
Sudah seminggu Axel di rawat di rumah sakit, “ Dokter bilang apa? Kapan aku bisa pulang?” Tanya Axel pada Ihsan.
“Gak sabar pingin ketemu Dara, pingin ajak dia kerja di cafe lagi seperti dulu”. Ucap Axel sambil memasukkan pakaian nya kedalam tas.
Ihsan terdiam saja sambil duduk melihat Axel sibuk membereskan pakaian nya .
“Mas Ihsan...! kenapa diam saja, Memang apa kata dokter?” Tanya Axel kembali pada Ihsan.
“Alhamdulillah kamu bisa pulang besok, menurut Dokter gak ada yang perlu di khawatirkan”. Ihsan akhirnya menjawab.
“Nah..... syukurlah...akhirnya!” aku dah bosen di sini!” Ungkap Axel lalu duduk di samping Ihsan.
“Kenapa dari tadi gak di jawab kalau sudah tahu?” “memangnya ada apa?” apa semua Baik-baik saja?” Axel penasaran melihat sikap Ihsan.
“Apa kamu sudah bicara dengan Dara?”tanya Ihsan pada Axel.
“ Hari ini belum, memang ada apa?” Axel semakin penasaran pada Ihsan.
“Menurut hasil penyelidikan polisi, Bos Geng Tiger atau Bos klub malam tempat Dara dulu bekerja belum tertangkap!” Ihsan menjelaskan pada Axel.
“ Apa... memang masih ada Bos lainnya?” “tunggu...tadi mas Ihsan bilang Dara pernah kerja di klub malam?” Axel kaget mendengar itu.
“Astaghfirullah !” Ihsan merasa bersalah karena sudah kelepasan mengungkap masa lalu Dara pada Axel.
“Ya ..Allah.. begini Axel, yang penting Dara yang sekarang, jangan tanyakan lagi soal masa lalunya ya, aku mohon?” Ihsan meminta Axel melupakan siapa dan bagaimana Dara dulu.
Ihsan ingin Axel lebih memikirkan tentang keselamatan Dara saja, “Kita harus fokus menjaga Dara, karena bahaya masih mengintai Dara sewaktu-waktu!”
“Dan kemungkinan Dara tidak akan kembali ke jakarta dulu, ini semua untuk keamanan nya, polisi pun sudah bekerja sama dengan kepolisian Surabaya".
Ihsan ingin Axel mengerti keadaan Dara yang belum aman untuk tinggal di dekatnya.
Axel mendesah resah, sambil memandang langit-langit kamar rumah sakit, “begitu rumit hidup Dara, aku tak menyangka harus jauh dari Dara seperti ini".
“Sabarlah...jodoh Tidak akan kemana, hehehe “. Ihsan mencoba menghibur Axel.
“ada ada aja mas Ihsan, bukan itu maksud saya, aku Cuma ingin Dara bisa bekerja lagi di cafe ku, itu saja kok !”. Axel berusaha mencari alasan.
Sore itu di Surabaya, sudah enam tahun lamanya Dara tidak pulang kerumah tempat ia dulu di lahirkan.
“Masih sama seperti dulu, bu...beli almond crispy keju nya ya dua bungkus!” Dara berhenti di sebuah toko jajanan tempat dulu dia sering nongkrong setiap pulang sekolah bersama teman -temannya.
Dara duduk termenung di toko makanan itu sambil menunggu waktu berbuka. Kemudian Dara melihat kearah seberang jalan, banyak orang berkerumun.
Dara merasa penasaran lalu berjalan menghampiri kerumunan “Ada apa ya?”
“ Innalillahi wa innalillahi rojiun...sepertinya ada kecelakaan!” ucap Dara karena terkejut.
Dara melihat diantara selah-selah kerumunan ada seseorang yang tergeletak“ Ya allah,. Ada korban!”
Dara langsung masuk ke dalam kerumunan “permisi...permisi...!” dan memegang seorang wanita yang sudah tergeletak tidak sadarkan diri.
