Dara Manisku

Dara Manisku
Antara hidup dan mati



Di sebuah ruangan yang lembab, dua orang berbadan besar sedang memegangi tubuh Axel yang kedua tangannya diikat dari belakang ,


"byarrr...byuurrr...!" berkali-kali kepala Axel di tenggelamkan ke dalam air. "cepat katakan di mana Dara!" ucap laki-laki itu sambil menjambak rambut Axel.


Sedangkan Ihsan berhasil masuk ke pelabuhan, dia berusaha mencari kemana arah Axel di bawa oleh anak buah geng Tiger.


Ihsan melihat dua orang sedang berjaga-jaga di depan kontainer, "Aku harus menelpon paman ku". Ihsan akhirnya memutuskan untuk meminta bantuan paman nya yang berpangkat Jendral di jajaran kepolisian.


"Aman?".. salah seorang laki-laki muncul dari dalam kontainer bertanya kepada 2 temannya yang sedang berjaga di luar.


"Aman!"


"pasti Axel ada di dalam kontainer itu, aku harus memastikan nya!" Ihsan pun mulai bergerak. Dengan berjalan perlahan dan mengendap-endap, Ihsan berusaha menarik perhatian para penjaga.


"bletuk!" Ihsan melempar batu ke arah berlawanan. "Hey bunyi apa itu? Lo periksa sana!" salah satu dari mereka mencari tahu asal bunyi itu.


Kemudian Ihsan mendekati orang yang satu nya dan "brakk!" Ihsan berhasil melumpuhkan orang itu. Ihsan pun langsung masuk dengan mudahnya.


Namun orang satunya kembali ke tempat jaganya, dan terkejut melihat temannya sudah dalam keadaan pingsan. "Hey..Hey.. ngapa lo? hey!" orang itu berusaha membangunkan temannya dan melaporkan kejadian itu, "Lapor Bos! ada penyusup!"


Ihsan berlari masuk kedalam lorong itu dan bertemu dengan anak buah geng Tiger yang lainnya, terjadi lah perkelahian satu lawan tiga orang.


Sedangkan Axel di dalam keadaan nya sangat mengkhawatirkan, sekarang tubuh Axel di gantung terbalik sambil sesekali dipukuli perutnya oleh dua orang algojo penyiksa.


Di apartemen sepertinya Dara ketiduran di sofa ruang tamu sambil memegang hp.


" TIDAAAAKK.....!!" Dara terbangun dari tidur nya karena bermimpi buruk. "brakk..!" hp Dara jatuh ke lantai, " Ya Allah...Lindungi sahabat sahabat ku".


Dara sangat khawatir, di dalam mimpinya Axel dan Ihsan jatuh ke dalam jurang yang gelap. Dara buru-buru bangkit dari sofa dan berjalan menuju kamar mandi mengambil air wudhu.


Dara melihat ke arah jam dinding, "Sudah jam 3, Ihsan dan Axel belum juga menelpon, Semoga mereka baik-baik saja". Dara pun masuk ke kamarnya, memakai mukena dan berdiri untuk sholat malam.


Malam itu bagi Dara terasa sangat mencekam, "sesak sekali rasanya". Dara mengelus dadanya, perasaan nya tidak enak. Dara berusaha kuat dengan terus berdzikir. Dara terus mengingat pesan Ihsan, "Doakan kami Dara!"


Kemudian Dara mengambil Niqob pemberian Ihsan dan memakainya, dia sudah bersiap-siap untuk pergi. "Roti untuk sahur sudah, air minum sudah, dompet, handphone ...oke semua dah lengkap".


Dara mengecek barang bawaan nya, dia berencana untuk pergi ke alamat yang Ihsan berikan, "Sudah jam 4, aku harus berangkat sekarang!"


" Ya Allah..Lindungi aku dan beri aku kekuatan... Bismillah!" Dara melangkahkan kaki nya keluar apartemen pagi itu menuju stasiun kereta.


