
Mama Dara kebingungan melihat sikap Ihsan yang tiba-tiba duduk bersimpuh di depannya sembari memegang tangannya.
"Ibu, Saya mau minta maaf dan sekaligus minta restu dari Ibu ". Ucap Ihsan.
Dengan suara berat Ihsan kembali berkata:
"Mohon restui kami, Maaf kan saya sudah menikahi Dara, tanpa meminta izin terlebih dahulu pada Ibu". Ucap Ihsan sambil tertunduk merasa bersalah lalu mencium tangan Mama Dara.
Mama Dara terkejut mendengar ucapan Ihsan.
" Apa maksud mu Ihsan?" Tanya Mama memastikan lagi dengan apa yang dia dengar barusan.
"Menikah? siapa yang menikah?" Tanya Mama Dara lagi.
Dara perlahan mendekati Mamanya, ikut bersimpuh di samping Ihsan.
"Mama, Aku baru saja di nikahi oleh Ihsan di depan orang tuanya". Ungkap Dara sambil tertunduk.
Mama Dara terlihat marah, dia langsung menarik kedua tangannya yang di pegangi oleh Ihsan sejak tadi.
"Kalian pasti bercanda, bagaimana mungkin kalian menikah begitu saja!" Ucap Mama Dara marah.
Tak Lama kemudian Ustadzah keluar dari rumah.
"Assalamualaikum Mama Dara, mari silahkan masuk". Ustadzah berdiri di depan pintu.
"Dara bawa masuk Mama mu ke dalam rumah, kita bicarakan hal itu di dalam nak". Ucap Ustadzah mempersilahkan Mama untuk masuk ke dalam rumah.
Kemudian Dara mendorong kursi roda Mamanya ke ruang tamu. Ihsan mengikuti di belakang Dara.
Ustadzah duduk lalu melontarkan senyuman pada Mama Dara.
"Saya merasa sangat bersalah pada Mama Dara, ini semua terjadi begitu cepat sehingga kami tidak sempat memberitahukan tentang apa yang terjadi dengan Abi".
Lalu Ustadzah bangkit dari tempat duduknya dan mengambil kursi roda Mama Dara dan mendorong ke dalam kamar Ustadz Abu.
"Suami saya sejak dua hari ini sedang sakit, kata dokter Abi terserang struk berat, dan harus segera di rawat inap". Ucap Ustadzah sembari menghentikan kursi roda Mama di samping tempat tidur Ustadz Abu.
"Namun Abi bersrikeras tidak mau di bawa ke rumah sakit, justru Abi malah meminta agar kami memanggil Dara kesini secepatnya". Jelas Ustadzah.
"Ustadzah, sepertinya Ustadz harus segera di bawa kerumah sakit sekarang, nanti bisa terlambat penanganan nya!" Ucap tim medis yang masih sibuk memasang alat infus di tangan Ustadz Abu.
Sedangkan kondisi Ustadz Abu sekarang sudah tidak sadarkan diri.
" Lalu kenapa bisa Dara tiba-tiba menikah dengan Ihsan!?" Tanya Mama Dara heran.
"Itu adalah permintaan Ustadz Abu tadi sewaktu beliau masih sadar, Alhamdulillah tadi salah satu tim medis aku mintai tolong untuk merekam lewat hp saya". Jawab Ustadzah dan langsung mengeluarkan hp dari saku baju gamisnya.
"Ini lihat lah ". Ucap Ustadzah sembari memberikan hp nya pada Mama Dara.
Kemudian Ustadzah pergi mengemas beberapa pakaian untuk persiapan menginap di rumah sakit.
Mama Dara menyaksikan video berdurasi cuma 30 menit itu dengan seksama.
Mama Dara tak menyangka bahwa lagi-lagi dia tidak bisa menyaksikan pernikahan putrinya. Dulu waktu Dara menikah dengan Varel, dan yang sekarang pernikahan ke dua Dara.
Air mata Mama jatuh menetes ketika Mama menyaksikan prosesi ijab kabul pernikahan Dara dengan Ihsan.
"Ya Allah, mereka menikah tanpa ada kehadiran diriku, dan pernikahan apa ini! apakah pernikahan ini sah? aku gak tahu harus bersikap bagaimana, apakah aku bisa merestui nya?" Pikir Mama Dara.
Setelah semua beres, Ustadzah kembali mendekati Mama Dara duduk di samping pembaringan suaminya.
"Sekali lagi saya memohon maaf yang sebesar-besarnya atas kelancangan kami yang menikahkan Dara dengan anak kami Ihsan, saya mewakili suami saya, Ustadz Abu, meminta maaf pada Mama Dara". Ucap Ustadzah dengan mata berkaca-kaca.
