
Sinar rembulan redup masuk kedalam sela-sela jendela kamar Ihsan yang sedang bercumbu dengan istrinya Dara.
"Dara, aku makin lama makin Sayang sama kamu". Ucap Ihsan lembut sembari memeluk Dara di atas ranjang nya.
Dara hanya diam pikirannya menerawang jauh.
"Dara, lihat aku, apa kamu mencintai ku?" Tanya Ihsan sambil menatap sendu pada Dara.
Dara terdiam tak mampu berkata-kata. Dara mencium bibir Ihsan yang tipis itu untuk menghilangkan keresahan hati Ihsan yang menunggu jawaban dari Dara.
Ciuman Dara pun di balas Ihsan dengan menggeliatkan lidahnya di bibir Dara yang terasa manis itu.
Tangan Ihsan pun mulai bermain-main di tubuh Dara, membelai meraba seluruh tubuh Dara.
Dara hanya pasrah, rela memberikan segalanya untuk suaminya dengan mulai membuka seluruh pakaiannya.
Satu malam telah tercipta keindahan yang tak pernah terlupakan bagi mereka berdua.
Dara menikmati hari-hari terakhir bersama suaminya.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua pagi, Ihsan yang kelelahan sehabis menggauli istrinya sedang tertidur pulas.
Namun mata Dara belum juga terpejam. Sambil membelai rambut Ihsan yang tertidur bersandar pada lengan Dara.
Dara teringat Mamanya, "mungkin Mama sedang bersama Mas Dery". Ucap Dara pelan.
Dara yang juga sudah mengetahui bahwa Dery adalah kakak kandungnya itu, hanya bisa mendoakan "semoga Mama dan Mas Dery baik-baik saja!"
Jauh Di negara turki yang ternyata menjadi tempat tinggal baru Dery bersama Mamanya.
Dery sengaja pindah ke sana karena ingin belajar Agama di sana. Mama dan Dery yang sedang tertidur lelap di apartemen, tak menyadari tiba-tiba terjadi goncangan dahsyat yang mengguncang Turki saat itu.
Seketika apartemen dan gedung-gedung tinggi yang lain pun roboh akibat gempa bumi.
Malam ini perasaan Dara sedang tidak enak, selain resah karena harus berfikir bagaimana cara meninggalkan Ihsan, Dara juga merindukan Mama dan kakaknya.
Akhirnya Dara keluar kamar, malam itu dia tidak bisa tidur. Dara duduk di sofa sembari menyalakan televisi. Di dalam berita Dara menyaksikan info terkini gempa bumi di Turki.
"Ya Allah, Turki gempa, innalillahi wa inna ilaihi rojiun!" Ucap Dara yang terkejut melihat berita di televisi.
Dara yang fokus menonton Tv tak kan pernah tahu bahwa Mama dan kakaknya Dery telah tiada menjadi salah satu korban gempa tertimbun reruntuhan apartemen di Turki dari berita terkini yang sedang ia saksikan.
Adzan subuh mulai terdengar, Dara tertidur di sofa sedangkan televisi masih menyala.
Ihsan memandangi wajah istrinya dan membelainya.
"Dara...bangun Sayang, ayo kita sholat subuh ". Ucap Ihsan mwmbangunkan Dara.
Dara pun terbangun dan tersenyum dengan mata yang setengah terbuka.
"Iya, suami ku sayang!" Jawab Dara dengan suara yang masih mengantuk.
Dara berusaha bangkit berjalan menuju kamar mandi.
Ihsan tersenyum melihat Dara yang berjalan sembari mengantuk.
"Mau aku mandi kan?" Tanya Ihsan mesra dengan memeluk tubuh Dara dari belakang.
Dara mengangguk kan kepalanya sedang kan matanya masih terpejam karena mengantuk.
"kenapa kamu tidur di sofa ?" Tanya Ihsan sembari menggosok punggung Dara.
"Aku gak bisa tidur, jadi aku nonton Tv aja eeh malah tv yang nonton aku, hehehe!" Jawab Dara sambil tertawa geli karena Ihsan menggosok area sensitif Dara.
"ssstt... diam dong lagi di bersihin ini!" Ucap Ihsan yang meminta Dara jangan terlalu banyak gerak.
"iihh... hihihi..ah geli tahu..!" Jawab Dara sambil tertawa geli.
Matahari mulai terbit, Ihsan berangkat ke pondok pesantren yayasan Al Ihsan untuk mengajar di sana.
Sejak peristiwa Dara yang ingin mengakhiri hidupnya, Ihsan memutuskan untuk berhenti menjadi dosen kampus di jakarta dan memilih mengajar di pondok pesantren milik nya.
Ustadzah kala itu seperti biasa mengontrol setiap kobong santriwati di jam pelajaran sekolah.
Kemudian ketika Ustadzah sedang berjalan di lorong Pondok, Beliau melihat Ihsan yang sedang berjalan menuju area gedung sekolah.
"Ihsan..!" teriak Ustadzah dari atas gedung asrama putri lantai tiga.
"Eh... Iya Ummi, Aku mau ngajar dulu ya!" Jawab Ihsan dengan bersuara keras sambil melambaikan tangan.
"Iya, nanti Ummi tunggu di rumah ya!" Ucap Ustadzah tersenyum.
"Seharusnya hari ini Dara sudah pergi, apakah Dara akan menepati janjinya?" Tanya Ustadzah dalam hati.
