
Empat tahun telah berlalu.
Di negeri Jepang, bunga sakura berguguran di sepanjang jalan taman dekat apartemen di mana Dara bekerja sebagai pengasuh balita anak Orang jepang.
"Sakura jangan jauh-jauh mainnya!" Ucap Dara pada seorang anak berkulit putih kemerahan berambut hitam panjang berusia 3 tahun.
"Iya Momi, aku cuma mau ambil bunga-bunganya!" Jawab Sakura anak kandung Dara buah cintanya dengan Ihsan.
Pagi itu Dara menyusuri jalan memasuki apartemen bersama Sakura anak nya.
"Momi, nanti aku ikut Kanaka ya, ke taman bermain?" Tanya Sakura sembari menarik ujung kain hijab Dara.
"iya boleh sayang". jawab Dara sambil membuka pintu apartemen.
Sedangkan di Surabaya, Ihsan tertidur di pelataran masjid Pondok pesantrennya.
"Ustadz Ihsan, Ustadz!" Ucap salah seorang santri membangun kan Ihsan.
" Oya , ada apa ?" Tanya Ihsan pada santri itu sembari memakai peci hitamnya.
"Ummi Ustadz, tadi saya dengar pas lewat rumah, Ummi berteriak-teriak !" Ucap santri itu
Ustadzah sejak kepergian Dara jatuh sakit dan kini lumpuh separuh tubuhnya, Beliau hanya terbaring saja di tempat tidurnya.
"Oh iya, terimakasih ya, nanti Ustadz ke sana!" Jawab Ihsan sembari bangkit dari lantai.
Wajah Ihsan yang lusuh, berambut gondrong dan berjenggot lebat menggambarkan betapa lelah dirinya menjaga Pondok pesantren dan Ummi nya sendirian tanpa sosok istri di sisinya.
"ah yang bener aja kamu pak, masa anak kita mau di masukin pondok pesantren yang jelek begini!" Ucap salah satu orang tua calon santri yang sedang datang berkunjung ingin mendaftarkan anaknya.
Ihsan yang sedang berjalan menuju rumahnya, tak sengaja mendengar obrolan pasutri itu.
"Assalamualaikum, mohon maaf bapak dan ibu ada keperluan apa ya, mungkin saya bisa bantu ?" Tanya Ihsan dengan sopan.
"Wa'alaikumsalam, Begini pak, saya mau bertemu dengan penanggung jawab Ponpes ini, mau tanya-tanya soal penerimaan santri baru!" Jawab Bapak, orang tua dari calon santri itu.
"Oh iya, saya sendiri pak bu, mari silahkan masuk !" Ucap Ihsan sembari mempersilahkan mereka masuk ke dalam rumah.
"ih, masa orang nya kaya gini sih, dah gondrong, lusuh, kaya orang stress!" Bisik ibu dari calon santri itu dalam hati.
"Pak, gak usah aja, kita cari ponpes lain!" bisik-bisik si ibu pada suaminya sembari menarik tangan bapak orangtua dari calon santri itu.
" Gak boleh gitu bu! ssstt!" Bisik Si bapak pada istrinya.
"hehehe..maaf ya pak ustadz, saya permisi sebentar mau bicara dulu sama istri saya!" Ucap si bapak pada Ihsan.
"iya silahkan, nanti masuk saja ke rumah ya !" Jawab Ihsan lalu masuk ke dalam rumah.
"aaakh, aaakh..!" suara teriakan Ustadzah dari dalam rumah sampai terdengar jelas oleh pasutri itu.
"tuh, ada suara apa itu dari dalam rumahnya pak!?" Tanya Si ibu cemas dan ketakutan.
Akhirnya pasutri tadi mengurungkan niatnya untuk mendaftarkan anaknya di pondok pesantren Al Ihsan.
Sudah tiga tahun Ustadzah terbaring tak bisa bangun, bahkan berbicara pun sudah Tak jelas lagi.
Seminggu sekali tantenya Ihsan, pemimpin rumah sakit Al Ihsan datang berkunjung sembari mengecek kesehatan Ustadzah.
"Alhamdulillah semua kondisinya normal, jadi bagaimana Ihsan, apa keputusan mu?" Tanya Tantenya Ihsan.
