
Dara duduk diruang tunggu menunggu Dokter keluar dari ruang ICU. Kemudian Dara memeriksa Hp nya. "hmmm...hp mati..aku lupa mencharge hp ku".
Bisik Dara, lalu dia pergi ke sudut ruangan untuk mencari colokan listrik, "Nah ini dia...!" Dara mencharge hp nya di sana, dekat dengan kamar VVIP anak Bos geng Tiger di rawat.
Dara bersandar di dinding sambil berusaha menyalakan hp nya lagi.
Lalu tak sengaja Dara mendengar percakapan Bos Geng Tiger dengan anaknya di dalam kamar.
"Kenapa ayah benci sekali dengan mama, apa salahnya!" Dery mengomentari sikap ayahnya yang tak ingin mendengar nama Istri nya sendiri disebut.
"kalau bukan karena Ayah, Mama gak akan meninggalkan aku dan pergi membawa Putri!" ini semua karena Ayah!"
Dery terus merajuk, sedangkan Ayahnya seakan tak perduli. "Lebih baik kamu istirahat saja, jangan terlalu banyak bicara!" ucap Bos Geng Tiger pada anaknya.
"Kalau saja aku tidak cacat!"
"Buk! Buk! Buk!" Dery menyesali keadaannya yang tak bisa berjalan, dia memukuli kakinya sendiri.
"Hey! sudahlah!" "Kenapa kau siksa dirimu sendiri !" Si Bos bangkit dari tempat duduknya dan mencegah anaknya yang sedang memukuli kakinya.
"Nasib ku sungguh malang, sudah cacat dan memiliki ayah seorang penjahat!" " aku benci hidupku!"
"Kenapa kau bawa aku kemari, aku ingin mati!" "biarkan aku mati!" Dery mulai kembali berteriak histeris dan mengamuk.
Dara yang mendengarkan itu sampai terharu dan menitikkan airmata, bisiknya dalam hati, "kasihan sekali nasibnya".
Lalu tiba-tiba Zack melewati Dara yang sedang duduk di lantai sambil memegangi handphone nya.
Dara segera menundukkan kepalanya, jantung nya berdegup kencang. Zack pun sempat melirik ke arahnya, namun dia tidak perduli dan langsung masuk ke dalam kamar VVIP itu.
"Cepat panggil kan suster!" Bos memerintahkan Zack yang baru saja masuk kamar.
Lalu Zack keluar dari kamar terburu-buru sampai lupa menutup pintu kamar Dery.
Dara bangkit dan berdiri ke arah kamar itu, dan tak sengaja mata nya bertatapan dengan mata Dery. Disaat itu mata mereka saling menatap sehingga Dery menghentikan amukannya dan menjadi tenang.
Bos pun merasa heran kenapa Dery tiba-tiba menjadi terdiam, lalu si Bos memperhatikan kemana mata Dery tertuju.
"Siapa yang kamu lihat?" tanya si Bos penasaran, lalu Bos berjalan ke arah pintu kamar dan keluar. Namun tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya ada kabel charge yang masih menempel di colokan listrik.
Dara ketika mendengar suara Bos Geng Tiger itu, dia langsung berlari menjauhi kamar VVIP. Sampai lupa mencabut kabel charge handphone nya.
"Aduh...kabel nya lupa di cabut lagi!" Dara terkejut melihat kabel charge nya tidak ada ditangan nya.
"Mba Dara..mba Dara" Suara suster memanggil manggil Dara.
" Eh...iya Suster..saya di sini!" Dara segera menghampiri Suster.
"Bagaimana ? apa kata Dokter sus?" Dara menanyakan tentang keadaan mamanya.
"Dari tadi Dokter mencari mba Dara, tapi mba Dara tidak ada di ruang tunggu ICU". Jawab suster.
"Maafin saya ya suster, tadi saya pergi sebentar mencari colokan listrik mau mencharge hp saya, terus apa kata Dokter sus?"
Dara meminta maaf dan merasa menyesal terlalu lama pergi mencharge hpnya.
"Mba Dara sekarang ditunggu Dokter di ruangan nya, mari saya antar!" Suster berkata sembari mengajak Dara untuk bertemu Dokter langsung ke ruangan nya.
Dara pergi bersama dengan suster menuju ruangan Dokter yang tadi sudah memeriksa mamanya.
Di Bandara internasional Juanda,
"Taksi!" Ihsan memanggil taksi setelah keluar pintu dari Bandara.
"Semoga aku belum terlambat". Ihsan sangat mengkhawatirkan Dara. Kemudian dia menelpon Ustadz Abu,
"Assalamualaikum Abi".
"wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh, kamu sudah sampai nak?" jawab Ustadz Abu langsung bertanya pada Ihsan.
"Ya Abi...sebentar lagi aku sampai, hmmm...bagaimana keadaan disana ? Apakah aman?" Ihsan menjawab sambil bertanya cemas.
"Alhamdulillah di sini situasi masih aman nak, Abi sudah memerintah kan Santri-santri senior untuk berjaga sekitar pondok, Insyaallah penjagaan sudah Abi perketat!" Jawab Ustadz Abu.
"Ya ...dia ada di asrama Santri dewasa, dia tidak bisa keluar, dia aman di sana, tenang saja". Ustadz menjelaskan keadaan Axel di pondok.
