
Malam semakin larut, Dery masih berbicara akrab dengan Mama Dara di kamar rawat inap nya.
Mama Dara merasakan sesuatu ketika sejak pertama kali bertemu Dery di ruang ICU waktu itu.
Namun Mama Dara belum yakin juga sampai sekarang, tentang perasaan ke ibuan nya yang merasa bahwa Dery adalah anaknya.
"Apakah ini hanya perasaan ku saja, apakah Dery ini yang di maksud mantan suamiku? Tanya Mama Dara dalam hati.
Sedangkan Dara dan Axel asyik mengobrol hingga saat Axel mulai bertanya pada Dara.
"Boleh aku tanya sesuatu Dara?" ucap Axel.
"Iya ada apa Xel?" jawab Dara yang sedang bersandar di sofa sambil memejamkan matanya.
"Boleh aku lihat wajah mu, bukankah sekarang ini sudah aman dari kejaran anak buah geng Tiger Dar?" Pinta Axel.
Mendengar permintaan Axel, Dara bangkit dari posisi santai nya, dan menatap Axel.
"Memang sudah aman, tapi...".Jawab Dara terhenti, dia teringat pesan Ihsan dan pesan Ustadzah.
"Jangan pernah kamu buka sampai kapan pun!"pesan Ihsan dulu pada Dara.
"Ini adalah sunnah, bernilai ibadah, maka pertahankanlah nak!" Pesan Ummi pada Dara sembari menyentuh kain cadar yang Dara pakai.
"Aku gak bisa Axel, maaf..maaf ya!". Dara menolak permintaan Axel tanpa penjelasan.
"Tapi kenapa Dara, sebelum nya kita baik-baik aja, kamu begitu nyaman di dekat ku meski tidak memakai penutup itu?" Tanya Axel menuntut Dara menjelaskan alasannya.
"Axel, jika hari begitu cepat berubah dari malam ke siang, lantas kenapa aku tidak bisa berubah menjadi lebih baik?" Dara menjawab mencoba untuk mengubah pola pikir Axel tentang dirinya.
"Axel, aku tahu ini bukanlah perubahan ku yang bisa kamu trima dengan mudah, tapi aku ingin kamu mendukung ku!" Dara memohon pengertian Axel.
Axel mendengarkan, berharap bisa memahami Dara, dengan mencoba masuk ke dalam kata-kata Dara.
"Awalnya memang semua karena aku takut tertangkap anak buah geng Tiger, namun semakin hari, aku merasa terlindungi, aku merasa di hargai, di hormati dengan Niqob ini, aku merasa aku layak di sebut wanita muslimah". Jelas Dara.
"Dan sejak aku belajar banyak tentang Islam di pondok, aku semakin yakin ini jalan hidup ku, dan aku merasakan ketenangan". Dara menunduk, begitu meresap arti dari sebuah cadar bagi nya.
"Apa kamu faham maksud ku Axel?" Dara berharap Axel bisa mengerti dengan apa yang sudah Dara ungkapkan.
Axel menghela nafas, terasa berat, namun dia menghargai keputusan Dara.
"Ya aku faham, dan aku menghargai keputusanmu Dara, hanya saja aku merasa sedikit asing dengan cadar yang kamu pakai itu, belum terbiasa, maaf kan aku yaa?" Ungkap Axel.
"Maaf sekali lagi, karena sudah memintamu melepas cadar untuk ku, aku memang tidak faham tentang bercadar, maklumi saja aku ya!" Ucap Axel lagi penuh penyesalan.
"Kamu mau memaafkan aku kan Dara?" Tanya Axel cemas.
Dara terdiam, seakan dia mulai melihat ada dinding yang menghalangi persahabatan nya dengan Axel. Walaupun begitu Dara tetap memaklumi Axel.
"Aku gak nyangka ya, Dery bisa akrab dengan Mama ku". Dara mengalihkan pembicaraannya dengan Axel. Dia melihat Mama nya tersenyum ketika berbicara dengan Dery.
Axel terdiam, terasa menggantung obrolannya dengan Dara, karena Dara belum membalas ucapan maafnya.
