Dara Manisku

Dara Manisku
Aku rela aku ridho



Dara dan Mamanya saling berpandangan, mereka sama-sama berfikir mungkin ada hal buruk yang terjadi pada Dery.


"Dara, apa mungkin Bos Geng Tiger itu menemukan Dery?"Tanya Mama Dara


"Entahlah, mungkin saja!" Jawab Dara sambil berfikir.


"Di sini sepi sekali ya Dara, memang santri-santri pada kemana?" Tanya Mama Dara merasa takut karena suasana pondok yang sepi.


"Kan sekarang sudah mulai liburan Ma!"Jawab Dara


"dor..dor..dor..!" Suara pintu di ketuk-ketuk.


Dara dan Mama kaget, tiba-tiba pintu rumah ada yang mengetuk-ngetuk.


"Sssssttt...biar aku intip dulu!" Ucap Dara.


Sembari mengendap-endap mendekati jendela dan perlahan membuka sedikit tirai dan Dara berusaha mencari tahu siapa yang mengetuk pintu rumah.


"Huff...Alhamdulillah,.aku kira siapa!" Ucap Dara lega.


"siapa Dara? siapa yang mengetuk pintu rumah?" Tanya Mama Dara dengan suara pelan.


"Tenang Ma, itu security pondok!" Jawab Dara sambil membukakan pintu rumah.


"Assalamualaikum mba?" Ucap security di depan pintu rumah Ustadz Abu.


"Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh, ada apa pak?" Jawab Dara.


"Maaf , mba Dara, Maaf kalau saya mengganggu".Ucap security sopan.


"mobil ambulance nya kemana ya mba? Ustadzah dan mas Ihsan?" Tanya security merasa heran kenapa yang membukakan pintu rumah Dara.


"Mereka semua sudah berangkat pak, mengantar kan Ustadz Abu ke rumah sakit!" Jelas Dara


"Ooo begitu, eh iya...tadi waktu saya berkeliling di area belakang pondok seperti terdengar suara orang teriak, memanngil-manggil mas Dery?" ungkap security


"ooo...iya itu suara saya pak!" Jawab Dara


"Memangnya mba Dara gak tahu, kalau mas Dery sudah di jemput Ayahnya?" Tanya security


"apa, ayahnya Dery?" Tanya Mama Dara kaget.


"maksud bapak, Dery sudah di jemput dengan orang-orang yang berbaju serba hitam, begitu?" Tanya Dara menegaskan.


"Iya betul sekali mba!" Jawab security.


"Astaghfirullah!" Ucap Mama Dara mendengar kabar itu.


"Pokoknya kisah penjemputan mas Dery sama ayah nya dah bikin geger mba!" cerita security


"Maksud nya ?" Tanya Dara tidak mengerti dengan apa yang dia dengar.


"gara-gara mas Dery di jemput paksa, Ustadz Abu jadi jatuh pingsan dan akhir nya sakit sampai sekarang mba!" Ucap security dengan raut wajah sedih.


Pak security menceritakan kejadian itu pada Dara, dan Mamanya mendengarkan dari dalam ruang tamu.


"Ya Allah, jadi seperti itu kejadian nya, innalillahi wa inna ilaihi rojiun...!" Jawab Dara.


"terimakasih ya pak sudah memberitahu, terus terang kami berdua memang tidak tahu tentang kejadian itu". Ucap Dara


"iya mba Dara, sama-sama, kalau begitu saya permisi mau melanjutkan patroli lagi, mari Bu, mba Dara, Assalamualaikum..!" Ucap security pamit


"wa'alaikumsalam !" Jawab Dara dan Mama nya.


Hari semakin malam, Ihsan belum juga kembali dari rumah sakit.


"Seperti nya kita akan bermalam di sini Ma!" Ucap Dara sembari memberikan secangkir teh hangat pada Mamanya.


"Ya sudah tidak apa-apa Dara, sini duduk Mama mau tanya sesuatu!" Ucap Mama Dara.


"Mama mau tanya apa?" Dara menjawab sembari duduk di samping kursi roda Mamanya.


"Apa kamu bahagia dengan pernikahan mendadak ini Dara?" Tanya Mama.


"Dara juga gak tahu Ma, kejadian nya terlalu cepat dan mendadak, yang Dara pikirkan waktu Ihsan mengucapkan Ijab kabul, hanya mengkhawatirkan kondisi Abi yang lemah". jawab Dara


"lalu bagaimana perasaan mu pada Ihsan, apa kamu menyukainya Dara?" Tanya Mama Dara ingin tahu perasaan Dara ke Ihsan.


Dara terdiam, dia sendiri belum yakin dengan perasaannya, apakah senang atau tidak dengan pernikahan itu.


Apa lagi kalau ditanya soal suka atau tidak dengan Ihsan, Dara malah bertambah bingung, tak tahu harus jawab apa, karena baginya selama ini Dara terlalu banyak berhutang budi pada Ihsan dan keluarganya.


"Entahlah Ma, aku gak tahu". Jawab Dara.


"Apakah itu semua penting Ma? Apakah perasaan Dara suka atau tidak itu sangat penting ?" Tanya Dara.