Peperangan Ihsan seorang diri melawan anak buah geng Tiger benar-benar tak bisa di bayangkan, tempat itu bersimbah darah.


Puluhan anak buah geng Tiger terus berdatangan keluar dari lorong lorong panjang itu menyerang Ihsan silih berganti.


Ihsan menggunakan samurai yang dia rebut dari lawan nya, berkali-kali dia terjatuh namun Ihsan tetap bangkit dan melawan,


"ALLOHUAKBAR!" pekik suara takbir membuat semangat Ihsan menggelora. Musuh di hadapannya pun tak luput dari tebasan pedangnya.


Axel badannya basah kuyup dan dari wajahnya bercucuran darah, kala itu dia mengangkat kepala nya yang lemas dan mendengar suara Ihsan, kemudian membalas teriakan Ihsan dengan ikut bertakbir, "Allahuakbar!"


Ihsan pun mendengar suara Axel dari ruangan diujung lorong, Ihsan semakin bersemangat, "Alhamdulillah...tunggu aku Axel...tetaplah kuat!" jerit hati Ihsan bergemuruh di dadanya.


Tak Lama setelah itu bala bantuan datang, Polisi mengirimkan pasukan khusus untuk melumpuhkan sarang Geng Tiger itu. Tak percuma Ihsan menghubungi pamannya.


Ihsan terduduk lemas, dengan nafas tersengal sengal bersandar pada pedang samurai nya. Tubuh nya di penuhi darah namun bukan darahnya.


Kemudian tanpa dia tahu seorang Laki-laki ingin membacok nya dari belakang, "Dorrr..!!" Tiba-tiba orang itu di tembak pasukan khusus.


Kemudian Ihsan yang kaget saat itu di tepuk bahunya, "Kamu gak apa apa Dek?" tanya seorang petugas pasukan khusus itu pada Ihsan.


"Alhamdulillah pak...saya..saya baik-baik saja!" Jawab Ihsan dengan suara terpotong potong karena lelah.


" Axel...Axel pak..teman saya..tolong dia!" Ihsan menunjuk ke arah ruangan yang gelap di mana Axel di sekap.


Kemudian Dara teringat Mamanya, "bagaimana kabar mu Ma?" Dara dulu meninggalkan Surabaya, meninggalkan Mama nya hanya demi Cinta Buta yang sekarang membuat hidup nya di penuhi rasa takut.


kini Dara harus menginjakkan kakinya lagi di kota kelahiranmya.


Kereta mulai berjalan berlahan berbarengan dengan suara adzan, mendengar lantunan adzan itu air mata Dara menetes. " Ya Allah...apakah dengan cara ini Kau tuntun aku untuk bertaubat?".


Suara sirene Mobil polisi dan Ambulance meramaikan pelabuhan di shubuh hari, orang-orang mulai berdatangan penasaran ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi.


Akhir nya Axel keluar dari kontainer di tandu oleh tim Medis dan membawanya ke mobil Ambulance, Ihsan pun mengikuti. Ternyata di depan sana paman nya yang seorang Jendral sudah berdiri menunggu nya.


"Ihsan...kamu gak apa apa nak ?" Pamannya memeluk tubuh Ihsan dengan terharu sekaligus kagum. "Nak...lagi lagi kamu turun tangan seperti ini! kenapa nak...kenapa kamu pertaruhkan nyawamu?!" Ucap Paman Ihsan dengan menatap mata ponakan nya yang sangat pemberani itu.


"Tidak apa apa Paman, aku baik-baik saja, terimakasih Paman sudah membantu dan datang tepat waktu terimakasih sekali lagi!" Ihsan menjabat tangan Pamannya erat.


"maaf...ayo.. mas harus ikut, mas juga perlu perawatan!" salah seorang petugas medis menegur Ihsan lalu membawa Ihsan masuk ke dalam Ambulance.


Di dalam Ambulance Ihsan mencari hp nya, ternyata handphone nya yang berada di saku celana nya sudah terbelah dua, "Astaghfirullah...hancur!" bagaimana aku bisa menghubungi Dara?" Ihsan terkejut melihat keadaan Hp nya.