Dara bangkit dari sofa dan mendekati Dery.
"Ngobrolin apa sih, kayanya seru banget?" Ucap Dara.
Mama tersenyum begitu pula Dery.
"Mama mu cerita dulu waktu kamu kecil suka marah kalau di sebut gendut sama tetangga, hahaha!" Jawab Dery sembari tertawa.
"iiihh... Mama pake cerita-cerita deh, aku jadi malukan!" Jawab Dara.
Mama Dara ikut tertawa senang menggoda Dara.
"Kamu lucu ternyata waktu kecilnya ya!"Ucap Dery
"Iya, Dara dulu waktu usia 2 tahun,gemuk sekali badannya, dah mungil, rambutnya panjang, hehehe!" Ungkap Mama Dara mengenang masa kecil Dara.
"Kalau kakaknya dulu juga gemuk suka nya makan coklat sampai berantakan makannya, hahaha!" Ucap Mama Dara keceplosan menceritakan masa kecil kakaknya Dara.
"Kakak?" Tanya Dery
"Oh Dara punya Kakak?"tanya Dery lagi penasaran.
Mama Dara terkejut, baru sadar dengan apa yang baru saja dia katakan. Dengan panik Mama Dara mau menjelaskan, tetapi keburu Dara menjawabnya.
"Iya, aku punya Kakak, laki-laki, tapi gak tahu ada di mana, Kata Mama, kakak ku di bawa pergi sama Ayah!" Ucap Dara dengan jujur.
"Deg!" jawaban Dara mengagetkan Dery dan Mama Dara.
Sedangkan Axel memperhatikan dari sofa.
Di antara kecanggungan mereka berempat datanglah suster.
"Malam ibu, eh belum tidur, ini sudah jam 11 malam loh, baik saya cek dulu tekanan darah nya ya bu". Ucap Suster dengan ramah.
Dery mundur ke belakang, dan Dara berdiri di samping Mamanya.
"Bagaimana Suster, tekanan darahnya normal kan?" Tanya Dara pada Suster.
"Wah, ibu kondisi nya makin baik aja, tekanan darah nya bagus normal, dan besok mau di cek lagi bekas operasinya ya sama Dokter!" Jawab Suster
Lalu suster menyelimuti Mama Dara dan membenarkan posisi tempat tidur nya.
"Nah sekarang istirahat ya Bu!" Pinta Suster.
Axel bangun dari sofa dan berkata.
"Sebaiknya Mama Dara tidur, jangan di ajak ngobrol terus!" Ucap Axel sambil melihat ke arah Dery.
Lalu Axel melangkahkan kaki keluar kamar.
"Mau kemana kamu Xel?" Tanya Dara
"Mau ngopi!" Jawab Axel singkat.
"Boleh aku ikut?" tanya Dery
Axel berbalik melihat ke Dery, memberikan kode agar Dery keluar lebih dulu dengan kursi rodanya.
"Mama Dara aku keluar dulu ya, lapar nih!" Ungkap Dery sambil tersenyum memegang perut nya yang sudah berbunyi.
"Ya sudah, selamat makan!" Jawab Dara sambil tersenyum mendengar suara perut Dery.
"Kamu mau nitip apa Dar?" tanya Axel pada Dara.
"Gak ada, terimakasih!" Jawab Dara.
Kemudian Dery keluar dari kamar rawat bersama Axel.
"Dara kenapa kamu menjawab pertanyaan Dery tentang kakak mu seperti itu?" Tanya Mama Dara.
"Memangnya kenapa Ma?" Tanya Dara
"Kan memang betul begitu, dulu mama pernah bilang kalau kakak ku di bawa pergi ayah!" Ucap Dara sembari membuka cadar nya dan duduk di samping tempat tidur Mamanya.
Mama memegang tangan Dara merasa bersalah.
"Sebenarnya bukan begitu ceritanya". Jawab Mama Dara dengan mata berkaca-kaca.
Bulir-bulir air matanya pun mulai menetes.
"Loh kenapa Mama sedih?" Tanya Dara sambil mengusap air mata Mamanya.
