
Di pondok pesantren yayasan Al Ihsan suasana terlihat sepi, itu disebabkan sudah mulai libur menjelang Hari Raya Idul Fitri.
Di dalam pondok pesantren hanya terdengar suara satu orang yang sedang belajar mengaji.
Dengan suara yang terbata-bata Dery membaca Iqro 2 di pandu oleh Ustadz Abu.
"aa baa, jadi ini di baca panjang ya, cukup 2 harakah saja". Ucap Ustadz Abu memberikan contoh cara membaca.
Dery mengangguk faham.
"aa... baa....bagaimana, apa sudah benar bacaan saya ustadz?" Tanya Dery meminta petunjuk.
"Alhamdulillah, bagus, terus bacanya!" Jawab Ustadz senang.
Hari semakin senja, Ustadzah menantikan kedatangan anaknya di teras rumah.
"Sudah mau maghrib, Ihsan belum datang juga?" Ustadzah resah, walaupun beliau terdengar tenang ketika mengetahui apa yang terjadi pada Ihsan, tetapi sebagai ibu, beliau tetap khawatir.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ummi!" Ucap Ihsan berdiri di depan teras rumah.
"Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh, Alhamdulillah Ya Allah....akhirnya kamu sampai juga, kenapa lama sekali nak?" Tanya Ustadzah sembari menghampiri anaknya.
"Maaf Ummi, tadi jalanan macet banget, ya maklum banyak orang yang mudik lebaran!" Jawab Ihsan sembari mencium tangan Ustadzah.
Ustadz Abu menyudahi pelajaran hari ini di gazebo tempat Dery belajar mengaji.
"Shodaqollah wa shodaqolRasul, Subhanakallahumma wabihamdika, ashhadualla illa ha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik". Ucap Ustadz Abu dan Dery membaca doa penutup majlis.
"Alhamdulillah kamu semakin lancar baca nya, yang penting kamu hafalkan dulu bacaan-bacaan sholat, apa sudah kamu hafalkan?" Tanya Ustadz Abu
"Alhamdulillah sudah hafal sedikit-sedikit ustadz, tadi pagi saya baru mulai menghafalkan doa tahiyat akhirnya". Jawab Dery
Kemudian mereka berjalan menuju rumah, Ustadz Abu mengajak Dery untuk berbuka puasa bersama Di rumahnya.
"Jadi maksud kamu, pemimpin gangster itu kembali menggangu Dara!?" Tanya Ustadzah terkejut mendengar cerita Ihsan.
"Assalamualaikum...ada apa ini, sebut-sebut gangster segala?" Ustadz Abu dan Dery masuk ke dalam rumah dan tak sengaja mendengar percakapan Ustadzah dengan Ihsan.
"Eh Abi, wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh!" Balas Ihsan lalu menghampiri Ustadz Abu dan mencium tangan nya.
"MasyaAllah nak, kapan kamu datang, bagaimana kabar mu?" Tanya Ustadz Abu sembari memeluk Ihsan.
Melihat pemandangan itu Dery tertunduk merasa iri.
"Alhamdulillah baik Abi, saya baru aja sampai di rumah, hey..Dery apa kabar mu?" Jawab Ihsan pada Ustadz Abu lalu menegor Dery yang berada di belakang ustadz Abu.
Dery tersenyum dan berkata Alhamdulillah baik, mas Ihsan!"
Mereka semua duduk bersama di ruang tamu, kemudian Ustadzah mulai menjelaskan tentang cerita Ihsan tadi.
"Apa!" Ucap Dery kaget, dia tak menyangka kalau ayahnya akan mengancam Mama Dara dan Dara.
"Lalu bagaimana keadaan Dara sekarang?" Tanya Dery panik.
"Tenang, Sekarang Dara baik-baik saja". Jawab Ihsan.
"Jika begini keadaannya apakah bukan lebih baik kamu bicara dengan ayahmu, Dery?" Ucap Ustadz Abu memberi saran.
