Dara Manisku

Dara Manisku
Teman apa teman ?



Dara terbaring lemah belum sadarkan diri, namun Axel tetap berada di sisinya sampai tertidur dengan tetap memegang erat tangan Dara. Sedangkan Ihsan tertidur di sofa.


Matahari pagi cahayanya mulai memasuki sudut jendela, tiba-tiba suara dering hp membangunkan Ihsan.  “ ya assalamualaikum....” Ihsan mengangkat telp nya.


Axel ikut terbangun dan dia membuka jendela agar cahaya pagi bisa masuk ke kamar Dara.


Axel mendekati Dara dan membenahi rambut Dara yang terurai hampir menutupi mata Dara. Ihsan masuk dan melihat itu, sontak iya sedikit kaget dan “Ehemm..ehemmm...!” Ihsan pura-pura batuk.


“Eh ..Sudah nelp nya, mmm... mau sarapan apa?.. nanti aku belikan” Axel pun jadi salah tingkah dan mengalihkan dengan pertanyaan kepada Ihsan.


“Boleh...roti dan kopi panas...sepertinya cukup" jawab Ihsan.


“Oke ..aku keluar dulu, roti dan kopi ya...tolong jaga...” Axel pamit keluar dan menitipkan Dara pada Ihsan.


Axel keluar kamar dan bertabrakan dengan seorang pria berpakaian serba hitam, “ aduh ...maaf..!” Axel terkejut.


“Iya..tidak apa-apa, permisi” pria itu berjalan sambil menyembunyikan wajahnya dengan topi hitam.


Axel merasa aneh dengan pria itu, “Siapa tuh cowo, sepertinya dia berdiri di depan pintu kamar ini tadi?”


Ihsan berdiri dekat Dara, dia memperhatikan wajah dan membenahi selimut Dara.


Kemudian, “Dara...Dara..kamu sudah sadar" Alhamdulillah ya Allah...akhirnya!” Ternyata Dara mulai membuka matanya, Ihsan yang menyaksikan hal itu sangat bersyukur.


“Ihsan..” ucap Dara dengan lirih,


“Iya ini aku...Ihsan, apa yang kamu rasakan saat ini? apa Kamu baik-baik saja Dara?” katakan sesuatu!” Ihsan senang Dara bisa mengenalinya.


“Aku ada di mana?” kenapa kepala ku pusing sekali?” Dara tidak menyadari bahwa dia ada di rumah sakit.


“ Tenang Dara...kamu sekarang aman..kamu ada di rumah sakit..ada Axel dan aku yang menjaga kamu" kemudian Ihsan mengambil air untuk Dara minum.


“ Kamu minum dulu ya, ini minum perlahan" Ihsan memberikan minum pada Dara dengan sangat hati-hati.


Tak Lama, Axel pun datang, “Dara...syukurlah..Dara Kamu gak apa-apa?” apa kata dokter?” Axel sangat senang melihat Dara sadar, dan menanyakan pada Ihsan bagaimana keadaan Dara menurut Dokter.


“ Astaghfirulloh..aku lupa..sebaiknya aku panggil dokter dulu ya..sebentar!” Ihsan bergegas keluar mencari Dokter.


Axel langsung memegang tangan Dara sambil tersenyum bahagia, namun....


“Siapa kamu ?” Kamu siapa?” Dara melepaskan genggaman Axel dan ternyata Dara tidak mengenali Axel lagi.


 Axel kaget , “Dara...ini aku..ini aku Axel, Teman mu..bos Cafe Hoki, kamu ingat?” Axel menjadi khawatir dengan keadaan Dara yang tidak mengenalinya.


“Pergi...tolong...jangan dekat-dekat, aku tidak kenal kamu....tolong pergi..pergiiii...!” Dara panik, baginya Axel adalah orang asing saat ini.


Axel pun menjauh dan tidak berani mendekati Dara, “Dara...kamu tenang...aku bukan orang jahat..aku teman mu..tolong Dara..ingatlah aku?” ucap Axel


Ihsan masuk bersama Dokter, “Ada apa ini?” Dokter segera memeriksa Dara dan bertanya tentang Dara yang kondisi terlihat ketakutan.


