
Mendapati celah besar pada Geri yang bisa digunakannya untuk melancarkan serangannya kembali,pak Seto pun tidak membuang-buang kesempatan itu dan langsung melayangkan sebuah pukulan penuh tenaga terakhirnya yang pastinya akan membuatnya lemas setelah itu.
Namun demi melampiaskan dendamnya pada Geri,dirinya tidak lagi ketakutan kehabisan tenaga bahkan pingsan disana karena menghadapi seseorang yang sudah menghancurkan karirnya sebagai dosen.
Satu pukulan kuat dan keras melayang menuju wajah Geri yang sama sekali tidak dilindungi itu dan...
Tep!
Geri kembali berhasil menghentikan serangan pak Seto yang dilancarkan kepadanya itu lalu mencengkeram tangannya yang dari tadi mencoba menyakitinya itu.
Pak Seto pun terkejut dan terheran-heran dengan Geri yang masih saja bisa menangkis serangan kejutan darinya itu. Dirinya yang masih memiliki satu tangan lagi untuk melancarkan serangan pada Geri pun melayangkan sebuah pukulan yang lebih lemah dari sebelumnya ke arah perut Geri.
Namun,sekali lagi serangannya itu kembali berhasil ditahan oleh Geri yang selalu sigap menangani situasi semacam ini. Sekarang benar-benar tidak ada lagi kesempatan bagi pak Seto untuk menyerang dan melampiaskan dendamnya pada Geri karena kedua tangannya yang sudah dicengkeram dengan kuat olehnya.
Geri yang masih bisa menahan dirinya untuk tidak hilang kesabaran dan menghajar pak Seto yang benar-benar menyebalkan itu pun bertatapan serius dengan pak Seto dan mulai berbicara padanya.
"Pak,sudahlah buat apa kayak gini... kalo bapak seperti ini terus,bapak malah menghancurkan hidup bapak sendiri...",kata Geri menasihati pak Seto yang jauh lebih tua darinya itu.
"Bapak juga sudah berumur kan... buat apa melakukan semua ini,pak tidak ada manfaatnya juga kan...?"sambung Geri yang memang mengkhawatirkan pak Seto yang malah menghancurkan masa depannya sendiri itu.
"Jadi sebaiknya,sekarang bapak ikut saya saja ke kantor polisi sesuai peraturan yang berlaku ya pak... nanti kalo kita ikuti aturan yang berlaku kan masalah ini cepat selesai...",imbuh Geri kemudian dengan sehalus dan selembut mungkin membujuk pak Seto untuk menyerahkan dirinya ke pihak kepolisian.
Pak Seto yang diajak bicara baik-baik oleh Geri itu bukannya mendengarkan dan mematuhi segala perkataannya namun malah memikirkan rencana lain yang mungkin akan berhasil digunakannya untuk membalas dendam pada Geri.
Dan pak Seto yang sudah memikirkannya dari tadi pun mendapatkan sebuah ide cemerlang yang kemungkinan besar akan berhasil pada Geri. Dirinya pun langsung melancarkan rencananya itu sekarang begitu Geri selesai berbicara padanya.
"Baiklah,saya akan serahkan diri saya ke kantor polisi...",kata pak Seto akhirnya membuka mulutnya dan berbicara baik-baik pada Geri.
"Tapi,lepasin dulu dong tangan saya! kalo gini,gimana saya bisa berdiri ha?!",sambung pak Seto tiba-tiba kembali pada sifat aslinya yang pemarah.
"Eh,iya-iya pak maaf",balas Geri kemudian melepaskan cengkeramannya pada sepasang tangan lak Seto.
Geri kemudian pergi meninggalkan pak Seto begitu saja dan berjalan menuju pak Susilo yang keadaannya sungguh mengenaskan tertimpa kursi dan berdarah-darah disana sementara pak Seto yang sedang berupaya menjalankan rencana keduanya itu bangkit dari lantai kelas tersebut.
Geri pun menyingkirkan semua kursi-kursi hancur yang bertumpukan diatas tubuh pak Susilo yang terkapar lemas tak berdaya disana dengan darah yang terus mengalir di bagian wajah,tangan,dan kakinya.
