F-R-I-E-N-D-S

F-R-I-E-N-D-S
Part 12: Rumah Lia (1)



Geri yang panik menghadapi masalahnya dan Fany yang tidak tahu apa-apa itu pun tergesa-gesa pergi ke rumah Lia yang cukup jauh dari sana karena Geri yang ingin segera meminta maaf pada Lia atas kesalahannya hari ini tidak menepati janjinya untuk kedua kalinya itu.


Fany yang masih kebingungan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi disana itu pun langsung menanyakan kepada Geri tentang masalah yang dihadapinya saat itu. Fany merasa penasaran dengan apa yang membuat Geri sampai panik dan cemas di pagi yang cerah itu.


"Sebenarnya ada apa sih,Ger?",tanya Fany yang sudah penasaran setengah mati dari tadi tidak mendapatkan jawaban dari Geri.


"Nanti lo juga tau kok,gue mau fokus dulu nih ngejar waktu!",jawab Geri dengan nada tinggi berteriak di tengah jalan karena panik.


Tentu Fany yang mendengar jawaban tak memuaskan dari Geri itu pun sedikit kecewa padanya yang tidak menepati perkataannya tadi yang mengatakan akan menceritakan semua saat di perjalanan ini. Namun,Fany pun menyadari bahwa sepertinya masalah ini adalah persoalan yang begitu serius bagi Geri sehingga Fany pun memilih untuk menutup mulutnya saja dan memendam segala rasa penasarannya itu terlebih dahulu supaya Geri bisa fokus mengayuh sepedanya untuk segera sampai di rumah sahabatnya itu lalu.


10 menit berlalu,akhirnya Geri dan Fany pun sampai di depan gerbang rumah Lia yang megah nan mewah itu. Fany yang baru pertama kali melihat pintu gerbang seindah dan seartistik rumah Lia itu pun merasa takjub seketika karena pintu gerbangnya yang memang terlihat tak biasa baginya itu.


Di pintu gerbang itu terdapat berbagai ukiran-ukiran warna emas yang dilengkapi juga dengan tanaman-tanaman yang merambat teratur di bagian atasnya yang semakin menambah estetika pintu masuk pertama rumah Lia itu. Kemudian,di sisi kanan dan kiri gerbang itu pun juga dipagari oleh tembok-tembok raksasa yang tak kalah artistik dan indah dari pintu gerbang yang ada di tengahnya untuk melindungi rumah mewah nan megah yang ada di dalamnya itu.


Sungguh luar biasa rumah Lia meskipun baru terlihat bagian depannya saja itu. Fany yang melihatnya saja sampai tidak bisa membayangkan lagi keindahan dan kemegahan rumah Lia yang di dalamnya nanti jika bagian depannya saja sudah semenakjubkan ini.


Geri kemudian turun dari sepedanya untuk meminta izin masuk ke rumah Lia kepada pak Toti,satpam pintu gerbang itu melalui kamera interkom yang terpasang di sisi kanan gerbang besar itu. Fany yang melihat Geri turun dari sepedanya pun mengikutinya berjalan menuju pintu masuk rumah Lia itu.


"Selamat pagi,pak",kata Geri menyapa pak Toti yang pastinya selalu siaga berjaga-jaga di bagian gerbang depan rumah Lia itu.


"Iya,selamat pagi mas... ada perlu apa ya?",tanya pak Toti.


"Owh,gini pak saya sama temen saya mau ketemu Lia bisa pak?",kata Geri menjelaskan tujuannya datang ke rumah itu.


"Owh,iya ini kebetulan non Lianya lagi di kafe dalem rumah mas... silahkan mas,kalau mau ketemu",balas pak Toti mempersilahkan Geri masuk ke dalam menemui Lia yang sedang marah padanya itu.


"Owh,iya pak makasih ya",kata Geri berterimakasih pada pak Toti.


"Eits,tapi sebentar mas... perempuan yang di sebelah mas Geri itu siapa ya mas,kok saya baru pertama kali liat?",tanya pak Toti penasaran dengan Fany yang berada di dekat Geri yang juga tertangkap kamera interkom itu.


"Owh... ini temen baru saya pak,namanya Fany",jawab Geri memperkenalkan Fany pada pak Toti,penjaga gerbang rumah Lia itu.


"Halo pak,selamat pagi",sapa Fany sambil tersenyum cerah menghadap pak Toti yang melihatnya dari kamera interkom itu.


"Owh,iya-iya mbak selamat pagi...",balas pak Toti balik menyapa teman baru Geri itu.


"Boleh minta nomor teleponnya dulu mbak Fany?",tanya pak Toti meminta nomor telepon Fany sebagai bentuk protokol keamanan yang sudah dijalankannya selama ini di rumah itu.