Dery tertunduk sedih sekaligus merasa tidak enak karena sudah menjadi beban semua orang.
"Baiklah Ustadz, saya akan coba bicara dengan Ayah". Jawab Dery
"ini adalah ujian keimanan kamu nak Dery, Setiap manusia yang ingin berubah menjadi lebih baik pasti selalu ada saja rintangan yang harus di lalui". Ucap Ustadzah memberikan nasehat supaya Dery tidak berputus asa.
"Iya, semakin besi di bakar lalu di tempa bertubi-tubi, maka besi akan semakin tajam, begitu pula kamu Dery, semakin banyak ilmu semakin banyak ujian nya dan kamu bersabar, maka semakin naik derajat keimanan mu!" Ucap Ustadz Abu menambahkan nasehat agar Dery tetap semangat belajar agama.
Malam itu Dery menelpon Bang Zack. Dery akhirnya memutuskan untuk kembali kepada Ayahnya.
Ke esokan harinya.
Tibalah iring-iringan mobil hitam, berhenti di depan pintu gerbang Pondok pesantren Yayasan Al Ihsan.
Bos Geng Tiger keluar dari mobil dengan membusungkan dada. Merasa menang karena akhirnya Dery anaknya mau kembali bersamanya.
"Sepertinya Ayah mu sudah datang Dery!" Ucap Ihsan mendengar suara mobil yang berhenti di depan gerbang.
Ihsan pergi menuju gerbang untuk membukakan pintu gerbang.
Ihsan melihat anak buah geng Tiger yang sudah berbaris rapih seperti sedang upacara penghormatan terhadap jendral.
"dih dasar Nora, mau gaya apa tetap aja bandit!" Bisik hati Ihsan melihat Bos Geng Tiger berjalan memasuki pondok di iringi barisan orang berseragam hitam.
" Ummi tolong ambil kan kopiah ku di kamar!" Ucap Ustadz Abu dari dalam rumah hendak keluar untuk menemui Ayahnya Dery.
Dery yang masih berada di ruang tamu terlihat sangat enggan untuk keluar rumah.
"Dery ...Dery". Panggil Ustadz Abu yang melihat Dery termenung.
"oh iya Ustadz". Jawab Dery
"Entahlah Ustadz, tapi demi Dara dan Mama nya, aku harus melakukan ini!" Jawab Dery menarik nafas panjang.
"Yang sabar ya nak, Abi yakin kamu pasti bisa melalui ini semua dengan baik, jangan lupa untuk tetap semangat belajar ya!" Ucap Ustadz menghibur Dery.
Ustadzah berdiri di belakang Ustadz Abu mendengarkan sembari memegang kopiah.
Airmata Ustadzah tak terasa menetes melihat Dery, sedih menyaksikan Dery harus meninggalkan pondok pesantren di tengah-tengah perjuangan nya menuntut ilmu agama.
"Abi ini kopiah nya!" Ucap Ustadzah memberikan kopiah.
"Ya terimakasih, jangan menangis istri ku, hiburlah dia, heemmm, aku keluar dulu ya!". Jawab Ustadz Abu sambil menghela nafas.
Kemudian Ummi pun mendekati Dery. Ustadzah dengan posisi berdiri di atas lutut nya lalu memegang tangan Dery.
"Semoga Allah mentakdirkan kita bisa berjumpa lagi ya nak Dery, Maafkan Ummi, bila selama kamu di sini mungkin ada kesalahan yang Ummi perbuat pada mu". Ucap Ustadzah sembari meneteskan air mata.
"Tidak ada, Ustadzah sudah sangat baik padaku, saya merasa seperti punya ibu lagi sejak saya tinggal di sini, Maafkan Dery yang belum bisa membalas kebaikan Ustadzah selama ini!" Jawab Dery menunduk sedih.
"Mana anak ku Dery!" Ucap Bos Bery dengan suara keras.
Ustadz Abu berjalan menuju pintu gerbang, namun tiba-tiba langkahnya terhenti.
