Dara Manisku

Dara Manisku
Siapa yang menanam, dia yang menuai



Siang itu di depan Cafe Hoki, Varel sudah mengawasi sejak pagi, namun belum juga dia melihat Dara.


“Pak, pegawai wanita yang biasa jaga cafe kok gak keliatan, kemana ya?” Varel mencari informasi dengan bertanya pada pedagang bunga di pinggir jalan tidak jauh dari Cafe.


“ oooo...Dara..maksud abang?” Jawab pedagang bunga itu. “Naah..iya...kemana ya, tahu gak?” Varel merasa ada harapan untuk bisa mendapat info dari abang tukang bunga ini.


“ Eemmm.... dah berapa hari ya....? Mungkin sekitar seminggu dah gak keliatan neng Dara, biasanya juga sering beli bunga sedap malam di sini” Abang tukang bunga sepertinya juga menantikan Dara, karena Dara pelanggan setianya.


“ aduuh...iya! tahu gak Dara nya kemana? Ada dimana?” di tanya malah muter-muter jawab nya!” Varel kesal dengan jawaban abang tukang bunga.


“ yeeee kenapa lagi nih orang.....malah marah marah! Saya mana tahu atuh neng Dara kemana!” tanya aja sama bos cafe nya!”abang tukang bunga merasa tersinggung dengan sikap Varel yang kasar padanya.


“ aaaaaahhh....!” Varel melempar puntung rokok lalu menginjak nya  di depan abang tukang bunga, lalu pergi.


“Eh... dasar orang gila!” abang tukang bunga menggerutu.


Axel keluar dari Cafe sambil membawa plastik kantong sampah dan mendengar tukang bunga sedang mengomel sendirian, “Ada apa pak?” tanya Axel pada tukang bunga.


“Itu...orang gila...hati-hati aja mas...dia tadi nanyain neng Dara sama saya, atuh saya mana tahu neng Dara ada dimana!” abang tukang bunga menjelaskan pada Axel.


“Hmmm....benar kata mas Ihsan...tempat ini tidak aman untuk Dara" Axel kini semakin berhati-hati lagi.


Hari semakin sore, Varel pun mulai resah, dia tidak tahu harus mencari Dara di mana lagi. “gue harus dapetin Dara bagaimana pun caranya!”


Malam itu ketika Axel mulai menutup Cafe Hoki nya. Axel merasa ada seseorang yang sedang memata-matai. Untungnya jalanan depan Cafe tidak pernah sepi, biarpun sudah malam masih saja ada orang lalu lalang.


“ aku harus mengalihkan perhatian orang itu, agar dia tidak mengikuti aku” Axel menyusun rencana, dia masuk ke sebuah toko disebrang jalan. Berkeliling di dalam nya, dan benar saja Varel pun mengikuti nya kedalam toko.


Ketika Varel sudah berada dalam toko dan sedang mencari- cari Axel, langsung Axel pergi lewat pintu belakang toko,


“permisi mas ...saya lewat belakang sini ya, ada orang yang mengikuti saya dari tadi, jadi tolong tahan dia sampai saya pergi dari sini"  Axel minta pertolongan pada penjaga toko yang sudah mengenal Axel sejak lama.


“ Siap Axel, tenang aja, cepat pergi, biar aku urus orang itu!” Jawab penjaga toko.


Varel sepertinya melihat sekilas Axel pergi ke arah belakang, dia pun mulai mengarah kesana, lalu Varel di cegah langkahnya oleh orang bertubuh besar,


“ Eet.... nanti dulu...kamu pencuri ya!” “Cepat ikut saya ke pos security, ayo!” Tiba-tiba penjaga toko menyeret Varel dan membawanya.


“Apa apaan sih! Gue bukan pencuri woyyy! Lepasin !.. Lepasin!” Teriak Varel melawan dan meronta ronta, namun genggaman security itu sangat kuat.


Axel akhirnya berhasil lolos dari Varel, dia langsung melaju dengan motor menuju apartemennya.


“ Brengsek.... gagal lagi ! Aaahhh..   !” Varel marah-marah gak karuan , dia mulai khawatir, seharusnya tadi sore Varel sudah membawa Dara ke hadapan Bos, namun sekarang sudah malam, “ gawat.. .gawat!” mati gue...matiiii!” Dara lo dimana!”


Suara telp berdering, Varel mengangkat handphone nya dengan gemetaran, Varel menjawabnya “ iya ...ada apa Bos?”


“ Cepat datang ke sini, saya tunggu, sekarang!” Bos menyuruh Varel tuk datang ke tempatnya.


