
"Aku rasa inilah saat yang tepat untuk pergi!" Ucap Mama Dara yang selalu memperhatikan keadaan Dara yang mulai nyaman hidup bersama Ihsan. Sehingga Mama Dara pikir dirinya bisa tenang meninggalkan Dara.
Mama Dara pikir selama mereka berdua tidak tahu tentang rahasia itu, maka mereka akan hidup bahagia.
Malam itu di saat Ihsan sedang bercanda di kamar bersama Dara.
Tanpa sepengetahuan Dara, Mama menelpon Dery dari dalam kamarnya membicarakan rencana untuk pergi sejauh mungkin dari hidup Ihsan dan Dara.
"Bagaimana Mama dah siap?" Tanya Dery pada Mamanya.
"iya malam ini siap, mereka sedang di kamarnya sekarang!" Jawab Mama.
"oke, Mama tunggu aku di halte bis jam 9 malam ini!" Ucap Dery
Dara yang sedang berduaan di kamar dengan Ihsan malam itu, tidak tahu kalau Mamanya akan pergi malam ini juga.
Mama Dara sebelum pergi meninggalkan sepucuk surat di meja makan, Surat untuk Dara dan Ihsan.
"Selamat tinggal nak, Doa Mama semoga kamu selalu bahagia!" Ucap Mama Dara sembari meletakkan surat lalu pergi.
"Bismillah ... hmmm.. emmm.. bagaiamana sayang kamu suka, hemm ..kamu suka kan !" Ucap Ihsan yang sedang asyik bercinta dengan Dara istrinya.
"iya... terus kan...lagi ...terus kan...!" teriak Dara namun air matanya mengalir sedangkan Ihsan tak tahu karena suasananya gelap di kamar.
Dara melayani suaminya sambil menangis pilu, bukan karena dia tak suka di gauli suaminya, tapi karena Dara sedih sekaligus benci pada dirinya sendiri yang sudah membohongi Ihsan.
"Aku hanya anak seorang pembunuh, ayah ku yang sudah membunuh kedua orang tua suamiku!" jerit tangis Dara dalam hati sedangkan tubuhnya sedang di gauli Ihsan.
"aaahhh...aaahhh... waahh, dahsyat!" jerit Ihsan merasa puas setelah menggauli Dara.
" alhamdulillah...Terimakasih sayang, mmuuaach!" Ucap Ihsan bersyukur lalu mencium kening Dara dan memeluknya erat.
Dara terdiam dan meneteskan airmata di dalam pelukan hangat Ihsan.
"maafkan aku, seharusnya aku tidak menikahi mu!" jerit hati Dara menyesal.
Di subuh hari, Dara baru saja selesai mandi dan hendak sholat.
"tenggorokan ku terasa kering". Ucap Dara lalu keluar kamar menuju dapur hendak minum.
Sedangkan Ihsan sudah bangun lebih dulu dan berangkat sholat berjamaah di masjid.
Dara duduk kemudian meminum air.
"Bismillah... glek..glek..glek!"
"Alhamdulillah..segarnya!" Ucap Dara setelah minum lalu matanya tertuju pada surat yang tergeletak di meja, "Apa ini?" Tanya Dara sembari mengambil surat itu lalu membukanya.
Dara lalu membaca isi surat itu.
"Assalamualaikum...Dara... Mama sekarang sudah tenang karena melihat mu bahagia bersama Ihsan, jadi doakan semoga Mama berhasil menemukan kakak mu, Mama dengar kabar kalau kakak mu ada di Korea, oleh karena itu, Mama menyusul ke sana, jangan khawatir nanti Mama pasti akan kembali membawa kakak mu, ya...titip salam untuk Ihsan!"
Dara berlinang airmata setelah membaca Surat dari Mama nya. Dara tahu Mamanya berbohong, Dara faham kenapa Mama pergi, Dara terlihat sangat marah dan mulai mengamuk.
Dara bangkit dari tempat duduknya, "aaakh!" teriak Dara membanting gelas yang ada di meja. "praakk!" suara gelas pecah.
