
Lia bercerita panjang lebar mengenai segala masalah yang menimpanya selama ini hingga membuatnya merasa depresi dan begitu tertekan seperti saat ini itu kepada Fany yang memeluknya dengan penuh kepedulian dan kasih sayang itu.
Fany yang bersedia mendengarkan segala keluh kesahnya tentang masalah yang dihadapi Lia selama ini itu pun memperhatikan dengan serius hingga ia selesai bercerita.
20 menit berselang,akhirnya Lia pun akhirnya selesai menceritakan segala masalahnya pada Fany,teman barunya itu lalu berhenti menangis. Ia merasa sangat lega seperti sudah mengeluarkan segala beban dalam hatinya ini karena akhirnya memiliki seorang teman yang mau mendengarkan segala keluh kesahnya tentang kehidupannya yang begitu berat ini.
Sebelum Fany,tidak ada satupun dari teman-temannya yang pernah melihatnya bisa sesedih,semarah,dan segila tadi karena mereka yang memang tidak pernah ingin melihat lebih dalam lagi ke dalam hati Lia yang sebenarnya sudah lelah dengan semua masalahnya itu. Bahkan Geri,sahabatnya sendiri itu pun tidak tahu satupun masalah yang dialami oleh Lia yang ceria diluar namun kelam di dalam itu.
Namun,semua itu bukanlah salah mereka semua karena Lia yang memang berusaha untuk menutupi dan memendam masalahnya itu dalam dirinya sendiri supaya tidak ada satupun yang tahu akan hatinya yang tersiksa itu.
Lia selalu berhasil menutupi semua masalah yang terus menekannya secara mental itu dengan senyumannya yang manis dan sikapnya yang ceria ketika bertemu dengan teman-teman di kampusnya. Sehingga,sampai saat ini sebelum Fany tidak pernah ada yang tahu seberapa dalam luka yang sebenarnya dirasakannya dalam hatinya yang rapuh itu.
Lia juga tidak ingin orang lain merasa sedih dan kasihan padanya,sehingga dirinya pun memilih untuk menutupi saja luka dalam hatinya itu. Sayangnya, semua tindakan manusia di dunia ini selalu memiliki resikonya masing-masing dan tidak semuanya pula berakhir dengan baik dan mulus sesuai keinginan kita.
Begitulah yang terjadi pada Lia yang terus menyembunyikan dan menutupi luka dalam hatinya itu yang malah menjadi sebuah boomerang besar padanya. Sekarang hatinya yang sudah tidak kuat lagi menampung semua itu sendirian,akhirnya berhasil mengeluarkan segala perasaan tersiksa dan kesedihannya yang sudah terlalu lama terpendam itu layaknya sebuah gunung yang mengeluarkan magma dari perutnya setelah bertahun-tahun lamanya.
Ia pun menjadi tidak terkontrol secara mental dan fisik sehingga membuatnya terlihat seperti orang gila yang mengamuk di ruangan rahasia kafenya itu. Karena perasaan marah,sedih,dan tersiksanya yang tercampur aduk menjadi satu yang akhirnya keluar setelah sekian lama itu sudah menguasai otak dan hatinya,dirinya pun kehilangan akal sehatnya hingga membuatnya tidak dapat berpikir jernih lagi dan sempat ada rasa untuk mengakhiri hidupnya saja.
Untungnya,niat buruknya itu hanyalah sebuah keinginan sementaranya belaka yang tak terealisasikan berkat kehadiran Fany yang membuatnya tenang dan sadar kembali. Fany yang melihatnya mengamuk lalu mengusirnya itu bukannya mengikuti kemauan dari Lia,orang yang belum pernah sama sekali bertemu dengannya itu untuk segera keluar dari sana,melainkan malah memeluknya dengan erat untuk menenangkan dirinya.
Lia sungguh terharu dengan apa yang dilakukan Fany,orang yang baru pertama kali bertemu dengannya itu hingga merasa ingin menangis lagi. Lia pun hanya bisa menangis bahagia di pelukan Fany itu karena merasa senang dan lega akhirnya ada juga orang yang dengan tulus mau mengerti bagaimana perasaannya yang sebenarnya sangat tertekan dan mencoba untuk menenangkannya yang mengamuk tadi itu.