"soal apa tante?" Jawab Ihsan sembari menarik selimut menyelimuti tubuh Ustadzah.
"Kamu itu bagaimana sih, rencana berobat Ummi mu lah, Ummi mu Insyaallah akan sembuh bila segera di operasi di jepang!" Ucap Tante Ihsan.
"Aku gak bisa pergi begitu aja Tan!" Jawab Ihsan singkat dan keluar kamar.
" Apa yang kamu tunggu lagi, Ini sudah 4 tahun, Dara tidak akan kembali !" Jawab Tante Ihsan sedikit kesal karena Ihsan selalu saja menghindar bila di ajak bicara soal operasi Ustadzah di jepang.
Ihsan duduk dan menyalakan rokok sambil mengabaikan omelan tantenya.
"huf ...Kamu tuh ya, merokok terus, sudah aku bilang jangan merokok asapnya bisa mengganggu pernafasan Ummi mu!" ucap Tantenya Ihsan marah, sambil mengambil paksa rokok yang sedang di hisap Ihsan.
"Aaakh, tante ini cerewet banget sih, dah aku bilang, aku gak bisa pergi!" Jawab Ihsan kesal karena tantenya terus saja mengomel.
"Tante saja yang bawa Ummi ke jepang, aku mau di sini, menunggu Dara, dia pasti pulang!" Jawab Ihsan lagi sembari membuka bungkus rokok dan menyalakan rokok kembali.
" Ihsan, astaghfirulloh, Ihsan sadarlah, Dara sudah meninggal kan mu!" Ucap Tantenya Ihsan yang terus mengikuti Ihsan yang keluar menuju teras rumah.
"Sekarang lebih baik kamu fokus pada Ummi mu, kasihan kakak ku, dia butuh pengobatan!"
"Di jepang sana dengan fasilitas lengkap dan kecanggihannya, Insyaallah Ummi mu akan sembuh!" Ucap Tantenya Ihsan meyakinkan Ihsan agar mau mengurus Ustadzah untuk berobat ke jepang.
"Lihat ini, paspor dan tiket pesawat sudah aku pesankan, kamu tinggal jalan saja!"
"Masalah yang lain-lainnya sudah tante urus!"
"Tante juga sudah menghubungi Dokter spesialis di sana, pokoknya kamu harus berangkat kali ini!"
"Sudah terlalu lama Ummi mu berbaring terus seperti itu!"
Ucap Tantenya Ihsan berusaha membujuk Ihsan agar mau berangkat ke jepang.
"Heemmm... baiklah, tante harap kamu berubah pikiran dan kembali waras!" Ucap Tantenya Ihsan kesal sembari meletakkan paspor dan tiket pesawat ke jepang di atas meja.
" Tante pulang dulu, jangan lupa berikan Ummi mu obat secara teratur ya !" Ucap Tantenya Ihsan sembari keluar dan menaiki mobil nya lalu pergi.
Ihsan tak bergeming, dia hanya menoleh sekilas melihat paspor dan tiket pesawat di atas meja.
Di apartemen di jepang, Dara sedang memotong-motong buah Apel segar, lalu menyuapi anak majikan nya.
"Kanaka 食べましょう(tabemashou)". Ucap Dara meminta anak majikannya untuk membuka mulutnya untuk makan.
Sakura yang sedang bermain boneka bersama Kanaka anak majikannya, tiba-tiba bertanya "Momi ... Apa aku punya ayah?" Tanya Sakura dengan tatapan polosnya.
Dara kaget mendengar pertanyaan Sakura, entah apa yang harus dia jawab sedangkan Sakura masih terlalu kecil untuk mengerti.
" Tentu kamu punya Ayah sayang !" Jawab Dara sambil tersenyum.
" Ada di mana Ayah aku Momi?" Tanya Sakura semakin penasaran.
" Ayah mu ada di Indonesia, ini kamu mau coba buahnya?" Jawab Dara, lalu mengalihkan pembicaraan sembari menawarkan potongan buah apel pada Sakura.
Ihsan yang saat ini masih setia menanti di rumahnya tidak pernah tahu bahwa dia sudah memiliki seorang anak yang cantik.
