
Ihsan melakukan siasat agar Dara terbebas dari penguntit itu.
“ Bagaimana Axel, kamu fahamkan apa yang aku maksud?” Ihsan menjelaskan rencananya kepada Axel.
“Iya ..aku faham...sekarang juga aku berangkat!” Axel sudah siap untuk menjalankan rencana Ihsan.
Axel bersiap-siap sambil bergumam, “ ga ngerti kenapa Ihsan sampai membuat rencana pelarian seperti ini, seperti di film-film action saja!”
"ah...tapi sudah lah, aku ga perduli , yang penting Dara selamat”.Axel berbicara sendiri sambil menaiki sepeda motor nya.
“Aku sudah di parkiran mas Ihsan!” Axel memberikan info lewat chat.
“Oke bagus, kalau aku sudah masuk mobil, kamu pergi duluan saja dengan Dara, biar si penguntit itu mengikuti mobil ku". Balas Ihsan.
“Aku dah siap Ihsan”, Dara sudah mengganti baju dengan baju Bu Leni dan Bu Leni memakai baju Dara.
“Bagus, sekarang kamu pakai masker dan jangan bicara , sssssttt diam saja, kamu faham Dara?” Ihsan menjelaskan rencananya, lalu Bu Leni duduk di kursi roda dan Ihsan yang mendorongnya.
“ Bu Leni juga gak boleh keluar suara, dan pakai maskernya, Ibu duduk aja ya!” Ihsan menjelaskan ke Bu Leni.
“Siap Komandan!” Jawab Bu Leni.
“Sebenarnya ada apa Ihsan? Aku mau melakukan ini, karena aku percaya sama kamu, tapi... aku takut, ada apa si sebenarnya?” Dara bisik bisik dengan Ihsan.
“Pokoknya kamu ikuti aja komando ku ya, nanti di parkiran ada Axel, kamu gak pulang bareng aku, tapi sama Axel, oke...kamu percaya aku kan?” Ihsan memastikan lagi agar Dara faham.
Ihsan tidak mau menjelaskan pada Dara apa alasan dia membuat rencana seperti itu.
Akhirnya Dara bisa keluar dari rumah sakit tanpa di ikuti oleh penguntit, Dara sebenarnya kurang nyaman naik motor dengan Axel.
Sampailah Dara di pinggir pantai tempat dulu Axel pernah mengajak Dara.
“Dara apa kamu ingat pantai ini?” tanya Axel berharap Dara masih memilki secuil kenangan bersamanya.
“Ini pantai, terus...emang ada apa dengan pantai nya?” Dara tidak faham apa maksud Axel membawa Dara ke pantai.
“Kita pernah ke sini berdua Dara, apa kamu gak ingat?” Axel berusaha membuat Dara mengingat kenangan itu.
“Apa kamu tahu kisah hidupku yang pahit Axel?” Dara memandang ke arah laut yang luas.
“kata Ihsan kamu tidak mengetahui apapun tentang siapa diriku yang dulu". Ucap Dara.
“Iya...kamu memang tidak pernah mau terbuka pada ku Dara, tapi bukan berarti kita tidak dekat dengan mu!” Ungkap Axel.
Axel menjelaskan dan menceritakan pada Dara bagaimana pertemuan pertama Dara dengan Axel waktu itu.
“Terimakasih...hanya itu yang bisa aku sampaikan saat ini untuk mu Axel!” Dara menjawab Axel setelah mendengar kisahnya yang dulu hampir bunuh diri disebuah gedung kosong.
“ Tapi ku mohon,.. bisakah kamu menerima apa adanya diriku yang sekarang? Aku bukan Dara yang kamu kenal dulu...aku tidak bisa lagi bersikap seperti dulu...karena aku...adalah aku yang sekarang!” Jelas Dara.
Angin pantai bertiup menerpa wajah dan kerudung Dara, Axel yang berdiri di samping nya menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Maafkan ..jika aku sudah memaksa mu tuk mengenali aku, maaf!” Namun beri aku kesempatan Dara, ijinkan aku mengenali Dara yang sekarang". Axel mengulurkan tangannya.
“ perkenalkan namaku Axel, boleh aku berteman dengan mu?” Axel memperkenalkan diri nya seakan-akan itu adalah perkenalan pertama kalinya.
