
Angin menerpa dedaunan yang ada di atas atap gazebo siang itu. Daun-daun kering itu pun berjatuhan bagaikan daun-daun musim gugur.
Dara memejamkan mata kala Ihsan mencium bibirnya. Tanpa berfikir Ihsan pun menikmati lembutnya bibir Dara yang kenyal.
Dara mulai teringat kenangan buruknya bersama Varel dulu dan membuka matanya, Kemudian tangan nya dengan cepat mendorong tubuh Ihsan kuat.
"Brak !" Tubuh Ihsan jatuh ke belakang. Ihsan kaget bukan main.
"Dara!" teriak Ihsan kala itu. Tak habis pikir kenapa Dara berbuat seperti itu padanya, pada suaminya sendiri.
Dara kemudian berlari meninggalkan gazebo. Angin kencang menerpa kerudung Dara.
"Dara...tunggu...Dara..!" teriak Ihsan terus memanggil Dara yang sedang berlari menjauhinya.
"Hemm ...Subhanallah Allahuakbar... angin nya kencang sekali hari ini!" Ucap Ustadzah yang berusaha menutup jendela ruang tamu di rumahnya.
Disaat Ustadzah mengunci jendela, terlihat sekelebat Dara berlari masuk ke rumah menuju kamar lalu mengunci pintunya.
"Loh...ada apa dengan Dara?" Tanya Ustadzah keheranan.
Lalu tak lama Ihsan juga masuk rumah dengan berlari sambil berteriak memanggil Dara.
"Dara..Dara! Mana Dara Ummi, di mana dia?" Tanya Ihsan pada Ustadzah.
"Ada apa ini, kok kaya anak kecil aja main kejar-kejaran!" Ucap Ustadzah tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
"Mana Dara Ummi?" Tanya Ihsan sekali lagi.
"Ada .. tadi masuk kamar! memangnya ada apa?" Jawab Ustadzah sembari bertanya penasaran.
Angin kencang menerpa masuk rumah lewat pintu depan yang saat itu terbuka lebar, dengan mendorong kuat Ustadzah berusaha menutup pintu rumahnya.
Ihsan langsung menuju kamarnya dan mau membuka pintu, namun pintunya ternyata di kunci dari dalam.
"Dara...Dara..tolong buka pintunya...Dara..Dara?" panggil Ihsan sambil mengetuk pintu berkali-kali.
"Ada apa dengan Dara, apa kalian bertengkar? Tanya Ustadzah bingung sembari mengambil ranting dan dedaunan yang masuk ke dalam ruang tamu karena terbawa angin.
"Dara ...tolong maafkan aku jika aku salah, ayo buka pintunya, Dara ...Dara!" Ihsan terus berusaha bicara pada Dara. Namun sepertinya Dara belum mau membuka pintu kamar nya.
Di dalam kamar Dara bersembunyi di pojok lemari pakaian. Dia seperti orang yang sedang ketakutan.
"Pergi...Pergi...Pergi.pergi kamu Varel..pergiii!" teriak Dara dari dalam. Sepertinya trauma Dara yang dulu datang kembali.
"Dara..Dara..ini aku Ihsan!" Ucap Ihsan di depan pintu.
Lalu Ustadzah mencoba mencari kunci cadangan di laci-laci rak buku.
"Nah ketemu, Ihsan ini ...buka pakai kunci ini!" Ucap Ustadzah sembari memberikan kunci cadangan pada Ihsan.
Dengan hati-hati Ihsan membuka pintu kamar perlahan. Dia melihat ke dalam kamar tidak terlihat ada Dara di sana.
Ihsan masuk pelan-pelan, mencoba mencari Dara. Ustadzah hanya terdiam di luar kamar mengamati keadaan.
"Dara..ini aku Ihsan... Dara tenang lah..Aku Ihsan". Ucap Ihsan pelan, akhirnya dia melihat Dara di pojok lemari pakaian sedang sembunyi.
"Ssstt...ssstt...ssstt.. tenang Dara, ini aku Ihsan...lihat lah, Dara lihat aku...Ihsan". Ucap Ihsan berusaha menenangkan Dara yang menggigil ketakutan.
"Ihsan...Ihsan!" Ucap Dara sembari melihat ke arah Ihsan.
"Iya..ini aku ..suami mu Ihsan". Jawab Ihsan dengan perlahan mencoba mendekati Dara.
"kamu gak apa sayang?" Tanya Ihsan dengan lembut.
"jangan takut, ada aku di sini, lihat gak ada Varel..gak ada, cuma ada aku..Ihsan, ya". Ucap Ihsan terus berusaha membuat Dara tenang.
"Gak ada Varel, gak ada kan?" Tanya Dara sembari melihat sekeliling kamar nya.
"Dara tenang lah". Ucap Ihsan sembari memeluk Dara kuat. Akhir nya Ihsan bisa menenangkan Dara.
"Aku lupa...Aku yang salah..Aku lupa dengan pesan Dokter sewaktu-waktu trauma mu bisa saja datang kembali bila bersentuhan dengan laki-laki". Pikir Ihsan menyesali diri, dia lupa dengan pesan Dokter kejiwaan yang merawat Dara dulu.
Ihsan terus memeluk Dara, dan mengusap lembut tubuh Dara.
Di rumah Mama Dara.
"Jadi sejak kapan kamu sudah bisa berdiri lagi Dery?" Ucap Mama Dara sambil membawakan minum untuk Dery.
"Alhamdulillah, apakah ini anugerah atau musibah, aku bingung harus menyebutnya apa Bu!". Jawab Dery sembari mengambil minuman yang di berikan Mama Dara.
"Maksudnya, musibah...memang nya apa yang terjadi?" Tanya Mama Dara penasaran ingin mendengar kisah nya.
