
Mohon maaf sebelumnya kepada para friendlies karena kemarin pukul 21.00 W.I.B. tidak ada update terbaru🙏🙏🙏
Jadi,sebenarnya gini masalahnya friendlies
entah kenapa episode ini sudah disetel upload jam 21.00 tapi sampai pagi saja masih direview (btw,saat author bikin pengumuman kecil di episode ini jam 05.41)
Jadi mohon maaf ya bagi kamu yang sudah menunggu kelanjutan novel ini🙏🙏🙏
Author soalnya juga kurang tau nih soal masalah seperti ini.
Sekian,happy reading friendlies😉
...----------------...
Geri yang mendengar jerutan kesakitan Lia di dalam teleponnya yang masih terhubung disana pun langsung bergegas lari menuju fakultas kedokterannya itu tanpa peduli lagi dengan hujan yang belum sepenuhnya reda itu.
Sebagai sahabatnya,tentunya Geri tidak bisa membiarkan hal seperti itu terjadi pada Lia yang lemah tak berdaya melawan penganiyaan dari pak Seto yang benar-benar kesal dan benci padanya itu.
Sementara itu,Lia yang sedang berusaha menghadapi masalahnya dengan pak Seto yang semakin memanas itu pun terus kesakitan disana tanpa ada satupun temannya yang berani ikut campur melawan pak Seto yang menarik rambut panjang Lia sampai hampir putus.
"A-argh... sakit pak,ampun... saya nggak sengaja,pak... ampun...",rintih Lia kesakitan dan meminta ampun pada pak Seto.
"Enak aja,ampun... ampun... kamu sudah hancurkan karir dan masa depan saya,gimana saya bisa kasih ampun pada perempuan tengik kayak kamu ha?!",bentak pak Seto penuh amarah benar-benar kesal pada Lia.
Sehelai demi sehelai rambut Lia yang diikat panjang ke belakang itu pun putus karena pak Seto yang terus menambah kekuatannya dalam menarik rambut Lia itu untuk memuaskan rasa kesalnya yang sudah memuncak.
Hingga pada akhirnya,pak Susilo yang melihat Lia,sebagai korban dianiaya seperti itu oleh dosennya sendiri pun langsung bergerak cepat menolong Lia dengan memukul keras wajah pak Seto hingga membuatnya jatuh terhantam ke lantai dan menjerit kesakitan disana.
Meskipun sudah berhasil menyingkirkan pak Seto dari Lia,pak Susilo lupa bahwa tangan pak Seto tadi masih memegang erat rambut panjang Lia itu sehingga membuat Lia yang ingin diselamatkannya itu malah terjungkal dari kursi tempat duduknya di hadapan seluruh teman sekelasnya itu.
"Aduh... sakit,pak...",rintih Lia kembali kesakitan.
"Waduh,ya maaf nak Lia... eh,kalo gitu saya minta e... Adena sama Prima deh buat anter Lia ke ruang kesehatan ya!",seru pak Susilo meminta tolong pada kedua teman sekelas Lia.
"Saya mau ngurusin ini dulu,kalian berdua temenin Lia disana ya!",sambung pak Susilo ingin segera melanjutkan urusannya dengan pak Seto.
"Siap,pak!",jawab Adena sementara Prima yang hanya diam termenung namun tetap menjalankan perintah dari bapak dekan kampusnya itu.
Adena dan Prima kemudian bersama-sama menggotong Lia keluar kelas menuju ruang kesehatan kampus itu untuk diistirahatkan dan dirawat disana sementara Geri yang masih mengira sahabatnya itu masih disiksa berlari dalam lorong-lorong gedung kampus itu sambil terus mengkhawatirkan kondisinya yang sebenarnya lebih aman sekarang.
Geri terus berlarian secepat yang ia bisa dalam lorong kampus yang diisi dengan kelas-kelas yang sedang digunakan sebagai tempat pembelajaran pagi itu hingga pada akhirnya dirinya pun sampai di hadapan kelas tempat Lia mengikuti kelas paginya.
Dan tiba-tiba saja...
"BRAK!",suara bantingan keras berasal dari dalam kelas Lia yang sedang bermasalah itu membuat nafas Geri terhenti sejenak.
