadi.


Di dalam piring warteg berukuran sedang pesanan Geri itu sudah terdapat nasi,telur dadar,dan kering tempe favorit Geri disana yang sudah dapat membuat Geri bersemangat dan bertenaga menjalani pagi harinya di kampus itu.


Hanya cukup mengeluarkan uang senilai 10 ribu disana,dirinya sudah mendapat paket sarapan lengkap baginya yang akan bertahan lama dalam dirinya ini sampai siang nanti.


Namun kali ini ada yang berbeda dari menu pesanannya yang sudah dihafal oleh bu Wati itu,sehingga Geri yang menyadarinya pun langsung menanyakan hal tersebut pada bu Wati yang mungkin salah memberikan menu pesanannya itu.


"Bu Watu,kok ada cumi asam manis nyasar kesini nih?",tanya Geri menanyakan kelebihan lauk yang diberikan bu Wati padanya itu sambil menyisipkan sedikit candaan dalam kalimatnya.


"Ah... kan mas Geri udah jadi pelanggan warteg sini tho... ya itung-itung bonus dari saya lah itu...",jawab bu Wati yang dengan baik hati dan tulus memberi bonus lauk istimewa pada Geri yang hampir setiap hari mampir ke wartegnya itu.


"Wah,kalo gitu makasih banyak ya bu cuminya!",ucap Geri berterimakasih pada bu Wati.


"Eee... Enak aja kamu,udah dikasih hati minta jantung!",balas bu Wati menanggapi bercandaan Geri itu.


"Dasar anak nggak tahu diri kamu ya",kata bu Wati mengatai Geri sebagai candaan balasan belaka sambil mengangkat centong sayur dalam tangannya hendak memukul Geri yang bercanda padanya itu.


Mereka berdua pun tertawa lucu bersama para pelanggan warteg lainnya yang memperhatikan interaksi antara Geri dan bu Wati yang sudah seperti anak dan ibu itu.


Geri memang sudah sering makan disana sejak awal dirinya berkuliah disana,sehingga bu Wati pun benar-benar mengenalnya dan sangat dekat dengannya serta menganggapnya sudah seperti anaknya sendiri di wartegnya itu. Sungguh hubungan baik yang terjalin cukup lama antara Geri dan bu Wati,sang pemilik warteg langganannya itu.


Geri yang sudah selesai bercanda tawa dengan bu Wati,pemilik warteg yang sudah seperti ibunya sendiri itu pun kemudian mencari tempat duduk kosong di antara lautan manusia yang sudah memenuhi seluruh penjuru warteg sebelum dirinya ini datang pagi-pagi sekali itu.


Setelah sibuk mencari-cari tempat makan yang kosong disana,akhirnya Geri pun menemukan sebuah kursi kosong yang berhadap-hadapan dengan meja yang sedang ditempati oleh seorang perempuan berambut panjang di sisi sebaliknya itu.


Geri yang tidak dapat menemukan tempat duduk lainnya itu pun langsung berjalan pergi menuju kursi di hadapan meja yang sedang ditempati oleh seorang perempuan itu.


Ia kemudian meminta izin terlebih dahulu untuk duduk di hadapan perempuan yang terlihat seperti anak kampus yang sama dengannya itu sebelum menempatinya dan menyantap sarapannya disana.


"Misi... aku ikutan makan disini ya?",tanya Geri meminta izin pada perempuan yang juga tengah menyantap sarapannya di meja itu.


Mahasiswi yang ternyata berasal dari fakultas kedokteran yang sama dengan Geri itu pun mendangakkan kepalanya mengarah pada Geri yang berbicara padanya itu.


"Oh iya-iya,boleh kok... duduk aja",jawab perempuan itu santai mengizinkan Geri yang untuk sarapan semeja bersamanya.


Dan ternyata setelah saling bertatapan,perempuan itu pun langsung tersadar dan sangat terkejut begitu mengetahui bahwa yang meminta izin duduk di hadapannya itu ternyata adalah Geri.


Sehingga,mahasiswi sefakultas dengan Geri yang masih mengunyah makanannya dalam mulutnya itu pun tiba-tiba menyemburkan seluruhnya ke arah Geri yang baru saja duduk dengan tenang hendak menyantap sarapannya sendiri itu saking terkejutnya dirinya karena sebuah alasannya tersendiri.


...----------------...


Sekian dulu untuk part ini,semoga para Friendlies selalu menyukai setiap part cerita dari author ini ya,makasih!😘😘😘


Dan untuk para Friendlies...


Dukung terus novel ini ya!😘


Dengan Like,Comment,Favoritkan,Rate Bintang 5,dan Votenya!❤️🤗


Terimakasih


Salam hangat dari author ❤️❤️❤️