Dara Manisku

Dara Manisku
Teror Geng Tiger



Seperti biasa Bu Leni berangkat pagi-pagi sekali menuju tempat kerjanya, namun pagi ini ada yang aneh.


"Kenapa si nih motor gak mau nyala ya? tumben banget!"


"Pak ...maaf bapak bisa benerin motor gak pak?" Tanya Bu Leni kepada seorang Laki-laki berbadan tegap yang dari tadi melihat ke arah Bu Leni.


laki-laki itu menghampiri Bu Leni sambil menengok kanan kiri, tempat parkir itu terlihat sangat sepi.


"Pak ...tolong saya ya? motornya gak mau nyala, gak tahu kenapa!"


Bu Leni tanpa curiga meminta tolong pada laki-laki yang tidak dia kenal itu.


" Apa anda kenal Dara?" tanya laki-laki itu sambil merunduk melihat-lihat mesin motor Bu Leni.


" ooo...Dara..ya pasti kenal.. kan dia... " tiba-tiba Bu Leni berhenti bicara, dia teringat pesan Pak Ihsan agar tidak menceritakan tentang Dara pada siapapun.


"ehem..ehem.. motor nya bagaimana pak? apanya yang rusak?" Tanya Bu Leni.


Bu Leni langsung mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan motornya.


"Motor ini bisa saja menyala kalau lo kasih tahu di mana Dara!" Tiba-tiba laki-laki itu bangun dan suara nya berubah menjadi kasar dan menarik lengan Bu Leni dengan keras.


"Astaghfirullah...tolooong...tolong!" teriak Bu Leni histeris.


Kemudian Laki-laki itu melepaskan lengan Bu Leni dan pergi sambil mengucapkan " gue bakal balik, lo ingat itu!"


Bu Leni langsung terduduk lemas, tubuhnya gemetar dan buru-buru dia mengambil handphone nya. " Hallo assalamualaikum pak Ihsan.....!"


Ihsan pagi itu sedang mengajar di sebuah kampus, dia langsung pamit keluar di tengah-tengah jam pelajaran, setelah mendengar kabar tentang teror yang di alami Bu Leni.


"Bu..Bu Leni tidak apa-apa?" Ihsan masuk kedalam kantor polisi disana dia bertemu dengan Bu Leni.


"Alhamdulillah pak, saya baik-baik saja, polisi sekarang sedang ke area parkir untuk mengecek Cctv disana". Ucap Bu Leni.


Bu Leni ternyata melaporkan kejadian itu ke kantor polisi terdekat.


"Sepertinya anak buah geng Tiger mulai melakukan teror pada teman-teman Dara". Ihsan berfikir laki-laki penyerang Bu Leni itu ada hubungan nya dengan geng Tiger.


" Syukur alhamdulillah, sepertinya untuk saat ini, ibu tidak aman tinggal di tempat ibu sekarang". Ihsan sangat mengkhawatirkan Bu Leni.


"Lantas saya harus kemana pak?" tanya Bu Leni yang terlihat cemas dan bingung. " apa ...ibu tidak punya keluarga dekat di daerah ini?" tanya Ihsan mencoba memberikan solusi.


" Ada ...tapi bukan di sini..melainkan daerah Bandung". jawab Bu Leni.


"Oke ..untuk saat ini, Bu Leni tinggal saja dulu di Bandung, sampai polisi menangkap pelakunya". Ungkap Ihsan.


Di apartemen Ihsan


" Hmmm kemana Ihsan? sampai gak tarawih bareng hari ini". Dara menunggu ihsan di apartemen. Tak lama bell pun berbunyi.


"Axel!" Dara kaget setelah membuka pintu ternyata itu Axel.


"Apa kabar Dara, aku mampir karena tadi Ihsan menelpon, dia minta tolong untuk menjaga kamu hari ini". Axel menjelaskan dan langsung masuk kedalam apartemen dengan membawa kotak makanan.


"Memang nya Ihsan kemana?" tanya Dara penasaran.


"oh..itu..mmm...kemana ya ..tadi katanya .. itu saudaranya ada yang sakit..ya begitu katanya!" Axel menjawab Dara dengan ragu-ragu, karena Axel tidak ingin membuat Dara khawatir.


"Mencurigakan?" pikir Dara karena melihat jawaban Axel yang meragukan.


