
Dara masih tetap berada di ruang tunggu Rumah sakit, sudah dua hari Dara sendirian saja menantikan dengan cemas kabar Mamanya yang kini sedang di operasi.
Adzan pun berkumandang, Dara melangkahkan kaki nya menuju masjid.
“Assalamualaikum warahmatullah.....Assalamualaikum warahmatullah....” Dara baru selesai melaksanakan sholat shubuh berjamaah.
Dara duduk sendirian di pojok dalam masjid. Satu Persatu orang keluar dari masjid. Suasana pun menjadi hening, membuat orang di dalamnya menjadi bertambah khusu’ untuk berdoa.
Dara mengangkat kedua tangannya dan mengangkat wajahnya sambil memandangi lafaz Allah di dinding masjid saat itu. Lalu dia berdoa.
“Ya Allah....Ampuni aku...maaf kan aku...aku mungkin bukanlah anak yang berbakti....tapi aku sayang mama ku yaa Allah..izin kan aku untuk meminta maaf pada mama ku...tolong sembuh kan mama...sadarkan dia...sehat kan lagi mamaku ya Allah...biarkan.. biarkan mama melihat aku anaknya..Tiada Tuhan selain Engkau ....Yaa Allah hanya kepada Engkaulah aku menyembah...dan hanya kepada Engkaulah aku memohon pertolongan, kabulkan lah wahai Tuhan seluruh Alam....Aamiin!”
Dara berdoa di iringi deraian air mata. Menangis tanpa suara, menambah rasa sesak di dada. Hati Dara terasa pilu, “Andaikan aku sadar diri dan segera pulang...andai saja aku tidak pernah meninggalkan nya...!”
Dara terus mengingat semua kesalahan nya, keputusan Dara yang membuat dia meninggalkan mamanya. Penyesalan itu membuat Dara merasa sesak.
“Kalau saja aku tidak pernah mencintai Varel...kalau saja aku lebih memilih mama daripada Varel....ini semua tidak akan terjadi...kenapa aku begitu bodoh!”
Ketika Dara menikah usianya baru 15 tahun, usia yang terlalu muda untuk memulai rumah tangga. Dara memutuskan hubungan dengan mamanya di hari kelulusannya.
Acara Wisuda SMP Dara
“Dara Srifiana!” nama Dara berkali-kali di panggil oleh wali kelas nya untuk naik ke atas panggung.
Namun Dara tetap tidak datang, mamanya yang duduk persis di depan panggung kebingungan kenapa Dara tidak muncul.
“Dara kok lama banget ke kamar mandi nya ya?.... duh ini anak...!”
Mama Dara langsung mendekati pak wali kelas 9C dan berbicara pelan, “maaf ya pak...Daranya tadi izin ke belakang”.
“Tapi bu...Dara kan harus menerima penghargaan juara umum dan memberikan pidato perwakilan sekolah!” kata pak wali kelas 9C.
“Iya pak...maafkan sekali lagi, saya akan susul Dara sekarang Pak!” Mama Dara bergegas keluar dari Aula tempat wisuda.
“Hp nya kok mati sih!”
“Bener bener ini anak, sejak bergaul dengan bajingan itu, Dara jadi kaya gini!” Mama Dara berkali-kali menelpon Dara tapi Hp nya tidak aktif.
Mama Dara akhirnya sampai di kamar mandi putri, “Mana dia...?”
“Loh...kok sepi!” Mama Dara kaget melihat tidak ada orang satu pun di kamar mandi.
Kemudian mama Dara keluar dengan perasaan cemas, kebetulan ada dua orang anak yang lewat lalu mama Dara menghentikan mereka dan bertanya.
“Nak...permisi..eee..kenal Dara gak?” tanya mama Dara.
“Kelas berapa bu?” dua orang anak itu balik bertanya.
“Kelas 9C!” Jawab Mama Dara.
“Oooo...Dara itu...tadi saya lihat Dara keluar Bu!” Jawab salah satu dari mereka sambil menunjukkan arah pintu keluar.
“Apa....keluar..aduh..ya udah..terimakasih ya!” Mama dara tidak habis pikir kenapa Dara malah keluar Aula.
“Iya Bu...sama-sama!” Jawab anak-anak itu.
Mama Dara segera berlari menuju pintu keluar Aula, berusaha mengejar Dara, dan dua orang anak tadi pun mulai mengobrol menggosipkan Dara.
“Eh ...Dara yang pacaran sama anak STM itu kan maksud lo?” salah seorang bertanya pada temannya.
“Iya... Dara itu, padahal pinter loh dia, tapi kok malah pacaran sama cowo kaya gitu ya?!” pikir nya heran.
“Emang cowo nya kenapa?” tanya temannya lagi. “ gue denger nih, cowo nya Dara itu preman tau!”
“Dara...Dara...!” Mama Dara berteriak teriak memanggil Dara, namun Dara tidak terlihat juga. Kemudian Mama Dara mendengar suara motor trail di nyalakan.