"Astaghfirullah...ya Allah..!" Ucap Ustadz Abu terkejut melihat sosok Bos Geng Tiger.
"Ada apa Abi, Abi baik-baik saja kan?" Tanya Ihsan khawatir karena melihat wajah Ustadz Abu menjadi pucat.
Kemudian Ustadz Abu memandang wajah Ihsan, beliau jadi teringat kembali kisah tragis meninggalnya kedua orang tua Ihsan 21 tahun yang lalu.
Tak Lama Dery pun keluar dari rumah di bantu Ustadzah dengan mendorong kursi roda.
Ihsan terus berusaha bicara pada Ustadz Abu yang terlihat syok.
"Abi, Abi, tolong katakan sesuatu, kenapa Abi diam saja, Abi....!" Ucap Ihsan yang sangat khawatir melihat keadaan Ustadz Abu.
"Brak!" Ustadz Abu mendadak pingsan.
Ustadzah terkejut dan melepaskan genggamannya dari kursi roda Dery.
" Abi...!" sontak Ihsan dan Ustadzah berteriak histeris melihat Ustadz Abu rebah ke tanah.
"Ustadz Abu...Ustadz!" Seru Dery yang kaget menyaksikan itu.
Namun tanpa peduli Bos Geng Tiger langsung memerintahkan anak buahnya untuk mengambil Dery.
"tunggu..tunggu! biarkan aku melihat keadaan Ustadz dulu!" teriak Dery menolak di dorong kursi rodanya untuk segera pergi dari pondok.
Anak buah geng Tiger tetap memaksa Dery untuk diam, kursi roda Dery pun di dorong melewati Ustadz Abu yang sedang tergeletak di tanah.
Di sisinya ada Ihsan dan istrinya yang menangis.
"Tidak, Ustadz Abu...Ustadz!" Seru Dery yang terus melihat kearah ustadz meski rodanya tak berhenti.
"Ayo masukkan dia ke mobil !" Perintah Zack.
Dengan sombongnya Bos Bery langsung membalikkan badannya dan pergi begitu saja tanpa berucap apa-apa.
"Dasar manusia bejat!" Ucap Ihsan kesal melihat Bos Geng Tiger mengambil paksa Dery.
"Ayo...Ayo cepat! kita bawa Abi ke dalam Ihsan!" Ucap Ustadzah sambil menarik baju Ihsan agar cepat mengangkat Ustadz Abu.
Dengan tergopoh-gopoh Ihsan mengangkat tubuh Ustadz Abu sendirian.
Sedangkan Ustadzah langsung masuk ke dalam bermaksud menelpon Dokter dari telp rumah nya.
"Abi..Abi...!" panggil Ihsan lagi berusaha membangunkan Ustadz Abu yang kini sudah di rebahkan di atas tempat tidurnya.
"Ya Allah...Abi!" Ucap Ihsan sedih.
Dery menatap keluar jendela mobil, meneteskan airmata, hatinya resah tak tenang memikirkan bagaimana keadaan Ustadz Abu.
Tiba-tiba Dery berteriak histeris.
"Mengapa aku di lahirkan menjadi anak seorang penjahat!"
"Kenapaaaaaaa!" Ucap Dery sambil menangis.
Ayahnya yang mendengar itu tak terpengaruh sedikit pun, malah dia menyuruh Zack untuk menyuntikkan obat penenang agar Dery diam.
"Hey!" Ucap Bos Bery memberikan kode pada Zack untuk memberikan penenang pada Dery.
"Oke!" Jawab Zack faham.
Setelah itu Dery yang sudah duduk terikat di kursi rodanya hanya bisa menatap penuh dendam pada Zack yang sedang menyuntikkan obat penenang padanya.
Tak Lama, Dery pun terpejam, terlihat masih ada sisa-sisa airmata yang keluar dari kedua matanya.
Bagaimana kah keadaan Ustadz Abu? tunggu kelanjutannya ya ...di episode selanjutnya.