“Tapi Bos...saya belum... belum dapat Dara Bos?” Varel mulai ketakutan setengah mati.


“ Ini bukan soal Dara, ini soal bisnis! Cepat datang, saya tunggu!”  Bos klub itu langsung menutup telp nya.


“ Hufff....Untung Bos lagi baik “ Varel mengelus dada, merasa beruntung mendengar Bos sepertinya tidak marah, dia pun memanggil taksi dan pergi.


Sampai lah Varel di pelabuhan yang sangat sepi, tempat pertemuannya dengan Bos Geng Tiger. “Kontainer nomor J694, naah ini dia!”


Varel masuk kedalam sebuah kontainer besar, disana ada ruangan rahasia menuju ruang bawah tanah, Varel terus masuk berjalan melalui lorong yang panjang.


Ternyata lorong gelap tadi terhubung dengan sebuah tempat.


“Heyy...apa kabar bro...tosss!” Varel bertemu dengan orang orang yang sedang melakukan judi ilegal di ruangan yang remang-remang, ada juga wanita-wanita penghibur disana yang berdatangan menempel pada Varel,


“Hay...sayang ...cantik ..mmmmuuuaahhh...” nanti...nanti ya...Abang ketemu bos dulu..oke..mmmmuaahh” berkali-kali Varel mencium pipi para wanita seksi itu.


 “cepat yaaa...kita tunggu di kamar 4!” sahut para wanita seksi itu dengan manja.


Varel pun masuk ke ruang khusus yang terpisah, ruangan ini sangat berbeda dengan yang tadi.


“Varel...akhirnya datang juga lo!” ayo ikut gue!” Varel disambut oleh beberapa anak buah geng Tiger. Varel lalu di bawa mereka ke ruangan yang jauh dari keramaian.


“ Eh...bang...ngapa gue di bawa ke sini bang, gue ditunggu Bos bang...gue balik dulu ya bang!” Varel berusaha kabur dari rangkulan mereka.


“Eeett....mau kemana lo! Bos dah nungguin disana...ayo..lo mau ketemu Bos kan !” Anak buah geng Tiger tetap merangkul Varel erat dan memaksa Varel untuk ikut mereka.


Anak buah geng Tiger mendorong keras tubuh Varel dari belakang, “masuk!” perintah mereka.


Varel tersungkur jatuh pas di depan ujung sepatu hitam Bos nya yang sedang duduk di kursi.


 “Heyy.... Varel.... apakabar ?” Tanya Bos Geng Tiger sambil mengangkat dagu Varel dengan ujung sepatu hitam milik nya.


“Ba..ba...baik Bos...saya minta maaf Bos!” Jawab Varel dengan suara gemetar.


Lalu Varel bangun perlahan dia terduduk lemas di lantai.


“Bangun lo!” dua orang anak buah geng Tiger mengangkat tubuh Varel dan memegangi nya erat erat, lalu...”BUK...!” tonjokan keras mendarat tepat di perutnya.


“Aaaaaaaaaaakh!!” Varel menjerit kesakitan, nafas nya langsung tersengal sengal menahan rasa sakit.


Varel sontak terkejut dan menjatuhkan diri di kaki Bosnya memohon sambil memegang kaki Bos Geng Tiger itu.


“Tunggu...tunggu...beri saya kesempatan...ampun ...ampun Bos!” Ucap Varel gemetaran.


Bos dengan tatapan sadis nya menendang wajah Varel sampai berdarah.


”aahhh....pergi sana!” “Brengsek ...sepatu mahal ku jadi kotor!” Ungkap Si Bos.


“sini lo...  kurang ajar!” dua orang anak buah geng Tiger mengangkat kembali tubuh Varel lalu menghempaskan nya di pojok ruangan.


 Tiada henti nya mereka memukuli Varel, bahkan sampai Varel sudah tak sanggup lagi melawan dan tak bersuara.


Salah satu anak buah geng Tiger menggoyang-goyangkan tubuh Varel dengan kaki, terlihat seperti sudah tidak bernyawa .


“Masih hidup.. atau mati lo?” mau di apakan nih?” tanya salah satu anak buah kepada temannya.


“ Kita buang aja, gue cari karung dulu!” Jawab anak buah geng Tiger dengan santai sambil merokok.


Di malam dini hari, tepatnya jam dua malam, sebuah jeep hitam berhenti di jembatan yang sepi.


Mereka bertiga keluar dari mobil,


 “ Aman...keluarkan sekarang!” salah satu dari mereka memantau sekitar dan menyuruh dua orang lainnya untuk mengeluarkan sesuatu dari mobil.