“Pak...bu......cepat...cepat telp ambulance...ya Allah..!” “bu..bu..ibu ...tidak apa apa? Bu!”
Dara berteriak meminta orang-orang untuk menolong korban, lalu Dara mencoba melihat kondisinya, di balik kan badan ibu-ibu korban kecelakaan itu.
“Astaghfirullah....Mama....? mama...!”
Ternyata korban kecelakaan yang tergeletak itu adalah mamanya Dara.
Segera Dara membawa mamanya kerumah sakit terdekat, sepanjang jalan di dalam Ambulance Dara memegangi tangan mamanya.
“Mama....mama...bangun mama...bangun..ya Allah tolong mama ...mamaaaa!” Dara menangis menjadi-jadi.
Mama Dara langsung masuk ke ruang UGD dan dokter jaga gawat darurat berlarian menghampiri dan memeriksa kondisi mama Dara.
“ Dokter...dokter ...tolong mama ku.. dia..dia..tidak bangun bangun dokter...dari tadi aku panggil-panggil tidak ada respon!” ada apa ya Dok? ada apa dengan mama saya!”
“Mba...Mba tolong tenang!” Suster!” Suster tolong bawa mba ini !” Dokter jaga pun meminta suster membawa Dara menjauh dari ruang gawat darurat.
“Tapi Dok..aku mau sama mama aku..dok!” Dara menolak untuk menjauh dari mamanya,
“Mba.. Mba...duduk di sana dulu ya...Dokter sedang berusaha menolong pasien, sebaiknya mba tenang...kalau Mba begini itu akan menggangu kerja Dokter!” Suster berusaha memberikan pengertian pada Dara saat itu.
Akhir nya Dara menurut, Dara keluar dari ruang gawat darurat dan duduk menantikan kabar tentang mamanya.
Handphone Dara berdering, terus berdering, namun Dara tidak mau tahu dan tidak mau mengangkat nya, pikirannya hanya fokus menantikan kabar kondisi mamanya.
“Hmmm...kenapa gak di angkat angkat, Dara kenapa ya?” ternyata yang menelpon Dara adalah Axel.
“Ada apa?” Tanya Ihsan sambil menyetir mobilnya.
“ini ...aku telp Dara, tapi...tidak diangkat,kenapa ya?” Aku Cuma ingin kasih tahu, kalau aku sudah keluar dari rumah sakit". Axel terlihat cemas sambil menatap keluar jendela mobil.
“ tenang aja, paling dia sedang ngaji, kegiatan Dara di sana banyak, mungkin aja dia lagi gak pegang hp". Ihsan menanggapi kecemasan Axel agar berbaik sangka pada Dara.
“Oya..bener juga “, Axel menghela nafas lega.
Kemudian di UGD, Dara terlihat sangat cemas, dia *******-***** jarinya sambil terus beristighfar, “Astaghfirullahal'adziim...Astaghfirullahal’adziim....!”
Tak lama setelah itu Dokter jaga pun keluar dari ruang gawat darurat . Dara yang melihat itu langsung berlari menghampiri dokter, “Bagaimana keadaan mama saya Dok?” tanya Dara sambil menghentikan langkah dokter.
“Mama anda...harus segera di ambil tindakan operasi, sebentar saya harus membicarakan dulu dengan dokter spesialis bedah ...sebentar ya!”
Tiba-tiba dokter jaga menghentikan percakapannya dengan Dara.
“Dokter Hadi !” Dokter jaga memanggil sembari memegang tangan Dokter spesialis yang kebetulan lewat di sampingnya.
“iya ..ada apa?” tanya Dokter Hadi. “maaf Dok, ini ada pasien darurat saya perlu berkonsultasi dengan anda Dok". Ungkap Dokter jaga UGD menjelaskan keadaan pasien yaitu mamanya Dara.