Sementara itu,di sisi lain Fany yang telah mendengarkan keseluruhan masalah yang dihadapi Lia itu pun merasa lebih prihatin dan peduli lagi padanya karena ada satu masalah yang terdengar cukup besar dan menyiksa bahkan bagi Fany yang mendengarnya itu. Ia sungguh tidak percaya bahwa keturunan keluarga kaya yang cantik seperti Lia itu bisa mengalami sebuah masalah yang sungguh diluar dugaan akal sehatnya itu.
Lebih parahnya lagi,masalah dan tekanan besar itu ternyata bukan berasal dari orang lain melainkan dari keluarganya sendiri. Sungguh mengejutkan bagi Fany mengetahui fakta ternyata keluarga Lia tidaklah sebahagia dan seharmonis bayangannya.
Selama ini,Fany terus berpikir bahwa mempunyai kekayaan yang melimpah dapat membawa kebahagiaan juga dalam hidup ini. Tapi ternyata lagi-lagi,ucapan orang-orang ekspektasi tidak selalu sesuai dengan realitanya itu bukanlah omong kosong belaka.
Setelah mendengar tentang masalah yang dialami Lia dengan keluarganya sendiri itu,Fany pun sangat syok karena mendengar kelakuan keluarganya pada Lia yang menurutnya sudah sangat keterlaluan itu. Sehingga,Fany yang mendengarnya pun merasa lebih termotivasi lagi untuk mendukung Lia bangkit dari keterpurukannya ini dan membangun kembali mentalnya yang sempat hancur lebur itu.
Lia bercerita,masalah dan tekanan besar yang dialaminya hingga membuatnya begitu depresi itu terjadi belum lama ini,lebih tepatnya juga dua minggu yang lalu di hari yang sama setelah Lia berbaikan dengan Geri dan pulang dari kampus menuju tempat tinggalnya.
Lia yang baru sampai di rumah utamanya yang berada di tengah-tengah kompleks tempat tinggalnya yang begitu luas dan mewah itu pun langsung membuka pintu rumahnya dengan kunci yang diberikan kedua orangtuanya padanya sejak kecil. Lia kemudian mengucapkan salam sebelum masuk ke dalam rumahnya yang sangat besar itu.
"Assalamualaikum,Lia pulang...",salam Lia begitu melangkahkan kakinya ke dalam rumahnya.
Awalnya,semua berlangsung baik-baik saja tanpa ada yang berbeda seperti hari-hari yang sebelumnya hingga tiba-tiba ada sebuah kantung sampah yang dilemparkan ke arahnya hingga membuatnya bermandikan sampah di sekujur tubuhnya dari ujung rambutnya sampai ujung kuku kakinya.
Sontak,Lia yang dilempari sekantung plastik penuh sampah itu pun terkejut dan langsung melihat ke arah lemparannya itu datang. Dan ternyata,yang melemparinya sekantung penuh sampah itu adalah ayahnya sendiri.
Lia yang mendapat perlakuan seperti itu dari ayah kandungnya sendiri pun mencoba untuk sabar menenangkan dirinya dan menanyakan alasan ayahnya yang melemparkan sampah ke arahnya itu.
Namun belum sempat bertanya kepada ayahnya,tiba-tiba saja dari atas dan samping kanan-kirinya Lia kembali dilempari dengan kantung plastik besar yang lagi-lagi berisi sampah basah yang membuat tubuhnya berbau busuk. Setelah dilihat,ternyata yang melemparinya dengan sampah dari arah yang berbeda-beda itu adalah anggota keluarganya yang lain yaitu ibu tiri,adik,dan kakaknya yang mengikuti apa yang dilakukan ayahnya padanya yang baru saja pulang dari kampus itu.
Semua itu terlihat seperti secara sengaja dilakukan kepada Lia yang merupakan anak terasingkan di keluarganya itu. Dan hal buruk selanjutnya pun terus berdatangan tanpa henti menghujani Lia yang hatinya baru saja merasa lebih baik tadi itu.
...----------------...
Sekian dulu untuk part ini,semoga para Friendlies selalu menyukai setiap part cerita dari author ini ya,makasih!😘😘😘
Dan untuk para Friendlies...
Dukung terus novel ini ya!😘
Dengan Like,Comment,Favoritkan,Rate Bintang 5,dan Votenya!❤️🤗
Terimakasih
Salam hangat dari author ❤️❤️❤️