"Kamu bawa apa?" Dara membuka kotak makanan yang di bawa Axel.


"Martabak telor!" kamu kan suka martabak telor extra daging, aku belikan aja tadi sekalian". Axel ikut membuka kotak martabak itu dan mengambilnya sepotong.


"eeettt.. gak boleh di makan!" Dara mengambil kembali potongan martabak yang di ambil Axel. "Loh...kenapa? pelit amat...itu kan ada banyak Dar !" Axel bingung dengan tingkah Dara yang melarangnya makan.


" Jawab dulu yang jujur, kemana Ihsan? pasti ada yang gak beres, aku tahu itu!" Dara mengancam Axel agar mau berterus terang tentang Ihsan.


" YA ampun..gak percaya amat.. Ihsan pergi ke rumah saudaranya yang sedang sakit, dah itu aja yang aku tahu, sini martabak nya!" cantik cantik kok pelit !" Axel mengambil kembali potongan martabak nya.


"Beneran? ..kamu gak bohong kan?" Dara memastikan lagi ucapan Axel. "


"Dara ...besok Ihsan juga pulang, kalau tidak percaya ...kamu telp aja dia..tanyakan langsung ke orangnya!" Axel menjawab sambil mengunyah makanan di mulutnya.


" Dah ..kamu tenang aja, mending makan martabak nya, nanti keburu dingin!'pinta Axel sambil menyodorkan kotak martabak telor pada Dara.


Di malam harinya Axel mendengar jeritan dari kamar Dara, "Dara...kamu gak apa-apa...Dara!" aku masuk ya..?" Axel akhirnya masuk dan melihat Dara sedang menangis di sudut kamarnya.


"sssssttt.. sssstt...tenang ..tenang ini aku Axel...Dara..Dara..lihat aku?" ucap Axel lembut.


Dara mengangkat wajah nya dan langsung memeluk Axel.


" Axel...aku takut...aku takut!" orang orang itu mengejarku... aku takut Axel!" Ucap Dara gemetaran.


"Axel mengusap-usap punggung Dara, sambil berbisik, "ada aku di sini yang selalu menemani mu Dara".


Bisikan itu, suara itu mengingatkan Dara pada suara yang sering dia dengar.


" Axel... ?" Dara menatap mata Axel, sepertinya Dara mengingat semua kisah persahabatan nya dengan Axel.


"iya..Dara...ada apa?" Kamu baik-baik aja kan ?" tanya Axel sambil memperhatikan Dara, Axel melihat tatapan itu, tatapan Dara yang dulu dia kenal.


Tangan Axel dengan lembut membelai rambut Dara.


"Dara ...ada apa...apa kamu ingat sesuatu ..Dara ?" Axel bertanya tuk memastikan.


" Axel..aku ingat semuanya...aku ingat!" Dara menjawab dengan sangat gembira, dia kembali memeluk Axel dengan erat.


"Syukurlah...!" Axel pun sangat bahagia.


Malam itu Dara dan Axel mengobrol sampai tiba waktu sahur.


"Terimakasih banyak ya Pak sudah mengantarkan saya". Bu Leni mengucapkan terima kasih kepada Ihsan karena sudah mengantarkan kerumah saudaranya di Bandung.


"Iya ..gak apa apa Bu, saya yang minta maaf karena saya, Ibu jadi harus mengungsi ke Bandung". Ihsan merasa tidak enak pada Bu Leni karena telah ikut membantu Dara akhirnya Bu Leni jadi incaran teror anak buah geng Tiger.


"Tidak apa apa Pak, justru saya senang bisa ikut membantu Pak Ihsan, anggap saja saya sudah melunasi hutang ke Pak Ihsan". Bu Leni dengan tersenyum menjawab Ihsan.


" Hutang apa Bu? saya tidak faham?" Ihsan merasa bingung dengan ucapan Bu Leni.


" Hutang nyawa Pak, bukankah saya pernah bilang, saya mengenal Pak Ihsan ketika saya dan gadis-gadis lainnya ingin dijual keluar negeri, dan Pak Ihsan menolong kami saat itu". Bu Leni menjelaskan maksud perkataannya.