"Abi, untuk sementara waktu kita belum bisa bertemu langsung, aku harus memastikan dulu, apakah aku masih di ikuti atau tidak Abi". Ihsan kemudian menghentikan taksi di depan losmen.
"Iya nak...kamu hati-hati ya...Fii Amanillah". Ustadz Abi mendoakan keselamatan untuk Ihsan.
"Ma'asallamah...!" Ihsan pun membalas doa Ustadz Abu dengan doa keselamatan pula.
Ihsan mengakhiri pembicaraannya dengan ayah angkatnya Ustadz Abu. Kemudian dia masuk ke losmen dan memesan kamar di sana.
Setelah masuk kamar, dia duduk di pinggir tempat tidur losmen, dan mengambil hp nya lagi.
" Assalamualaikum Dara..hallo ..Dara?" Ihsan menelpon Dara
"wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh, iya Ihsan ini aku, ada apa?" Jawab Dara berbisik karena dia sedang berada di depan pintu ruang Dokter. Dara baru saja keluar dari sana.
"Ada apa!" apa kamu tidak tahu, rasa nya sesak sekali dada ku ini karena sangat khawatir dengan keadaan mu di sana!" Ihsan menjawab dengan emosi.
" Hp mu mati! bagaimana aku bisa tahu apakah kamu masih hidup, atau tertangkap oleh geng Tiger!" kemana aja kamu Dara?!" Astaghfirullah Dara!" Ihsan terus saja bicara tanpa memberikan kesempatan Dara untuk menjelaskan.
"Sudah marahnya?" tanya Dara kesal karena di marah-marahi Ihsan.
Ihsan mendengar jawaban Dara, dia langsung terdiam mengambil nafas.
"Bisa gak dengerin dulu, baru setelah itu kamu putuskan aku salah atau tidak!" "lagian ya...emang nya kamu gak puasa? Kenapa marah-marah begitu?" Dara mengingatkan Ihsan untuk meredam amarahnya.
" Astaghfirullah...Maafin aku Dara, aku salah..Alhamdulillah aku puasa hari ini". Ihsan tersadar dengan kesalahannya.
"Oke aku jawab pertanyaan kamu, Alhamdulillah aku baik-baik saja, hp ku mati kehabisan Daya, sedangkan aku tidak tahu kalau hp ku mati, karena aku sedang fokus menemani Mama ku di dalam ruang ICU". Dara menjelaskan dengan tenang kepada Ihsan, "Maaf....kalau sudah membuat kamu khawatir ya!".
Ihsan menjawab, "Alhamdulillah kalau begitu, tapi Dara, kamu harus segera memindahkan Mama mu dari rumah sakit itu, secepatnya!"
Dara pu mengerutkan dahinya, "loh kenapa memang nya?"
"Disana sudah tidak aman Dara, anak buah geng Tiger sudah ada disana, mereka sedang mencarimu!" Ihsan menjelaskan.
"Aku sudah tahu, bahkan aku sudah bertemu dengan Bos Geng Tiger di sini!" Dara menjawab dengan tegas.
"jangan main-main kamu Dara, aku serius!" Ihsan tidak percaya dengan ucapan Dara.
"Aku serius!"
"Tapi tenang saja, dia tidak bisa mengenaliku, kan aku pakai cadar". Jawab Dara dengan enteng nya.
" Dara...yang benar saja! gak semudah itu kamu bisa mengelabui Bos Geng Tiger!" Ihsan memperingatkan Dara untuk tetap waspada.
"Pokoknya kamu harus keluar dari sana, aku akan urus perpindahan Mama mu ke rumah sakit lain, ya !" Ihsan tetap menyarankan Dara untuk membawa mamanya pindah rumah sakit.
"aku lupa ...aku tidak bisa kesana sekarang!" Ihsan terlihat kesal karena gerak-geriknya jadi terbatas . "Memangnya kenapa, kenapa kamu gak bisa ke sini?" tanya Dara keheranan.
Ihsan pun mulai bercerita tentang beberapa orang suruhan geng Tiger yang mengikuti nya dan juga mengikuti Axel.
Sedangkan di pondok pesantren Ustadz Abu sibuk memantau sekeliling pondok bersama beberapa Security nya.
Salah satu security berkomentar, "Seperti nya tidak ada orang yang terlihat mencurigakan di sini ustadz".
"Tetap waspada, karena menurut cerita santri, ada yang melihat seorang pria berbaju serba hitam mengendap-endap di samping rumah saya tadi sore!" Ustadz Abu menjawab sambil mengawasi lingkungan sekitar pondok.
"Siapa orang itu ustadz?" tanya salah seorang security lagi.
"Santri tidak sempat menangkap, karena orang itu keburu kabur ketika di teriaki santri!" Jelas Ustadz Abu kepada security
Mereka pun melanjutkan berkeliling pondok pesantren.
Sedangkan Anak buah geng Tiger masih menelusuri setiap kamar pasien sambil membawa foto wajah Dara, dan bertanya pada setiap Suster apakah ada pasien yang bernama Dara.
Dara pun sempat berpapasan dengan mereka, dan Dara mulai khawatir dengan keamanan mamanya. "Benar kata Ihsan, aku harus segera memindahkan Mama ku ke rumah sakit lain!"
Apakah anak buah geng Tiger benar-benar tidak bisa mengenali Dara, dan apakah Dara berhasil memindahkan Mama nya kerumah sakit lain?