
Di pondok pesantren yayasan Al Ihsan, Axel tidak bisa memejamkan mata, "Huff....bagaimana aku bisa tidur di tempat seperti ini!"
Bisik Axel yang resah, dia tidak merasa nyaman tidur di dalam Asrama bersama 20 orang santri dalam satu ruangan.
"Aku gak bisa di sini terus, aku harus ketemu Dara!" Axel mulai bangun dan berfikir untuk kabur dari pondok.
Jam di asrama menunjukkan pukul sebelas malam. Masih ada suara orang yang membaca AlQur'an di masjid pondok pesantren.
Axel mengendap-endap berjalan tanpa suara, dia mengambil perlahan tas ranselnya. Namun salah seorang santri ada yang terbangun, terduduk di tempat tidurnya dengan mata terpejam.
Axel terkejut dan berhenti bergerak. "Semoga dia tidak membuka matanya...tidurlah..tidurlah!" Bisik Axel dalam hati dengan perasaan cemas.
Kemudian santri itu tertidur lagi tanpa menyadari ada Axel yang sedang berdiri di depan tempat tidurnya.
"Huff...!" Axel mengambil nafas lega. Dia melanjutkan langkahnya, Akhir nya sampailah Axel di luar asrama santri.
Kemudian Axel mendengar suara langkah kaki, Axel buru-buru bersembunyi.
"Hey...tunggu anna!" teriak salah seorang santri yang lewat di depan asrama santri dewasa.
"Syukurlah...mereka tidak melihatku!" Ucap Axel pelan. Kemudian Axel berlari menuju gerbang utama pondok.
"Hey ...Siapa itu!" teriak beberapa orang security yang sedang patroli.
Axel segera berlari kencang menghindari kejaran para security, lalu santri yang kebetulan belum tidur malam itu mendengar teriakan, dan segera keluar.
"Ada apa..ada apa?!" mereka bertanya-tanya ada ribut-ribut apa di luar.
Keributan ini pun sampai mengusik istirahat nya Ustadz Abu dan Istrinya.
"Ada apa, apa yang terjadi?" Tanya Ustadz Abu kepada santri yang sedang berlari di depan rumah nya.
Santri kemudian menghentikan langkahnya dan berlari menghampiri Ustadz Abu,
"Ada penyusup Ustadz!" Jawab santri itu.
Ustadzah ikut keluar rumah dan berdiri di samping Ustadz Abu "Ada apa Abi, kok ramai sekali?"
"Tidak ada apa-apa, cepat masuk dan kunci pintu rumah, jangan Buka pintu pada siapapun, Abi pergi dulu!" Ustadz Abu bergegas menuju sumber keributan.
"Baiklah Abi, hati-hati Abi!" ya Allah semoga tidak ada apa-apa!" Ustadzah menuruti perintah Ustadz Abu, beliau langsung masuk kedalam rumah dan mengunci pintu rapat-rapat.
Axel berlari tidak tentu arah, akhirnya dia terjebak di antara para security yang sudah mengepung nya.
"Nah...mau lari kemana lagi kamu yah!" Security mulai maju ingin menangkap Axel, kemudian Axel melawan dan terjadilah perkelahian.
"Stop!" Stop!". Ustadz Abu datang melerai.
Sontak, mereka yang sedang adu jotos pun berhenti berkelahi.
"Berhenti kalian semua! ada apa ini!" mengapa kalian berkelahi?" tanya Ustadz Abu pada security dan kepada Axel.
"Orang ini penyusup Ustadz!" Security menjawab dengan suara serak karena lelah bergulat dengan Axel.
"Bukan, aku bukan penyusup!" Axel berteriak keras, menolak dirinya di tuduh sebagai penyusup.
"lantas kenapa kamu kabur dan lari dari kami!" para security mulai mempertanyakan alasan Axel menghindari mereka.
Kemudian Ustadz Abu menjelaskan siapa Axel kepada security dan para santri yang berkerumun.
"Sudah!" Sudah!" jangan lagi bertengkar, dia ini tamu saya, nak Axel, ayo ikut saya!" Ustadz Abu mengajak Axel ke rumahnya.
"Silahkan duduk!" Ustadz Abu mempersilahkan Axel untuk duduk.
"Ini minumlah dulu". Ustadzah memberikan segelas air pada Axel.
"Terimakasih Ummi". Axel terlihat sangat haus merasa lelah setelah kejar-kejaran dengan security, sehingga dia meminum air itu sampai habis.
Ustadz Abu yang melihat Axel minum sampai berkata,
"Pelan-pelan minumnya nak".
Setelah Axel minum dan meletakkan gelasnya dia berucap, "maafkan saya ustadz".
"Saya tidak bermaksud membuat keributan, saya cuma ingin pergi dari sini dengan tenang, itu saja". Axel berkata sambil tertunduk malu.
Ustadz Abu berkata,"Nak Axel, apa nak Axel tidak percaya pada kami? apa nak Axel merasa tidak aman di dekat saya?"
"Bukan begitu Ustadz,saya hanya ingin keluar dan bertemu Dara". jawab Axel.
"Dara baik-baik saja, jika nanti sudah aman dia pasti akan segera kembali ke pondok pesantren ini".Ustadz Abu menjelaskan.
"Jika keadaan sudah aman? Apa maksud Ustadz, saya tidak mengerti?" tanya Axel bingung dengan perkataan Ustadz Abu.
Di pagi hari yang cerah suara berisik itu mengusik ketenangan rumah sakit. Suara berisik itu berasal dari kamar pasien VVIP.
Dara yang berada di ruang ICU itu, mulai berfikir untuk mencari alasan agar mamanya bisa pindah rumah sakit.
