Dara Manisku

Dara Manisku
Perkenalan Dara dan Dery



Axel menantikan di dalam mobil dengan cemas, Sudah satu jam Ihsan pergi menjemput Dara namun tidak kunjung datang.


"Kenapa mereka belum datang juga!?"


"Apakah terjadi sesuatu?".


Suara telp berdering, Axel melihat ke layar handphone ternyata itu telp dari Ihsan.


"Mas, kenapa lama banget! ada apa ?" Tanya Axel


"Rencana di batalkan!" Jawab Ihsan


"Apa! maksudnya bagaimana!?" Tanya Axel tidak faham.


"Keadaan sudah berbalik, semua aman, jadi kamu masuk lah kesini". Ungkap Ihsan.


"Serius nih, yakin dah aman!?" Tanya Axel tidak percaya.


"Aku dan Dara sedang di loby rumah sakit, kamu datanglah ke sini, aku tunggu!" Ucap Ihsan.


Telp terputus, Axel terlihat tak percaya dengan apa yang dia dengar barusan. Axel turun dari mobil dan berjalan perlahan sambil mengawasi sekitar parkiran.


Axel mulai masuk ke dalam rumah sakit dan menekan tombol lif, sesekali dia menengok ke kanan dan ke kiri.


"Aneh, kelihatannya memang sudah aman, apa yang terjadi? kemana mereka semua?" Ungkap Axel.


Axel melangkahkan kaki nya masuk ke dalam lif.


Di loby rumah sakit, Dara dan Ihsan sedang duduk berdua. "Dara, kamu sudah makan?" tanya Ihsan.


"Alhamdulillah sudah, kamu?" Jawab Dara kembali bertanya.


"Alhamdulillah, aku juga sudah, tadi buka puasa pakai apa?" tanya Ihsan lagi.


"Teh manis dan roti". Ucap Dara.


Kemudian Dara mulai bercerita.


"Kamu tahu, dulu jam segini aku baru keluar rumah untuk bekerja di klub malam, lalu baru pulang setelah Subuh".


"Hari-Hari berputar begitu terus, hingga suatu saat aku harus tampil di depan Bos klub malam yaitu Bos Geng Tiger".


"Dia menatap dengan penuh nafsu dan mulai memintaku mendekat, tubuh ku gemetar ketakutan, aku tidak berdaya".


Dara bercerita sambil meneteskan airmata.


"Lalu si Bos membawaku ke rumah nya, aku pikir ini lah akhir hidupku, aku berencana bunuh diri di depannya bila Bos macam-macam dengan ku".


"Tapi syukurlah, itu tidak terjadi, aku hanya di suruh istirahat, aku di kurung di rumahnya selama tiga hari, selama itu aku hanya mengikuti serangkain tes kesehatan dan tes-tes medis lainnya".


"Aku gak faham kenapa para Dokter melakukan tes kesehatan pada ku, apakah Bos menginginkan wanita yang sehat dan baru bisa menidurinya?"


"Kemudian tak berapa lama, aku di bawa kerumah sakit, dan aku masuk ke dalam ruang operasi, disana aku benar-benar ketakutan, aku melawan! aku gak mau di bius, aku lari dengan mengancam akan bunuh diri dengan pisau bedah".


"Kamu ingat malam tahun baru dua tahun lalu, ketika kamu memberikan aku payung hitam, Ya....ya itu adalah hari dimana aku baru saja kabur dari jeratan Bos Geng Tiger". Ungkap Dara pada Ihsan.


Ihsan dengan lembut mengusap airmata Dara dengan saputangan nya.


"Dimana cadar mu, kenapa pakai masker bukannya pakai cadar?" Tanya Ihsan sembari menyapu airmata Dara.


"Ada, aku simpan, aku panik berusaha mengelabui anak buah geng Tiger dengan mengganti cadar ku dengan masker ini". Jawab Dara.


Axel tiba di loby rumah sakit, dan mencari Dara, namun langkahnya terhenti, dia melihat Dara yang sedang duduk bersama Ihsan berdekatan, dengan posisi kepala Ihsan menutupi wajah Dara.


"Hey...apa yang sedang kalian lakukan!" Axel berteriak.


Dara dan Ihsan pun terkejut mendengar suara teriakan Axel.


Axel pun mendekat dan ternyata dia salah faham dengan apa yang dia lihat tadi.


"Apa...ada apa Axel!?" Tanya Ihsan terkejut.


"Memangnya apa yang aku lakukan dengan Ihsan?" tanya Dara pada Axel.


Axel jadi salah tingkah wajah nya yang putih berubah jadi pink. Axel menahan malu dengan menggaruk-garuk kepalanya.


"hmmm...enggak..gak ada apa-apa, hehehe". Jawab Axel sambil tertawa.


"Duduk sini Xel!" Dara meminta Axel untuk duduk di sampingnya.


Axel duduk di samping Dara dengan senang hati, kerinduannya pada Dara seakan sudah terbayar.


"Kenapa rencana kita jadi batal, memang nya ada kejadian apa?" tanya Axel.


"Sepertinya Bos Geng Tiger itu sudah bosan mengejar Dara". Ihsan menjawab pertanyaan Axel dengan melemparkan senyuman.


"Bosan? ...aaahhh.. ya sudahlah, apapun itu yang penting sekarang Dara sudah bisa hidup dengan tenang, iya kan Dara?" Ungkap Axel menatap Dara.


"Terimakasih ya Axel, Ihsan, kalian sahabat-sahabat ku yang paling setia, terimakasih, aku sayang kalian berdua". Ungkap Dara sambil tersenyum pada Ihsan dan Axel.


Ke esokan harinya di kamar pasien VVIP, Dery sedang duduk di kursi rodanya sembari menatap keluar jendela rumah sakit.


