Dara Manisku

Dara Manisku
Sakura melambaikan tangan



Seribu tanya di diri Ihsan.


"Kenapa kamu baru memberitahu aku sekarang Xel!" Ihsan merasa Axel terlalu terlambat memberitahu nya.


"Maaf Mas, aku juga baru tahu kemarin lusa, kebetulan saudaraku yang tinggal di jepang pulang ke Indonesia dan menginap beberapa hari di apartemen ku." Jelas Axel.


"Dia sempat melihat album foto kenangan ku bersama Dara, dan dari situ lah akhirnya aku tahu kalau Dara menjadi TKW di jepang." Axel bercerita.


"Sekali lagi aku minta maaf Mas, jika aku telat mengetahui nya." Axel sangat menyesal.


"Maafkan aku juga, sudah berprasangka buruk pada mu Xel, Ku harap kamu mau mengerti, sudah cape, terasa berat hidup tanpa Dara istri ku." Jawab Ihsan sembari tertunduk sedih.


Axel faham keadaan Ihsan, terlihat jelas dari raut wajah Ihsan yang sangat lesu tak bergairah.


"Semangat lah Mas, bukankah sekarang kamu bisa bernafas lega, karena kini Mas sudah tahu di mana Dara berada!" ucap Axel memberikan semangat baru buat Ihsan.


"Terimakasih banyak Axel, ya Alhamdulillah aku merasa lebih tenang, karena minimal aku tahu bahwa Dara baik-baik saja!" jawab Ihsan.


"Aku akan kirimkan alamat saudara ku yang tinggal di jepang, semoga saja keberadaan Dara masih bisa di lacak!" Axel menyudahi panggilan video callnya.


Ihsan segera berkemas, dia memutuskan akan pergi ke jepang.


"Ummi, kita susul Dara. Ummi juga bisa berobat di sana, aku harap Ummi tidak marah lagi dengan Dara!"


"Aku gak perduli ada masalah apa antara Dara dengan Ummi, apapun kesalahan Dara, aku minta Ummi mau memaafkannya!"


"Aku mohon, aku mohon keridhoanmu Ya Ummi?" Tanya Ihsan sembari memegang tangan Ustadzah dan mencium kening nya.


Ustadzah tak bisa berkata-kata, beliau pasrah hanya bisa meneteskan airmata, tanda bahwa Ustadzah memahami kata-kata Ihsan.


"Assalamualaikum Tante, aku siap berangkat sekarang, bisa tolong kirimkan Ambulance buat Ummi?" Ihsan dengan perasaan menggebu-gebu menelpon Tantenya.


"Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh, ke jepang, kamu serius?"tanya Tantenya Ihsan seakan tak percaya akhirnya Ihsan setuju untuk pergi ke jepang.


" Iya Tante, ayo cepat kirimin Ambulance nya!" jawab Ihsan


"Oke, aku kirimkan mobil Ambulance nya sekarang, serius ya , jangan berubah pikiran lagi!" ucap Tantenya Ihsan meyakinkan Ihsan kembali.


"MasyaAllah, aku serius Tante, gak bohong!" Ihsan berusaha meyakinkan Tantenya.


Berangkatlah Ihsan bersama Ibu angkatnya ke jepang menggunakan Pesawat terbang kelas VVIP. Lengkap dengan suster dan di dampingi Dokter yang selalu mengawasi kondisi Ustadzah setiap menit nya.


Di sore hari di sebuah taman bermain.


"Momi aku bisa terbang!" Teriak sakura di taman playground bergelantungan bermain monkey bar.


"Hati-hati sakura, pegangan yang kuat!"teriak Dara sembari menuntun Kanaka yang ingin bermain ayunan.


"Brak!" Sakura terjatuh dari Monkey bar.


Lutut Sakura berdarah. "Momi.... 痛い、痛い ( itai, itai) !" teriak Sakura mengaduh kesakitan.


"Sakura!" Dara terkejut dan berlari mendekati anaknya yang terduduk di pasir ke sakitan.


" さあ、痛いところへ (Sā, itai tokoro e)!"


"Ayo berdiri, coba Momi lihat, apa ada yang sakit ?" ucap Dara sambil mengusap dan meniup lutut Sakura yang terluka.


Kanaka melihat Sakura terluka, malah ikut menangis.


Sudah tiga kali pemberhentian, kini pesawat melanjutkan perjalanan menuju jepang. Sebelas jam lamanya waktu tempuh perjalanan dari Surabaya ke Jepang.