"Ada di mana kamu Dara, cepat lah pulang!" Ucap Ihsan sembari memandangi foto Dara di ponselnya.
"Aaakh...Aaakh...aaakh!" Kembali Ustadzah berteriak-teriak memanggil Ihsan.
Ihsan pun tersadar dari lamunan dan segera pergi menghampiri Ustadzah.
Namun tiba-tiba Axel menelpon Ihsan.
"Assalamualaikum... Mas Ihsan apa kabar?" Tanya Axel
"Axel, Alhamdulillah aku baik, bagaimana kabar mu?"
"MasyaAllah, tak kusangka kamu masih ingat no hp ku!" Jawab Ihsan senang mendapat telp dari Ihsan.
Mereka berbincang-bincang dengan menggunakan Video call.
"Bagaimana Cafe mu, masih buka kan?" Tanya Ihsan sembari memberikan air minum pada Ustadzah dengan sendok.
Axel melihat dari layar ponselnya sangat prihatin menyaksikan keadaan Ustadzah yang terbaring lemah.
"Ummi, Ummi sakit apa mas Ihsan?" Tanya Axel matanya berkaca-kaca.
"Iya, Ummi sudah 3 tahun ini tidak bangun lagi dari tempat tidurnya, kemungkinan lumpuh, tapi kata dokter masih bisa di sembuhkan dengan operasi!" Cerita Ihsan pada Axel.
"Lalu kapan kira-kira mau di operasi ?" Tanya Axel.
Ihsan mendengar itu terdiam sesaat.
"mmm...entahlah, soalnya operasinya tidak bisa di sini, Tante ku yang seorang Dokter menyarankan untuk pergi ke jepang, Ummi akan di operasi di sana... mungkin". jawab Ihsan ragu-ragu.
"Mungkin, jadi belum ada kepastian ?" Tanya Axel bingung mendengar jawaban Ihsan.
" entahlah, rasanya berat aku meninggalkan rumah, Jepang terlalu jauh, aku takut nanti Dara....!". Ihsan berhenti bicara dia lupa kenapa harus menyebut nama Dara di depan Axel.
"Ah, sudahlah...jangan di pikirkan, main lah kamu ke sini Axel !" Ucap Ihsan mengalihkan pembicaraan.
"Mas Ihsan, sebenarnya aku sudah tahu kalau Mas sudah menikahi Dara, tapi tenang saja...aku tidak apa-apa kok!" Ucap Axel sambil tersenyum.
Ihsan kaget dan merasa tak enak kepada Axel, Namun Ihsan bersyukur ternyata Axel tidak marah padanya.
"Bu Leni yang cerita, dan aku juga mau kasih tahu kamu mas, ini soal Dara!" Ucap Axel
"Soal Dara, maksud nya?" Tanya Ihsan penasaran.
Mengapa Axel ingin memberitahukan sesuatu soal Dara, padahal Axel kan tidak tahu kalau Dara sudah tidak lagi bersama Ihsan.
"Kebetulan saudaraku yang tinggal di jepang mengenal Dara !" Jawab Ihsan.
Betapa kagetnya Ihsan mendengar Dara ternyata berada di Jepang.
Axel meneruskan bercerita sementara Ihsan mendengarkan dengan seksama.
"Saudaraku pernah menyewa Dara 3 tahun yang lalu, untuk menjaga anak-anaknya beberapa bulan".
" Tapi sekarang sudah tidak lagi, Karena katanya Dara minta berhenti, saudaraku bilang Dara sedang hamil!"
"Hamil?" Fikir Ihsan kaget mendengar kabar itu.
"Aku cuma di kasih tahu nomor hp Dara, tapi nomor kontak Dara sepertinya sudah ganti, karena aku sudah coba berkali-kali menghubungi nomor nya tidak pernah aktif!" Ucap Axel menjelaskan.
Ihsan pucat dia benar-benar tak menyangka Dara pergi sejauh itu, "karena apa? dan mengapa?" fikir Ihsan.
"Hamil, Dara hamil ? anak siapa?" Seribu tanya tersimpan di benak Ihsan.
Akankah Ihsan bisa menemukan jawabannya?