Lalu Ustadzah menggenggam tangan Mama Dara.
Mama Dara terdiam.
"Bagaimana Ustadzah? apa semua sudah siap? jika sudah, Ustadz Abu mau kami bawa ke dalam mobil Ambulance sekarang!" Ucap tim medis.
"Sebentar!" Jawab Ustadzah.
"Bagaimana Mama Dara, Mama Dara mau memaafkan kami dan meridhoi pernikahan anak-anak kita?" Tanya Ustadzah sekali lagi pada Mama.
"Baiklah, dengan syarat, nanti bila Ustadz Abu sudah sehat , saya minta Dara dan Ihsan menikah ulang, dan saya minta diadakan resepsi pernikahan yang layak untuk Dara!" Jawab Mama Dara.
Dara dan Ihsan mendengarkan percakapan Ustadzah dengan Mama nya dari balik pintu.
Dara pun tertunduk malu ketika mendengar Mamanya meminta syarat seperti itu.
"Ya Allah Mama, aku jadi malu, memangnya aku siapa, seharusnya Mama tak perlu memberikan syarat seperti itu!" Ucap Dara didalam hati.
"Alhamdulillah ya Allah, InsyaAllah itu pasti, terimakasih banyak ya Mama, Sekarang saya baru bisa bernafas lega". Ucap Ustadzah sembari tersenyum.
"Kalau begitu ayo segera bawa Ustadz Abu ke mobil Ambulance!" Jawab Mama Dara sambil memberi isyarat kepada tim medis untuk segera mengangkat tubuh Ustadz Abu.
"Iya mari, sini aku bantu!" Jawab Ihsan langsung membantu tim medis yang mulai memindahkan tubuh Ustadz Abu menuju mobil Ambulance yang terparkir di depan rumah.
Dara kembali mendorong kursi roda Mamanya keluar kamar Ustadz Abu.
"Dara tunggu aku ya, nanti setelah aku mengantar Abi, aku akan mengantar kamu dan Mama mu, jadi jangan kemana-mana tunggu di sini saja!" Ucap Ihsan berpesan sebelum masuk Ambulance.
"Iya, kamu tenang aja, aku akan menunggu mu di sini". Jawab Dara.
"Ummi pamit ya Mama dan Dara, tolong bantu Doa ya!"Ucap Ustadzah dari dalam mobil Ambulance.
"Iya Ummi, kami pasti akan mendoakan Abi!" Jawab Dara
Mobil ambulance akhirnya berangkat, Ustadz Abu ditemani Ihsan dan Ustadzah, sedangkan Dara masih tetap di rumah, di pondok pesantren itu bersama Mama.
Dara dan Mama memandangi mobil Ambulance yang berlahan pergi menjauh dari gerbang pondok pesantren yang sepi kala itu.
"Mari Ma, kita tunggu Ihsan di dalam saja". Ucap Dara sembari mendorong kursi roda Mamanya ke rumah Ihsan.
"Dara, bukankah seharusnya ada Dery di pondok pesantren ini?" Tanya Mama yang teringat Dery.
"Kenapa dari tadi Mama di teras, pondok pesantren ini sepi sekali, tidak ada satu pun santri yang lewat, bahkan Dery pun tidak kelihatan, mereka semua kemana ya?" Tanya Mama heran.
Dara menghentikan kursi roda Mamanya di dalam rumah.
"Mama di sini dulu ya, aku mau kunci gerbang pondok dulu, nanti aku coba cari tahu di mana Dery, dia pasti sedang ada di perpus, atau sedang belajar ngaji di masjid, sebentar ya Ma". Ucap Dara lalu pergi keluar rumah.
Dara segera mengunci pintu gerbang rapat-rapat. Kemudian Dara masuk ke area asrama santri dewasa mencari Dery.
Sepertinya Dara tidak tahu kalau Dery sudah tidak ada di pondok pesantren lagi.
"hmmm...kemana Dery ya, kok kamar nya kosong, tas nya juga gak ada, memangnya dia pergi kemana?" Tanya Dara dalam hati melihat sekeliling terlihat sepi.
"Dery..Dery..!" teriak Dara
Dara terus mencari, di perpus pondok, di masjid, di gazebo, semuanya sepi.
"Aneh...Kenapa Dery gak ada!" Ucap Dara keheranan.
Dara segera kembali ke rumah Ihsan.
"Mama, Dery gak ada di mana-mana, aneh..Apa jangan-jangan Dery sudah pergi dari pondok pesantren ini?" Ucap Dara pada Mamanya.
Mama mendengar itu wajahnya langsung panik dan berfikir "apakah Dery di culik Bery!"