Di temani Zack orang kepercayaan Ayahnya.


"Aku keluar sebentar, jangan kemana-mana, mengerti!" Zack keluar kamar dan meninggalkan Dery sendirian.


Lalu Dery melihat ke arah meja ada beberapa lembar amplop coklat besar tergeletak. Dery mendekati meja dan mengambil amplop itu dan mulai membukanya.


Ternyata di dalam amplop itu terdapat data pendonor untuk operasi tulang nya, dan tertera nama Dara di dalamnya.


"siapa nama anaknya suster?"


Teringat Dery dengan pertanyaan ayahnya pada suster ketika suster sedang membantunya naik ke atas tempat tidurnya.


Dan akhirnya suster menjawab pertanyaan Ayahnya.


"Dara..namanya mba Dara, pak".


Dery faham Sekarang, Dara yang sering di sebut-sebut ayahnya, adalah Dara yang sama dengan Dara di ruang ICU kemarin.


Dery bergegas keluar kamarnya, dia melajukan kursi roda nya ke ruang ICU. Namun di sana tidak ada Dara, hanya ada pasien.


Dery berniat kembali ke kamarnya, namun dia melihat kembali ke arah jendela ruang ICU, Dery menatap wajah pasien itu.


Dery seperti mengenal wajah itu, maka Dery dengan penasaran mulai membuka pintu ruang ICU perlahan.


"Siapa dia, sebaiknya aku masuk saja". Dery menengok ke kanan dan ke kiri terlihat sepi, maka Dery pun masuk ke dalam ruang ICU.


Dery mendekati Mama Dara, lalu memandangi wajahnya dengan seksama.


"wajah ibu ini, dimana aku pernah melihatnya, siapa dia, mengapa aku seperti pernah melihat wajahnya?" Ungkap Dery dalam hati.


Mama Dara tersadar bahwa ada seseorang yang sedang berada di sampingnya, perlahan Mama Dara membuka matanya.


Mama Dara terlihat sangat terkejut, dia mengenali wajah laki-laki yang berada di sampingnya itu.


Kemudian Mama Dara perlahan menyentuh tangan Dery.


Dery tak menyangka ternyata pasien koma ini sudah sadarkan diri. Dery membiarkan tangan nya di sentuh oleh Mama Dara.


"Apa kamu mengenal aku?" Tanya Dery pada Mama Dara.


Mama Dara tersenyum sambil meneteskan airmata, dia berusaha ingin mengatakan sesuatu pada Dery.


Dery pun berusaha mendekat lagi agar bisa mendengar suara Mama Dara.


Tiba-tiba Dara masuk ke dalam ruang ICU.


"Hey...siapa kamu!" teriak Dara panik. "Jangan dekati Mama ku!"


Dara langsung menarik kursi roda Dery dan menjauhkannya dari Mamanya.


"Kamu sedang apa di dalam sini?" tanya Dara pada Dery.


"Maaf...aku hanya sedang jalan-jalan dan ingin tahu bagaimana keadan Mama mu". Jawab Dery terbata-bata.


"Aku permisi". Dery berbalik ke arah pintu ruang ICU.


"Mama gak apa-apa?" Tanya Dara pada Mamanya, dia khawatir Dery berniat menyakiti Mamanya.


Mamanya Dara memberikan kode dan berbicara pelan pada Dara.


"Aku baik-baik saja Dara, dia tidak berniat apa-apa, jangan marah pada nya, ya". Ucap Mama Dara terbata-bata.


Dara menatap Mamanya, dan merasa bersalah pada Dery telah menarik kursi roda nya dengan sangat kasar.


"Syukurlah Mama tidak apa-apa". Ucap Dara.


Dara kemudian keluar dari ruang ICU, dan perlahan berjalan menuju kamar pasien VVIP itu.


"Aku harus minta maaf padanya, karena sudah berbuat kasar". Bisik Dara dalam hati sambil membuka pintu kamar Dery.


Dara berhenti dipintu dan melihat Dery sedang duduk di kursi rodanya sembari menatap keluar jendela rumah sakit.


"Assalamualaikum... permisi". Ucap Dara pelan.


Dery membalik kan kursi rodanya dan melihat Dara sudah berdiri di depan pintu kamarnya.


"Hai... masuklah!" Jawab Dery.


Dara perlahan masuk ke dalam kamar Dery, dan melangkah sedikit mendekat ke arah Dery.


"Aku ..Aku minta maaf.. tadi sudah kasar sama kamu, Maafin aku ya?" Ucap Dara.


Dery menatap Dara dan mendekati Dara.


"Duduklah, mau minum apa?" Ungkap Dery sembari melajukan kursi roda nya ke arah kulkas.


"ooh.tidak usah repot, aku sedang puasa!" Jawab Dara.


"Oh ...ya sudah kalau begitu, silahkan Duduk!" Dery berbalik dan mempersilahkan Dara duduk.


"Baiklah, tapi saya ke sini cuma ingin minta maaf, aku gak bisa lama-lama". Ungkap Dara sambil duduk.


Dery tersenyum dan mengulurkan tangannya dan memperkenalkan diri.


"Aku Dery!" Ucap Dery


Dara menyambut tangan Dery dan berjabat tangan.


"Aku Dara, sekali lagi aku minta maaf ya". Jawab Dara


Mereka menatap sambil saling tersenyum.


Sedangkan di depan pintu kamar pasien VVIP saat itu, ada Bos Geng Tiger yang berdiri mematung menyaksikan anak nya sedang berjabat tangan dengan Dara.


Apakah yang terjadi selanjutnya, apa respon Ayahnya Dery setelah melihat Dery sudah mulai akrab dengan Dara?