Bergegas Mama Dara menuju tempat suara motor itu berasal. “Dara...? Dara!” teriak mama Dara melihat anaknya sedang berboncengan dengan laki-laki.
Mama Dara langsung menahan Dara dengan menghentikan motor itu. “Stop!!...Turun kamu!...Turun!!” Mama Dara menarik tangan Dara memaksa Dara untuk turun dari motor.
“apaan sih mama!” iiiiihhh...udah deh!” Dara menolak perintah Mamanya untuk segera turun dari motor.
Kemudian Laki-laki itu membuka helm nya dan memegang tangan mama Dara dan berkata, “lepasin Dara tante!”
“Hey...!! Siapa kamu !! Berani-beraninya mau bawa kabur anak tante?...ooo pasti kamu yang namanya Varel ya!” dengan cepat Tangan mama Dara mendarat di wajah laki-laki itu, “PLAAKK!!”.
Varel tersentak kaget dan melontarkan tatapan penuh amarah pada mama Dara.
“Dara ayo..ikut Mama, kamu di cariin sama pak wali kelas!!” Mama Dara kemudian menarik Dara untuk ikut ke dalam Aula.
“Lepasin...lepasin!!” Dara melawan, meronta ronta berusaha lepas dari pegangan Mamanya.”LEPASSS!” Dara mendorong kuat mamanya agar pegangan nya terlepas sampai-sampai mama Dara terjatuh.
“Bruuukk!”.. “Aaww...Dara!” Mama Dara kesakitan dan kaget dengan perlakuan Dara yang kasar pada mamanya sendiri.
Dara kemudian menatap mamanya dengan marah lalu mengucapkan kata-kata yang akan dia sesali seumur hidupnya.
“Mama...dengerin Dara, jangan pernah ngatur-ngatur hidup Dara lagi! Dara dah capek!”
“Dara bosan...harus ini...harus itu, harus rangking 1...harus juara ini...harus begini dan begitu!”
“Dara capek mama!... Dara pingin hidup dengan cara Dara!”
Dara bicara dengan nada keras, bahkan security sekolah pun mendengar dan berusaha melerai.
“Eeeh...ada apa ini... ayo sudah! Sudah! gak boleh gitu sama ibu mu!” security sekolah langsung menolong mamanya Dara berdiri.
“DIAM!” Dara gak mau dan gak pernah minta jadi anak IBU ini!!” jawab Dara sangat kasar.
“Dara!...kenapa kamu jadi begini nak..? Mama sayang kamu...ini Mama sayang...ini Mama.. sadarlah Dara!.. Mama mohon". Mama Dara berbicara dengan suara memohon sampai bercucuran air mata.
“Heh...dah jam berapa nih, buruan kita pergi Dar!” bisik Varel di telinga Dara. Lalu Dara mengeluarkan lembaran-kembaran kertas hasil nilai ujian dari dalam tasnya.
Kertas itu di sobek-sobek Dara di depan Mamanya, “ini kan yang mama mau..ini !..ini !..makan ini semua!” Dara lalu melemparkan semua sobekan itu di depan wajah mamanya.
Itulah terakhir kali Dara melihat mamanya, kini mamanya terbaring di ruang operasi tak berdaya.
“ Suster...bagaimana operasi nya...bagaimana Mama saya...apa operasinya berhasil?” tanya Dara dengan wajah cemas.
Kemudian Suster berusaha menenangkan Dara, “ Duduk dulu ya...apa kamu sudah makan? Tanya suster dengan lembut sembari mengajak Dara untuk duduk.
“ saya puasa Sus” jawab Dara
Tak lama setelah itu Dokter yang mengoperasi mamanya Dara pun keluar.
“Dokter!” Dara langsung berdiri
“Tenang ...duduklah..!” Dokter meminta Dara untuk tetap tenang dan duduk.
“Bagaimana keadaaan mama saya Dok?” Dara bertanya pada Dokter.
Suster kemudian meninggalkan Dara dengan Dokter berdua saja untuk berbicara.
“Apa kamu sendirian di sini, apa tidak ada keluarga lain yang menemani?” Tanya Dokter kepada Dara.
“Tidak ada Dok, mama gak punya siapa-siapa lagi, hanya Saya anaknya”. Jawab Dara sambil menghapus air matanya.
“Saya harap kamu siap dan kuat mendengar hasil dari Operasi yang dijalani mama mu ini?” Dokter mengharapkan Dara untuk tabah apa pun hasil akhir operasi mamanya.
“Iya Dok...katakan saja, saya akan dengarkan dan saya akan terima apapun itu”. Dara memastikan bahwa dirinya sanggup mendengar kan apapun Yang Dokter ingin sampaikan.
“Baiklah saya akan sampaikan ke kamu bagaimana keadaan pasien" Dokter akhirnya mau mengatakannya pada Dara.
