
Sedang kan Axel dan Ihsan semakin tegang setelah menyaksikan berita terkini malam itu. Menurut berita jasad gadis yang tertabrak mobil di bawa ke rumah sakit tidak jauh dari stasiun Kota.
“Kita harus memastikannya, apakah gadis itu Dara atau bukan” Ihsan mengajak Axel untuk ke rumah sakit.
“Bagaimana kalau ternyata itu Dara, aku...aku...Tidak sanggup melihatnya...” Axel tertunduk lemas tak berdaya.
“Hey...kamu harus kuat!...jangan seperti ini, aku memang tidak mengenal dirimu Xel, tapi setahu aku, kamu sangat menyayangi Dara kan!...iyakan?” oleh karena itu kamu gak boleh putus asa begini...dan kita harus segera kesana.. dan aku yakin itu bukan ..itu bukan Dara...percayalah!” Ihsan berusaha menyemangati Axel yang terlihat sangat putus asa.
Dengan nada sinis Axel berucap, “Siapa ...kamu itu siapa!...siapa Kamu sebenarnya?...Aku bahkan belum tahu siapa dirimu...jadi bagaimana kamu bisa perduli dengan Dara...memang nya siapa Dara ...memangnya kamu kenal Dara!!...jawab aku?!" Axel melampiaskan keresahan nya pada Ihsan.
Ihsan tidak terpancing emosi karena sikap Axel yang sedang galau karena kehilangan Dara.
Lalu ihsan berkata, “Aku ...aku bukan siapa siapa, aku hanya ...oke...aku Ihsan ..aku Ihsan yang kebetulan pernah tahu kehidupan masa lalu Dara sebelum dia kenal dengan mu Xel".
"Hanya itu..hanya itu yang bisa kuceritakan sama kamu, aku gak berhak menceritakan masa lalu Dara padamu, biarlah Dara sendiri yang akan mengatakan nya padamu” .
Axel mulai sedikit tenang, lalu Ihsan bicara lagi.
“Untuk itu... kita harus menemukan Dara terlebih dulu...itu yang lebih penting!” Ihsan menahan diri dan memahami perasaan Axel saat itu. “Aku mohon Axel...demi Dara?”
Akhirnya Axel bangkit dan berjalan menuju mobil. Ihsan mengikuti Axel dari belakang. Lalu Ihsan bertanya pada Axel, “Apa kamu tahu dimana rumah sakit itu Xel ?”
“Aku tahu.. biar aku yang menyetir mobil” Axel pun segera duduk dan memasang sabuk pengaman. Mereka berdua pergi menuju rumah sakit.
Di daerah stasiun Kota jalan raya sangat ramai meski sudah hampir tengah malam. Disana ada sebuah jembatan penyeberangan.
Terlihat seseorang berdiri di JPO memandang kebawah setiap mobil yang lewat. Dengan wajah tertutup masker dan memakai hodie merah.
“Hey..lihat ..jangan jangan tuh orang mau bunuh diri lagi!” tiga orang laki-laki mencurigai orang berhodie itu, lalu mulai mendekati.
“Woyy..ngapain lo..sendirian di sini?
“Iya..malam malam gini..mau bunuh diri lo ya?”
“gila ..kalau lo bosan hidup, gak usah bawa tas..hahaha..!” sini tas nya buat gue aja, lumayan nih buat mudik!”
Para lelaki itu berbicara kasar dan usil sekali, meraka berusaha mengambil koper warna pink.
Orang berhodie itu pun terlihat ketakutan., dia berusaha menjauh dari tiga laki-laki usil itu, namun salah satu dari mereka mulai mendorong dan membuka tudung hodie yang menutupi kepala orang tersebut.
“Aaahhh...!” orang itu pun menjerit karena terjatuh dan rambut nya yang panjaang terurai,
“ wah...gila bro..cewe!” salah satu dari mereka berteriak kaget, dan melepaskan masker wanita tersebut secara paksa.
Terbukalah masker itu dan tampaklah wajah wanita itu.
“ Cantik lagi ...rezeqi nomplok kalau gini nih!”
ternyata gadis cantik itu adalah Dara.
