Dara Manisku

Dara Manisku
Pernikahan mendadak



"Hari ini Ibu sudah boleh pulang, tapi jangan lupa seminggu dua kali masih tetap menjalankan terapi kakinya". Ucap Dokter menjelaskan pada Mama Dara Siang itu di rumah sakit.


"Terimakasih ya Dok, InsyaAllah saya tidak akan lupa Dok untuk mengantarkan Mama terapi!" Jawab Dara bersemangat merasa senang karena hari ini Mama dan dirinya bisa pulang kembali ke rumah.


"Alhamdulillah ya Allah, Mama kita pulang sekarang ya?" Tanya Dara sembari membereskan pakaian nya dan pakaian Mamanya.


Mama hanya diam, pikiran nya kalut, Mama mengkhawatirkan Dara sekaligus mengkhawatirkan Dery.


"Bagaimana bila Bery nekad melakukan sesuatu pada Dara dan pada Dery, aku harus bagaimana ya Allah?" bisik Mama Dara termenung.


"Mama...Mama dari tadi hanya diam aja, ada apa Ma?" Tanya Dara melihat Mama lesu dan terdiam di atas kursi rodanya.


"gak ada apa-apa Dara, hanya Mama lagi memikirkan bagaimana caranya agar kita bisa terbebas dari Bos Geng Tiger ". Jawab Mama


Suara hp berdering.


"Dara ..seperti nya ada telp!" Ucap Mama Dara mendengar suara dering hp.


"Iya Ma, sebentar...mana Ya tadi hp nya...nah ini dia!" Ucap Dara sembari menyentuh layar handphone dan terlihat no pondok pesantren.


"Dari pondok Ma, iya hallo...Assalamualaikum?" Ucap Dara menjawab telp.


"wa'alaikumsalam Dara...ini Ummi nak, tolong kamu ke pondok sekarang ya, Abi ingin bicara dengan mu!". Ucap Ustadzah dengan suara serak karena menangis.


Dara terdiam, dia kaget mendengar Ustadzah tiba-tiba memintanya datang ke pondok pesantren sekarang juga.


"Tapi Ummi..." belum Dara selesai bicara Ustadzah sudah memotong pembicaraan nya.


"Dara tolong...sekarang juga ya nak...secepatnya!" Ucap Ustadzah memohon pada Dara.


"Bagaimana ini, apa aku harus membawa Mama ke sana juga ?" Bisik Dara bimbang mau menjawab apa pada Ustadzah.


"Baiklah Ummi, tapi saya bawa Mama ya Ummi, soalnya Alhamdulillah hari ini Mama sudah di perbolehkan pulang". Jawab Dara.


Akhirnya Dara mengajak Mama ke pondok pesantren, baru setelah itu mereka akan pulang kerumah Dara.


Setelah sampai disana, Dara merasa aneh, karena di depan rumah Ustadz Abu ada ambulance.


"Assalamualaikum...Assalamualaikum...!" Ucap Dara sampai dua kali salam tapi tidak ada juga yang menjawab.


"Mama di sini dulu, Dara mau masuk ke dalam!" Ucap Dara sembari tengak-tengok masuk ke dalam rumah.


Sedangkan Mama berada di teras menunggu Dara.


"Aneh ...kemana semua orang?" Tanya Dara heran setelah masuk ruang tamu.


Terlihat sepi, namun Dara mendengar suara dari dalam.


"Sepertinya suara itu berasal dari kamar Abi?" Ucap Dara menebak-nebak.


"Abi... !" Ustadzah terus menangis. di samping pembaringan ada Ihsan yang duduk bersimpuh sambil memegang tangan Ustadz Abu yang dingin.


"Sebaik nya Ustadz Abu di bawa kerumah sakit sekarang saja, tunggu apa lagi!" Ucap salah seorang tim medis dari Yayasan Rumah sakit Al Ihsan.


"Tidak, aku tidak mau di bawa ke rumah sakit!" Jawab Ustadz Abu terbata-bata sembari menahan sakit.


"Tapi Ustadz, kondisi Ustadz harus segera ditangani Dokter ahli, Sekarang ini Ustadz terserang struk, jadi tolong ayo kita rumah sakit sekarang saja!" Ucap tim medis menjelaskan lagi kondisi Ustadz Abu.


Dara mendengarkan dari balik pintu.


"Ihsan, di mana Dara? aku ingin bertemu dengan nya segera". Ucap Ustadz Abu dengan suara yang gemetar.


Lalu Dara mencoba untuk masuk kamar Ustadz Abu meski sebenar nya Dara merasa canggung.


"Assalamualaikum..!" Ucap Dara sembari membuka pintu perlahan.


"Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh, Alhamdulillah, Masuk Dara, ayo sini!" Jawab Ustadzah dan langsung meminta Dara untuk segera masuk dan mendekat.


"Abi...ini Dara sudah ada di sini!" Ucap Ihsan


"Dara, Abi rasa umur Abi tidak akan lama lagi". Ucap Ustadz Abu gemetaran.


"Abi, kenapa bicara seperti itu !" Ucap Ihsan.


"Astaghfirullah... Abi !" Ucap Ustadzah sedih.