Kemudian Dara terduduk di lantai lemas.
"kenapa harus bohong, kenapa!"
" kenapa Mama tinggalkan aku !"
" kenapa...!" teriak Dara
Dara menangis menjadi-jadi dan Dara melihat ada pecahan gelas di dekat nya.
Sambil menangis Dara meraih pecahan gelas itu lalu ingin menyayat leher nya sendiri dengan benda tajam dan runcing itu.
Ihsan baru saja pulang dari masjid lalu memasuki rumah dan membuka pintu. "Dara....astaghfirulloh..Dara!" teriak Ihsan kaget melihat Dara sedang berusaha bunuh diri.
'Tidak Dara, Dara astaghfirulloh sadarlah...ini dosa Dara, buang ..buang ...aaakh!" teriak Ihsan berusaha mencegah Dara menggorok lehernya sendiri.
Tangan Dara di tahan kuat oleh Ihsan, namun Dara terus meronta melawan sampai tangannya berdarah karena menggenggam kuat pecahan gelas yang tajam itu.
"lepaskan! biarkan aku mati!" Ucap Dara sembari melawan Ihsan.
"Tidak...Tidak!" teriak Ihsan
"plak !" Ihsan akhirnya menampar wajah Dara sampai Dara terjatuh ke lantai.
Ihsan buru-buru membuang jauh-jauh pecahan gelas itu.
"Astaghfirullah...ya Allah Dara, tangan mu berdarah!" Ucap Ihsan panik melihat banyak darah yang keluar dari telapak tangan Dara.
Ihsan bergegas mencari kotak P3K untuk mengobati tangan Dara.
Sedangkan Dara menangis sampai nafasnya sesak lalu pingsan.
"Dara!" teriak Ihsan khawatir melihat Dara tak sadarkan diri.
Di pondok pesantren yayasan Al Ihsan Ustadzah tadi malam kedatangan tamu istimewa yaitu adik kandung nya yang seorang jenderal.
Di pagi hari di teras rumah, Ustadzah dan adiknya sedang duduk sembari minum teh hangat.
"tumben kamu main ke sini dek". Ucap Ustadzah pada adik nya.
"Mba yu bisa aja, maklum lah mba aku kan sibuk nangkepin penjahat, hehehe!" Jawab Pamannya Ihsan santai sambil minum teh manis hangat buatan kakak nya.
"Biasanya kamu kesini itu kalau ada maunya aja sama mba". Ledek Ustadzah.
"Anu loh mba, eemmm aku mau ngasih kabar kalau Bery sudah di hukum mati !" Jawab Pamannya Ihsan.
"Bery itu siapa ?" Tanya Ustadzah bingung.
"Eh iya lupa, mba kan tahu nya Bos Geng Tiger ya!" Jawab Pamannya Ihsan sambil menepuk jidat nya sendiri.
"ooo..geng tiger itu to!" Jawab Ustadzah faham.
" Begini mba, tapi bagaimana ya bilang nya... Aku jadi gak enak gitu lo!" Ucap Pamannya Ihsan ragu-ragu ingin mengatakan sesuatu ke Ustadzah.
"Ada apa lagi sih?" Tanya Ustadzah.
"Mba, sebelumnya aku mau tanya dulu, apa mba tahu asal usul Dara istrinya Ihsan?" Tanya Pamannya Ihsan.
"mmm... Aku kenal siapa ibunya, Dara gadis yang baik, juga cerdas!' jawab Ustadzah sembari tersenyum merasa senang memilki menantu seperti Dara.
"Mba gak tahu siapa Ayah kandung nya Dara?" Tanya Pamannya Ihsan lagi.
Ustadzah menatap adik nya, penasaran dengan ada apa di balik pertanyaan adiknya itu. "Ayahnya? mmm...Tidak, memangnya kamu tahu?" Jawab Ustadzah sembari bertanya balik.