“ Mama mu mengalami pecah pembuluh darah di bagian otak kirinya, dan ada kemungkinan beberapa organ tubuh akan mengalami gangguan, seperti sulit menggerakkan kaki, tangan dan mungkin penglihatan nya juga”. Dokter menjelaskan singkat. Lalu Dokter berdiri hendak kembali ke dalam ruang operasi.
Dara terdiam sejenak lalu Dara menghentikan Dokter dengan bertanya tentang mamanya, “tunggu Dok....Mama.. Mama saya sekarang ada di mana Dok...? saya mau lihat”.
“Sebentar lagi ibumu akan keluar dan di bawa ke ruang ICU, nanti suster akan menjelaskan semuanya ya". Dokter pun langsung masuk ke ruang operasi kembali.
Dara tertunduk lesu, dia sandarkan badannya ke dinding dan jatuh terduduk sedih.
Dara menangis Sambil menyembunyikan wajahnya, “Mama...Mama.. Astaghfirullah...!”
Suster datang menghampiri Dara, “mba...mba tidak apa apa?” Tanya suster sambil menyentuh punggung Dara.
“Hmmm... Iya..aku gak apa apa!” Dara buru-buru menghapus air matanya dan melihat ternyata Suster yang berada di samping nya, yang sedang tersenyum padanya.
“Ibu mba sudah ada di ruang ICU sekarang, apa mba mau lihat?” Ucap Suster dengan lembut pada Dara.
“Iya sus...mau!” Jawab Dara. kemudian Suster menunjukkan arah ruangan ICU itu berada. “Sebelah sini mba!”
“Mama...” Dara akhirnya bisa melihat mamanya meski hanya lewat jendela kaca yang besar bertuliskan ICU.
“Suster...apa saya bisa masuk ?”Tanya Dara.
“Nanti..kalau pasien sudah lebih baik keadaannya dan sudah mulai sadar, mba boleh masuk ke dalam... ya”. Suster menjelaskan kapan Dara bisa masuk ke ruang ICU.
Telp Dara kembali berdering, “Iya hallo...Ihsan”.
“Assalamualaikum Dara, bagaimana kabar kamu?”
"Wa’alaikumus warahmatullahi wabarakatuh, alhamdulillah aku baik, kamu bagaimana kabarnya? Apa kaki mu sudah membaik?” tanya Dara pada Ihsan.
“Alhamdulillah masih sedikit kaku ketika berjalan, tapi semua Baik-baik saja, oya aku dengar dari Ummi, mama mu di operasi, bagaimana keadaan nya sekarang Dara?”
Dara menjawab telp Ihsan sambil menatap mamanya di balik kaca jendela. “Mama ku ada di ICU, alhamdulillah operasinya berjalan lancar".
Namun tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut, seperti orang yang sedang marah-marah. “Sebentar Ihsan”. Dara menghentikan pembicaraan nya dengan Ihsan.
“Dara...ada apa? ..hallo?” Ihsan bertanya-tanya mengapa Dara berhenti bicara.
“Saya mau pulang!” teriak seorang anak muda yang mengamuk dan terjatuh dari tempat tidur pasien.
Dara mengintip dari kejauhan, kebetulan kamar pasien itu ada di belakang ruang ICU dan pintu kamar pasien itu terbuka lebar.
“Ooh..laki-laki ituTidak bisa berjalan!” Ungkap Dara dalam hati.
Laki-laki itu bersikeras ingin pulang sampai-sampai dia merayap di lantai memaksakan tubuhnya dengan merangkak ingin keluar dari kamar.
Di depan pintu kamar itu berdiri seorang Laki-laki setengah tua sambil memegang tongkat yang ujung nya berwarna emas.
“Hey...angkat dia.. cepat!” pria itu menyuruh seseorang untuk mengangkat tubuh laki-laki tadi dan memaksa agar kembali berbaring di kasur pasien.
“Aku seperti pernah mendengar suara itu?... tapi dimana ya? Tongkat kepala emas?...apa mungkin dia?” Dara sepertinya mengenali pria setengah tua itu.
Dara pun penasaran, Dara berjalan sedikit maju untuk melihat lebih jelas wajah pria itu.
“Hallo ...Dara...Dara?” Ihsan ternyata masih tersambung di telp Dara.
“Iya...Sebentar...aku seperti mengenal nya". Ucap Dara pada Ihsan sambil berbisik.
“Siapa? Siapa yang kamu maksud?” Ihsan merasa bingung, sebenarnya Dara melihat siapa.
Wajah pria itu pun mulai terlihat, dan begitu terkejutnya Dara sampai kakinya lemas gemetar dan jatuh ke lantai.
Sontak pria itu pun mendengar lalu menoleh kebelakang dan melihat ke arah Dara.
Langsung buru-buru Dara bangkit dan berjalan menjauh.
“ Alhamdulillah...untung aku sudah memakai cadar!” ucap Dara merasa bersyukur.
“Ada apa Dara..hallo...Siapa yang kamu lihat di sana?” Ihsan bertanya penasaran.
Siapa kah pria yang Dara lihat di depan pintu kamar pasien VVIP itu?