“Mba tunggu di sini ya...ibu anda sedang di tangani oleh kami, jadi tunggu saja kabar selanjutnya, berdoalah!” Dokter UGD itu meminta Dara untuk tenang sambil berdoa.
Dokter Hadi pun masuk bersama Dokter jaga ke ruang gawat darurat.
“Baik Dok!” Jawab Dara.
Sudah berjam-jam Dara menunggu di ruang tunggu UGD, namun dokter jaga gawat darurat tidak juga kelihatan.
“Alhamdulillah.....aku pulang...!” ucap Axel memasuki apartemennya. Ihsan ikut tersenyum melihat Axel senang.
“Terimakasih banyak mas Ihsan, karena sudah mengantar kan saya pulang”, ungkap Axel sembari menaruh tas nya di sofa. “silahkan Duduk mas!”
“Iya...!” Jawab Ihsan lalu duduk sambil melihat sekeliling apartemen Axel.
Axel pergi ke dapur menawarkan Ihsan minum, “O..iya ..mau minum apa? Ada sofdrink atau mau teh , kopi barangkali?” Axel melihat -lihat isi kulkasnya yang kosong tak ada makanan.
“Santai aja... cukup air putih dingin, aku ada kurma, kamu mau coba?” Ihsan mengeluarkan bungkusan dari tasnya.
“Boleh juga, lumayan buat ganjel perut, hehehe...lupa tadi gak beli makanan buat kita buka!” ucap Axel sedikit malu karena tidak ada satu pun makanan di kulkasnya.
“ Boleh aku tanya sesuatu?” Axel mulai mendekati Ihsan ingin mengetahui sesuatu.
“ Kenapa kamu menolong Dara mas?, maksud ku sedekat apa kamu dengan Dara sampai mas Ihsan mau turun tangan sejauh itu?” Axel bertanya pemasaran ingin mengorek kisah di balik Ihsan dan Dara.
“ Ceritanya panjang, tapi biasa aja gak ada yang special”, jelas Ihsan singkat.
“Masa...?” Aku yakin ada hubungan lain antara mas Ihsan dengan Dara, kalau gak...Bagaimana mungkin orang menolong seperti itu kalau tidak kenal dekat!” Ungkap Axel merasa Ihsan menyembunyikan sesuatu darinya.
“Begini... aku akan cerita ...ini karena kamu tanya , daripada kamu berpikir yang tidak-tidak".
Ihsan pun mulai bercerita,
Di kampung tempat dulu Dara mengontrak dengan Varel terdapat sebuah masjid yang sangat kotor dan terlihat jarang di gunakan untuk sholat.
Berdirilah seorang anak muda yang gagah melihat sedih kearah masjid yang megah namun tidak terawat.
Kemudian dengan sukarela anak muda itu mulai membersihkan masjid, dan setiap orang yang melewati masjid ada yang merasa heran, namun banyak juga yang tidak perduli.
“Permisi...anak ini siapa ya?” tanya seorang bapak-bapak bersorban hijau.
“oh ...iya...perkenalkan nama saya Ihsan Al ghifary, saya mahasiswa Universitas Islam”, Anak muda itu meletakkan sapu lalu menjabat tangan orang itu dan mulai memperkenalkan namanya.
“Ooo..saya ketua lingkungan di sini, orang-orang biasa memanggil saya pak Haji, padahal saya belum pernah haji , hehehe". Jawab bapak-bapak itu dengan ramah menyambut Ihsan.
“Alhamdulillah kalau begitu pak Haji”. Ihsan menanggapi keramahan pak Haji dengan bersenda gurau.
“ yah beginilah keadaan masjid ini, megah tapi sepi", ungkap Pak Haji dengan wajah sedih.
“Kenapa memangnya pak, apa di sini tidak ada orang muslimnya?” Tanya Ihsan heran.
“Bukan begitu, yang Islam di sini Banyak nak, tapi yang sholat di sini Cuma saya dan anak saya saja”. Jawab Pak Haji menjelaskan.
“Astaghfirullah “, Ihsan merasa prihatin mendengar penjelasan Pak Haji.