"Mba, meski ini berat, tapi saya harus memberitahukan hal ini!" Ucap Pamannya Ihsan tertunduk khawatir Ustadzah terkejut bila mendengar apa yang akan di sampaikannya.
"iya, cepat katakan ada apa, bikin orang penasaran aja! " Ucap Ustadzah.
"Mba masih ingat gak, kasus pembunuhan yang dulu aku tangani?" Tanya Pamannya Ihsan lagi.
"iya, tentu saja ingat, gara-gara kasus itu mba ketemu sama Abi". Jawab Ustadzah sembari terkenang almarhum suaminya Ustadz Abu.
" sekarang dengarkan baik-baik, kasus yang dulu aku tangani itu adalah kasus pembunuhan orang tua kandung Ihsan!" Ucap Pamannya Ihsan.
"Apa... Orang tua kandung Ihsan, mati di bunuh !?" Ustadzah kaget bukan main, selama ini Ustadzah tidak pernah tahu.
" tapi Almarhum Abi gak pernah cerita sama aku, kalau orang tua Ihsan mati di bunuh!" Jawab Ustadzah tak percaya.
"iya, itu karena mas Abu ingin mba dan Ihsan tidak tahu tentang kisah tragis itu". jawab pamannya Ihsan.
"Astaghfirullah Ihsan....jadi orang tuanya di bunuh, siapa pelakunya?" Tanya Ustadzah Sambil pindah duduk ke samping adik nya.
Ustadzah memukul bahu adiknya itu. "heh...! di tanya kok malah bengong!" Ucap Ustadzah heran melihat adiknya malah terdiam ketika di tanya.
" Mba, aku merasa bersalah, aku juga baru tahu setelah Bery di hukum mati, kami polisi membaca Surat wasiat nya, maafkan aku mba!" Jawab Pamannya Ihsan sedih.
"Apa sih maksudmu, jangan bikin bingung orang!" Jawab Ustadzah kesal karena adiknya bicara dari tadi hanya berputar-putar saja, tidak langsung ke intinya.
" Baiklah mba, pembunuh orang tua Ihsan adalah Bery bos geng Tiger dan ternyata Bery adalah Ayah kandung Dara istri Ihsan!" Ucap Pamannya Ihsan sembari memegang tangan kakak nya.
Mata Ustadzah melotot dan wajahnya berubah penuh kecemasan.
"Kamu pasti bercanda kan dek, iya kan?" Tanya Ustadzah gemetar.
"Tidak mba, aku serius!" Jawab Pamannya Ihsan.
"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan!" Ucap Ustadzah menangis dalam penyesalan.
Di rumah sakit Dara kembali terbaring lemah tak berdaya. Ihsan mendampinginya sembari membaca AlQur'an.
Dara tak berani menatap Ihsan, dia memalingkan wajah. Air matanya menetes membasahi pipinya.
Ihsan bingung apa yang sebenarnya Dara rasakan, kesulitan apa yang Dara alami, apa yang terjadi sampai Dara ingin mengakhiri hidupnya.
Ihsan berusaha tenang sambil melanjutkan membaca AlQur'an.
Kemudian telp nya berdering.
"Assalamualaikum, Ihsan kamu ada di mana?" Tanya Ustadzah yang menelpon Ihsan.
"wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh, Ummi..Aku sedang ada di rumah sakit Ummi!" Jawab Ihsan
"Astaghfirullah kamu sakit Ihsan ?" Tanya Ustadzah khawatir.
"Tidak Ummi, Alhamdulillah aku sehat, Dara...Ummi, Dara di rawat lagi!" Jawab Ihsan dengan suara sedih.
"Ummi segera kesana sekarang !" Jawab Ustadzah.
Ustadzah mematikan handphone nya.
"Dek, temani mba kerumah sakit sekarang!" Ucap Ustadzah pada adiknya.
" siap Mba !" Jawab Pamannya Ihsan.
" Aku harus meluruskan ini semua, Dara dan Ihsan tidak boleh bersama!" Bisik Ustadzah di dalam hati.