
Tangan Dara saat itu berubah menjadi dingin.
"Lepaskan tangan ku!" Ucap Dara pada Bos Geng Tiger yang menggenggam tangan Dara.
"Baik, akan aku lepaskan tapi, matikan dulu telpnya!" jawab Bery mengancam Dara agar tidak jadi menelpon polisi.
"jangan ganggu putri ku!" teriak Mama Dara sambil mendorong kursi ke depan dan menjatuhkan Bery.
"Brak!" Bery tersungkur ke lantai.
"Bukankah kamu sudah janji tidak akan mengganggu kami lagi!" Ucap Mama Dara dengan suara keras.
"hahahahaha....dasar wanita egois!" Jawab Bery sambil berusaha berdiri
"kamu sudah mengambil putri ku, sekarang kamu juga mau mengambil putra ku!" Ucap Bery sembari membenahi baju nya dan tangan nya yang besar melayangkan pukulan ke wajah Mama Dara.
"PLAK!"
Wajah Mama Dara di tampar Bery sampai bibir nya keluar darah.
"Mama....!" Dara melihat itu histeris.
"ya Allah, Mama...Mama gak apa-apa?" Tanya Dara sambil menangis tak tega melihat Mamanya di tampar Bery.
Kemudian Dara berbalik dan melampiaskan amarahnya dengan memukuli tubuh Bery dengan kedua tangannya yang mungil itu.
"brengsek! dasar penjahat! kamu bukan manusia!" teriak Dara penuh emosi.
Tadinya Bery Bos Geng Tiger itu membiarkan Dara memukuli tubuhnya, namun kesabaran nya sudah habis.
"DIAM!" Teriak Bery sembari menangkap tangan Dara.
Bery kesal, dia pegangi kedua tangan Dara dengan erat sambil berkata, "Ya aku memang penjahat, dan kamu tahu orang yang bukan manusia ini adalah Ayah....
"Stop jangan diteruskan, aku mohon ...!" Ucap Mama Dara memotong perkataan Bery.
Mama Dara memohon sambil memegangi kaki Bery dengan kedua tangan nya. Mama tidak mau sampai Bery memberitahukan rahasia besar itu pada Dara.
Mama Dara menangis terus memohon sampai memeluk kaki nya Bery.
Dara melihat itu sampai heran.
"Mama...apa yang mama lakukan!" Ucap Dara kesal
"Mama ..Mama! jangan begitu, dia bukan manusia, gak perlu mama minta belas kasihan dari orang bejat seperti dia mama!" Ucap Dara tegas sambil melotot ke Bery.
"anak kurang ajar!" Bery mendorong Dara sampai jatuh.
"Dara !" teriak Mama Dara panik melihat anaknya di dorong keras sampai kepalanya terbentur meja.
"Kalian berdua! kembalikan Dery padaku sore ini juga, atau kalian berdua tidak akan pernah bisa bersama lagi, Faham!" Teriak Bery mengancam Mama dan Dara.
Bery dengan marah akhirnya keluar lalu membanting pintu kamar rawat inap Mama Dara.
"Dara..Dara..nak..kamu gak apa-apa?" Tanya Mama khawatir
"Darah!" teriak Mama Dara histeris.
Dara berusaha bangkit kemudian dia memegang kening nya dan melihat ada darah di jemarinya. "Aku gak apa-apa ma, aku cuma pusing....
"BRAK!" Dara jatuh pingsan
"Dara....!"
Dara tak sadarkan diri. Hal ini membuat Mama Dara sangat khawatir.
Suster dan Dokter mulai berdatangan mendengar panggilan darurat dari bell kamar rawat inap Mama Dara.
Mereka segera mengangkat tubuh Dara. Dara di bawa ke ruang tindakan.
"Ibu, yang tenang ya, semua akan baik-baik saja, tunggu di sini ya!" Ucap salah seorang suster menghibur Mama Dara yang terus-terusan menangis.
"Ihsan, aku harus beritahu Ihsan...!" Mama segera menuju kamar dan mencari handphone Dara.
"kemana hp nya?" Mama Dara mencari-cari hp Dara yang tadi sempat terjatuh saat kejadian tadi.
"aaah...itu dia!" Ucap Mama Dara lega karena akhirnya hp itu di temukan.
Namun letak jatuhnya hp itu sangat sulit di jangkau tangan Mama.
"Hufff...jauh sekali...hufff..aduh ..aku gak bisa mengambilnya, ya Allah!" Ucap Mama Dara yang terus berusaha meraih hp Dara yang tergeletak di bawah meja.
Dalam keadaan tubuhnya berada di kursi roda membuat Mama tidak bisa meraih handphone Dara.
Mama Dara kesal pada dirinya sendiri. Berkali-kali dia memukul kakinya. Kemudian Mama Dara memaksakan diri untuk turun dari kursi rodanya.
"aaaa..!" teriak Mama Dara.
"Bruk!" Tubuh Mama Dara terjatuh dari kursi roda.
Sambil menahan sakit, Mama Dara kembali berusaha meraih hp Dara.
"Alhamdulillah, aku harus segera telp Ihsan!" Ucap Mama bersyukur karena akhirnya dia bisa menelpon Ihsan.
Liburan sekolah sudah tiba untuk menyambut datangnya Hari Raya Idul Fitri.
"Hari ini adalah hari terakhir saya mengajar, selamat berlibur dan jangan lupa untuk menyelesaikan tugas-tugas nya ya, Assalamualaikum!" Ucap Ihsan pada Mahasiswa yang hadir di kelas nya.
"Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh!" se isi kelas menjawab serentak.
Semua siswa di kelas itu mengantri ingin berjabatan tangan dengan dosen nya yaitu Ihsan.
Karena ini hari terakhir kegiatan di kampus, maka sebagian siswa ingin memberikan salam perpisahan atau sekedar memberi bingkisan kenangan.
"Pak, maafin ya!" Ucap siswa
"pak ini ada hadiah kecil buat bapak!" Ucap siswa satunya lagi
"pak nanti liburan jangan kawin dulu ya!" Ucap siswi selanjutnya yang naksir sama dosen Ihsan.
"huuuuuuu!" Mahasiswa serentak menyoraki siswi genit itu.
Ihsan hanya tertawa mendengar candaan mahasiswi nya itu.
"yayayaya.. nanti saya kirimkan undangannya abis lebaran ya!" Jawab Ihsan membalas candaan mereka.
Kelas pun berangsur sepi, tinggallah Ihsan sendiri sembari membenahi beberapa buku miliknya di atas meja.
Terdengar suara dering hp yang menggema di ruang kelas.
Ihsan mengambil hp nya yang tergeletak di atas meja, dan melihat ke layar handphonenya. "Oh, Dara!" Ucap Ihsan senang mendapat telp dari Dara.
"Assalamualaikum Dara, bagaimana kabar mu?" Ucap Ihsan mengangkat telp nya.
"Ihsan..!" terdengar suara lirih Mama Dara.
"ini Mama ..Mama Dara!" Jawab Mama Dara sambil duduk lemas bersandar pada kaki meja.
"Mama Dara?" Ihsan terkejut.
"Ada apa tante, bagaimana kabar tante, tante baik-baik aja kan?" Tanya Ihsan khawatir karena mendengar suara Mama Dara sedih.
"Dara, Dara Ihsan, kening nya berdarah...banyak ...banyak sekali...Bos jahat itu, dia melukai Dara!" Jawab Mama Dara dengan suara terbata-bata.
"apa! Astaghfirullah!" Jawab Ihsan kaget.
"Tante, tante yang sabar ya, tenang...sekarang juga saya berangkat ke Surabaya!" Jawab Ihsan sambil terburu-buru membereskan buku dan laptop nya.
Ihsan berlari keluar gedung kampus sembari membawa tas ransel di punggung nya.
"Axel..aku harus beritahu Axel!" Ucap Ihsan sambil masuk ke mobilnya.
Di Cafe Hoki yang masih tutup, Axel sedang sibuk membersihkan Cafe nya.
Sesekali Axel menatap Cafe nya, dan seakan-akan terlintas bayangan Dara yang sedang tersenyum sembari membawa nampan berisikan pesanan kopi.
Axel terkenang masa-masa indah berkerja dengan Dara di Cafe nya.
"Ini kopi nya kak, selamat menikmati ". Ucapan Dara kala itu masih terdengar jelas di telinga Axel.
Senyum manis Dara menyapa pelanggan Cafe terlintas di benaknya, membuat Axel senyum-senyum sendiri yang terhenti mengepel lantai Cafe nya.
Axel termenung di dalam cafe, dagunya bersandar pada ujung gagang pel yang dari tadi dia pegangi.
"Assalamualaikum!" Suara salam Ihsan di pintu luar Cafe Hoki membuat Axel tersadar dari lamunannya.
"Ihsan, ngapain dia ke sini!" Ucap Axel di dalam Cafe.
"Wa'alaikumsalam !" Jawab Axel malas.
Axel berjalan ke depan pintu Cafe dan memandangi Ihsan dari dalam cafe tanpa membuka kan pintu.
"Hey..ayo bukain pintunya!" Ucap Ihsan pada Axel.
"Kalau kamu ke sini mau bicara soal Dara, lebih baik balik aja sana!" Jawab Axel dari dalam cafe.
Ihsan terlihat kesal mendengar jawaban Axel.
"Dengarkan dulu, ini memang soal Dara ...tapi ini masalah lain lagi!" Ungkap Ihsan menjelaskan.
Sepertinya Axel bosan karena sering mendengar nasehat-nasehat Ihsan yang menginginkan Axel berbaikan dengan Dara.
"aaah...kamu pasti bilang nya begitu, cuma ini..cuma itu..ujung-ujung nya tetap kamu terus membela Dara, dan menyalahkan aku!" Jawab Axel kesal tak mau mendengarkan penjelasan Ihsan.
"Sudah..aku gak mau dengar lagi, aku bukan anak kecil, aku bisa menyelesaikan urusan ku dengan Dara, kamu gak usah ikut campur!" Ucap Axel sembari menutup tirai Cafe Hoki.
Ihsan terus berusaha bicara pada Axel sembari mengetuk-ngetuk pintu kaca cafe yang sudah ditutup tirainya sama Axel dari dalam.
"Baiklah...Dengarkan ini, Dara terluka, kening nya berdarah, hanya itu yang aku tahu, hari ini aku akan berangkat ke surabaya, untuk mencari tahu!" Teriak Ihsan dari luar cafe.
Ihsan akhirnya pergi dalam keadaan kecewa dengan sikap Axel.
Sedangkan Axel di dalam Cafe, masih terduduk sedih karena mendengar ucapan Ihsan tentang kabar Dara tadi.
"Kenapa Dara bisa terluka, apa yang terjadi sebenarnya?" Ucap Axel khawatir.
Axel tiba-tiba berdiri, dan membuka pintu Cafe nya, dan melihat Ihsan sudah tidak ada, Ihsan ternyata sudah pergi.