
Mama Dara merasa khawatir hal apa apakah yang akan di tanyakan Ihsan pada nya.
"Sebenarnya ada hubungan apa Ibu dengan Bos Geng Tiger?" Tanya Ihsan sambil memegang tangan Mama Dara yang berubah dingin.
Mama Dara terdiam.
"Maaf, mungkin pertanyaan saya membuat Ibu kaget, sebenarnya pertanyaan ini sudah lama ingin saya tanyakan pada Ibu, hanya tertunda karena waktunya tidak tepat". Jelas Ihsan.
"Saya merasa aneh ketika tiba-tiba Bos Geng Tiger menarik mundur semua orang suruhannya, serta perkataan Dara yang mengatakan bahwa ini semua karena Bos sudah berjanji pada Ibu tidak akan mengganggu Dara lagi". Ungkap Ihsan sambil menatap mata Mama Dara yang tertunduk cemas.
"Ada apa Bu, ada apa? apa Ibu mengenal dekat Bos Geng Tiger itu?" Tanya Ihsan semakin penasaran.
Mama masih terdiam, dia resah harus bagaimana. Tidak mungkin Mama Dara menceritakan semuanya pada Ihsan.
"Bagaimana nanti tanggapan Ihsan bila tahu kalau Dara adalah putri seorang penjahat!" Bisik hati Mama Dara.
"Tidak, aku tidak mungkin berkata jujur pada Ihsan!" pikir Mama Dara.
"eemmm, maksud nak Ihsan apa? bagaimana mungkin Saya kenal dengan Bos Geng Tiger itu, pertama kali saya melihatnya waktu dia masuk ke ruang ICU, itu saja!" Jawab Mama Dara sambil memalingkan pandangan tak mampu menatap mata Ihsan.
Dari tatapannya yang tidak bisa menatap mata Ihsan langsung membuat Ihsan curiga. "Kenapa Mama Dara berbohong?" Tanya Ihsan dalam hati.
"Baiklah ! saya tidak akan memaksa Ibu untuk berkata jujur, saya faham pasti sulit bagi Ibu untuk menceritakan semuanya, saya tidak akan menanyakan hal ini lagi, Maafkan saya ya Bu?" Ihsan memberikan tanggapan atas jawaban Mama Dara yang terdengar meragukan.
"Namun bila suatu saat Ibu mau mengatakan nya, saya akan siap mendengarkan!" Ungkap Ihsan sambil melangkah pergi kembali ke kamar Dara.
Mama Dara tertunduk malu, Mama Dara tahu bahwa Ihsan mengetahui dia telah berbohong.
"Maafkan Ibu nak Ihsan, Ibu terpaksa berbohong, karena ibu takut kamu akan meninggalkan Dara jika mengetahui yang sebenarnya". Ucap Mama Dara pelan sambil melihat Ihsan melangkah pergi menjauh.
"Ihsan, bagaimana ? kamu sudah menanyakan ke Mama belum?" Tanya Dara yang melihat Ihsan masuk ke kamarnya dengan wajah seperti orang yang sedang berpikir keras.
"Ihsan!" panggil Dara lagi.
"Iya, ada apa?" Tanya Ihsan kaget mendengar panggilan Dara.
"Kok bengong , tadi aku tanya kamu sudah tanya belum ke Mama?" Tanya Dara lagi.
"Oh itu, soal itu sudah di jawab Mama mu, dia tidak kenal Bos Geng Tiger itu, pertama kali ketemu ya waktu di ruang ICU, begitu katanya". jelas Ihsan.
"Nah, betul kan apa kataku, gak mungkin Mama kenal sama penjahat itu!" Ucap Dara puas bahwa perkiraannya benar.
"Kamu puasa Dara?" Tanya Ihsan mengalihkan pembicaraan. Ihsan mendekat dan duduk di samping Dara.
" Alhamdulillah masih, kenapa memangnya?" jawab Dara sambil bertanya kembali.
