
Desiran angin di halaman rumah sakit membuat dahan-dahan pohon bergerak mengayun sendu.
Ihsan sengaja sore itu mendorong kursi roda Dara berkeliling taman.
"Dara udaranya sedikit dingin ya!" Ucap Ihsan sambil menyelimuti tubuh Dara dengan selimut yang duduk di kursi roda.
Dara hanya diam sembari melihat dahan dan ranting pohon bergerak tertiup angin.
Ihsan memegang tangan Dara erat.
"Dara, apa pun yang terjadi aku mohon padamu jangan pernah lagi berpikir tuk mengakhiri hidup mu, jangan pernah tinggalkan aku!" Ucap Ihsan di depan Dara.
Dara menatap Ihsan, dan membelai wajah Ihsan.
"Maafkan aku, aku janji tidak akan menyusahkan mu lagi". Ucap Dara dengan suara pelan.
Ihsan tersenyum sembari mengambil tangan Dara lalu mencium tangan Dara lembut.
"Aku sayang kamu, aku mencintai mu Dara". Ucap Ihsan.
Ihsan menyandarkan kepalanya di pangkuan Dara.
Dara membelai lembut rambut Ihsan dengan menatap kosong ke depan.
Dari kejauhan ternyata Ustadzah sudah sampai rumah sakit.
Ustadzah yang sedang berjalan di koridor rumah sakit melihat ke arah taman dan menatap dengan penuh rasa khawatir .
" Bagaimana caranya aku menjauhkan Dara tanpa harus mengungkap rahasia itu?" Bisik hati Ustadzah yang melihat Ihsan yang sedang berduaan dengan Dara di taman.
Ihsan kembali mendorong kursi roda Dara menuju kamar.
"Ayo kita kembali, hari sudah mulai gelap!" Ucap Ihsan sembari mendorong kursi roda Dara.
Ihsan dan Dara sampai di kamar yang ternyata disana sudah ada Ustadzah dan pamannya Ihsan.
"MasyaAllah...Ummi ...Paman..!" Ucap Ihsan senang melihat Ummi datang beserta pamannya.
"Assalamualaikum Ihsan, ponakanku...apa kabar?" Ucap Paman sembari memeluk tubuh Ihsan. Mereka berdua tertawa senang.
Lalu Ustadzah mengambil kursi roda Dara dan mengusap wajah Dara yang tertutup cadar dengan lembut.
"Assalamualaikum Dara, apa kamu sudah baikan sekarang ?" Tanya Ustadzah.
"wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh iya Ummi , Alhamdulillah aku baik-baik saja ". Jawab Dara dengan suara pelan.
Dara tidak berani menatap Ustadzah, dia tertunduk sedih.
"Ada apa Dara?" Tanya Ustadzah yang merasakan Dara sedikit berbeda.
"Tidak ada apa-apa Ummi, silahkan duduk Ummi!" Jawab Dara sambil mempersilahkan Ustadzah duduk.
Sedangkan Ihsan masih asyik mengobrol dengan Pamannya.
" Dara..Paman mau ajak Ihsan keluar sebentar, boleh kan?" Tanya Paman pada Dara bersemangat sembari merangkul Ihsan.
"Iya, Om.. ajaklah Ihsan keluar, pasti dia jenuh di rumah sakit terus menemani aku!" Jawab Dara tidak keberatan.
"Oke..Ayo Ihsan!" Jawab Paman senang.
"Dara aku pergi dulu, hanya sebentar, Ummi aku titip Dara ya?" Ucap Ihsan
"Iya...tenang saja, Dara pasti Ummi jaga baik-baik!" Jawab Ustadzah tersenyum pada Ihsan.
Mereka berdua pun keluar dari kamar. Tinggal lah Ustadzah bersama Dara di dalam kamar.
"Ummi, mau minum apa?" Tanya Dara melihat ke arah meja yang tersedia minuman ringan di atas nya.
"Tidak usah repot-repot!" Jawab Ustadzah datar.
"Oh iya baiklah". Jawab Dara mulai canggung.
Ustadzah kemudian duduk dan menatap dengan penuh rasa benci pada Dara.
Dara terdiam dia merasakan seperti nya ada yang berbeda dengan Ustadzah.
Dara mendekati Ustadzah.
"Ummi ...Maafkan aku karena selalu membuat Ihsan susah, Ummi pasti kesal karena aku sering keluar masuk rumah sakit!" Ucap Dara Sembari menyentuh tangan Ustadzah.
"Bukan hanya merepotkan, kamu juga sudah membohongi kami semua!" Jawab Ustadzah sembari menyingkirkan tangan Dara.
" Maksud Ummi apa, aku bohong, bohong soal apa Ummi?" Tanya Dara bingung.
" Apa salah Abi dan Ummi pada mu Dara, kenapa kamu tega membohongi kami semua, bahkan Mama mu juga, di mana dia sekarang!?" Tanya Ustadzah dengan tatapan tajam pada Dara.
"Mama...mama Tidak ada di sini, dia sudah pergi!" Jawab Dara takut.
"Hemm, kabur....melarikan diri dan menimpakan semuanya pada kami!"Jawab Ustadzah sinis.
Dara terkejut tak mengerti maksud dari perkataan Ustadzah.
" Ummi kenapa aku harus meninggalkan Ihsan, apa kesalahan ku Ummi?" Tanya Dara dengan mata berkaca-kaca.
"Apa kesalahan mu!" Jawab Ustadzah sangat kesal.
Dara tertunduk, merasa sangat bersalah karena menanyakan hal itu.