Jam dua belas malam akhirnya Ihsan dan rombongan tiba di Bandar Udara Internasional Osaka Jepang.


Ambulance sudah siap menjemput pasien untuk langsung di bawa ke rumah sakit yang sudah direkomendasikan oleh Tantenya Ihsan.


Tibalah mereka di rumah sakit.


"Baik untuk saat ini biarkan ibu mu istirahat dulu sambil menunggu, mungkin besok segalanya akan di siapkan untuk tindakan operasi!" ucap Dokter yang mendampingi Ustadzah sepanjang perjalanan.


"Baik Dok, terima kasih banyak atas semuanya!" Ihsan tersenyum sambil menjabat erat tangan Dokter.


Ihsan menatap keluar jendela rumah sakit. Di dalam fikiran nya terus menerus memikirkan Dara.


"Dara, Semoga Allah mentakdirkan kita untuk bertemu!" Ucap Ihsan.


Ihsan bersandar di sofa, mencoba untuk tidur, namun hatinya resah tak sabar ingin segera berjumpa dengan Dara.


"Ya Allah pertemukanlah aku dengan istri ku Dara !" terucap doa Ihsan pelan.


Di pagi harinya Ihsan mendapatkan pesan dari Axel yang isinya berupa alamat saudaranya yang tinggal di jepang.


"Semangat terus untuk Mas Ihsan, saya doakan semoga kalian berdua bisa bersama lagi!" isi pesan Axel, Ihsan membacanya dan tersenyum.


"Aamiin, terimakasih Axel!" Ihsan membalas pesan Axel.


Hari itu juga Ihsan berangkat menuju alamat saudaranya Axel.


"Ummi, doakan aku semoga ada harapan untuk bisa menemukan Dara di alamat ini!" Ucap Ihsan pada Ustadzah sembari mencium tangan Ibu angkatnya itu.


"Aaakh...aaakh..!" Ustadzah berteriak seperti ingin mengatakan sesuatu pada Ihsan. Namun sayang Ihsan sama sekali tidak faham maksud ucapan Ustadzah.


"Ummi mau bicara apa, aku gak ngerti !"Ihsan mendekatkan wajahnya.


"Maaf Ummi, aku harus pergi!" Ucap Ihsan.


Dengan tatapan sedih Ustadzah terdiam dan merelakan Ihsan pergi mencari Dara.


"Sakura, ini kelas baru kamu, selamat bersenang-senang ya sayang!" ucap Dara memberikan semangat pada Sakura yang mulai masuk Tingkatan Kelas Yochien.


"Yoshi, jugyō ni ikou 2: 30 Ni mukae ni ikukara!" ( Baik, ayo masuk kelas, Ibu nanti jemput jam 2: 30 ya ) ucap salah satu guru berwarga negara jepang di Kelas Yochien.


Ihsan berjakan lesu di dekat taman bermain bersebrangan dengan sekolah Sakura. Ia merasa bingung dan putus asa. Sebab keberadaan Dara tidak ada orang yang tahu. Saudaranya Axel hanya memberikan info Yayasan Babysister tempat dulu dia menyewa Dara, namun ternyata Dara sudah keluar dari Yayasan itu.


Ihsan terduduk lemas di sebuah bangku taman, di sini banyak orang lewat. Pandangannya kosong menatap setiap orang yang berlalu lalang di hadapannya.


"Hey !" teriak seseorang yang sedang mengendarai mobil mendadak berhenti karena tiba-tiba ada seorang anak kecil menyeberang jalan.


"ごめんなさい ( Gomen'nasai ) !" Ucap anak kecil itu meminta maaf, sambil berlari ke tepi jalan.


Ihsan melihat itu langsung berlari mendekati anak kecil itu.


"Kamu tidak apa-apa nak, ya Allah!" ucap Ihsan sembari melihat tubuh anak perempuan itu khawatir ada yang terluka.


"Kamu dari Indonesia ya?" Tanya anak perempuan itu yang ternyata Sakura.


"Oh, iya, betul sekali, kamu bisa bahasa indonesia juga?" Tanya Ihsan heran.


"Iya, my Momi ajarkan aku bahasa indonesia sedikit-sedikit." Jawab Sakura dengan logat masih kental dengan logat Jepangnya.


"Anak cerdas, lalu kenapa kamu sendirian menyebrang jalan tadi, kemana Momi mu?" Tanya Ihsan


"Aku tidak suka kelas itu, aku bukan bayi, aku ingin pulang saja!" Sakura mengeluh.