"Sudah, Dara gak mau Mama sedih, Dara gak perduli dengan masa lalu, apakah itu tentang Kakak atau Ayah, aku cuma ingin Mama bahagia!" Tegas Dara sambil menggenggam tangan Mamanya erat.
"Mama sekarang tidur ya, aku bacakan Al Qur'an". Ucap Dara sembari mengambil AlQur'an kecil nya dari dalam tas.
Mama Dara akhirnya memutuskan untuk tidak bercerita apa-apa lagi. Dia hanya menatap Dara bangga, putri seorang pembunuh mampu melewati hidup dengan baik-baik saja.
Ketika Dara sedang membaca AlQur'an, Mama Dara mendengarkan dengan mata terpejam, terbayang kisah pahitnya dulu bersama dengan suaminya yang kasar dan pemarah.
Setiap malam suaminya pulang dalam keadaan mabuk.
"Apa lo gak cape hidup miskin hah!" Ucap Bery suaminya Mama Dara.
Mereka berdua sejak menikah muda menumpang hidup di rumah orang terkaya di desa.
Pagi-pagi Mama Dara bekerja sebagai buruh tani yang mengurusi sawah orang kaya itu.
Sedangkan suaminya bekerja di pabrik Susu milik orang kaya itu juga.
Kehidupan orang kaya itu semakin terpandang ketika menikahi seorang gadis pemilik pondok pesantren terbesar di desanya.
Mama Dara yang sangat baik pada tuannya, membuat tuannya sangat percaya padanya. Segala keperluan pernikahan diserahkan pada Mama Dara kala itu.
Mama Dara sempat bernafas lega ketika dia di ajak pindah oleh tuannya ke kota Surabaya.
Bahkan sampai akhirnya pasangan orang terkaya itu memiliki anak. Mama Dara lah yang mengasuh anak sultan itu.
Sedangkan Bery, di tinggal kan di pabrik Susu. Dengan segala cara Bery berusaha menyusul istrinya ke kota Surabaya.
Usaha nya terbayarkan, akhirnya Bery bisa tinggal bersama istrinya di rumah tuannya yang di kota.
Mereka mulai hidup sewajarnya sebagai pasutri beberapa bulan. Hingga Mama Dara akhirnya mengandung anak pertama.
Tahun-tahun bahagia Mama Dara mulai terasa, dia berharap suaminya tidak akan berubah.
Namun ketika Mama Dara mengandung anak kedua, Bery mulai kumat mabuk-mabukan lagi sejak bergaul dengan Zack preman pemasok obat-obatan terlarang.
Sampai Malam yang mengerikan itu tiba, mimpi buruk yang tidak akan pernah bisa Mama Dara lupakan.
Yaitu di saat Bery suaminya dan Zack menghabisi nyawa tuannya dan istrinya. Sedangkan saat itu Mama Dara sedang hamil tua.
Sembari menahan sakit perutnya, Mama Dara berlari menyembunyikan anak tuannya dan Dery di sebuah gudang.
"Kalian jangan kemana-mana, tetap di dalam sini ya, sampai aku buka kan pintu, faham!" Ucap Mama Dara kala itu pada dua bocah kecil polos.
Anak kecil itu menatap Mama Dara, mereka hanya bisa mengangguk lalu pergi bermain dengan mobil-mobilannya di dalam gudang.
"Dorr!".. "Dorr!".."Dorr!" suara tembakan terdengar dari dalam rumah mewah itu.
Suara tembakan itu seakan masih terdengar jelas di telinga Mama Dara.
Dara menghentikan bacaan Qur'annya dan meletakankan kitab suci itu di meja. "Mama...Mama gak apa-apa?" Tanya Dara melihat mamanya yang tiba-tiba menggigil ketakutan.
"Dara...peluk Mama nak, tolong peluk mama!" Jawab Mama Dara sambil melebarkan tangan nya pada Dara.
Dara langsung memeluk mamanya.
"Mama tenang lah, apa yang mama rasakan, apa ada yang sakit?" Dara berkata sembari mengusap punggung mamanya lembut.