"kenapa kamu bilang begitu nak, tentu saja penting! kamu yang akan menjalankan rumah tangga bersama Ihsan, jadi harus ada rasa senang, bahagia, suka dengan pilihan kamu nak!" Jelas Mama Dara sambil menatap Dara.


"Mama, dulu aku sangat menyukai Varel, aku kira aku akan bahagia bila menikah dengannya, tapi ternyata...!" Jawab Dara sambil menghela nafas.


"Bagi ku rasa suka apalagi cinta, sudah tidak penting lagi Mama, aku sudah tidak gadis lagi, aku seorang janda, begitu banyak rasa sakit yang tersimpan di sini !" Ucap Dara sembari meremas dadanya.


"Lalu kenapa kamu mau menikah dengan Ihsan!?" Tanya Mama Dara yang sangat prihatin dengan Dara putrinya.


"Aku tidak mungkin menolaknya Mama, mereka terlalu baik pada ku, mereka dulu menolongku tanpa bertanya apapun padaku, siapa aku, dari mana asalku, lalu apa aku pantas mempertanyakan satu-satunya permintaan Abi pada ku Mama !?" Jelas Dara


"Aku berhutang nyawa pada mereka semua Mama, aku merasa inilah saatnya aku membalas kebaikan mereka, aku ridho, aku ikhlas, jadi aku harap mama mau mengerti ". Ucap Dara


"Maafkan Mama ya Dara, mama hanya ingin kamu bahagia, mama sedih ...Mama tidak mau kamu menderita lagi nak". Ucap Mama sambil mengelus punggung Dara.


"Aku yang seharusnya minta maaf Mama, aku yang salah...aku yang dulu meninggalkan Mama, Maafkan Dara ya Ma!" Ucap Dara sembari meneteskan air mata di iringi suara takbir yang sayup-sayup terdengar di seluruh kota menyambut datangnya Hari Raya Idul Fitri.


Mereka menangis berdua, malam takbiran tahun ini adalah malam yang sangat berarti bagi mereka, karena akhirnya mereka bisa berkumpul kembali setelah sekian lama berpisah.


Sedangkan Dery duduk terikat di dalam kamarnya yang besar namun jauh dari kebahagiaan.


Tembok besar yang gagah berdiri mengelilingi markas besar Geng Tiger itu membuat suara takbiran di luar sana tak mampu menembus masuk ke kamar Dery.


"lepaskan aku...!" Teriak Dery


"lepaskan aku...aku mau sholat..aku mau wudhu..tolong lepaskan aku...!" Teriak Dery dengan suara serak karena lelah berteriak-teriak meminta di lepaskan ikatannya.


Di luar kamar berdiri dua orang anak buah geng Tiger yang berjaga. Mereka sedikit pun tak bergerak meski berkali-kali mendengar teriakan Dery dari dalam.


Sungguh menyedihkan keadaan Dery, terpenjara di rumah nya sendiri.


Suasana tengah malam di rumah sakit Al Ihsan masih ramai. Rumah sakit besar di kota surabaya itu rupanya milik Almarhum ayah kandung Ihsan.


"Bagaimana Tante Salma kondisi Abi?" Tanya Ihsan pada tantenya yang sekarang menjadi kepala Rumah sakit sekaligus dokter spesialis di rumah sakit itu.


"Kenapa baru di bawa sekarang, padahal saya sudah mengirim Ambulance sejak pagi!" Ucap tante Salma marah karena Ihsan tidak membawa Ustadz Abu ke rumah sakit tepat waktu.


"Maafkan aku Tan, Abi waktu itu ngotot tidak mau di bawa kerumah sakit". jawab Ihsan merasa bersalah.


"kondisi nya sangat berbahaya, bila pembuluh darah otak nya sampai pecah maka .... Astaghfirullah Ihsan, bersyukurlah kepada Allah, Abi mu masih di berikan kesempatan hidup!" Ucap Tante salma menjelaskan kondisi Ustadz Abu.


"Alhamdulillah ya Allah, terimakasih ya Tante, terimakasih!" Jawab Ihsan merasa bersyukur karena nyawa Ustadz Abu masih bisa di selamatkan.


Malam itu Ustadzah menanti setia di depan ruang ICU.


Ihsan menatap Ustadzah sembari menyelimuti tubuh Ustadzah dengan selimut tebal yang sengaja dia bawa.


Ustadzah tertidur bersandar di bangku depan ruang ICU.


Kemudian Ihsan pergi menuju masjid di rumah sakit itu.


Setelah melaksanakan sholat isya yang dari tadi belum sempat ia kerjakan tertunda akibat sibuk mengurus Ustadz Abu.


Ihsan bertakbir sendirian di dalam masjid itu, sambil menitikkan air mata suaranya terdengar merdu melantunkan takbir.


Di jakarta, Axel pun sedang memikirkan Dara, sembari menatap keluar jendela apartemennya, yang terbayang disana hanyalah wajah Dara yang sedang tersenyum.


"Apa kabar mu Dara? aku rindu sekali ingin melihat mu ". Ucap Axel di dalam apartemen nya.