"Abi punya satu permohonan, mau kah Dara mewujudkannya?" Tanya Ustadz Abu pada Dara.


"Apa itu Abi? InsyaAllah Dara bisa mewujudkannya jika Dara sanggup". Jawab Dara sambil menatap Ustadz Abu yang terbaring lemas di tempat tidurnya.


"Mau kah kamu menikah dengan Ihsan anakku ?" Tanya Ustadz Abu sembari memegang tangan Ihsan kuat.


"Tolong cepat di jawab Dara! Abi sudah tidak kuat lagi untuk bicara". Ucap Ustadz Abu semakin lemah suaranya.


Ustadzah yang duduk di samping suaminya itu hanya bisa menangis dan tertunduk lemas.


Dara terdiam, dalam hatinya berkata:


"Aku harus jawab apa ?"


"Apa tanggapan Ihsan tentang ini ?"


"Apa Mama setuju, bila tahu hal ini?"


Dara terus berpikir, tak tahu harus menjawab apa.


"Dara, mau kah kamu menikah dengan Ihsan, tolong jawab sekarang juga Dara, Abi ingin menyaksikan Ihsan menikah sekarang!" Ucap Ustadz Abu dengan nafas mulai sesak.


" Ya Allah Abi!" Ucap Ihsan yang akhirnya menangis melihat kondisi Ustadz Abu yang semakin parah.


Melihat keadaan Ustadz Abu Ihsan akhir nya menyetujui permintaan Ustadz Abu.


"Dara, apa kamu mau menikah dengan ku sekarang ini di depan Abi?" Tanya Ihsan pada Dara.


"Tolong Dara, tolong ?" Tanya Ihsan memohon pada Dara.


" Baik lah Abi, saya mau menikah dengan Ihsan". Jawab Dara.


Dara tak tega melihat kondisi Ustadz Abu yang kritis, mau tidak mau walau berat, Dara akhirnya rela menikahi Ihsan dengan cara seperti ini.


Dara mendekat duduk di samping Ihsan.


Dengan suara lantang Ihsan mengucapkan Ijab Qobul, mereka berdua menikah di depan Ustadz Abu, di saksikan oleh Ustadzah dan dua orang tim medis.


Dara kemudian keluar kamar bermaksud ingin mengajak Mama nya masuk ke dalam. Lalu Ihsan ternyata juga ikut keluar kamar.


Ihsan keluar kamar sembari berfikir apakah keputusan menikah seperti ini baik untuk Dara.


Meski jauh di lubuk hati, Ihsan merasa bahagia bisa menikah dengan Dara.


" Dara, bisa kita bicara sebentar?" Tanya Ihsan.


"Iya, aku juga ingin menanyakan sesuatu pada mu Ihsan". Jawab Dara.


Mereka duduk berdua di ruang makan.


Ihsan mengambil nafas panjang dan berusaha tegar.


" Dara, maaf kan, aku juga gak faham kenapa semua nya jadi begini, jika memang kamu keberatan dengan permintaan Abi, kita anggap saja kita menikah pura-pura, bagaimana?" Tanya Ihsan yang merasa tidak enak pada Dara.


Dara mendengar kata 'menikah pura-pura', berfikir mungkin Ihsan sebenarnya memang tidak mau menikah dengannya, ini semua hanya keterpaksaan saja.


"Wajar bila Ihsan keberatan menikah dengan ku, aku memang wanita yang tidak pantas untuk Ihsan". Bisik Dara dalam hati


"Apa kamu sebenar nya tidak suka dengan permintaan Abi?" Tanya Dara ingin memastikan.


"Bukan begitu, aku tahu bahwa kamu terpaksa menikah dengan ku, pasti kamu berfikir ini tidak adil untuk mu Dara". Jawab Ihsan


"Namun melihat kondisi Abi yang seperti itu, aku jadi serba salah, aku hanya bisa minta tolong pada mu Dara, Maaf bila aku egois". Ucap Ihsan tertunduk sedih.


"Aku faham, jika memang sudah begini keadaannya, aku cuma bisa bertawakal menerima semua nya dengan ikhlas". Jawab Dara


Dara lalu bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju teras rumah ingin menemui Mamanya.


"Tunggu Dara, kamu mau kemana?" Tanya Ihsan


"Aku datang ke sini bersama Mama, dan tadi Mama aku minta untuk menunggu di teras". Jawab Dara


"oh, kalau begitu aku ingin menemui Mama mu dan menjelaskan semua". Ucap Ihsan


"Dara, kenapa lama sekali, ada apa, Mama seperti mendengar suara Ustadzah sedang menangis?" Tanya Mama yang melihat Dara keluar dari pintu rumah dan menghampirinya.


"Mama, ada sesuatu yang ingin Ihsan sampaikan". Jawab Dara


Ihsan pun mendekat ke Mama Dara. Dan mengatakan :


" Ibu, Saya mau minta maaf dan sekaligus minta restu dari Ibu ". Ucap Ihsan sembari bersimpuh di depan Mama.


Dengan suara berat dan merasa bersalah Ihsan kembali berkata:


"Mohon restui kami, Saya sudah menikahi Dara!" Ucap Ihsan di depan Mama Dara.