Selesai menyingkirkan kursi-kursi yang menyakiti pak Susilo itu,Geri kemudian mencoba membantunya untuk bangkit dari sana dan hendak membawanya berjalan menuju ruang kesehatan kampus itu untuk mendapat pertolongan pertama segera atas luka-luka pada tubuhnya itu.
Namun,gelagat dan ekspresi aneh malah ditunjukkan oleh pak Susilo yang kesulitan berbicara karena babak belur dihajar pak Seto tadi.
Geri yang hendak membantunya bangkit pun kebingungan dengan gelagat dan ekspresi wajahnya yang sepertinya ingin memberitahunya sesuatu tapi tidak bisa menyampaikannya itu sambil terus menunjukkan jarinya ke arah belakang Geri.
Tiba-tiba saja,dari belakang Geri muncullah pak Seto dengan membawa sebilah pisau yang akan digunakannya untuk menyakiti Geri sebagai bagian dari rencana balas dendamnya itu dan...
"Jleb!",sebilah pisau menembus tubuh bagian belakang Geri begitu dalam.
Geri yang ditusuk dari belakang begitu saja pun hanya bisa terperanga syok sambil berusaha menahan rasa sakit dari luka tusukan yang begitu dalam pada punggungnya itu.
"Argh... a-argh...",rintih Geri benar-benar kesakitan merasakan betapa dalamnya tusukan pak Seto itu.
Tidak puas dengan satu tusukan saja,pak Seto yang kini benar-benar sudah gila itu pun mencabut pisaunya dari punggung Geri dan kembali menusuknya di bagian punggung lainnya sebanyak tujuh kali hingga pada tusukan terakhirnya pak Seto pun melakukan sesuatu yang terlalu keji dan tak manusiawi pada Geri.
Pada tusukan ke-tujuhnya pada Geri itu,pak Seto kembali meningkatkan beberapa level lagi rasa sakit yang dirasakan Geri yang sudah sangat tersiksa itu. Pak Seto yang sudah beralih menjadi seorang psikopat kampus itu memutar-mutarkan pisaunya di dalam punggung Geri hingga membuatnya bercucuran darah di lantai kelas itu.
Geri yang ditusuk dan disiksa secara sangat tidak manusiawi di hadapan seluruh teman-teman sefakultasnya itu pun langsung tertunduk lemas disana dan dalam sekejap tidak sadarkan diri dengan mulut terbuka lebar tidak bisa menjerit kesakitan lagi tadi.
"Rasakan itu! makanya jangan sok kau,dasar mahasiswa penghancur hidup!",gertak pak Seto sangat puas setelah menusuk Geri berkali-kali hingga membuatnya tak sadarkan diri di sana.
"Lihat semua? mau kalian saya perlakukan seperti ini juga?!",gertak pak Seto memperingatkan para mahasiswa di kelas itu untuk tidak macam-macam padanya sambil mengangkat pisau yang sudah bersimbah darah Geri disana.
"Makanya,jangan sok-sokan melawan saya ya kalian semua!",imbuh pak Seto yang sudah benar-benar kehilangan akal sehatnya dan berubah menjadi psikopat itu.
Namun,di tengah-tengah pak Seto sedang memperingatkan seluruh mahasiswa disana tiba-tiba saja ada seorang mahasiswa lelaki yang dengan keberanian tinggi malah melapor pada polisi saat itu dan lupa mematikan speaker pada teleponnya.
"Ya,ini dari pihak kepolisian ada keperluan apa?",tanya petugas polisi yang menjawab panggilan lelaki itu yang terdengar cukup keras di dalam kelas yang kacau itu hingga mengundang perhatian dari sang psikopat kampus.
...----------------...
Sekian dulu untuk part ini,semoga para Friendlies selalu menyukai setiap part cerita dari author ini ya,makasih!😘😘😘
Dan untuk para Friendlies...
Dukung terus novel ini ya!😘
Dengan Like,Comment,Favoritkan,Rate Bintang 5,dan Votenya!❤️🤗
Terimakasih
Salam hangat dari author ❤️❤️❤️