Dara Manisku

Dara Manisku
Tali persahabatan yang terputus



Dara membuka tirai dan melihat matahari terbit dari jendela rumah sakit. Begitu indah cahayanya, sinar lembut itu mulai memancar keluar dari sela-sela bayangan gedung tinggi.


Baru kali ini Dara bisa menikmati hari menyambut matahari tanpa harus merasa ketakutan dan tanpa rasa khawatir.


Dara kemudian duduk di sofa dan mengeluarkan handphone nya.


Dia pandangi foto sahabat-sahabatnya, ada senyum manis Ihsan, ada wajah tampan Axel dan bertambah lagi sahabatnya, yaitu Dery.


Dara masih menyesalkan sikap nya sendiri yang sedikit mengabaikan Axel waktu itu.


"Mengapa aku masih saja kesal dengan Axel?" Ucap Dara sambil melihat foto Axel yang sedang berdiri merangkul dirinya semasa belum bercadar dulu.


Mama Dara memperhatikan anaknya yang terlihat resah. "Itu karena kamu terlalu berharap padanya Dara".Ucap Mama Dara.


Mendengar suara Mama, Dara tersadar dari lamunan nya. "Eehh..Mama dah bangun!"


Dara menghampiri Mama.


"Apa maksud Mama tadi, aku gak faham?" tanya Dara sambil duduk di samping Mamanya.


"Kamu kesal karena kamu terlalu berharap banyak pada Axel".Jelas Mama.


"Berharap apa? aku sama Axel hanya teman biasa!" Jawab Dara tertunduk malu.


"Dara, kamu ingin Axel bisa menerima dirimu yang sekarang, itulah yang kamu harapkan, tapi ternyata itu tidak terjadi, Iya kan?". Ungkap Mama


"Aku masih Dara yang sama, tapi seperti nya dia tidak bisa lihat itu, hanya karena cadar ini". Dara menjawab dengan raut wajah sedih.


Dara bersandar pada Mamanya.


"Menurut Mama, apakah keputusan ku benar?" tanya Dara.


"Dara, putri ku yang manis, bagaimana pun kamu, kamu tetap anak ku, apapun keputusan mu, Mama yakin kamu sudah dewasa sekarang, kamu faham mana yang terbaik untuk mu". Jawab Mama sembari mengusap tubuh mungil Dara yang bersandar padanya.


"Terimakasih Mama". Ucap Dara.


"pergilah!" Pinta Mama pada Dara


"ke mana?" tanya Dara


"temui Axel, utarakan saja apa yang ada di hatimu nak, biar kamu lega". Ungkap Mama Dara.


"tapi mama?" tanya Dara


"Mama baik-baik aja , sebentar lagi suster pasti datang untuk terapi kaki, pergilah sayang!" Ucap Mama Dara.


Di pondok pesantren yayasan Al Ihsan. Axel merapihkan pakaian nya ke dalam tas ranselnya.


"Kamu mau kemana?" Tanya Ihsan yang tiba-tiba sudah ada di depan tempat tidur Axel.


"Aku mau balik ke jakarta!" Jawab Axel sambil menutup tas ranselnya.


"Begitu saja? hey ...ada Apa? sejak kamu pulang dari rumah sakit, kamu tidak bicara!" Tanya Ihsan heran melihat sikap Axel yang seperti menyimpan masalah.


Axel terduduk di tempat tidur asrama santri dewasa tempat dia menginap.


"Entah lah, aku merasa asing di dekat Dara, seperti ada yang hilang, rasa nya sesak di sini!" Ungkap Axel sembari memukul dadanya.


"Kamu bertengkar dengan Dara?" Tanya Ihsan ikut duduk di tempat tidur itu.


"Tidak, justru terlalu dingin sikapnya, mungkin aku juga yang salah". Ungkap Axel sambil menunduk.


Ihsan mendengarkan dengan seksama, sembari merangkul Axel.


"Apa yang bisa aku bantu?" tanya Ihsan.


"tak ada, aku harus berangkat sekarang, kereta akan berangkat jam 9 pagi ini!" Jawab Axel sembari mengambil tas ranselnya lalu bangkit dari tempat duduknya.


Axel langsung berjalan keluar asrama. Ihsan berusaha mengejar.


"Axel! tunggu..Axel!"


" lantas bagaimana dengan Dara, apa kamu sudah pamit?"Ucap Ihsan mengingatkan Axel.


Axel menghentikan langkahnya, dan berbalik.


"Tolong sampaikan padanya, aku minta maaf, itu saja!" Jawab Axel.


Namun tiba-tiba Axel dan Ihsan mendengar suara Dara.


"aku memaafkan mu Axel!" Ucap Dara


Axel berbalik dan terkejut, ternyata Dara sudah ada di hadapannya.


"Dara, kamu.." Axel terdiam.


"Assalamualaikum Dara, kapan datang, tahu-tahu dah di sini aja!" Ungkap Ihsan.