Pak Haji menceritakan bahwa di daerah ini ada geng yang sangat berkuasa dan memberikan pengaruh buruk pada warga , sehingga warga jauh dari agama.
Di ujung jalan berdiri sebuah tempat dimana warga sering berkumpul untuk berjudi , minum-minum sambil bernyanyi berjoget maksiat.
Di situlah tempat Dara bekerja sebagai penyanyi klub malam.
Singkatnya Ihsan sering berpapasan dengan Dara yang sering pulang subuh. Sering mendengar cerita warga sekitar tentang sekilas kehidupan rumah tangga Dara yang sering bertengkar dengan suaminya Varel.
“Sedangkan Dara sendiri baru mengenal saya ketika kejadian di pasar”. Ungkap Ihsan yang sedang menceritakan kisahnya kepada Axel yang dengan seksama mendengarkan.
“ kejadian apa tuh mas Ihsan?” Tanya Axel. “ Jadi saya dituduh Dara mencuri dompetnya dan saya di tampar Dara, hahaha!” Ihsan merasa lucu terkenang saat itu.
“Sejak saat itu Dara tahu nama ku tapi setiap bertemu di jalan dia tidak pernah menyapa, aneh kan? Hehehe". Ihsan menceritakan bagaimana sikap Dara pada Ihsan waktu itu.
“Pada saat di kampung itu, aku mulai menyelidiki dan mengumpulkan beberapa bukti, untuk bisa menutup tempat maksiat itu!”
“Alhamdulillah...polisi pun merespon laporan ku, meski aku harus berjuang di pengadilan melawan beberapa oknum polisi yang menjadi pelindung Klub malam itu!”
“Seminggu sebelum malam tahun baru, penggerebekan pun terjadi, aku berusaha mencari Dara namun tidak juga ketemu, beberapa anak buah geng Tiger di tangkap, klub itu di segel polisi, tapi tetap saja Bos klub malam tidak tertangkap!”
“lalu apa yang terjadi pada Dara?” tanya Axel semakin penasaran dengan cerita Ihsan.
Ihsan kembali bercerita, “ waktu itu hujan, aku sedang membeli gorengan, pada saat itulah aku melihat Dara, hujan-hujanan, sambil menggeret koper nya”.
“Dia mau kemana?” tanya Axel
“Aku juga gak tahu”, jawab Ihsan, lalu kembali bercerita,
“Aku ikuti Dara dari belakang, lalu ketika di pinggir jalan raya Dara terciprat air dari mobil yang lewat kemudian dia berteriak , aku tidak tega menyaksikannya saat itu, Dara terlihat lusuh dan sedih sekali".
“Pada saat itu aku berikan payung ku, dan meninggalkan nya begitu saja". Ungkap Ihsan dengan wajah penuh penyesalan.
“Loh kenapa mas Ihsan gak nolongin Dara?” tanya Axel sedikit kesal.
“Kamu tahu Axel, aku pernah mengalami koma selama satu tahun karena berusaha menolong orang lain, dan aku berjanji pada orang tua angkat ku untuk tidak ikut campur urusan orang lain lagi".
“Ya pada saat itu aku tahu kondisi Dara tapi aku juga tahu geng Tiger bukan komplotan biasa, aku sangat pengecut...aku egois.. aku hanya teringat janjiku pada orang tua angkat ku, aku tidak mau membuat mereka khawatir lagi, tapi..... sungguh aku menyesal...”.
“Lalu kenapa sekarang mas Ihsan mau menolong Dara?” Axel mempertanyakan alasan Ihsan menolong Dara.
“Ingat waktu kamu dan Dara datang ke apartemen ku pertama kali?” tanya Ihsan kembali mengenang ketika pertama kali Ihsan bertemu Axel.
“Iya ..aku Ingat...seingat aku mas Ihsan tidak mengenali Dara saat itu, kok bisa?” Axel merasa heran.