"Markas besar Geng Tiger akhirnya di gerebeg polisi Bu, dan akhirnya aku terbebas dari kurungan ayahku". Ucap Dery.
"Zack dan Ayah, mereka berdua di jatuhi hukuman mati oleh pengadilan". Ungkap Dery sambil minum air.
"Iya, namun ternyata, sebelum ayah di menjalankan hukuman mati, dia menulis wasiat untuk ku". Ucap Dery.
Mama Dara tersentak mendengar cerita Dery.
"Surat wasiat, apa isinya ?" Tanya Mama Dara khawatir tentang isi wasiat Bery.
"Ayah ceritakan semuanya, semuanya!" Jawab Dery singkat.
"Maksudnya, semuanya apa...apa yang dia ceritakan Dery?" Tanya Mama Dara semakin khawatir.
" Kalau kau Ibu ku dan Dara adik ku!" Jawab Dery.
Mama Dara seakan-akan menjadi sulit bernafas dan terduduk lemas.
"Kenapa, kenapa ibu kaget seperti ini, apa Ibu tidak suka kalau aku tahu semuanya!?" Tanya Dery terlihat sedih karena melihat Mama Dara sangat terkejut.
"Bukan begitu Dery...Bukan begitu nak !" Jawab Mama Dara sambil menangis dan berusaha menjelaskan ke Dery.
"Apa Ibu benar-benar ibu ku?" Tanya Dery sembari meneteskan air mata.
"Dery ...putra ku..maafkan Mama nak!" Jawab Mama Dara tertunduk sedih sekaligus bercampur bahagia.
"Kenapa Ibu tidak memberitahuku, kenapa harus dirahasiakan...Kenapa Bu?" Tanya Dery menangis sambil bersimpuh di depan Mamanya.
"Maafkan Mama nak, Mama berusaha melindungi putri, begitu banyak derita yang sudah Dara alami, Mama takut Ayah mu akan mengambil putri !" Jawab Mama Dara berusaha menjelaskan sambil menangis memegang erat kedua tangan Dery.
"Putri...apakah namanya putri?" Tanya Dery
"iya, ayah mu menamai Dara dengan nama Putri ketika lahir". Jawab Mama Dara sambil mengusap air matanya.
"Sekarang ceritakan tentang dirimu, bagaimana kamu bisa berdiri lagi?" Tanya Mama Dara sambil tersenyum karena bahagia melihat Dery sudah bisa berjalan.
"Ayah yang mendonorkan sum-sum tulang ekornya untuk ku". Jawab Dery tertunduk sedih.
"Di dalam surat nya, ayah juga meminta maaf pada Dara, karena sudah membuat hidupnya menderita selama bekerja di klub malamnya, bahkan Dara sempat mau di jadikan ayah pendonor sum-sum tulang ekor aku".
"Itu semua terjadi karena ayah tidak tahu bahwa Dara adalah putrinya, yang selama ini ayah cari-cari!" Ucap Dery menceritakan pada Mamanya.
Mama Dara mendengarkan cerita Dery sembari memejamkan mata dan menitikkan air mata, berfikir begitu malangnya nasib Dara sejak menikah dengan Varel.
"Mama , apa Mama mau maafkan Ayah?" Tanya Dery dengan suaranya yang bergetar setelah menceritakan semua isi surat wasiat ayahnya.
Mama Dara menangis sekeras-kerasnya, entah dia menangis karena apa, apakah bersyukur Bery sudah tiada atau bahagia karena Dery sudah kembali dalam pelukan nya, ataukah menangis memikirkan Dara yang sudah menikahi putra korban pembunuhan Bery ?
"Mama, boleh aku panggil Mama?" Tanya Dery sambil memeluk Mamanya.
"Tentu nak, tentu anakku!" Ucap Mama Dara sembari memeluk Dery erat.
Di pondok pesantren yayasan Al Ihsan rumah Almarhum Ustadz Abu.
"Aku mau pulang, aku mau ketemu Mama!" Ucap Dara
Kemudian Ihsan yang mendengar itu langsung melepaskan pelukan nya.
"Kamu mau ketemu Mama mu? Tanya Ihsan.
"Iya, aku mau pulang, aku mau istirahat di sana". Jawab Dara sambil berdiri dan berjalan keluar kamar.
"tunggu, aku antar, sabar..sabar Dara, aku ambil tas ku dulu!" Jawab Ihsan sembari mengambil tasnya.
"Mau kemana Dara, Ihsan kalian mau kemana?" Tanya Ustadzah bingung melihat Dara yang terlihat tidak baik-baik saja.
"Ummi, aku minta maaf, nanti aku ceritakan, sekarang aku pamit dulu mau antar Dara ke rumah Mamanya, ya Ummi!" Ucap Ihsan menjelaskan sambil mencium tangan Ustadzah.
Dara berjalan begitu saja melewati Ustadzah seperti orang yang tidak mengenali Ustadzah.
Ustadzah. melihat itu hanya bisa mengelus dada karena cemas.
"Astaghfirullah astaghfirulloh!" Ucap Ustadzah cemas melihat keadaan Dara.
Kemudian Ihsan buru-buru menggandeng Dara menuruni tangga teras rumahnya.
Lalu Ihsan membantu Dara masuk ke dalam mobil nya.
"Hati-hati ya Ihsan!" teriak Ustadzah dari teras rumahnya.
"nanti kalau sudah sampai telp Ummi!" Ucap Ustadzah berpesan pada Ihsan.
Ihsan menatap Ustadzah "Baik Ummi...!"
"Assalamualaikum Ummi!" Ucap Ihsan pamit sambil mengemudikan mobilnya keluar dari garasi rumah menuju gerbang pondok pesantren.
"wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh!" Jawab Ustadzah sembari melambaikan tangan.