Dara Manisku

Dara Manisku
Tuk pertama kali



Mama Dara pagi itu menunggu Dara yang sedang bersiap-siap untuk pergi sholat Idul Fitri.


Sembari memperhatikan foto-foto kelurga Ihsan yang terpajang di dinding ruang tamu.


"Gagah ...kalau di lihat lagi menantuku gagah sekali". Ucap Mama Dara kagum dengan penampilan Ihsan di setiap foto.


"Dara apa Ihsan tidak punya adik atau kakak?" Tanya Mama sambil berteriak agar terdengar oleh Dara yang berada di dalam kamar Ihsan.


"gak ada Mama, Ihsan tidak punya saudara lagi!" Jawab Dara sambil membuka pintu kamar.


Dara keluar kamar lalu menyiapkan makanan di dapur.


"Jadi dia itu anak tunggal ya?" Tanya Mama Dara lagi.


"Iya! mama ayo kita makan dulu sebelum berangkat sholat Id!" Jawab Dara meminta Mama untuk makan dulu pagi itu.


"Mama, ayo ...nanti kita telat!" Ucap Dara sembari menghampiri Mama nya yang sedang memegang foto.


"ini siapa Dara?" Tanya Mama Dara penasaran melihat foto anak kecil yang sedang di gendong Ustadz Abu.


"ini Ihsan waktu usia lima tahun kalau tidak salah". Jawab Dara sambil meletakkan kembali foto Ihsan.


Mama Dara langsung kaget, dan mulai bertanya lagi pada Dara.


"Jadi Ustadz dan Ustadzah bukan orang tua kandung Ihsan?" Tanya Mama Dara sambil gemetaran karena takut dengan kenyataan yang ada.


"Iya betul, kok Mama bisa tahu?" Tanya Dara heran kenapa Mamanya bisa tahu kalau Ihsan itu anak angkat Ustadz Abu.


"Akh..itu ..itu karena wajah mereka tidak ada kemiripan sama sekali, iya kan?" Mama Dara menjawab dengan terbata-bata, Mama terpaksa berbohong.


Mama tersadar bahwa pertanyaan tadi bisa membuat Dara mencurigai Mama yang mengetahui asal usul Ihsan.


"hemm..Iya memang betul sih, wajah Ummi seperti wanita pakistan, sedang kan Abi seperti orang arab!" Jawab Dara sambil melihat lagi ke arah foto.


"ayo kita makan Dara!" Ucap Mama Dara mengalihkan pembicaraan sembari mendorong kursi roda nya ke arah meja makan.


Wajah Mama Dara terlihat sangat resah, di hatinya berkecamuk rasa bersalah dan penyesalan.


Di lapangan masjid area yang sudah di sediakan untuk sholat Idul Fitri berjamaah.


Suara takbir menggema sedangkan Mama Dara terdiam tak bergerak.


"Ihsan...aku tak menyangka Ihsan adalah anak Tuan dan Nyonya, anak yang orang tuanya telah di bunuh Bery!" Ucap Mama Dara dalam hati.


"Mama ayo dipakai mukenanya, Mama!" Ucap Dara mengingatkan Mama untuk segera memakai mukena.


Namun Mama tidak mendengar panggilan Dara. Sekali lagi Dara memanggil Mamanya sembari menyentuh bahu Mama Dara.


"Mama..Mama!" Ucap Dara bingung melihat mamanya yang dari tadi hanya diam saja.


"Mama...! Mama kenapa, apa Mama sakit?" Tanya Dara khawatir melihat wajah mama nya yang pucat dan berkeringat dingin.


"aa...ada apa ..ada apa Dara!" Ucap Mama Dara yang mulai tersadar dari lamunannya.


"Mama ..Mama baik-baik saja?" Tanya Dara sekali lagi sembari mengusap keringat di wajah Mama dengan sapu tangan nya.


"Ooh iya ...Mama baik-baik saja Dara!" Jawab Mama baru menyadari bahwa dirinya harus tetap tenang agar Dara tidak khawatir.


"Mama yakin baik-baik saja? kalau memang Mama sakit, ayo kita ke rumah sakit saja!" Ucap Dara sembari menatap Mamanya.


"Enggak... Mama gak apa-apa...Mama sehat gak sakit!" Jawab Mama Dara meyakinkan Dara.


"Ayo kita sholat !" Ucap Mama Dara sembari segera memakai mukenanya.


Dara merasakan dan melihat ada sesuatu yang aneh dengan Mamanya.


"Mama sungguh baik-baik saja?" Tanya Dara lagi yang sedang bingung melihat tingkah Mamanya yang seperti merahasiakan sesuatu.


Di tempat sholat Id dekat rumah sakit, Ihsan mulai menggelar sajadahnya.


Tahun ini Idul fitri terasa beda bagi Ihsan. Suasana hati Ihsan serasa bercampur menjadi satu.


Hatinya sedih karena Ustadz Abu terbaring koma di ruang ICU, sedangkan dirinya kini mendadak berstatus seorang suami.


"Ya Allah semoga aku bisa menghadapi ini semua dengan baik". Ucap Ihsan dalam hati sembari berdzikir melantunkan takbir.


Setahun telah berlalu, namun Dara dan Ihsan tidak pernah tidur dalam satu kamar.


Ihsan biasa pulang ke surabaya seminggu sekali.


"Ihsan kapan Ummi gendong cucu, kalau kamu sibuk ngajar di jakarta terus !" Ucap Ustadzah meledek Ihsan yang sedang tiduran di kamarnya.


"ah Ummi, bisa aja... Ummi kan biar muda terus, kalau buru-buru punya cucu, nanti Ummi cepat tua!" Jawab Ihsan sembari bangkit dari tempat tidur dan menghampiri Ustadzah yang sedang menyiapkan makan siang.