“Ihsan...tolong aku..aku gak kenal dia..dia..dia..tiba-tiba memang tangan aku..dan..dan..aku takut Ihsan! Aku takut!” Dara benar-benar panik dan memeluk lengan Ihsan saat itu.


“Dara..itu..itu Axel..dia teman kamu...kamu yang tenang ya..gak ada yang akan menyakiti kamu.. Dara lihat aku.. tenang lah". Ihsan berusaha menenangkan Dara.


“ Baik, Nona Dara sekarang tidurlah..istirahat ya, kalau ada apa apa tekan saja tombol ini, jangan khawatir di sini Nona Dara tidak sendirian banyak suster jaga di sini ya".Ucap Dokter.


“Terimakasih Dokter" Ihsan mengucapkan terimakasih. Kemudian Axel merasa ada sesuatu yang harus di tanyakan pada Dokter, Axel pun keluar bersama Dokter.


 “Dok..bagaimana ini, mengapa Dara tidak mengingat saya Dok?” saya ini teman nya Dok!” Axel penasaran dengan apa yang terjadi pada Dara.


“ Begini ... Dara sedang mengalami gangguan memory di sebabkan trauma, sehingga kemungkinan sebagian memory nya hilang".Ungkap Dokter.


Ihsan berfikir, “Memory Dara tentang Axel menghilang, yang Dara ingat hanyalah Aku, tapi kenapa bisa begitu?” Ihsan bertanya-tanya  setelah mendengarkan percakapan antara Dokter dengan Axel.


Selama Dara di rawat inap Dara hanya mau ditemani okeh Ihsan, Axel pun mengalah demi kebaikan Dara.


“Aku ..pamit pulang...sudah dua hari Cafe ku tutup, jadi....aku titipkan Dara sama kamu mas...mas Ihsan". Ucap Axel.


Axel dengan berat hati menitipkan Dara pada Ihsan, mau bagaimana lagi Axel tidak ingin kehadirannya membuat Dara semakin memburuk nantinya.


“Sabar ya  Axel...perlahan lahan Dara pasti mengingat semuanya tentang kamu, tapi saya harap kamu jangan lupa tuk menengok atau menelpon Ya!” Ihsan menghibur Axel.


"Nanti kalau Dara sudah sembuh, pasti kamu orang pertama yang aku kabari".


Ihsan memberikan dukungan pada Axel dan menghargai keputusannya.


Bulan Ramadhan hampir tiba, Ihsan mengajak Dara untuk sholat berjamaah di ruang rawat inap nya.


“Kamu pernah puasa kan Dara?” tanya Ihsan.


“ Ya pasti pernah dong, dulu aku suka di bangunin sahur sama mama aku!” tapi sejak aku kawin lari dengan Varel, aku dah gak pernah puasa lagi" Dara mengenang masa kelam itu dan merasa sedih.


“Ssssttt...sudah..sudah ..kok malah sedih... ayo sana ambil wudhu...kita sholat sama-sama di sini ya!” Ihsan menghapus airmata Dara yang menetes.


Dara terlihat senang melihat mukena barunya yang di berikan Ihsan, semakin hari keadaan Dara semakin membaik. Namun meski begitu, ketika malam Dara masih saja bermimpi buruk.


Empat hari sudah berlalu Dara belum juga mengingat siapa Axel .


“Akhirnya aku bisa pulang ....horeeee!”  Dara sangat senang sampai melompat lompat kegirangan dan tak sadar memeluk Ihsan.


“ kata dokter aku boleh pulang !” Ucap Dara.


“be..be..benarkah ...eemmm... alhamdulillah!” Ihsan berdiri membatu, dia merasa canggung karena tiba-tiba di peluk Dara.


“Eh ..!" "maaf ...aku ..aku... ..lapar..lapar banget..mana ketoprak nya?” Dara pun baru sadar dan untuk menutupi rasa malunya, Dara langsung menanyakan ketoprak pesanannya.