Dara kenudian berkata pada suster, "Suster kalau begini terus, Mama saya tidak akan bisa sembuh, ini ruangan ICU tapi kenapa berisik sekali seperti pasar!"
"Maafkan kami yaa... pasien VVIP itu memang sering sekali mengamuk, tapi tenang saja para suster pasti akan segera memberikan obat penenang pada pasien itu mba". Jawab Suster menenangkan Dara.
Dara lalu berjalan menuju kamar pasien VVIP itu, dan melihat beberapa suster sedang memegangi pasien, dan berusaha menyuntikkan obat penenang pada pasien.
"Hey mba!" kami butuh bantuan!" teriak salah seorang suster memanggil Dara.
"Aku?"..Dara tak tahu apakah benar dirinya yang di maksud suster itu.
" Iya mba...kamu..cepat bantu kami!" Suster itu meminta pertolongan pada Dara.
Dara segera masuk dan ikut memegangi kaki Dery yang menendang-nendang.
Dery terus meronta kemudian kakinya berhenti bergerak ketika melihat ada Dara sedang memegangi kakinya. Dery terdiam, mata nya menatap Dara.
Pada kesempatan itu suster langsung menyuntikkan obat penenang pada Dery. Dan Dery pun mulai tenang.
"Huff..syukurlah...terimakasih ya mba, karena mba, kita jadi bisa menyuntik pasien ini!" Ucap salah seorang suster.
"iya...sama-sama sus ". jawab Dara sembari berjalan ingin keluar namun tiba-tiba Dara berhenti, sedangkan para suster sudah meninggalkan kamar pasien.
Dara mendengar suara yang sangat pelan.
"tunggu..."
Dara lalu membalikkan badan, dan dia melihat ternyata Dery masih tersadar, dia memanggil Dara.
"Siapa kamu?" Dery bertanya dengan suara yang sangat lemah karena terpengaruh oleh obat penenang.
Dara mendekat,"Aku ...cuma .." Dara berhenti bicara, dia kaget, karena Dery tiba-tiba memegang tangan Dara.
"jangan pergi...jangan pergi!" Dery memegang tangan Dara kuat dan kemudian terlepas lemas, Dery kini benar-benar sudah tertidur.
Dara terdiam dan memandangi wajah Dery, " apa yang sebenarnya terjadi dengan pria ini, kenapa dia selalu mengamuk?" pikir Dara dalam hati.
Di losmen yang sepi pengunjung itu Ihsan bersiap-siap untuk berangkat menuju pondok pesantren.
"Seperti nya tidak ada yang mengikuti sampai ke sini!" aku harus segera ke pondok!"
Ihsan memakai topi hitam dan masker hitam, dia keluar losmen lewat pintu belakang. Ihsan berjalan sambil sesekali melihat kearah belakang, dia terus waspada.
Setelah di depan jalan raya, Ihsan berhenti dan bersembunyi di balik dinding, matanya terus mengawasi sekitar.
Dia melihat ada beberapa orang yang mencurigakan sedang menelusuri setiap losmen.
"Kelihatannya mereka anak buah geng Tiger!" Aku harus segera pergi dari daerah ini!" Ihsan segera masuk ke dalam bis yang sedang berhenti.
"Dokter apakah mama saya bisa pindah rumah sakit?" Dara berkonsultasi pada Dokter.
"Loh kenapa pindah? Memangnya ada kendala apa sampai mba Dara ingin memindahkan pasien yang sedang koma?" Dokter pun mulai menjelaskan kondisi mamanya pada Dara, jelas keadaan mamanya tidak memungkinkan untuk berpindah rumah sakit sekarang.
"Jadi Dok..bagaimana sebaik nya?" Dara kembali bertanya.
"Pasien bisa keluar dari ruang ICU bila kondisi pasien sudah sadar dan stabil, saya harap Mba Dara tidak mengambil keputusan yang salah, yang bisa berakibat fatal pada kondisi pasien!" Dokter meminta Dara untuk mengurungkan niat nya memindahkan Mama nya kerumah sakit lain.
Dara keluar dari ruang Dokter dengan wajah cemas, " Apa yang harus aku lakukan?"
"Astaghfirullah!" Dara terkejut dalam hati, melihat sosok yang paling dia takuti sedang melintas di depannya.
Bos Geng Tiger melewati Dara begitu saja sambil berbicara pada anak buahnya.
"Jadi sekarang dia sudah tenang?" tanya Bos Geng Tiger pada anak buahnya. "Iya Bos, kata suster sudah di berikan penenang". jawab anak buahnya.
Dara Sampai menahan nafasnya, dia berdiri seperti patung.
Bos menatap wajah anaknya sambil berbisik, "Kasihan anak ini, ini semua gara-gara mamanya yang kabur!"Sial ! Kenapa aku harus ingat lagi wanita ****** itu!" Bos berkata dengan emosi.
"Dia juga membawa putri ku satu-satunya pergi!" brengsek!" Bos berbicara sambil tangannya meremas sofa.
Dara kemudian pergi ke taman rumah sakit untuk menenangkan diri. "Ya Allah sampai berapa lama lagi aku harus sering bertemu dengan laki-laki bejat itu".
Dara menangis merasa sesak di dada, dia terduduk lemas. Kemudian Dara merasakan ada tangan yang sedang menyentuh bahunya dari arah belakang.
Sontak Dara langsung menjerit dan, "Siapa itu! pergi ! pergi!" Dara panik, dia jatuh ke tanah tertunduk dengan mata terpenjam.
Siapakah orang yang tiba-tiba menyentuh bahu Dara dari belakang?