
Setelah kejadian dua minggu lalu yang membuat Lia begitu tertekan dan tersiksa hingga hampir merasa trauma namun berhasil disembuhkan dan ditenangkan oleh ibunya yang begitu menyayanginya itu. Namun meskipun sudah sempat disembuhkan oleh ibunya itu,tentunya tetap saja masih ada rasa tersiksa yang berbekas dalam hati Lia yang sempat rapuh juga karena Geri itu.
Sayangnya,dalam dua minggu menuju hari dimana Geri menjanjikannya untuk pergi makan bersama dan jalan-jalan bersama itu cobaan dan siksaan pun tak kunjung reda menghujani Lia yang baru saja memulihkan dirinya malam itu.
Seiring berjalannya hari selama dua minggu itu pun perlakuan tidak manusiawi dan penyiksaan yang dilakukan oleh keluarga tirinya bersama ayah kandungnya yang sudah berubah sepenuhnya karena istri barunya itu pun semakin beragam pula tingkatannya.
Mulai dari hinaan-hinaan tak wajar yang menghujaninya setiap hari hingga berbagai macam bentuk kekerasan,semuanya sudah dirasakan Lia yang sungguh miris nasibnya itu. Semua hinaan dan siksaan yang didapat Lia itu sebenarnya hanya karena sebuah hubungan istimewa yang terjalin antara dirinya dan Geri yang hanya lelaki pas-pasan itu.
Keluarga tirinya dan ayah kandungnya menganggap Lia telah mempermalukan dan merusak image keluarga mereka yang hidup bergelimang harta dan dipandang terhormat di kalangan masyarakat itu dengan terus berinteraksi bahkan menjalin hubungan istimewa dengan lelaki dari keluarga pas-pasan seperti Geri itu.
Namun sekali lagi sama seperti Geri,Lia yang sudah lama menjalin hubungan istimewa ini pun tak ingin hubungan ini berakhir begitu saja hanya karena alasan sepele seperti itu. Sehingga,meskipun tersakiti berkali-kali Lia pun berusaha kuat menahan semuanya dengan kekuatan tali persahabatanya dengan Geri yang begitu disayanginya.
Melihat Lia yang pantang menyerah mempertahankan hubungannya dengan Geri itu pun membuat tante Reni,ibu tiri Lia semakin keterlaluan lagi pada Lia.
Dirinya yang benar-benar sudah muak melihat Lia yang terus bersikeras untuk mempertahankan persahabatannya dengan Geri itu pun terus menambah rasa sakit dan tersiksa pada hati Lia yang rapuh itu dengan menyiksanya dengan berbagai macam cara untuk membuatnya menyerah memperjuangkan hubungan yang baginya hanyalah hubungan sampah belaka itu.
Lia yang disiksa tanpa henti setiap harinya itu pun merasa sangat tertekan dalam hatinya karena terus berusaha sekuat mungkin menahan segala rasa sakit dan emosi yang dirasakannya ini.
Dirinya pun terus menahan semuanya sendirian tanpa seorangpun yang tahu apa yang sebenarnya dirasakannya selama ini,bahkan Geri dan ibunya yang begitu peduli padanya sekalipun hingga membuat dirinya yang tidak bisa mengungkapkan perasaannya yang terpendam itu pun menjadi merasa depresi.
Namun,sekarang dirinya sudah memiliki seorang teman yang mampu menjadi obat lara hatinya yaitu,Fany yang baru dikenalnya itu. Fany yang sama-sama perempuan itu langsung bisa memahami apa yang sebenarnya dirasakan Lia yang depresi itu padahal baru pertama kali bertemu dan melihatnya.
Sehingga,pada akhirnya Lia pun merasa sangat senang bisa memiliki Fany sebagai pengganti ibunya di sisinya saat ini. Sungguh beruntung baginya bisa bertemu dengan orang yang dapat memahami perasaannya sebaik ibunya yang begitu menyayanginya itu.
Sekarang,setidaknya dirinya itu bisa sedikit lebih tenang dari sebelumnya karena sudah memiliki Fany yang juga bersedia menjadi teman curhatnya yang siap mendengarkan setiap keluh kesahnya mengenai kehidupannya yang begitu berat itu.