Dara mulai bersiap-siap membenahi pakaiannya, Dara berniat pergi ke rumah Bu Leni mantan Bos OB tempat dulu Dara bekerja.
"Dara kamu jadi kan main ke rumah ku?" Tanya Bu Leni menelpon Dara.
"Iya, ini aku sedang siap-siap, tapi ingat ya Bu, jangan beritahu Axel apalagi Ihsan!" Jawab Dara
"Tenang aja, aku gak akan bilang siapa-siapa!" Jawab Bu Leni.
Bu Leni sekarang tinggal di Bandung, Bu Leni hendak mengajak Dara untuk ikut serta jadi TKW ke negeri Jepang.
Dara sudah mempersiapkan segalanya, kecuali satu, sebenarnya hatinya belum siap untuk meninggalkan Ihsan.
Dipandanginya foto Ihsan yang sedang memeluk Dara. Tak sadar meneteslah air matanya.
"Maafkan aku Ihsan, suami ku sayang, kutuk saja aku, karena aku pantas mendapatkan nya!" Ucap Dara sambil menangis.
Berat rasa hati begitu banyak kenangan meski baru dua tahun menikah dan baru beberapa bulan ini Dara bisa melayani layaknya seorang istri.
Dara membawa satu foto Ihsan yang sedang tersenyum, dia masukan bingkai foto kecil itu ke dalam Koper nya.
"Aku pergi, selamat tinggal semuanya, Assalamualaikum!" Ucap Dara sembari keluar rumah dengan menggeret Koper nya.
Sedangkan Ihsan masih asyik mengajar Santri SMA kelas 10.
"Baik bapak sudah berikan tugas, jadi bapak harap kalian bisa mengumpulkan sebelum hari sabtu, oke!" Ucap Ihsan kepada santri kelas 10.
" Ummi Assalamualaikum!" Ucap Ihsan di depan pintu rumah Ustadzah.
"hemm kemana Ummi, kok sepi!" Ucap Ihsan memasuki rumah Ustadzah.
"Baiklah, terimakasih kamu menepati janjimu Dara, semoga kamu bisa menemukan kebahagianmu di tempat yang baru". Ucap Ustadzah yang sedang berbicara dengan Dara di telp.
"Apa maksud Ummi?" Tanya Ihsan yang tak sengaja mendengar percakapan telp Ustadzah dengan Dara.
Ustadzah terkejut melihat Ihsan ternyata sudah ada di belakangnya, dengan terburu-buru Ustadzah segera mematikan Handphone nya.
"Ummi, jawab pertanyaan ku, kenapa Ummi berkata seperti itu di telp, apakah Ummi sedang berbicara dengan Dara!?" Tanya Ihsan penasaran.
"Tidak, Ummi tidak bicara dengan Dara!" Jawab Ustadzah gemetaran.
Melihat Ustadzah yang canggung itu, Ihsan merasa curiga.
"Saya mau lihat, kemarikan handphone Ummi!" Ucap Ihsan kesal karena dia yakin Ustadzah sedang berbohong.
"Tidak, Ummi tidak bicara dengan Dara, sungguh!" Jawab Ustadzah menolak memberikan hp nya.
Lalu Ihsan dengan paksa mengambil hp Ustadzah. Dan melihat riwayat panggilan terakhir di hp Ustadzah.
"Dara, Ummi menelpon Dara, apa maksud Ummi, apa yang sebenar nya Ummi bicarakan barusan dengan Dara!?" Tanya Ihsan semakin curiga dan marah.
"Jawab Ummi, jawab!" Ucap Ihsan marah.
Ustadzah terdiam tak bisa berkata-kata, tubuhnya gemetar dan lemas sampai-sampai jatuh terduduk dan tertunduk.
"Maafkan Ummi Ihsan, maafkan, Ummi hanya ingin kamu bahagia!" Ucap Ustadzah sembari menangis tersedu.
"Apa maksud Ummi, cepat jelaskan!" Jawab Ihsan dengan memegang kedua bahu Ustadzah yang terduduk lemas di lantai.
Ustadzah tak mampu mengungkap semua rahasia Dara, Beliau hanya berkata bahwa Dara akan pergi jauh meninggalkan Ihsan.
Ihsan mendengar itu langsung berusaha menelpon Dara, namun Hp Dara tidak aktif.
Bergegas Ihsan pergi keluar sembari membanting pintu rumah karena marah.
" Tidak, ini tidak mungkin, mana mungkin Dara pergi begitu saja meninggalkan aku!" Ucap Ihsan sembari menyetir mobilnya menuju rumah Dara.
sepanjang jalan terbayang -bayang di ingatan Ihsan ketika tadi pagi baru saja mereka mandi berdua, tertawa bersama bahagia. Rasanya mustahil bila Dara pergi meninggalkan Ihsan.
Sampailah Ihsan di rumah Dara. Ihsan langsung masuk ke dalam melihat ke kamar, dapur, kamar mandi, ruang belakang, semua kosong tak ada sosok Dara ia temukan.
"Ini tidak mungkin, ini pasti mimpi!" Ucap Ihsan sembari masuk lagi ke kamar memeriksa lemari pakaian, di lihat nya semua pakaian Dara hilang.
"Kemana bajunya, kemana ...mana hijab-hijabnya..mana koper pink nya!?" Ucap Ihsan gusar melihat kenyataan bahwa Dara benar-benar sudah pergi.
Ihsan terduduk lemas bersandar di dinding, tak habis pikir kenapa Dara pergi tanpa pamit.