Dara menatap ketangan Axel yang menunggu untuk berjabat tangan dengannya.
“Baiklah... Aku Dara ...senang bisa berteman dengan mu!” Jawab Dara sambil berjabat tangan dengan Axel.
Axel tersenyum lega, meski Dara belum mengingatnya, yang penting sekarang Dara sudah tidak takut lagi melihat Axel.
Mereka duduk berdua sambil memandang matahari yang mulai terbenam sore itu.
Ihsan menunggu di Apartemennya, “kemana mereka, kenapa belum juga datang?” Ihsan menantikan kehadiran Dara.
Hari sudah gelap namun Axel dan Dara belum juga datang.
“Apa aku telp saja Axel, apa mereka baik-baik saja?, Ihsan ragu ingin menelpon Axel khawatir menggangu mereka berdua, tapi kekhawatiran Ihsan membuat dirinya tetap menelpon Axel.
“Hmmm... berdering tapi tidak di angkat, aah..mungkin sedang dalam perjalanan ke sini, aku harus lebih sabar menunggu, Semoga Allah melindungi mereka, aamiin!” Ihsan berusaha meyakinkan dirinya untuk tenang.
Tak Lama, bel apartemennya berbunyi. “ Nah...itu pasti mereka!” Ihsan bergegas membukakan pintu.
“Assalamualaikum.... !” Dara mengucapkan salam ketika pintu 304 itu terbuka.
“Alhamdulilah...wa'alaikumsalam...ya Allah kenapa lama sekali, aku sampai khawatir tadi, ayo masuk..ayo Axel silahkan masuk!” Ihsan sangat bersemangat menyambut kedatangan Dara di Apartemennya.
“Wah ....rumah mu besar dan ...hmmm... nyaman banget!” Dara memuji apartemen Ihsan, dan sangat menikmati sampai sampai Dara berkeliling kesana kemari.
“ Hey...emang ini lapangan bola, hahaha!” Axel tertawa melihat tingkah Dara.
“ Biarin...... wweyyy!” Dara menjulurkan lidahnya bercanda dengan Axel santai.
Ihsan tercengang melihat Dara sudah mulai akrab dengan Axel.
"sejak kapan kalian akrab, kamu sudah tidak takut lagi dengan Axel, Dara?” Ihsan bertanya.
“Ooooh .. itu...kita berteman lagi dari awal, boleh aku duduk ?” Dara menjawab Ihsan sambil melompat ke Sofa.” Ini pasti sofa yang mahal!”
Axel tersenyum melihat tingkah Dara,
“Hahaha....tidak apa-apa...mau minum apa? Biar aku ambilkan !” Ihsan tertawa dan menawarkan mereka minum.
“Aku susu coklat pakai batu es!” Jawab Dara santai. “Aku soda dingin saja!” Jawab Axel.
“ Oke ...siap diantar ..!” Ihsan menjawab sambil membuka kulkas.
Dara berdiri dan melihat pemandangan malam dari jendela apartemen, “ waah... kelap kelip...seperti bintang, aku suka bintang!” Dara mengomentari keindahan lampu lampu kota yang terlihat jauh seperti bintang.
Axel mendengar kata-kata Dara dan teringat Dara pernah mengucapkan itu, dulu waktu mereka melihat bintang di pantai. ‘Apakah dia ingat itu?” pikir Axel sambil melihat Dara.
Di rumah yang berbeda Bu Leni menelpon Ihsan, “ Hallo Ihsan, pria penguntit itu sudah pergi, kamu tenang aja kalau dia berani macam-macam warga kampung sini tidak akan tinggal diam!”
“ Terimakasih banyak ya Bu Leni, saya yakin orang itu pasti kapok!” Ihsan merasa lega karena rencananya berhasil.
“Ada apa? Telp dari siapa?” tanya Dara penasaran.
“ telp dari Bu Leni, penguntit itu sudah lari ketakutan karena mau di keroyok warga kampung tempat tinggal Bu Leni, rasain, hahaha!”
Ihsan menjawab dan tertawa membayangkan pasti pria itu lari terbirit-birit.
“Penguntit? Yang kata kamu dari tadi ikutin kita di rumah sakit?!” Tanya Dara merasa khawatir.