“bener banget lo... ayo ikut kita aja neng...gak usah bunuh diri..., ..hahahaha!” salah seorang mendekati Dara, dan mau menyentuh pipi nya namun tiba-tiba,
“Brengsek...!!” “buukk..!” Dara lalu menendang salah seorang dari mereka dengan keras, lalu Dara langsung berdiri dan lari sekuat tenaga.
“Aaaaakh ... cewe gila!” “aduuh anu gue..!” laki-laki itu mengerang kesakitan, “ kejar bego...kejar..!!” Dan dua orang lainnya mulai mengejar Dara.
Angin bertiup sangat kencang, dengan cepat Dara terus berlari menuruni anak tangga JPO yang sangat tinggi.
“Gila..tuh cewe larinya cepet amat!... udah ayo cepet...lemot amat lo..ayo ..buruan tangkap!!” ketiga laki-laki itu terlihat kewalahan mengejar Dara.
Ketika sampai di pinggir jalan, sangat sulit bagi Dara untuk menyebrang, mobil begitu ramai dan semuanya melaju kencang.
Akhirnya Dara terus berlari di sepanjang trotoar, bahkan sampai berkali-kali menabrak pejalan kaki.
“Maaf ..maaf kak..maaf!” Ucap Dara
Dara berusaha mencari cara agar bisa menghindar dari kejaran tiga laki-laki itu, namun mereka masih saja melihat Dara dan mengejarnya.
Ketika di pertigaan , Dara menantikan saat yang tepat tuk menyebrang namun tiga laki-laki itu mulai menyusul Dara, tanpa pikir panjang Dara nekad melompat ke jalanan yang sangat ramai mobil itu.
Lalu... suara klakson pun berbunyi beruntun, tet!..tet! ... “Hey... nyebrang sembarangan!”
“Yaa..ampun...woy bosan idup lo!”
berkali-kali Dara mendapat cacian dari para pengendara mobil yang berhasil dia lewati.
Axel yang sedang mengendarai mobil mendadak berhenti, “Awas......Astaghfirullah....!” Ihsan kaget bukan main.
Hampir saja menabrak mobil yang ada di depannya, karena mobil di depannya juga berhenti tiba-tiba.
“ Dara... !” ...itu..itu lihat ..itu Dara kan?” Axel sampai terbata-bata karena melihat orang yang menyebrang itu adalah Dara.
“Itu barusan ...yang lewat ... pakai hodie merah” Axel meyakinkan Ihsan bahwa dia tidak salah liat. Axel pun langsung keluar dari mobil dan mengejar Dara.
“Hey...Axel...mau kemana..Hey...kita parkir dulu!” Ihsan berteriak memanggil Axel yang meninggalkan mobil dan Ihsan begitu saja.
Lalu Ihsan melihat tiga orang laki-laki yang juga sedang berlari kearah yang sama dan tak sengaja mendengar mereka bicara. “Lo kesana...gue kesini..kita cegat tuh cewe!”
Ihsan segera memarkirkan mobil di pinggir jalan, lalu mengikuti arah tiga laki-laki tadi berlari.
Dengan nafas yang tersengal-sengal , Dara berhenti sejenak tuk mengatur nafas. Dia menoleh kebelakang, sepertinya tidak ada lagi yang mengikutinya.
Namun ternyata, “ mau lari kemana lo!” teriak seorang Laki-laki berandal tadi. Dara melihat itu pun kembali berlari.
Axel mendengar suara itu segera berlari menuju arah suara.
Sedangkan dua orang berandal lainnya akhirnya menemukan Dara.
“Nah ...mau lari kemana lagi cantik, lo gesit juga ya..bikin gue penasaran aja"
Ketika Dara ingin berlari mundur, ternyata satu orang lagi, ada di belakangnya, Dara terjebak diantara tiga orang laki-laki berandalan.
“Kalian mau apa? Kalian mau uang? Oke..oke ..ini..ini uang ..!” Dara buru-buru mengeluarkan semua uangnya dari dompet. “Tolong...biar kan aku pergi..ya..Tolong?” Dara memohon kepada berandal itu agar melepaskan nya.
“ hmm...uang segitu.. lo pikir gue gak punya uang!.. Heh...gue gak butuh duit lo!” Salah satu dari mereka membuang uang yang Dara berikan, dan mulai mendekati Dara.