Lalu tak lama setelah itu, guru kelas Yochien datang menyusul Sakura.


"Naze kurasu o hanareru nodesu ka !" Ucap Ibu guru yang menanyakan sakura kenapa keluar kelas.


"Shiranaihito to hanasanai!" Ucap Ibu guru lagi mengingatkan Sakura untuk tidak berbicara dengan orang yang tidak dikenal.


"Sumimasen !" Ucap Ibu guru permisi pada Ihsan dan membawa pergi Sakura untuk masuk kelas lagi.


Ihsan hanya terdiam lalu tersenyum, karena tidak memahami bahasa Jepang.


Sakura melambaikan tangan ke Ihsan. Lalu Ihsan pun membalas lambaiannya sambil tersenyum.


Sungguh pertemuan yang tiada di sangka-sangka. Namun sayang Ihsan tidak menyadari sedikit pun bahwa itu adalah pertemuan pertama dengan putri kandungnya.


Ihsan kembali ke rumah sakit tempat Ibu angkatnya di rawat.


Sambil berjalan dengan raut wajah sedih, Ihsan menghela nafas dan lemas menaiki bis.


"Ya Allah aku rindu Dara, di manakah dia!" jerit hati Ihsan.


Pada waktu yang bersamaan, Dara turun dari bis lalu berjalan menuju Sekolah Sakura. Sedangkan di seberangnya Ihsan baru saja naik bis menuju rumah sakit.


"Momi tadi aku berjumpa Orang indonesia di sini!" cerita Sakura sambil menggandeng tangan Dara berjalan pulang.


"Dia laki-laki, baik sekali , Watashinochichi wa sonoyōni yoideshou ka, Momi ?" Ucap Sakura bertanya apa Ayah nya akan baik seperti itu.


Dara terkejut dan teringat dengan Ihsan.


"Bagaimana kabar mu di sana sayang ku?" Bisik hati Dara.


Ihsan pun menyerah dan pasrah, mungkin ini adalah akhir penantiannya. Ihsan berjanji dalam hati akan fokus mengurus Ibu angkatnya saja, dan berusaha melupakan Dara.


Namun di sebuah ruangan UGD terdengar tangisan anak kecil.


Ihsan menatap dan melihat anak kecil itu.


"Bukankah dia anak kecil tadi!" Ucap Ihsan kaget melihat gadis kecil yang bisa berbahasa indonesia ada di rumah sakit di ruang UGD.


"Hai, Kenapa sayang, Kenapa kamu menangis?" Tanya Ihsan sambil memeluk gadis kecil mungil itu.


"Momi ..Momi!" jawab Sakura sembari menunjuk ke arah dalam ruang darurat.


Ihsan bergegas masuk dan melihat wanita bercadar yang kemudian di buka oleh suster yang sedang mengambil tindakan darurat pada Dara.


Ihsan terkejut.


"Dara!" Ucap Ihsan menatap istrinya yang berlumuran darah.


Dara menjadi korban kecelakaan, bis yang di tumpanginya mendadak oleng dan terjadilah tabrakan beruntun.


Dara terus di hentakan dada nya oleh para suster yang berusaha membangkitkan kembali jantung Dara yang terhenti.


Ihsan hanya bisa memeluk Sakura sambil menangisi Dara dari balik kaca jendela.


Dara menghembuskan nafas terakhirnya di ruang darurat itu tanpa mengatakan apa pun.


Jerit tangis Sakura pecah melihat Mominya tak bergerak lagi. Ihsan memeluk erat tubuh mungil Sakura.


Dara telah pergi.


Ihsan tak menyangka ini menjadi pertemuan terakhirnya dengan Dara.


Suster pun keluar sembari menyerahkan barang-barang Dara pada Ihsan. Suster menyangka Ihsan adalah kerabat korban.


Di dalamnya ada ponsel Dara. Sakura mengambil hp itu lalu membukanya. Sakura menatap foto Mominya.


Ihsan melihat foto Sakura berpelukan dengan Dara.


Ihsan kini yakin bahwa gadis kecil ini adalah anaknya Dara.


"siapa namamu nak?" Tanya Ihsan


"Sakura Ihsan Al ghifary!" jawab Sakura.


Terkejutlah Ihsan, mendengar nama gadis kecil itu.


Ihsan memeluk erat tubuh putrinya, sambil menangis.


"Anak ku..!"


" THE END"