Sebuah karung besar mereka keluarkan, sesekali karung itu bergerak gerak seperti ada yang hidup di dalam karung itu.


 “ Buk...Buk...Buk!!” salah seorang memukul keras ke karung itu dengan tongkat bisbol. “Diam...mati aja lo!” ucap mereka kasar.


Lalu karung itu di angkat mereka dan di buang ke bawah jembatan yang merupakan sebuah Waduk beraliran air deras.


“Byurrrrr....!” Karung itu pun langsung hanyut dan tenggelam.


“Selamat jalan Varel...hahahaha!” ucap salah satu dari mereka, dan mereka langsung masuk kedalam mobil Jeep mereka.


Ternyata karung itu berisikan tubuh Varel yang sekarat setelah di siksa oleh anak buah geng Tiger. Sungguh nasib nya berakhir mengerikan.


Sedangkan Dara baru terbangun dari tidurnya yang nyenyak, Dara menguap, “ wuaaaahh..   dah jam tiga, wah...ini sahur pertama ku, yeeyyy!”


Dara terbangun dan keluar dari kamar dengan sangat senang sampai bertabrakan dengan Ihsan yang baru saja masuk ke apartemennya membawa makanan untuk sahur.


“Aduh!” Hidung Dara yang mancung terbentur dada Ihsan yang kekar. “Astaghfirullah!” Dara! ...kamu...bikin kaget aja" Ihsan tidak menyangka kalau Dara sudah bangun.


Lalu Ihsan terkejut lagi setelah melihat Dara “astaghfirullah!” Ihsan memalingkan wajah nya cepat-cepat dan membalikkan badan.


“Iiih sakit nih hidung ku...., eeeh ada apa ...kok balik badan .. Ihsan ada apa?” Dara merajuk kesakitan, dia tak sadar bahwa dia masih memakai baju tidur yang tipis saat itu.


“ Sebaiknya kamu ganti baju dulu ya!” “ aku tunggu kamu, kita sahur sama-sama!” Ihsan menjawab sambil menghindari Dara dengan menutup mata menggunakan tangan nya.


“Aaaaah...ya ampun!” Dara baru sadar dan segera berlari ke arah kamarnya lalu menutup pintu kamar dengan  keras. “brak!”


“Dasar cewe bego..bego..bego amat sih!” dibalik pintu Dara memukul kepalanya sendiri berkali-kali.


“Aduh..malu banget.. aku harus bagaimana?” wajah Dara sampai memerah.


Satu jam kemudian.


“Dara...ayo keluar ...kita sahur...ini sudah jam empat...Dara?”


Ihsan mengetuk-ngetuk pintu kamar Dara, ihsan menunggu Dara dari tadi, dia mulai khawatir karena Dara tidak juga keluar kamar.


“mmmm...aku..aku makan di kamar aja boleh gak...aku mau makan di kamar aja!” Jawab Dara dari balik pintu kamarnya.


“Oke...sebentar" Ihsan langsung kembali ke dapur, dia menaruh makanan dan minuman tuk Dara di nampan.


 “Dara...ini makanan nya...Dara aku letakkan di depan pintu ya...cepat makan ya ...nanti terlambat sahurnya!” Ihsan berusaha agar Dara tetap makan, Ihsan faham mengapa Dara tidak mau keluar saat ini.


Tak Lama, Dara pun membuka pintu nya sedikit, lalu mengintip, perlahan tangan nya keluar dan mengambil nampan berisi makanannya dengan sangat hati-hati.


Ihsan dari kejauhan melirik, Ihsan pura-pura tidak lihat, melihat tingkah Dara, Ihsan pun tersenyum-senyum sendiri. “Kamu lucu banget si Dara, hehehe!”


Di hari pertama puasa ternyata doa Dara sudah terkabul dengan cepatnya, walaupun Dara tidak menyadari itu.


 Hidup Dara sedikit bisa bernafas lega karena Varel tidak mungkin menggangu hidup Dara lagi.


Namun Dara belum bisa lepas dari bayang-bayang hitam, karena mantan Bos klub malam nya atau ketua Geng Tiger itu tetap mencari-cari keberadaan Dara.


“Lalu bagaimana Dara Bos?” tanya salah satu anak buah geng Tiger kepada Bos nya.


“Cari Dara melalui orang-orang terdekatnya!” Jangan biarkan mereka hidup tenang, sebelum mereka beritahukan dimana Dara!” Ucap Bos pada anak buahnya.


Ternyata Bos mengetahui siapa saja orang-orang yang dekat dengan Dara, dia menyuruh anak buah nya untuk meneror kehidupan teman-teman Dara.


“Siap Bos!” Jawab anak buahnya.