Lia yang akhirnya merasa tenang dan senang berkat kehadiran Fany itu pun mengakhiri segala kesedihan dan ketersiksaannya itu lalu melepaskan pelukannya dengan Fany dan tersenyum bahagia padanya yang telah dengan tulus menemaninya di saat-saat terendah hidupnya tadi.
"Fany,makasih ya karena kamu udah mau temenin aku dari tadi",kata Lia berterimakasih pada Fany yang telah bersedia menjadi temannya yang dengan setia mendengarkan segala keluh kesahnya tentang kehidupannya dari tadi itu.
"Iya,Lia sama-sama...",balas Fany sambil membalas senyuman Lia.
"Jadi,sekarang kamu nggak perlu sedih lagi ok? kan kamu udah punya aku buat curhat,cerita aja apapun masalahmu dan yang kamu rasain sama aku ya... Insyaallah kalau bisa akan selalu kubantu kok",kata Fany dengan tulus bersedia untuk dengan setia menemaninya sebagai teman curhatnya.
Lia pun mengangguk bahagia sambil tersenyum mendengar Fany yang benar-benar sudah bersedia menjadi teman curhatnya itu.
Lia yang merasa masalah dalam hatinya itu sudah teratasi pun mengajak Fany keluar dari sana dan minum bersamanya di kafe pribadinya itu untuk lebih menenangkan diri mereka setelah kejadian di dalam ruangan rahasia yang menguras air mata itu.
"Nanti kutraktir bebas deh di kafeku",kata Lia ingin mentraktir Fany di kafe miliknya sebagai wujud rasa terimakasihnya atas pertolongannya tadi.
Fany kemudian berpikir sebentar lalu teringat kembali dengan Geri yang masih menunggu mendapat maaf dari Lia yang tentunya marah besar padanya tadi itu. Sehingga,dirinya yang teringat akan tujuannya yang sebenarnya bertemu dengan Lia disini itu pun kembali membahas masalah antara Geri dengan Lia yang belum jelas akhirnya itu.
"Eh,oh iya Lia... jadi gimana?",tanya Fany yang baru ingat dengan tujuannya yang sebenarnya mendatangi Lia yang tadi sedang marah besar itu.
"Gimana apanya?",tanya Lia tidak mengerti maksud Fany.
"Yang itu,soal Geri...",jawab Fany.
Karena takut Lia menjadi sedih dan marah besar lagi,Fany pun mengulangi penjelasannya yang tadi pada Lia supaya dirinya mau memikirkan keputusannya yang bersikeras tidak memaafkan Geri itu kembali dengan kepala dingin.
Tapi belum sempat Fany mengucapkan sepatah kata untuk menjelaskannya kembali pada Lia,tiba-tiba saja Lia yang sudah bisa berpikir dengan tenang itu pun langsung menjawab pertanyaan Fany itu tanpa ada rasa ragu sedikit pun dalam hatinya.
"Owh,Geri ya... aku nggak marah kok sama dia,cuma ngambek dikit aja sih... lagian,kenapa juga kan aku marah dan mutusin hubungan kami gitu aja cuma karena dia nyelametin orang di tengah jalan?",kata Lia mengungkapkan pendapatnya terkait masalahnya dengan Geri yang merupakan tujuan utama dari kedatangan Fany itu.
Mendengar Lia yang dengan santai mengatakan bahwa dirinya itu memang tidak marah dan hanya merajuk sedikit pada Geri tadi pun membuat Fany merasa senang dan lega akhirnya Geri bisa menjalin hubungan persahabatannya dengan Lia itu kembali.
Mereka berdua kemudian keluar dari ruangan rahasia itu menuju kafe pribadi Lia untuk menenangkan diri setelah kejadian melelahkan dan menyedihkan tadi.
...----------------...
Sekian dulu untuk part ini,semoga para Friendlies selalu menyukai setiap part cerita dari author ini ya,makasih!😘😘😘
Dan untuk para Friendlies...
Dukung terus novel ini ya!😘
Dengan Like,Comment,Favoritkan,Rate Bintang 5,dan Votenya!❤️🤗
Terimakasih
Salam hangat dari author ❤️❤️❤️