"MasyaAllah..hanya itu? ..saya hanya kebetulan lihat lalu melaporkan nya pada polisi, Bu Leni gak perlu berlebihan, ibu tidak berhutang apa-apa pada saya!". Ihsan dengan sangat rendah hati menanggapi perkataan Bu Leni.


Ke esokan hari nya di apartemen, Axel pamit pada Dara karena harus mempersiapkan acara buka puasa bersama diCafe Hoki nya.


"Sebenarnya ... aku gak tega ninggalin kamu sendirian, tapi Cafe ku sudah terlanjur menerima Reservasi untuk bukber sore ini", maafkan aku ya Dara?" Axel merasa berat sekali meninggalkan Dara di apartemen sendirian, mau di ajak pun tak mungkin, karena itu berbahaya buat Dara.


"Emangnya aku gak bisa ya...kerja lagi seperti dulu?" rasanya bosan banget gak ngapa-ngapain di dalam sini". Dara mengeluh dan meminta Axel mengajak nya ke Cafe.


"Aku juga ingin kamu kerja lagi bersama ku Dara, tapi.... hmmm ..jangan ..di sini lebih baik...lebih aman Dara, kamu tahu kan?" Axel memberikan pengertian pada Dara.


"Baiklah" Dara menjawab dengan sedih. "Aku pamit ya...nti malam aku ke sini lagi, sudah jangan sedih ya...nanti aku bawain makanan kesukaan mu, oke! senyum dong?" Axel pamit sambil memberikan semangat pada Dara.


Dara pun menghantarkan Axel ke depan pintu apartemen dengan senyuman.


"Assalamualaikum...." ucap Axel


"Wa'alaikumus salam..." jawab Dara sambil menutup pintu.


Siang itu di Cafe Hoki, tiga orang anak buah geng Tiger masuk ke Cafe dan duduk, padahal di depan pintu Cafe tertulis Close.


"Maaf..Sebenarnya...Cafe ini belum buka..karena ini bulan puasa Kak". Axel menjelaskan bahwa cafe nya masih tutup. Axel sama sekali tidak tahu kalau tiga orang itu anak buah geng Tiger.


Tapi tiga orang itu tetap saja duduk, bahkan duduknya sangat tidak sopan. Axel mulai merasa ada yang tidak beres dengan tiga orang itu.


"Buatkan saya kopi, kopi hitam, cepat!" salah satu orang itu memesan kopi.


" Baik Kak, saya akan buatkan" Axel akhirnya tetap melayani pesanan orang itu.


Axel benar-benar tidak nyaman saat itu, dia tetap membuatkan kopi karena berharap orang-orang itu segera pergi setelah minum kopi.


"Ini kopinya Kak, yang lain mau pesan kopi yang sama atau kopi lain?" Axel menawarkan yang lainnya sambil meletakkan pesanan kopi itu di meja.


"Praaakkk...!" Gelas kopi itu pun terjatuh, sepertinya orang itu sengaja menumpahkan nya. " waawww....gelas nya pecah ...hahahahaha!" mereka tertawa bersama.


"Hey..kenapa cuma di lihat! beres kan...dan Buatkan lagi! Cepat!" Orang itu menyuruh Axel dengan kasar.


Axel benar-benar kesal, namun dia menahan diri, " Baik Kak... saya akan buatkan lagi". Jawab Axel dengan tenang.


" Ini Kak... Kopi hitamnya". Axel meletakkan kembali kopi panas di atas meja meraka.


Lalu tiba-tiba, "byarrrr....!" orang itu menghempaskan air kopi ke tubuh Axel, sontak Axel kaget dan kepanasan.


" Aaaaaaaa....panasss..aduh...!" apa-apaan ini!" Axel teriak dan merasa sangat kesal dengan perbuatan orang itu.


"Apa!" Lo mau apa!" Kopi di sini gak enak, seperti air Got!" mereka pun mulai mengamuk gak jelas, meja pun jadi sasaran nya.


"Braaakk!" suara meja di balikkan dengan keras.


Salah seorang dari mereka mendekati Axel dan menarik kerah Axel lalu mengancam. " Dengar baik-baik! serahkan Dara pada kami besok, atau tempat ini akan jadi kuburan lo!"


Teror anak buah geng Tiger semakin menjadi, apakah Axel akan menyerah dan memberitahukan kepada mereka tentang keberadaan Dara?