Dara Manisku

Dara Manisku
Dekat namun terasa jauh.



Dery berhasil membuat dirinya aman dari kejaran anak buah geng Tiger. Namun Dery tak tahu apa rasa aman ini bisa bertahan lama.


Tak mungkin dirinya terus-terusan berada di dekat Dara.


Hari sudah semakin malam, Keluarga Ihsan dan Axel hendak pamit pulang.


Ihsan mengajak Dara berbicara empat mata di sudut kamar.


"Kamu yakin Baik-baik saja bersama orang itu di sini? aku gak akan pulang sebelum aku tahu kamu aman di sini Dara!" Ungkap Ihsan khawatir dengan keselamatan Dara.


"Tenang lah Ihsan, kamu pulang lah, aku baik-baik saja di sini, Dery bukan orang jahat, aku yakin itu". Jelas Dara meyakinkan Ihsan.


"Aku akan tetap di sini, lagian aku ke Surabaya memang untuk menemui mu Dara!" Jawab Axel datang menghampiri dan menyela obrolan antara Ihsan dan Dara.


"Kamu gak ikut balik ke pondok? Tanya Ihsan pada Axel.


"enggak, aku mau di sini sama Dara, Cafe ku bisa menunggu beberapa hari lagi!"Jawab Axel sembari menatap Dara.


"Baiklah, karena ada Axel yang menemani mu Dara, aku tenang". Ucap Ihsan sambil menepuk bahu Axel.


"Kami pamit pulang dulu ya, Mama Dara....Mohon maaf bila kehadiran kami mengganggu istirahat Mama Dara ya". Ucap Ustadzah sambil tersenyum pada Mama Dara yang menggenggam tangan Ustadzah akrab.


"Bila ada apa-apa, jangan sungkan untuk menghubungi kami ya Dara!" Ucap Ustadz Abu pada Dara.


"ooo iya Dara, kamu harus lanjutkan belajar agama di pondok ya, masih banyak yang harus kamu pelajari tentang Islam Dara!" Ucap Ustadzah pada Dara mengingatkan agar Dara segera melanjutkan kegiatan nya di pondok pesantren Al Ihsan seperti biasa.


" Baik Ummi, sewaktu-waktu jika Mama sudah bisa di tinggal, aku akan mampir ke pondok belajar lagi sama Ummi dan Abi". Dara menjawab dengan senang hati.


Ustadzah memeluk Dara hangat, "Ummi pamit ya sayang, kamu gadis yang kuat, sholeha, semoga kamu selalu istiqomah dalam keimanan mu ya!" Ungkap Ustadzah lembut mendoakan Dara sembari memegang pipi Dara yang tertutup cadar.


"Aamiin...Terimakasih Ummi doa nya". Dara mencium tangan Ustadzah dengan tulus.


"Aku akan telp kamu ya, kalau sudah sampai pondok!"Ucap Ihsan pada Dara.


Dery melihat dengan tatapan Iri, menyaksikan Dara yang di kelilingi oleh orang-orang yang penuh kasih.


"Andai saja waktu itu aku memilih ikut bersama Mama, mungkin hidup ku tidak akan seperti ini!" Bisik Dery.


22 tahun yang lalu di sebuah gedung kosong, Dery dan Putri sedang tertidur pulas di pangkuan Mamanya.


"Dery...! Ayo bangun sayang, kita harus pergi dari sini nak !" Ucap Mama berbisik pelan, sambil membangun kan Dery.


"hmm..mama kita mau kemana?" Tanya Dery sambil mengusap kedua matanya yang masih mengantuk.


"Kita mau pulang sayang, kita pulang ke rumah kita ya". Ucap Mama pada Dery sambil menggendong putri yang masih bayi.


"Dery..ayo bangun..cepat..ayo!" Mama Dery kala itu berusaha membangunkan Dery yang tertidur lagi.


Dery akhirnya di paksa bangun dengan mengangkat tubuh Dery yang kecil saat itu.


"Ayo berdiri!" Ucap Mama Dery


Mama berjalan mengendap-endap sembari menggandeng tangan mungil Dery.


Dia tidak ingin sampai membangun kan Suaminya yang tertidur sembari memeluk senjata.


Sedangkan temannya juga tertidur pulas di kursi menghadap jendela gedung yang tak berkaca.


Mama Dery berjalan menuruni tangga perlahan, namun mendadak Dery terpeleset sampai jatuh terguling di tangga lalu menjerit. "aaaaa..!"


"Dery!" jerit Mamanya pelan, Sambil menahan suaranya dengan menutup mulutnya sendiri khawatir ketawan.


Mama Dery berlari menuruni tangga menghampiri Dery.


"Ssssstt...tidak apa-apa, tenang jangan berisik Dery, anak kuat". Ucap Mama Dara berusaha menenangkan Dery.


Mama mencoba membantu Dery berdiri, tapi Dery saat itu yang baru berusia 3 tahun menjerit kesakitan.


Kakinya tak mampu berdiri, disaat Mama Dery panik melihat keadaan anaknya.


Suaminya dan temannya terbangun mendengar jeritan Dery. Lalu bergegas berlari mencari dari mana arah suara itu berasal.


"Heyyyyy!" teriak suaminya. Sembari mengarahkan tembakan kelangit-langit.