“Jangan ...jangan mendekat...jangan...!” Dara sangat ketakutan, kaki nya lemas, Dara merunduk tak berdaya, dia terpojok dan bingung harus bagaimana.
Kemudian tiga berandal itu mulai mencabuli Dara, membelai rambut Dara dan menciumi rambutnya, “hmmm...harum juga rambutnya...apalagi tubuhnya..pasti harum juga..hahaha!”
Dara panik gemetaran, wajahnya pucat sampai sulit bernafas, tubuhnya tersungkur lemas, dia pun akhirnya pingsan.
“Heyyy....!” Axel melihat Dara sedang terjatuh pingsan. "Lepaskan Dara...! Axel menarik salah satu baju berandal itu lalu pukulan nya pun mendarat di wajah laki-laki cabul itu, “Buk!!..Buk!!.. Buk!! ..Kurang ajar!” ucap Axel sangat marah.
Namun dua orang lainnya mulai mengeroyok Axel dan memegangi tubuhnya, lalu Ihsan datang dan menendang dari arah belakang, “ duuug!!”
Perkelahian pun tak bisa di hindari, mereka saling baku hantam, dua lawan tiga.
Sampai akhirnya patroli mobil polisi lewat, menghentikan perkelahian mereka.
Dara masih belum sadarkan diri, ambulance membawa Dara ke rumah sakit terdekat. Sedangkan Axel dan Ihsan beserta tiga berandalan tadi di bawa dengan mobil polisi ke Polsek.
“Terimakasih pak Ihsan sudah mau bekerja sama, mereka bertiga memang sudah sering membuat keresahan di kalangan masyarakat sekitar" Polisi menjabat tangan Ihsan, sambil mengucapkan terimakasih karena sudah memberikan kesaksian tentang kejadian tadi.
“Teman anda sekarang ada di rumah sakit, sebaik nya anda kesana karena mungkin pihak rumah sakit memerlukan beberapa keperluan administrasi pasien”
“ Baik pak, terimakasih sudah membantu kami, kalau begitu kami pergi dulu pak, Assalamualaikum “ Ihsan dan Axel berpamitan kepada Polisi yang tadi menangani kasus mereka.
Ihsan dan Axel tak sabar ingin segera menemui Dara di rumah sakit. Mereka pun bergegas menuju rumah sakit. Namun karena letak parkir mobil Ihsan sangat jauh, mereka akhirnya naik taksi.
Setibanya di rumah sakit, Axel mencari informasi tentang Dara pada suster , namun sesampainya di sana suster memberikan kabar sedih.
Dara belum juga sadarkan diri, kata suster Dara mengalami guncangan kejiwaan dan fisik. “Sebaik nya kalian berkonsultasi dengan Dokter spesialis yang menangani pasien Dara" Suster menyarankan Ihsan dan Axel tuk menanyakan lebih jelas tentang kondisi Dara pada Dokter.
Suster menunjukkan dimana kamar Dara di rawat, Axel berjalan perlahan dan mengintip dari pintu kamar pasien.
Ihsan merangkul Axel berusaha memenangkannya, “Sebaiknya kamu tunggu disini, biar aku yang menanyakan kondisi Dara pada Dokter ya".
“Bagaimana kondisi Dara Dok?”
“Mohon maaf.. apa kalian keluarga pasien?”
“Saya temannya Dok, Dara tidak punya keluarga disini”
“Baiklah.. Dara mengalami Sesak nafas ketika di bawa ke sini, reflek tubuh nya menolak semua tangan yang berusaha menyentuhnya, ketika suster atau dokter sedang melakukan tindakan, Dara mengalami kejang kejang, Akhir nya kami beri dia obat penenang”.
“Lalu bagaimana keadaan Dara sekarang Dok?”
“Untuk saat ini semua kondisi tubuhnya normal, namun dia mengalami guncangan kejiwaan, untuk saat ini pasien Dara belum sadarkan diri karena masih dalam pengaruh obat penenang".
“Astaghfirullah..Lalu apa yang harus saya lakukan Dok?”
“Jika Anda sebagai walinya siap melanjutkan pengobatan, saya anjurkan untuk menghubungi Dokter spesialis Syaraf dan psikiater”.
Axel membuka pintu kamar rawat inap tempat Dara terbaring, dia memegang tangan Dara dan menitikkan air mata.