Para mahasiswi sekelas Lia itu menyingkir dari perselisihan yang sedang terjadi itu sementara para mahasiswa lelaki yang tangguh mencoba menghentikan perselisihan yang malah menjadi perkelahian parah di kelas mereka yang kacau itu.
Lebih parahnya lagi,beberapa tempat duduk yang ada di kelas itu pun hancur berserakan di tengah-tengah kelas itu seperti baru saja dibanting dengan keras oleh seseorang yang pastinya adalah pak Seto yang mulai kehilangan akal sehatnya dan lepas kendali disana.
Terlihat di hadapan kedua mata Geri sendiri,pak Seto yang mengamuk lepas kendali disana itu telah membantai habis pak Susilo hingga membuatnya terkapar berdarah-darah tak berdaya di lantai kelas yang kacau berantakan itu.
Tidak selesai sampai disitu saja,pak Seto yang semakin tidak terkendali disana itu pun juga membantai dan menghajar seluruh mahasiswa lelaki tangguh yang mencoba menghentikan aksi brutalnya di kelas itu.
Dari sekian banyaknya mahasiswa yang berada disana,tidak ada satupun dari mereka yang bisa menghentikan bahkan memegang pak Seto sekali saja. Tanpa disadari oleh mereka semua,ternyata pak Seto yang terlihat hanya bersenjatakan ancaman mematikan itu juga memiliki kemampuan fisik yang cukup mumpuni dalam pertarungan adu fisik.
Pak Seto yang menyadari kehadiran Geri di dalam kelas tersebut pun langsung menyambutnya dengan berjalan menuju ke arahnya dan memukulnya dengan sekuat tenaga ingin membuatnya terkapar tak berdaya seperti pak Susilo tadi.
Selain masih menyimpan dendam kesumat pada Lia yang sudah menghancurkan karirnya sebagai dosen,pak Seto yang melihat bahwa Gerilah sebenarnya dalang dari semua kejadian tadi pun juga ingin melampiaskan segala amarahnya tadi padanya yang baru datang itu.
Pak Seto pun memulai pukulan pertamanya dengan mengarahkannya ke bagian ulu hati Geri untuk membuatnya kesakitan dan hilang fokus sehingga memudahkannya untuk melancarkan serangan-serangan berikutnya. Sekiranya,begitulah rencana yang tersirat dalam pikirannya.
Namun,sayangnya pak Seto kali ini telah salah besar memilih untuk menghajar Geri disana karena sebuah fakta bahwa Geri yang kelihatannya biasa saja diluar itu ternyata adalah mantan juara satu kompetisi taekwondo tingkat provinsi. Sehingga,tamatlah riwayatnya saat itu begitu melayangkan pukulan pertamanya.
Geri yang sudah paham dengan situasi yang dihadapinya itu pun dengan mudah menangkis segala serangan yang dilancarkan oleh pak Seto padanya itu hingga pada akhirnya pak Seto yang hanya menggunakan emosi saja saat melawan Geri yang berkepala dingin itu pun kehabisan tenaga.
Dan sekaranglah waktu yang tepat bagi Geri untuk mengakhiri segera masalah ini dengan teknik bela diri yang sudah dipelajarinya dulu.
Namun,Geri yang tetap berpegang teguh pada pemikirannya untuk tidak menggunakan bela diri untuk balas dendam itu tidak memanfaatkan saat itu untuk memukul balik pak Seto dengan sekuat tenaga melainkan malah mengulurkan tangannya membantu pak Seto untuk bangkit setelah kelelahan dan tertunduk di hadapannya.
Sayangnya,pak Seto yang masih saja belum mengakui kekalahannya malah memanfaatkan momen dimana Geri sudah berniat mengakhiri masalah ini dengan cara yang baik itu.
Sehingga,pak Seto yang melihat ada celah baginya saat itu pun memusatkan kembali segala amarahnya ke dalam sebuah pukulannya yang langsung dilayangkan ke wajah Geri yang menghadapnya itu.
...----------------...
Sekian dulu untuk part ini,semoga para Friendlies selalu menyukai setiap part cerita dari author ini ya,makasih!😘😘😘
Dan untuk para Friendlies...
Dukung terus novel ini ya!😘
Dengan Like,Comment,Favoritkan,Rate Bintang 5,dan Votenya!❤️🤗
Terimakasih
Salam hangat dari author ❤️❤️❤️