"Dorr!" suara tembakan mengagetkan Mama Dery.


Mama Dery panik, dia berusaha menggendong Dery yang terus saja menangis.


"ayo nak, kamu harus kuat!" Ucap Mama Dery berusaha menggendong kedua anaknya.


"Berhenti, atau aku tembak!" Teriak suami pada Mama Dery.


Kemudian Mama Dery terdiam. Teman suaminya turun dan mengambil Dery dari pelukan Mamanya.


Suaminya mendekati Dery dan melihat Dery sedang kesakitan.


Ayahnya langsung menggendong Dery.


Melihat itu Mama Dery mundur perlahan dan berlari menjauh.


"Hey, berhenti!" teriak teman suaminya.


"Dorr!" Ayahnya Dery menembak ke arah istrinya sendiri sambil menggendong Dery. Namun tembakan nya meleset mengenai dinding yang di lewati Mama Dery.


Dery memeluk ayahnya erat karena takut mendengar suara tembakan yang sangat keras.


"Sial!"Ucap Ayahnya Dery.


Itulah sekilas kenangan terakhir Dery yang tersisa dalam benaknya tentang Mama dan adik nya.


Kini walaupun Dery berada dekat dengan Mama nya, tetap saja dia tidak mengenalinya.


"Hai...kok bengong!"Tegor Dara pada Dery.


"Eh..Enggak, mmm...Mereka Baik banget sama kamu ya?" Dery tersadar dari lamunannya, dan berbalik bertanya pada Dara.


"Iya, Alhamdulillah aku sangat bersyukur". Jawab Dara sambil berjalan ke arah Jendela hendak menutup tirainya.


"Iya, ada apa ? Tante memanggil saya ?" Tanya Dery melihat Mama Dara yang tiba-tiba melambaikan tangannya memanggil Dery.


Dery lalu memutar kursi rodanya menghampiri Mama Dara.


"Tante butuh bantuan, apa tante mau minum?" Tanya Dery berusaha memahami apa yang di butuhkan Mama Dara.


"Apa benar namamu Dery?" Tanya Mama Dara pelan.


"Iya Tante, namaku Dery!" Jawab Dery.


"kemari, mendekatlah, aku ingin melihat mu dari dekat". Ucap Mama Dery.


Axel yang duduk memandangi Dara yang sedang menutup jendela, seperti ingin mengatakan sesuatu.


"Dara duduk lah sini, sudah lama aku gak ngobrol sama kamu". Ucap Axel sambil meminta Dara duduk di dekatnya.


"Iya sebentar !" Jawab Dara yang sedang menata tirai jendela.


"Kaya dah puluhan tahun aja gak ketemu aku Xel!" jawab Dara


Dara tersenyum di balik cadarnya sembari duduk di samping Axel.


"Hmmm..emang kamu gak kangen sama aku?" Tanya Axel nalu-malu dengan suara pelan.


"aaaa.. kamu ngomong apa barusan?" Tanya Dara yang perhatiannya sedang tertuju pada Dery yang terlihat akrab dengan Mamanya.


"Hmmm sudah jauh-jauh kesini di abaikan!" Jawab Axel sedikit kesal melihat Dara tidak memperhatikannya.


"Eh iya ..maaf, hahaha..!" Ucap Dara.


"Ah jangan pasang muka gitu dong, katanya tadi kangen sama aku?" Ungkap Dara berusaha menghibur Axel yang ngambek karena merasa di cuekin.


Axel menatap lembut Dara, Dara pun merasa dada nya berdegup kencang.


"Aku benar-benar senang bisa ketemu lagi sama kamu Dara!" Jawab Axel tiba-tiba menjadi romantis sembari menyentuh tangan Dara.


"mmm...Aku juga Axel". Dara menjawab malu-malu dengan menarik tangan nya menjauh dari tangan Axel.


" Bagaimana rasanya tinggal di pondok pesantren Xel?" Tanya Dara mengalihkan pembicaraan.


"Hmmm.. ya begitulah, tentu lebih nyaman di apartemen ku sendiri". Jawab Axel merasa tidak enak karena membuat Dara jadi canggung di dekatnya.


"Dery, berapa usia mu sekarang?" Tanya Mama Dara.


"bulan Mei nanti usia ku sudah 25 tahun tante". Jawab Dery sambil tersenyum.


"usianya sama dengan anak ku Dery!" Ucap Mama Dara dalam hati.


" Kalau Dara bulan juni baru berusia 22 tahun". Ungkap Mama Dara.


"Apa kamu juga dirawat di sini nak?" Tanya lagi Mama Dara pada Dery.


"Iya , tadi nya...tapi Ayah memaksa ku untuk pindah rumah sakit lagi, huf!" Jawab Dery sembari menghela nafas.


"lalu apa pendapat ibu mu? apa dia setuju kamu pindah rumah sakit?" Tanya Mama Dara lagi mengorek informasi tentang ibunya Dery.


"Aku gak punya ibu, Dari kecil aku diurus sama ayah, aku gak tahu dimana ibu ku!" Jawab Dery dengan wajah tertunduk sedih.


"Apa mungkin dia Dery ku?" Tanya Mama Dara dalam hati.