"Apa kamu masih saja berpura-pura depan Ummi, atau memang kamu tidak tahu asal usul mu Dara!?" Tanya Ustadzah dengan nada marah.
"DEG!" Dara terkejut.
Rasa sesak di dada-dada tiba -tiba menyerang Dara ketika Ustadzah mengungkit masalah asal usul Dara.
"Kamu anak seorang pembunuh, mungkin kalau yang di bunuh Ayah mu itu orang lain, Ummi tidak akan mempermasalahkannya!" "tapi...yang Ayah mu bunuh adalah orang tua kandungnya Ihsan!" Jelas Ustadzah sambil meneteskan airmata.
Dara terdiam dan menangis tanpa suara. Tubuh Dara gemetar.
Dara tak menyangka Ustadzah mengetahui semuanya.
Dara tak bisa lagi membela diri, dia merasa sangat menyesal dan bersalah pada semuanya.
"Aku..Aku..minta maaf Ummi!" Ucap Dara gemetaran.
" Aku maafkan, tapi Dara, pernikahan ini tidak mungkin diteruskan, apa yang akan terjadi, apa yang harus Ummi jelaskan pada Ihsan, pada anak-anak kalian kelak!" Ungkap Ustadzah sembari menangis.
"Aku.. Aku..Tidak tahu harus apa Ummi!" Jawab Dara menangis sampai nafasnya sesak.
"Tinggalkan Ihsan, pergilah sejauh mungkin, menghilanglah, Ummi mohon padamu Dara!" Ucap Ustadzah bersimpuh di depan Dara.
Dara tak mampu berkata-kata, hati nya hancur lebur dan tak ada sisa kebahagian lagi disana.
"Aku memang tak pantas untuk Ihsan, bangunlah Ummi jangan bersimpuh di depan manusia PENDOSA seperti aku". Jawab Dara sambil memegang kedua lengan Ustadzah meminta tuk berdiri.
" Sungguh aku pasti orang yang tidak tahu malu, jika aku masih berharap tetap menjadi istrinya Ihsan!" Ucap Dara sambil mengusap air matanya.
"Percayalah pada ku Ummi, aku sayang sama Abi dan Ummi, tidak akan aku biarkan siapapun melukai hati kalian, siapapun, termasuk aku!" Dara menjelaskan berharap Ustadzah mau mempercayainya.
Ustadzah mendengar itu langsung lega hatinya.
"Alhamdulillah, aku bersyukur jika kamu mau mengerti Dara, ini demi kebahagiaan Ihsan!" Ucap Ustadzah.
"Beri aku waktu dua hari, setelah itu, tidak akan ada lagi Dara istri Ihsan!" Jawab Dara meyakinkan Ustadzah.
Ustadzah mengangguk faham dan setuju dengan keputusan Dara.
Tak berapa lama Ihsan dan paman pun datang sambil tertawa-tawa.
Dara mendengar suara tawa Ihsan, buru-buru mengusap air matanya dan berusaha tegar tidak ingin sampai Ihsan tahu, dengan membaca dari raut wajahnya
"hahaha...Paman emang benar-benar, masa orang dikerjain sampai kaya gitu!" Ucap Ihsan sembari masuk ke dalam kamar rawat inap Dara.
"Wah...kayanya seneng banget kamu Ihsan!" Ucap Dara berusaha menutupi semua kejadian tadi dengan suara yang ceria menyambut Ihsan.
"hehehe, aku juga sudah lama tidak tertawa selepas ini !" Jawab Pamannya Ihsan.
"ini mba, aku belikan rujak cingur kesukaan mu!" Ucap paman sembari menyodorkan bungkusan pada Ustadzah.
"hmmm ..tahu aja kamu dek, pas banget aku memang lagi pingin makan yang pedes-pedes biar gak pusing kepala ku!" Jawab Ustadzah tersenyum dan membuka bungkusan rujak itu.
"Ummi sakit kepala?" Tanya Ihsan khawatir.
" Lebih baik segera di periksa ke Dokter saja Ummi!" Ucap Ihsan langsung mendekati Ustadzah dan memeriksa keadaan Ustadzah.
"Ummi gak apa-apa kok nak, ini cobain seger banget rujak nya!" Jawab Ustadzah sambil memakan rujak nya.
Dara memandang Ihsan yang sedang tersenyum sembari memakan rujak bersama Ustadzah.
"Dara, kamu mau cobain rujak nya?" Tanya Pamannya Ihsan sembari menawarkan rujak pada Dara.
" Tidak Om...terimakasih, aku kurang suka rujak!" Jawab Dara sambil tersenyum.
Ke esokan harinya Dara sudah diperbolehkan pulang. Ihsan merasa lega karena bisa melalui ujian ini dengan baik. Ihsan menaruh harapan bahwa mulai sekarang semuanya akan baik-baik saja.
"Apa kamu sudah dapat kabar dari Mama, Dara?" Tanya Ihsan sembari menyetir mobil nya menuju arah pulang.
"Tidak, belum ada kabar apa-apa dari Mama, hp nya pun tidak aktif!" Jawab Dara sambil menatap ke luar jendela mobil.
"Ya sudah, kamu tenang aja, Mama mu pasti baik-baik saja di mana pun dia berada". Ungkap Ihsan sambil menggenggam tangan Dara.
"Aamiin ...!" Jawab Dara.
Dara lalu berpikir sembari memandang wajah Ihsan yang sedang fokus menyetir mobil.
" Aku hanya punya waktu dua hari lagi bersama mu Ihsan, dua hari menjadi istri mu!" Ucap Dara dalam hati.