Dara Manisku

Dara Manisku
Hari-hari terakhir



Di rumah Mama Dara, Dery dan Mama masih berbincang-bincang melepas rindu di ruang tengah.


"Dari mana kamu tahu alamat ini Dery?" Tanya Mama pada Dery sembari menutup jendela di ruang itu.


"Dari suster yang bekerja di rumah sakit tempat Mama dulu di rawat ". Jawab Dery


Mama Dara tersenyum sembari meneruskan menutup semua jendela rumahnya.


"Oh iya apakah Dara sudah tahu tentang ayah?" Tanya Dery


Mendengar pertanyaan itu Mama berhenti, langkahnya terhenti di depan pintu rumahnya lalu berbalik.


"Jangan, Dara jangan sampai tahu soal Ayahnya!" Ucap Mama Dara.


"Tapi kenapa Ma, lantas apakah Dara juga tidak boleh tahu siapa aku?" Tanya Dery dengan suara keras.


"Mama, Dara itu adik ku, Adikku!" Ucap Dery sedikit kesal.


Pintu rumah tidak jadi di tutup Mama. Mama Dara langsung duduk dekat Dery sembari meletakkan tongkat nya.


"Dery, dengarkan Mama, mungkin kamu akan kaget mendengar ini, namun Mama harap kamu mau mengikuti saran Mama, ya?" Ucap Mama sambil memegang tangan Dery.


"Dara sudah menikah dengan Ihsan!" Ucap Mama.


"Lantas, apa masalahnya? aku setuju saja adik ku menikahi Ihsan!" Jawab Dery tak mengerti maksud perkataan Mamanya.


"Ihsan adalah anak Tuan dan Nyonya tempat dulu Mama dan Ayah mu bekerja dan menumpang hidup". Ungkap Mama sembari menatap mata Dery.


"Lalu ...lalu apalagi Mama?" Tanya Dery penasaran dengan kelanjutannya


"Ayah mu sudah membuat kesalahan besar pada Ihsan, waktu itu usia mu baru 2 thn!" Ucap Mama melanjutkan cerita.


Di depan rumah Mama Dara, mobil Ihsan berhenti. Dara lebih dulu keluar dari mobil.


"Dara, tunggu aku, kita masuk sama-sama, aku parkir mobil dulu!" Ucap Ihsan yang melihat Dara turun dari mobil begitu saja.


"Dara!" panggil Ihsan namun Dara tetap saja melangkahkan kakinya menuju rumah.


Ketika Dara sudah berada di depan pintu, langkah nya terhenti, Dara melihat Mama sedang berbicara dengan seseorang.


Tepat pada saat itu Dara dan Dery saling berpandangan dan Mama tanpa tahu bahwa Dara sudah ada di depan pintu rumah nya, meneruskan kembali ceritanya pada Dery.


"Ayah mu , ayah nya Dara yang sudah membunuh kedua orang tua Ihsan 22 tahun yang lalu!" Ucap Mama Dara.


Dery mendengar cerita Mamanya itu sontak merinding dan tak tahu harus berkata apa, Dery lalu kembali memandang Dara yang berdiri mematung di depan pintu.


"Mama, Mama...!" Ucap Dery gemetaran.


"Iya, Dery ada apa, aku tahu kamu pasti kaget mendengar cerita ini". Jawab Mama


"Dara...ada Dara !" Ucap Dery


Lalu wajah Mama langsung berubah pucat dan berbalik badan ke arah belakang.


"Dara..." betapa terkejutnya Mama melihat Dara sedang berdiri di depan pintu.


Dara yang saat itu terdiam menatap Mamanya, tiba-tiba pandangannya mulai memudar, semuanya terasa gelap, Dara pun jatuh rebah ke lantai.


"Dara...!" teriak Ihsan yang baru saja sampai dan melihat Dara jatuh pingsan.


Dery langsung berlari menghampiri Dara. Mama Dara segera mengambil tongkat nya dan melangkah lemas ke arah Dara.


"apakah Dara mendengar apa yang aku katakan barusan?" Pikir Mama Dara khawatir jika Dara pingsan karena mendengar perkataannya tadi.


"Dara...Dara..bangun sayang, Dara!" Ucap Ihsan mencoba membangunkan Dara.


"Lebih baik kita bawa Dara kerumah sakit!" Ucap Dery segera menggendong Dara


Ihsan bingung melihat Dery yang langsung menggendong tubuh Dara tanpa bertanya.