Karena baru pertama kali pergi ke rumah Lia,Fany yang mendengar pak Toti tiba-tiba meminta nomor teleponnya itu pun terkejut seketika. Ia tidak bisa memberikan nomor teleponnya dengan begitu mudah kepada orang lain,apalagi dengan orang yang baru dikenalnya beberapa saat seperti pak Toti ini.


Fany takut jika nomor teleponnya nanti bisa disalahgunakan oleh orang lain,sehingga Fany pun menolak memberikan nomor teleponnya kepada pak Toti yang hanya menjalankan kewajibannya sebagai penjaga gerbang itu.


"Maaf pak,saya nggak bisa kasih nomer ke sembarang orang,jadi mohon maaf banget ya pak"kata Fany menolak memberikan nomornya pada pak Toti secara halus.


"Em... Fany,ini itu udah jadi protokol keamanan di rumah ini setiap ada tamu yang pertama kali masuk kesini jadi lo harus kasih nomor telepon lo dulu ke pak Toti baru bisa masuk ke dalem",kata Geri menjelaskan pada Fany dengan halus.


"Tenang aja,pak Toti orangnya terpercaya kok... iya nggak pak?",kata Geri mencoba mengusir rasa curiga Fany pada pak Toti.


"Iya,mbak... saya juga cuma melaksanakan protokol keamanan disini aja kok,nggak ada maksud apa-apa",timpal pak Toti juga berusaha membuat Fany mempercayainya.


"Em... ya udah deh,saya bacain ya pak...",jawab Fany akhirnya setuju untuk memberikan nomor teleponnya pada pak Toti.


Fany kemudian memberitahukan nomor teleponnya pada pak Toti yang sudah siap mencatatnya itu sebagai salah satu bentuk dari protokol keamanan rumah Lia yang begitu ketat itu. Dan ternyata,protokol keamanan rumah itu belum berhenti sampai di situ saja.


Sebagai tamu baru disana,Fany diminta untuk mengikuti segala macam pemeriksaan mulai dari pengecekan tanda pengenalnya hingga pemeriksaan jejak karir dan kriminalnya,semuanya tidak ada satupun yang luput dari pemeriksaan ketat penjaga gerbang rumah Lia itu. Hingga pada akhirnya setelah mengikuti setangkaian pemeriksaan ketat dari pak Toti,Fany pun diizinkan masuk ke dalam rumah Lia dan diberi sebuah kartu tamu rumah Lia.


Pak Toti memperingatkannya untuk menyimpan kartu itu dengan baik karena hanya kartu itulah akses masuknya ke dalam rumah Lia. Pak Toti juga memperingatkan kepada Fany,jika sampai kartu tersebut sampai hilang Fany tidak akan bisa masuk lagi ke rumah itu kecuali dirinya mau membayar biaya pembuatan ulang kartu tersebut yang mencapai angka 1 juta rupiah itu.


Pak Toni menjelaskan kepada Fany bahwa kartu itu dibuat menggunakan emas dan berlian pribadi milik keluarga Lia ini,sehingga membuat biaya pembuatan ulang kartu ini begitu mahal. Namun,untuk pemberian kartu tamu pertamanya ini tidak akan dikenakan biaya sama sekali karena keluarga Lia sendiri yang ingin memberikannya kepada tamu mereka sebagai hadiah sambutan bagi mereka. Sehingga pak Toti pun sekali lagi memperingatkan pada Fany mengenai betapa berharga dan pentingnya kartu ini jika sampai hilang dari genggamannya.


Fany mendengarkan peringatan dari pak Toti itu dengan baik lalu berterimakasih kepadanya yang akhirnya mengizinkan dirinya ini masuk ke dalam rumah Lia yang ternyata memiliki protokol keamanan super ketat itu. Ia juga berniat menjaga kartu itu segenap hati karena ini merupakan hadiah sambutan pertama dari keluarga Lia itu.


...----------------...


Owh iya,Friendlies author punya pengumuman nih buat para Friendlies yang sudah setia dengan novel ini๐Ÿ˜‰


Yaitu,novel "F-R-I-E-N-D-S" ini nantinya akan update


๐ŸŽ‰2xsehari pada jam 12.00 W.I.B. dan 21.00 W.I.B.๐ŸŽ‰


Jadi,sekarang nggak perlu nunggu lama-lama lagi deh untuk mengetahui kelanjutan novel ini๐Ÿ‘๐Ÿค—


Ditunggu ya...๐Ÿ˜˜


Sekian dulu untuk part ini,semoga para Friendlies selalu menyukai setiap part cerita dari author ini ya,makasih!๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


Dan untuk para Friendlies...


Dukung terus novel ini ya!๐Ÿ˜˜


Dengan Like,Comment,Favoritkan,Rate Bintang 5,dan Votenya!โค๏ธ๐Ÿค—


Terimakasih


Salam hangat dari author โค๏ธโค๏ธโค๏ธ