“Oh iya..ini dia ketoprak kamu... ini !". Ihsan menyodorkan bungkusan plastik hitam kepada Dara.


Setelah Dara selesai makan, Ihsan mengeluarkan lagi bingkisan kado yang cantik.


“ Dara...eemmm...begini..aku punya hadiah buat kamu...tapi Kamu harus pakai ya ..janji?” Ihsan memberikan sebuah bingkisan itu kepada Dara.


“ waaawww apa ini...?” Dara senang sekali sampai matanya tak berkedip melihat kado cantik itu.


“ Emang apaan sih isinya?" Dara bertanya penasaran.


"Mmm...ya ..iya aku janji..akan memakainya sampai mati!” Jawab Dara meyakinkan Ihsan.


“Nah ..oke...ini dia...silahkan kamu buka, dan pakai lah”. Ihsan memberikan kado cantik dengan penuh harapan agar Dara bisa merubah hidup nya di masa depan.


“ Sebentar aku keluar dulu, nanti aku masuk, kamu harus sudah siap ya ?”  Ihsan keluar kamar sambil mengambil hand phone nya dari kantong celana.


“assalamualaikum...Axel...Kamu bisa datang hari ini kan? Hari ini Dara akan pulang". Ucap Ihsan pada Axel di telp.


Di Cafe Hoki Axel terlihat tidak bersemangat , wajahnya terlihat sedih.


Siang itu Bu Leni menyempatkan mampir ke Cafe Axel,


 “ Permisi ..... Axel ganteng..hello Axel..?” heemmm..itu anak ..bengong aja...”


Bu Leni memperhatikan Axel yang sedang mengelap meja namun entah pikiran nya ada di mana.


“Duh kalau saya jadi meja ini, pasti saya sudah glowing deh!” ledek Bu Leni karena Axel dari tadi terus mengelap meja yang sama berulang ulang.


“Eh...Bu Leni...maaf Bu..saya gak lihat ibu masuk" Axel baru sadar kalau ada Bu Leni di dekatnya.


“ Iya ini aku..dari tadi disini kok...tadi pak Ihsan beritahu kalau Dara pulang hari ini loh!” kamu tahu gak?” Bu Leni berbicara lalu duduk. “Kamu gak jemput Dara?”


“hmmm...tidak” Jawab Axel singkat


Bu Leni merasa serba salah dan terus mencari akal membujuk Axel, “ terus saya kesana nya sama siapa dong ...masa sendirian..nanti di culiiikk!”


“Maaf..saya sibuk..jadi Bu Leni kesana naik taksi saja, pasti supir taksi tahu alamatnya!” Jawab Axel sambil membalik kan badan.


“Dara kamu dah siap?” Ihsan menunggu di luar kamar tak sabar ingin melihat penampilan Dara.


“Sabar ...aku masih bingung cara pakai nya..ini susah..kenapa sih beliin yang susah dipakai..nyebelin!” Dara mengeluh dengan manja.


“Aku masuk ya...biar aku bantu?” Ihsan pun masuk ke dalam.


“Ini...bagaimana..dari tadi gak bisa-bisa!” ternyata Dara sedang sibuk memakai kerudung segitiga pemberian Ihsan.


“Iya iya..sini ..aku coba!". Ihsan dengan sabar mencoba membantu Dara.


“Nah..ini..di masukkan begini..lalu ini ke sini..dan ini..”


“Aduh! Iih...pelan pelan.. sakit tahu!” Dara menjerit karena kulit dagu nya sedikit tertusuk jarum.


Namun ternyata di luar kamar Axel sedang berdiri persis di depan pintu kamar rawat inap Dara bersama Bu Leni.


Axel mendengar begitu akrabnya Dara dengan Ihsan. Axel lalu pergi.


“Hey..tunggu..Axel..tunggu!” teriak Bu Leni memanggil Axel yang pergi begitu saja. “Aduh...repot ...repot...kenapa jadi gini coba!” Bu Leni merasa sangat menyesal.