"ayo cepat Ihsan, siapkan mobilnya!" teriak Dery


Kemudian Ihsan berlari keluar segera mengambil kunci mobil dari saku celananya.


"Tunggu Mama!" Ucap Mama Dara sambil berjalan mengikuti Dery.


Ihsan segera membuka pintu mobil, dan keluar lagi dari mobil untuk membantu Dery memasukkan Dara ke dalam mobil.


Setelah tubuh Dara di baringkan di dalam mobil, Dery melihat Mamanya tergopoh-gopoh melangkah mendekatinya.


"Ayo Mama, aku bantu!" Ucap Dery sambil menggandeng Mama nya yang kesulitan masuk ke dalam mobil.


"Sudah siap semua, kita berangkat sekarang!" Ucap Ihsan mulai menyalakan mobilnya.


Di dalam perjalanan Mama menangis sambil memandangi wajah Dara yang ada dipangkuannya.


"kenapa kamu tiba-tiba ada di sini Ihsan?" Tanya Mama Dara.


"ya , memang biasanya aku ke sini sabtu dan minggu saja, tapi entah kenapa hari ini aku ingin sekali pulang melihat Dara!" Jawab Ihsan.


"Bukan, bukan itu maksud Mama!" Ucap Mama Dara marah.


"Kenapa Dara tiba-tiba pulang ke rumah, bukankah seharusnya dia masih mengajar di pondok!?" Tanya Mama Dara tak menyangka kalau Dara akan pulang cepat.


"Tadi...dia..Dara Tadi.. ". Ihsan menjawab dengan gugup, dia bingung harus berkata apa.


"Bagaiamana ini...Bagaimana kalau dia dengar...!" Ucapan Mama Dara di hentikan oleh Dery


"ssstt..!" Dery memberikan tanda pada Mamanya untuk tidak meneruskan kata-katanya.


"Dengar apa Bu, memang nya Dara mendengar apa?" Tanya Ihsan penasaran dengan ucapan Mama yang terhenti.


"Tidak apa-apa, fokus saja menyetir!" Jawab Dery mengalihkan pembicaraan.


Ihsan berfikir mengapa Dery bisa ada di rumah Mama Dara. "sedang apa dia disana, ada apa sebenarnya?" Tanya Ihsan dalam hati.


Di pagi harinya, Mama Dara masih tertidur di samping ranjang Dara. Sedangkan Dara belum sadarkan diri.


Sembari menemani Mama di kamar rawat inap itu, Ihsan dan Dery meminum kopi.


"Mau tanya apa?" Jawab Dery sambil menyeruput kopi susunya.


"Ada urusan apa kamu di rumah Mama Dara?" Tanya Ihsan


"Itu bukan urusan kamu!" Jawab Dery singkat.


"tentu itu urusan aku, aku ini menantunya Mama, aku suaminya Dara!" Jawab Ihsan kesal mendengar perkataan Dery.


"Aku tahu, selamat atas pernikahan mu!" Jawab Dery


"huf..!" Ihsan menghela nafas mencoba bersabar


"Dan kemarin...apa itu..kamu tanpa izin langsung menggendong Dara begitu saja, di depanku , depan suaminya!" Ucap Ihsan kesal dengan sikap kurang ajarnya Dery mengangkat tubuh Dara.


Dery mengabaikan pertanyaan Ihsan sambil terus menyeruput secangkir kopi susu hangat.


"huf.. bapak sama anak, sama-sama ngeselin!" Ucap Ihsan kesal karena di abaikan Dery.


"Dara..Dara..!" Ucap Mama terbangun karena merasakan tangan Dara yang bergerak-gerak.


Ihsan dan Dery langsung bangkit dari sofa dan menghampiri tempat tidur Dara.


"Ada Mama, apa Dara sudah sadar?" Tanya Dery pada Mamanya.


Ihsan yang mendengar Dery memanggil 'Mama' pada Mama Dara jadi heran dan bertanya-tanya.


"Mama?" bisik Ihsan.


"Dara...ini Mama sayang!" Ucap Mama sembari menyentuh bahu Dara.


"Mama...". Jawab Dara dengan suara lemah.


"Alhamdulillah kamu sudah sadar Dara!" Jawab Dery


Tiga hari Dara di rawat tak satu pun dari mereka berani saling menanyakan, kenapa dan apa yang menyebabkan Dara jatuh pingsan.