“Sudah ...gak usah dipikirin Dara, minum susu nya tuh!, kalau mencair batu es nya nti gak enak rasa susunya”. Axel merasa Dara tidak perlu tahu terlalu jauh tentang penguntit itu.
“ Iya ...sebaiknya kamu minum susunya dan berhenti khawatir oke, kamu aman disini". Ihsan duduk di depan Dara dan menyodorkan gelas dingin berisi susu coklat.
“Terimakasih” Dara pun menurut.
Ihsan memberi kode kepada Axel bermaksud untuk membicarakan sesuatu tanpa di ketahui Dara.
“ ada apa?” bisik Axel. “kemari sebentar!” Ihsan meminta Axel mengikutinya.
“Dara sebentar ya...aku mau siapkan makan malam dulu dengan Axel” Ihsan meninggalkan Dara menuju dapur. Axel pun mengikuti dari belakang.
“Ssssssttt...jangan sampai Dara tahu, orang yang tadi mengikuti kita di rumah sakit, aku mengenalinya" Ihsan berbisik kepada Axel.
“Siapa?” Axel jadi penasaran.
“itu mantan Suami Dara". jawab Ihsan.
Axel dengan wajah terkejut reflek berteriak, “ Suami!!!”
“Sssssssstttt...jangan keras-keras. Iya itu suami Dara yang pemabok dan pemasok obat obatan terlarang!” Ihsan menyuruh Axel agar tidak bersuara keras dia takut Dara mendengar.
“Jadi ...Dara sudah punya suami?” Axel benar-benar kaget dan hampir tidak percaya.
“Aku cerita seperti ini, biar kamu waspada Axel, karena seperti nya dia selalu mengawasi cafe mu! Dia tahu kalau Dara dulu bekerja di Cafe mu!” Ungkap Ihsan.
Ihsan terpaksa menceritakan tentang suami Dara, karena Ihsan yakin orang itu pasti akan terus mengawasi Axel dan berusaha mencari tahu tentang keberadaan Dara.
“Oh ...baiklah aku akan lebih hati-hati lagi!” Axel mengangguk faham.
“Jadi..mulai sekarang Dara tinggal di sini". Ihsan mengatakannya sambil mengambil mie instan dari lemari.
“ Dara kamu mau mie goreng atau kuah?” teriak Ihsan dari dapur pada Dara.
“Goreng.. aku suka mie goreng extra pedas!” Jawab Dara yang sedang asyik menonton tv.
“ apa ?...Dara tinggal di sini? Bersama mu!?” Axel bertanya dan memastikan lagi pada Ihsan.
“ mana mungkin....laki-laki dan wanita tinggal bersama! Engak !..gak bisa gitu lah!” Jawab Axel sedikit kesal.
“Ssssttt...jangan piktor ya!” Ihsan kembali berbisik pada Axel sambil memasak mie instan. (piktor: pikiran kotor)
“ Dara cantik dan polos.... sedangkan kamu...!” Axel menjelaskan ketidak setujuannya tentang ide Ihsan.
“ apa...apa ...aku kenapa? Kenapa tidak di terus kan...kenapa berhenti? memang aku kenapa?!” Ihsan bertanya bercampur rasa tersinggung.
“Heyy...lama bener masak mie nya, ngobrolin apa sih?” tiba-tiba Dara sudah ada di depan mereka.
“curang..aku ga di ajak, ngomongin aku yaaa?” Dara mulai curiga karena melihat bahasa tubuh Axel dan Ihsan yang terlihat canggung.
“ sudah kamu duduk aja sini....!” Axel menggandeng tangan Dara dan berjalan ke ruang tamu.
“Aku mau tanya ...emang kamu mau tinggal di sini?” Axel bertanya kepada Dara dengan nada sedikit cemburu.
“ Hmmm.. tinggal di sini ? ...gimana ya.. tempatnya bagus...nyaman...”. Dara menjawab dengan memandang sekeliling .
“Serius dong Dara!” Axel jadi kesal karena merasa pertanyaan nya di abaikan Dara.
“ Emang boleh... aku tinggal di sini? Aku sih mau mau aja, hehehe!” Dara menjawab dengan polos tanpa menyadari Axel benar benar sedang kesal mendengar jawaban Dara.
Apakah Axel mengizinkan Dara tuk tinggal bersama Ihsan?