"Eehh... bisa aja jawab nya, bukan begitu, biar rumah ini jadi ramai, apalagi sejak Abi sudah gak ada, rumah ini serasa sepi sekali!" Jawab Ustadzah dengan mata berkaca-kaca mengenang Ustadz Abu yang baru delapan bulan meninggal dunia.


Ihsan tiba-tiba memeluk Ustadzah dari arah belakang.


"Ummi... Kalau Ummi kesepian, Ummi ikut aku aja ke jakarta". ungkap Ihsan menghibur Ustadzah dan melepaskan pelukan nya.


"loh masa di tinggal, ya enggak lah...ya ikut lagi ke sini, masa di tinggal ntar ada yang nyulik lagi !" Jawab Ihsan sembari tersenyum menghibur Ustadzah.


"Dih, dah tua gini siapa juga yang mau nyulik, ada-ada aja kamu !"Jawab Ustadzah sambil tertawa mendengar ocehan Ihsan.


"Dah ah sekarang lebih baik kamu makan dulu, Ummi buatin sayur kesukaan mu tuh!" Ucap Ustadzah.


Dara yang baru selesai mengajar di pondok pesantren itu melangkahkan kakinya menuju rumah.


"Assalamualaikum!" Ucap Dara memasuki rumah.


"wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh, nah alhamdulillah menantu kesayangan ku dah pulang, ayo kita makan bareng!" Ucap Ustadzah menyambut Dara.


Ihsan melihat ke arah Dara dengan wajah malu-malu, dan masuk ke dalam kamar mengambil sesuatu.


"Ihsan baru saja sampai tadi jam sepuluh".


Ucap Ustadzah menjelaskan pada Dara yang sedang melepas cadarnya.


"Iya Ummi ". Jawab Dara sembari duduk di kursi meja makan.


Ihsan kemudian keluar kamar sambil membawakan bingkisan buat Dara.


"Ini...buat kamu".


Ihsan menatap wajah Dara yang tidak bercadar. Wajah nya yang putih bersih kemerahan membuat Ihsan terpesona.


"buat aku? terimakasih ya !" Ucap Dara sembari tersenyum merasa senang mendapat hadiah dari suaminya.


Mata Ihsan tidak berkedip apalagi di tambah melihat senyum Dara yang begitu manis, membuat jantung Ihsan semakin berdegup kencang.


"Ya Allah..istriku cantik sekali!" Bisik Ihsan dalam hati mengagumi kecantikan istrinya.


"Ehem..ehem...mau makan dulu atau mau melihat wajah istri mu terus !" Ucap Ustadzah meledek Ihsan yang sedang memandangi wajah Dara.


"eh iya...mau ..mau Dara..eh maksudnya mau makan!" Jawab Ihsan sampai salah ucap karena malu di ledek Ustadzah.


"hahahahaha..!" Ustadzah tertawa geli mendengar jawaban Ihsan. Dara pun tertawa kecil melihat Ihsan yang jadi merah wajah nya karena malu.


"Ayo Dara kita makan!" Ucap Ustadzah sambil tersenyum.


"Iya Ummi !" Jawab Dara sembari meletakkan bingkisan dari Ihsan di rak buku.


Selesai mereka makan siang, Ihsan dan Dara berjalan-jalan di are pondok pesantren yang sepi karena jam istirahat, waktu tidur siang para santri.


"Gak telp dulu kalau mau datang, kalau tahu aku pasti masakin sesuatu buat kamu". Ucap Dara sembari berjalan menuju gazebo.


"Biasanya hari minggu, kok tumben hari selasa sudah pulang lagi?" Tanya Dara berhenti berjalan dan duduk di gazebo.


"Memangnya kenapa, gak boleh aku pulang cepat?" Tanya Ihsan sembari duduk di samping Dara.


Dara tersenyum.


"boleh aja, kan ini rumah mu". Jawab Dara lalu menunduk dan memainkan jari nya.


Dan tiba-tiba Ihsan menyentuh jari jemari Dara itu lalu menggenggam tangan Dara erat.


Dara kaget dan memandangi wajah Ihsan.


"Ada apa, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Dara merasa heran, mengapa tiba-tiba Ihsan memegang tangan nya.


"Aku kangen sama kamu". Ucap Ihsan pelan.


Mendengar kata-kata itu. "Deg!" jantung Dara berdegup kencang.


Ihsan memandangi Dara kemudian dia mendekat ke wajah Dara, lalu di bukanya sedikit cadar Dara sampai terlihat bibir warna merah muda itu.


Dara terdiam tak bergerak.


Kemudian Ihsan dengan lembut mencium bibir Dara tuk yang pertama kalinya dengan lembut.


Di rumah Mama Dara yang sedang menjaga warung milik nya, tiba-tiba terkejut karena di depannya sudah berdiri seorang pemuda.


"Assalamualaikum Bu!" Ucap Dery


"Dery...kamu..wa'alaikumsalam !" jawab Mama Dara sembari keluar dari warung nya dan menghampiri Dery.


Dery yang dulu menggunakan kursi roda kini sudah berdiri dengan sempurna.


"Iya Bu, ini aku Dery, apa kabar?"


Ucap Dery sembari tersenyum di tangan nya membawa seplastik Buah mangga.


"Alhamdulillah baik, ayo sini masuk, masuk nak!" Jawab Mama Dara yang berjalan masih menggunakan tongkat.


Mama Dara takjub melihat Dery sudah normal bisa berjalan kembali. Tapi bagaimana bisa ? siapa kah pendonor yang sudah mendonorkan sum sum tulang ekor nya kepada Dery?