Karena mereka sama-sama merasa bersalah, mereka bungkam seribu bahasa.


Sedangkan Dokter hanya mengatakan bahwa Dara kelelahan dan butuh istirahat itu saja.


Sesampainya di rumah Mama, Dara di gandeng Ihsan masuk ke dalam kamar.


Sedangkan Dery dan Mama berbisik-bisik di luar.


"Sebaiknya kamu jangan tinggal di sini dulu Dery, nanti Mama telp kamu untuk rencana selanjutnya!" Bisik Mama pada Dery.


"Rencana apa Ma?"Tanya Dery bingung.


"Kita harus pergi, kita gak bisa terus-terusan dekat dengan Dara, karena semua rahasia ini bisa terbongkar!" Ucap Mama menjelaskan pada Dery denagn suara pelan.


"Bukankah sebaiknya kita jujur saja pada Dara dan Ihsan ?" Ungkap Dery berbisik.


"Gila kamu, itu gak mungkin, bagaimana pernikahan mereka nanti, bagaimana perasaan Dara!" Ucap Mama Dara marah karena Dery tak memahami keadaan Dara.


"pokoknya kita harus...!" Ucapan Mama terhenti karena Ihsan mulai mendekati mereka.


"Ssstt.....!" bisik Dery pada Mama.


Ihsan menatap mereka berdua.


"Ada apa ini, mengapa kalian berbisik-bisik dari tadi?" Tanya Ihsan penasaran melihat sikap Dery dan Mama yang terlihat canggung.


"Aku pamit ya, Ihsan terimakasih ya, aku titip Dara!" Ucap Dery mendadak pamit dan berjalan keluar rumah.


"Oh iya, hati-hati ya nak!" Jawab Mama Dara sambil melambaikan tangan pada Dery.


Ihsan merasa ada yang aneh dengan mereka berdua.


"kenapa ditanya malah pulang?" Tanya Ihsan dalam hati.


"Ayo masuk!" Ucap Mama Dara mengajak Ihsan kembali masuk ke rumahnya.


"Mama...aku lapar..kita buat nasi goreng yuk!" Ucap Dara dari dalam dapur.


"Eh..kamu kan baru pulang dari rumah sakit, ngapain di dapur, ayo istirahat!" Ucap Ihsan yang meminta Dara kembali ke kamarnya.


"Gak ah..cape tiduran terus!" Jawab Dara santai. Dara mengambil wajan bermaksud memasak nasi goreng.


"biarkanlah dia Ihsan, mungkin Dara bosan". Ucap Mama.


Hari-hari berlalu seperti biasa.


Menurut Ihsan hari-hari ini adalah hari terbaik baginya.


Ihsan semakin mesra dengan Dara, karena setelah kejadian itu Dara sudah mulai menerima Ihsan sebagai suaminya.


Malam-malam yang indah begitu mudah tercipta antara mereka berdua. Tak ada satupun kecurigaan Ihsan pada Dara.


Namun jauh di lubuk hati Dara, tersimpan rahasia besar. Senyuman dan keceriaan Dara hanyalah sandiwara belaka.


Di kamar Mandi, Dara menatap ke cermin. Matanya berkaca-kaca. Dia ingat semua kata-kata Mamanya kala itu, "Ayahnya Dara membunuh orang tua Ihsan 22 thn yang lalu!"


Itulah kata-kata yang tak mungkin bisa di lupakan nya begitu saja.


Dara mencoba melupakan, namun rasa sakit dan kekecewaan yang dalam tak mampu lagi dia tahan.


"aku tak bisa...aku tak pantas..aku seharusnya tidak di sini!" Ucap Dara sembari melihat dirinya sendiri di cermin.


"Dara, ayo lah cepat sayang...aku dah gak sabar nih!" teriak Ihsan menggoda Dara.


Dara segera menyeka airmatanya dan mengganti baju nya dengan gaun malam berwarna hitam menerawang.


"Iya sebentar sayang, sabar dong!" Jawab Dara nakal, padahal di dalam hatinya sedang berkecamuk ingin berteriak.


Dara keluar dengan melangkah genit menghampiri Ihsan yang sudah siap di ranjang nya.


Sedangkan Mama malam itu menelpon Dery membicarakan rencana mereka untuk pergi sejauh mungkin.