“Tentu saja aku tidak mengenalinya, sudah lima atau enam tahun, sudah lama aku tidak pernah ketemu Dara dan penampilan Dara sangat jauh berbeda dengan penampilan nya yang dulu, dia dulu selalu berpakaian ...apa ya....terlalu terbuka.. ya begitulah, dan makeup nya tebal sekali”. Ihsan menjelaskan dengan malu-malu karena harus mengingat bagaimana Dara dulu berpakaian seksi.
“Namun setelah bertemu lagi di cafemu, aku mulai menyadari bahwa dia adalah Dara, dan aku merasa ...Allah memberikan kesempatan aku untuk membayar kesalahan ku dulu....kesalahan ketika aku mengabaikan Dara, di saat dia sedang membutuhkan pertolongan”.
“ Yah...begitulah Axel, gak ada yang special, aku menolong Dara karena rasa kemanusiaan dan karena kewajiban ku untuk menolong sesama saudara semuslim, itu aja".
Ihsan menjelaskan pada Axel tentang Niat tulusnya menolong Dara.
“aaahhh... aneh juga!” ucap Axel spontan, “maksudnya?” tanya Ihsan bingung.
“Iya...waktu Dara lupa ingatan...kenapa yang dia ingat hanya kamu mas, padahal kalau dari cerita tadi, Dara gak pernah menyapa mas Ihsan, Iya kan?” Axel merasa heran.
“Kalau soal itu aku juga gak faham". Ihsan menjawab Axel sambil minum segelas air putih dingin.
“Apa ...diam-diam Dara dulu suka sama mas Ihsan?” Axel mengutarakan rasa cemburunya pada Ihsan.
Ihsan yang sedang minum saat itu, kaget lalu tersedak dan batuk, “ uhuk...uhuk...astaghfirulloh...hahaha.... Yang bener aja Xel, kamu tuh!” Ihsan tertawa geli mendengar ucapan Axel.
Ke esokan harinya di rumah sakit, Dara berjalan lemas menuju ruang tunggu kamar operasi, telp nya berdering dan berdering lagi.
“Iya hallo... ?” akhirnya Dara mengangkatnya.
Ustadzah pimpinan pondok pesantren putri yayasan Al Ihsan menelpon Dara.
“Assalamualaikum Dara, kamu ada di mana, Ummi khawatir sekali, dari kemarin Ummi telp kamu tidak menjawabnya, ada apa nak Dara? Kenapa tidak pulang ke pondok?” tanya Ustadzah penuh perhatian.
“ Wa’alaikumsalam Ummi.... maafkan saya karena lupa memberi kabar “, Dara berhenti bicara dan menangis, “Mama Dara ....Mama Dara ..Ummi...!”
“Kenapa nak, kok nangis? Memangnya kenapa mama kamu?” Ustadzah merasa khawatir ketika mendengar Dara menangis di telp.
“Mama ku sekarang di ruang operasi Ummi...Mama kemarin tertabrak motor...!” Dara menceritakan suara serak sambil menangis.
“Astaghfirullah.. innalillahi wa inna ilaihi rojiun.....Ya Allah nak... yang sabar yaaa.. rumah sakit mana, nanti Ummi kesana dengan Abi!” Jawab Ustadzah
“Iya Ummi ... Rumah sakit Syifa...Ummi “. Kemudian Dara menghentikan pembicaraan nya dengan Ustadzah, karena melihat Suster keluar dari ruang operasi.
“ Suster...bagaimana operasi nya...bagaimana Mama saya...apa operasinya berhasil?” tanya Dara dengan wajah cemas.
Telp Dara belum di matikan, masih terhubung dengan ustadzah, sehingga ustadzah ikut mendengarkan dari sana bagaimana Dara begitu khawatir menanyakan keadaan mamanya pada suster.
Dara menantikan jawaban suster dengan berlinangan airmata.
Kabar apakah yang Dara dengar dari suster tentang operasi mama Dara? Apakah operasinya berhasil?