Tiga hari sudah berlalu, keadaan Axel yang sempat koma, mulai membaik, begitu pula Ihsan. "Hey...Assalamualaikum Mujahid..apa kabar?" MasyaAllah ....!" Ihsan masuk ke kamar rawat inap Axel sambil tersenyum lebar. Kaki Ihsan sedikit mengalami tulang retak sehingga dia berjalan menggunakan tongkat.


"Alhamdulillah mas ...ada apa dengan kaki mu ?" hahaha....makanya jangan terlalu bersemangat main bolanya!" Axel tertawa meledek Ihsan. Mereka pun bersalaman dan saling berpelukan.


"Syukurlah...kamu Baik-baik saja Axel". "aku hampir putus asa, ku pikir aku datang terlambat". Ihsan mengutarakan kekhawatiran nya disaat dia merasa sedikit terlambat masuk ke pelabuhan.


"tapi ketika aku dengar suara takbir mu yang bersemangat itu, aku yakin kamu kuat!" Ihsan menepuk nepuk kedua lengan Axel dengan perasaan bangga.


"Aku juga begitu mas, aku jadi merasa bertenaga untuk teriak takbir, setelah mendengar suara mu menggema di lorong waktu itu!" Axel membalas sambil tersenyum.


"Dara...bagaimana Dara ?"


"Apakah dia baik-baik saja mas?"


"Alhamdulillah Dara baik-baik saja, dia titip salam buat kamu Xel". Baru saja Ihsan menelpon Yayasan Al Ihsan di Surabaya menanyakan kabar Dara.


"Katanya Dara...aku rindu kamu!" hahaha...!" Ihsan meledek Axel lalu tertawa. "wah...mas Ihsan bisa aja...!" wajah Axel memerah karena malu.


Di yayasan Al Ihsan Surabaya Dara di sana belajar ilmu agama Islam lebih dalam.


Disebuah kesempatan Dara menceritakan kisahnya yang sudah sekian tahun tidak bertemu dengan mama nya.


Kemudian Ustadzah itu berkata,


"Dara, berbakti kepada orang tua itu wajib hukumnya seperti tercantum pada firman Allah SWT ini", Ustadzah guru spiritual Dara yang biasa di panggil dengan sebutan Ummi, mulai membacakan AlQur'an,


"Audzubillahhiminasy syaitoonirrojiim.."


"Bismillahirrahmaanirrahiim.."


وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ اِحْسَانًا ۗحَمَلَتْهُ اُمُّهٗ كُرْهًا وَّوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۗوَحَمْلُهٗ وَفِصٰلُهٗ ثَلٰثُوْنَ شَهْرًا ۗحَتّٰىٓ اِذَا بَلَغَ اَشُدَّهٗ وَبَلَغَ اَرْبَعِيْنَ سَنَةًۙ قَالَ رَبِّ اَوْزِعْنِيْٓ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰىهُ وَاَصْلِحْ لِيْ فِيْ ذُرِّيَّتِيْۗ اِنِّيْ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاِنِّيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ ١٥


Artinya: "Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri." Surat Al Ahqof ayat 15.


Mendengar lantunan ayat suci Alquran yang di bacakan ustadzah yang usianya sudah terbilang lansia namun suaranya begitu syahdu, hati Dara pun bergetar.


"Apakah Mama mau menerima Dara dan memaafkan Dara, Ummi?"


"Percayalah nak, kasih sayang orangtua tidak akan pernah hilang meski anaknya sering berbuat salah, kunjungilah ibu mu dan minta ridho nya, karena Ridho Allah adalah Ridho orang tua". Ustadzah itu memberikan nasehat yang begitu menyentuh hati Dara.


Dara pun berfikir untuk mencoba mengunjungi Ibunya.


Apakah Mama Dara mau memaafkan dan menerima Dara kembali ?