"Ayo ...kita mampir dulu, ayo Axel, kamu belum pamit kan sama Abi dan Ummi!" Ihsan mengajak Dara dan Axel untuk mampir sebentar ke rumah nya.


Dara menatap Axel yang sedang di rangkul Ihsan berjalan menuju rumah Ihsan.


" Assalamualaikum!" Ucap Ihsan di depan pintu rumah nya.


"wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh!"


"Eh...ada Dara juga, MasyaAllah, kapan datang nak?" Tanya Ustadzah.


"Iya Ummi, baru aja, apa kabar Ummi?" Dara langsung meraih tangan Ustadzah dan salim.


"Alhamdulillah kabar Ummi baik, bagaimana Mama kamu, sudah ada kemajuan?" jawab Ustadzah berbalik bertanya.


" Alhamdulillah Ummi, Mama sudah mulai melakukan terapi untuk kaki nya". jawab Dara sambil duduk.


"Loh Nak Axel mau ke mana bawa tas?" Tanya Ustadz Abu.


"hmmm...saya mau pamit pulang ustadz, terimakasih sudah mengizinkan saya menginap dan makan di sini!" Jawab Axel


"Duduk dulu, jangan buru-buru, ayo sini kita ngobrol dulu ya!" Ustadz Abu mengajak Axel untuk duduk.


"Maaf ustadz, Ummi, maaf...tapi kereta nya akan segera datang, nti saya terlambat!" Jawab Axel menolak ajakan Ustadz Abu.


"Saya pamit, Ihsan, terimakasih semuanya, Assalamualaikum!" Axel langsung berbalik dan berjalan menuju pintu.


Ustadz dan Ustadzah tak bisa berkata apa-apa lagi mereka hanya bisa membalas ucapan salam Axel.


"wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh!"


Kemudian Ihsan melihat kearah Dara.


"Dara, bicaralah padanya, ayo susul dia!" Ucap Ihsan.


"aku?" "aku harus bilang apa?" Tanya Dara bingung.


"Ayo lah, demi persahabatan kalian, bicaralah padanya!" Jawab Ihsan membujuk Dara untuk bicara pada Axel.


Dara tertunduk diam.


"bukankah kamu ke sini untuk bicara pada Axel!?" Ungkap Ihsan.


Kemudian Dara bangkit dari tempat duduknya dan mengejar Axel.


"Axel...Axel..!" teriak Dara.


"Tunggu..tunggu sebentar!" Dara menarik bahu Axel memaksa Axel berhenti.


Axel berbalik dan menatap Dara. Dara terdiam sesaat.


"Apa ? kamu mau bicara apa?" Tanya Axel


" Aku bilang tadi, aku sudah memaafkan kamu". Ucap Dara


" Iya aku dengar, lalu?" tanya Axel lagi.


Dara terdiam tak tahu harus berkata apa lagi.


"Apa kamu mau ikut aku kembali ke jakarta Dara?" ajak Axel.


"itu gak mungkin Axel, Mama ku di sini, rumah ku di sini sekarang". jawab Dara


"hmmm...aku tahu pasti itu jawaban mu, selamat tinggal Dara!" Axel menggenggam tangan Dara dan melepaskan nya perlahan lalu berbalik melanjutkan langkahnya.


Dara menatap dengan raut wajah sedih, separuh dirinya terasa ikut bersama Axel.


"Axel..Axel..maafkan aku!" teriak Dara, air matanya mengiringi kepergian Axel.


Axel berjalan tanpa menoleh ke belakang, dadanya bergemuruh.


Seperti ada yang hilang dalam dirinya, Axel berusaha menguatkan diri. Dia eratkan lagi tas ransel dipunggungnya berjalan keluar pondok pesantren.


Dara tidak bisa berhenti menangis, kakinya lemas hingga jatuh terduduk.


Ihsan menyaksikan itu berusaha membangunkan Dara.


"Dara, kamu baik-baik saja?" Tanya Ihsan.


Axel memandangi Dara dari dalam mobil angkot yang berjalan menjauhi gerbang pondok pesantren.


"Maafkan aku Dara, beri aku waktu". Ucap Axel di dalam hatinya.


Ihsan membangunkan Dara, dan Dara tersadar kembali bahwa Axel benar-benar sudah pergi.


Dara mencoba berlari mengejar Axel, tapi angkot itu sudah pergi jauh dari jangkauannya.


"Sudahlah Dara, beri dia waktu, Axel pasti akan kembali!" Ungkap Ihsan menenangkan Dara.


Dara menatap dengan penuh harap bahwa Axel benar-benar akan kembali.


"Ayo kita masuk". Ajak Ihsan sembari memapah tubuh Dara lemas dan membantu Dara berjalan.


Dalam benak Dara terbayang senyuman Axel, tawa nya dan Suaranya ketika Axel menghibur Dara di saat Dara terbangun dari bermimpi buruknya.


"Maafkan aku Axel..maafkan".Ucap Dara lirih.