"heemmm,kamu itu lagi sakit, sedang terluka, kenapa masih puasa!?" jelas Ihsan
"memang nya kenapa, kan yang sakit kening aku, bukan perut aku!" Jawab Dara membantah Ihsan.
"anak bandel, imut-imut tapi kuat juga ya!" Ucap Ihsan meledek Dara sambil mengusap kepala Dara yang tertutup kerudung.
"Ih..emang Aku anak kecil apa!" Jawab Dara manja lalu mengambil tangan Ihsan yang sedang memegang kepalanya.
Mereka tertawa dan tak sadar tangan mereka saling bersentuhan tanpa ada pembatas yaitu sarung tangan yang biasa Dara pakai.
Tangan mereka saling menggenggam erat. Seakan tak bisa lepas.
"DEG!" jantung Ihsan berdetak kencang. Perasaan Ihsan pada Dara yang terpendam begitu lama, sepertinya tak bisa di sembunyikan lagi.
Begitu pula Dara, mata mereka saling berpandangan.
Tanpa sadar Ihsan semakin mendekat, wajahnya yang ganteng itu mulai mendekati wajah Dara yang tertutup cadar.
Dara terdiam seperti mematung, jantungnya makin berdegup kencang.
"Astaghfirullah!" Ihsan tersadar ketika melihat dekat cadar Dara.
"Maafkan aku !" Ucap Ihsan merasa malu dan kikuk.
"Aku permisi !" Ucap Ihsan yang langsung berpaling dari Dara dan berjalan keluar kamar.
Dara menatap Ihsan dengan penuh rasa malu.
"apa yang barusan saja terjadi!?" Dara tak menyangka, hatinya terpaut begitu cepat oleh tatapan mata Ihsan yang lembut.
" Astaghfirullah!" Dara mengusap dadanya.
" Ada apa Dara?" Tanya Mama Dara yang tiba-tiba masuk kamar dan melihat Dara sedang mengelus-elus dadanya sendiri.
"Kenapa, apa dadamu sakit, apa terasa sesak?" Tanya Mama Dara khawatir.
"enggak Ma, dada ku baik-baik aja, hanya tadi jantung ku sempat berdetak sangat cepat". Jawab Dara sambil teringat kejadian tadi.
"gak usah Ma... aku baik-baik aja!" Jawab Dara meyakinkan Mamanya.
Ihsan berjalan di lorong rumah sakit mencari toilet.
"Maaf pak, toilet di mana ya?" Tanya Ihsan pada orang yang lewat.
"belok kiri mas!" Jawab singkat orang itu.
Sesampainya di toilet, Ihsan mencuci muka nya berkali-kali. Orang lain yang melihatnya sampai keheranan.
Kerah baju kemeja biru Ihsan sampai basah terkena cipratan air.
Ihsan menghela nafas, tangan nya memeriksa jantungnya yang masih berdegup kencang.
"gila kamu, sadarlah, dia Dara dan yang dia sukai adalah Axel, bukan kamu Ihsan!" Ucap Ihsan di depan kaca sembari mengusap wajahnya yang basah kuyup.
"apa yang aku pikirkan, kalau begini aku jadi malu bila bertatapan dengan Dara!" Ucap Ihsan kesal pada dirinya sendiri.
Ihsan mengambil hp dari saku celananya, dia hendak menelpon seseorang.
"Assalamualaikum Ummi, Ummi lagi apa di rumah?" Tanya Ihsan lewat telp
"wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh, eh Ihsan, Ummi lagi di dapur masak buat buka puasa, kamu sudah sampai nak?" Tanya Ummi kembali
"Alhamdulillah sudah Ummi". Ihsan menjawab sambil berjalan keluar toilet.
"Ummi, boleh aku bicara sebentar?" Tanya Ihsan yang sepertinya ingin curhat sama Ustadzah, ibu angkat yang sudah mengurus Ihsan sejak Ihsan berusia 5 tahun.