Axel berjalan dengan sangat cepat, hatinya berkecamuk, “Dara benar-benar sudah melupakan ku!”


“Nah ...kan cantik!” Ihsan memuji wajah Dara yang sudah memakai kerudung. Wajah Dara langsung memerah, dan jantung nya berdegup kencang.


Begitu pula Ihsan tak sadar tangan nya menyentuh pipi Dara, dan mereka saling menatap.


Bu Leni kemudian masuk kamar dan memergoki mereka, “Ehemm..heemmm.. assalamualaikum permisi...!”


Sontak Ihsan dan Dara jadi salah tingkah.


Ihsan menjawab terbata-bata, “eh ..iya.... wa’alaikumsalam ...!” Masuk Bu ..Eh sudah masuk ya..maksud saya.. silahkan Duduk !”


Tak disangka ternyata Bu Leni sudah diikuti sejak tadi di Cafe Hoki, di ikuti oleh sosok pria berbaju serba hitam, pria itu sedang menunggu di luar kamar. Seperti sedang memata- matai.


“Duh cantiknya ...Dara sayang ..syukurlah Kamu sudah sembuh ya , Ibu khawatir banget sama kamu Dar" Bu Leni memegang kedua pipi Dara dan memeluk nya erat, Namun Dara bereaksi aneh.


“ Maaf ..Ibu siapa ya? ...apa Ibu  mengenal saya?” Dara juga tidak mengingat Bu Leni. Dara hanya mengingat kisah hidup nya sebelum datang ke jakarta.


“ Maafin ya Bu Leni,  Saya lupa bilang sama ibu tentang kondisi Dara, jadi Dara mengalami gangguan memory karena trauma bu, harap maklum ya Bu" Ihsan segera memberikan penjelasan pada Bu Leni yang terkejut mendengar Dara berkata seperti itu.


Ihsan mencoba menjelaskan ke Dara. “Dara ..ini Bu Leni ..kamu dulu sudah menganggap dia seperti kakak sendiri, jadi jangan sungkan tuk mengobrol ya".


Lalu Ihsan mengambil barang bawaan Dara.


“Sebaiknya Ibu duduk...silahkan mengobrol dan saya permisi mau menaruh baramg-barang ini di mobil". Ucap Ihsan


Dara dan Bu Leni pun menjadi akrab, biasa karena sesama wanita jadi ngobrolnya nyambung.


Tak Lama Ihsan pun kembali dari parkiran mobil.


Ihsan berbisik dalam hatinya, “kenapa Bu Leni kesini tidak bersama Axel ya?” Axel ditelp juga tidak di angkat, padahal dia tahu kalau...”


Langkah Ihsan terhenti, Ihsan melihat sosok yang mencurigakan sedang mengendap-endap di sekitar kamar Dara.


“Siapa itu?” sedang apa dia disitu?” Ihsan pun pura -pura tidak lihat, dia berjalan seperti biasa.


Namun setelah Ihsan masuk ...  “ssssssttt....kalian bicara saja seperti biasa ya, saya minta tolong sama Bu Leni...tolong Bu Leni pakai ini! Dan duduk di sini ya! Cepat Bu!” Ihsan memberi komando.


“Loh ini baju Dara.. kok saya di suruh pakai ini?” Bu Leni benar-benar tidak faham apa maksud Ihsan menyuruh nya memakai pakaian Dara dan meminta Bu Leni duduk di kursi roda.


“ Ada apa Ihsan ...ada apa?” Dara jadi khawatir, dia tidak mengerti apa yang terjadi.


Ihsan mencoba menjelaskan ke Dara. “ Ssssssttt...Bu Leni berpura-pura jadi kamu Dara, dan Dara sekarang pakai baju Bu Leni ya..ayo cepat!” Ihsan mendorong Dara menuju kamar mandi meminta Dara segera ganti baju dengan Bu Leni.


Sementara itu Ihsan menelpon Axel meminta bantuan.


"assalamualaikum..Axel..aku butuh bantuan kamu sekarang!”


Apakah yang terjadi selanjutnya, dan siapakah pria penguntit itu ?