"Iya nak, bicaralah, Ummi akan dengarkan!" Jawab Ustadzah lembut.
"Ummi ... apakah normal bila ada laki-laki yang tiba-tiba jantungnya berdetak kencang di dekat seorang wanita?" Tanya Ihsan polos.
Meskipun Ihsan seorang Dosen muda namun dia belum pernah merasakan jatuh cinta pada seorang gadis.
Ustadzah yang mendengar itu tersenyum simpul.
"Pada wanita yang mana jantung mu berdetak kencang Ihsan?" Tanya Ustadzah
"seorang wanita bercadar Ummi ". Jawab Ihsan yang tak sadar menjawab jujur pertanyaan Ustadzah yang menjebak.
Ustadzah mendengar itu kembali tersenyum.
"Eh.. loh kok jadi saya sih Ummi! maksud ku laki-laki lain, ada laki-laki yang bertanya pada ku Ummi !" Jawab Ihsan terbata-bata wajahnya memerah karena malu.
"Ihsan, anak ku yang gagah, tak usah malu sama Ummi, coba ceritakan lagi apa yang membuat jantung mu berdegup kencang? ayo cerita aja gak apa-apa!" Bujuk Ustadzah pada anaknya agar mau bercerita tanpa rasa canggung.
"Aku hampir mencium seorang wanita Ummi, dan lebih gilanya ...Astaghfirullah..dia itu wanita bercadar! Alhamdulillah nya aku cepat sadar Ummi, Maafkan Ihsan Ummi, begitu lemah Iman Ihsan". Jawab Ihsan sambil tertunduk sedih bercampur malu.
"Alhamdulillah ya Allah Ihsan, itu namanya Iman mu kuat nak, kamu bisa menolak godaan nafsu, lalu tersadar, Itu hebat sayang!" Jawab Ustadzah dengan bangga.
"Nak, tidak ada manusia yang sempurna, kamu bukan malaikat yang tidak memiliki hawa nafsu, jadi wajar jika kamu tertarik dengan lawan jenis, pasti wanita itu cantik kan?" Ungkap Ustadzah menjelaskan pada Ihsan agar tidak berkecil hati.
"Bersyukurlah Pada Allah, Allah masih menjaga mu dari perbuatan zina, Sekarang pulang lah, dan istirahat di rumah, ya nak ". Pinta Ustadzah pada Ihsan untuk segera pulang.
"Terimakasih Ummi, mendengar tausiah Ummi hatiku jadi tenang sekarang". Jawab Ihsan dengan mata berkaca-kaca.
" Iya Ummi, aku akan pulang segera". Jawab Ihsan lalu mengucapkan salam dan mematikan Hp nya.
"Aku harus pamit dulu, tapi..HUF..!" Ihsan menarik nafas panjang, dia masih merasa malu bertemu dengan Dara.
"Assalamualaikum". Ihsan masuk kamar Dara.
"wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh" jawab Dara.
'wa'alaikumsalam" jawab Mama Dara
"Bu, saya pamit, mau langsung ke pondok pesantren !" Ihsan mendekati Mama Dara dan salim.
"Hati-hati ya nak Ihsan, salam sama Ustadz dan Ustadzah ya!" Jawab Mama Dara.
"Dara, aku pamit ya ". Ucap Ihsan yang masih terasa canggung tak mampu menatap mata Dara.
Dara menjawab Ihsan hanya dengan mengangguk kan kepalanya, mulutnya tak mampu bicara.
Mama Dara melihat mereka berdua yang bertingkah aneh itu jadi bertanya-tanya.
"Ada apa dengan mereka? apa mereka tadi habis bertengkar?" pikir Mama Dara sambil tersenyum pada Ihsan yang pamit pergi.
Dara hanya menatap punggung Ihsan tegap yang perlahan menjauh pergi.