CEO And The Twins

CEO And The Twins
Makan Siang Bersama



Keduanya turun, Ian dan Noura. Wanita itu menyambut kedua orang tuanya dengan senyum lebar. "Ibuuu, Ayah ...." Ia memeluknya satu-satu. "Vika, Mas Deni." Ia melirik keduanya yang berdiri di belakang orang tuanya.


"Ayo, aku perlihatkan rumah ini," ujar Ian yang berdiri di samping istrinya. Ia memberi tahu bahwa rumah besarnya terdiri dari banyak kamar dengan beberapa yang difungsikan selain kamar tidur, seperti ruang kerja, ruang olahraga dan ruang sholat. Ia juga memberi tahu letak dapur sambil melangkah ke pintu belakang rumahnya. Di sana ada sebuah kolam renang dan sebuah taman yang cukup luas. "Ya, beginilah rumahku. Dibangun berdasarkan fungsi jadi tidak mewah," terangnya.


Ya, walaupun rumah itu besar, karena berdiri diatas tanah yang sangat luas, didesain minimalis sehingga terlihat sangat nyaman untuk ditinggali dan tidak rumit.


Telinga Vika terasa panas. Ia tahu, Ian tengah menyerangnya. Pria itu pun meliriknya dengan seringai lebar. "Boleh dong lihat kamar-kamarnya?" sela Vika seraya melirik sinis.


"Oh, ya ngak boleh begitu Vika. Itu area pribadi," ujar Ibu menasehati.


"Oh, tidak apa-apa, Ibu. Boleh kok. Kamar-kamarnya ada di lantai atas," Ian yang kesal dengan ucapan Vika berusaha tersenyum dan segera menggiring tamu-tamunya ke lantai atas dan langsung membawanya melihat kamar. "Ini kamar kami, Bu, Yah." Ia membukakan pintu.


Mereka hanya mengintip dari luar ke arah dalam.


"Lalu ini kamar siapa? Lho kok ada yang huni?" Vika ternyata dengan lancang membuka pintu kamar di samping. "Ini kamar Noura ya?" Ia melihat alat make up Noura di atas meja.


"Oh, i-itu ...." Noura panik dan melirik pada Ian.


"Oh, dia memang punya dua kamar." Ian mengambil alih pembicaraan. "'Kan kamar mandi kami cuma satu? Kalau tiba-tiba ingin ke kamar mandi bersamaan, 'kan tidak mungkin?" Ia masuk ke dalam kamar dan membuka lemarinya sehingga terlihat ada tumpukan baju wanita dan pria dan juga pada rak gantungnya.


"Mungkin setelah ini aku akan membeli lemari khusus untuk Noura, tapi rencananya ke depan, aku mau bongkar kamar di sebelah itu untuk kloset pakaian kami berdua daripada mempersempit kamar kami dengan lemari baru," terangnya lugas.


Ibu melirik ke samping. "Sepertinya banyak kamar tamu. Bolehkah, Ibu sekali-sekali datang dan menginap di sini kalau Ayah sedang menginap di luar kota?"


Kini Ian panik, Noura pun bingung dan melirik suaminya.


Wanita itu, yang kini tengah melingkarkan tangannya di lengan ibunya, tidak mau disalahkan Ian karena telah lancang menjawab pertanyaan yang hanya suaminya yang tahu.


Vika tersenyum mendengar ide Ibunya. Wanita itu tahu ibunya sangat dekat dengan Noura.


"Oh, tapi kalau merepotkan, tidak usah, tidak apa-apa." Ibu segera menjawab.


"Oh, tidak apa-apa kok Bu, tidak apa-apa. Malah aku senang Noura ada yang menemani di rumah karena aku sering lembur di kantor," jawab Ian cepat. Ia tahu hanya kalimat itu yang bisa menyelamatkannya kali ini.


"Terima kasih Ian, Ayah titip Ibu kalau Ayah keluar kota." Ayah malah menitipkan istrinya pada mereka berdua.


Ian menghela napas pelan. Berarti kehidupan sehari-hari, akan sedikit banyaknya dipantau orang tua istrinya. Kepalanya pening seketika.


"Ibu, kenapa Ibu gak mau tinggal denganku saja?" tanya Vika pura-pura peduli.


"Kamu dan suamimu selalu lengket ke mana-mana. Kalau tak bersama suami, kamu malah sibuk jalan-jalan entah ke mana. Beda dengan Noura. Dia selalu di rumah bila tak bekerja," terang Ibu.


"Ah, ok. Sebentar lagi jam makan siang. Bagaimana kalau kita semua ke bawah. Di bawah kita bisa sholat bersama karena ada ruang khusus untuk sholat berjamaah." Ian berusaha menyudahi percakapan yang mulai memusingkan kepalanya ini.


"Oh, ya. Ok," sahut Ayah.


Kembali rombongan turun secara bersama-sama. Mereka mendatangi ruang tengah di mana ada meja makan dan sofa yang dilengkapi dengan televisi. Sebagian duduk di kursi sofa.


Mata wanita itu berkaca-kaca.


"Jangan menangis!" ucap Ian dengan suara tertahan. Ia bahkan menggigit kepalan tangannya sendiri di belakang punggung istrinya. Pria itu berusaha menahan amarah.


Keduanya tidak tahu bahwa gerak-geriknya diperhatikan Vika dari jauh. Wanita itu sedang menanti kecurigaannya beralasan. Saat tepat ia melihat mata kembarannya sedang berkaca-kaca ....


Ian juga melihatnya. Secepat kilat pria itu mengecup pelipis Noura hingga membuat wanita itu terkejut. Pipinya memerah.


Pria itu menyatukan kepala mereka. "Maaf, tidak seharusnya aku bicara begitu di hadapan keluargamu. Maaf," ujarnya dengan suara lembut. Ah, aku lupa lagi, Noura bukan Vika. Dia gampang menangis! "Maafkan aku ya?" Ia menatap kedua bola mata yang berada dibalik kacamata itu.


Walaupun sedikit canggung, Noura mengangguk pelan. Tentu saja pipinya memerah karena untuk pertama sang suami menciumnya. Ia bingung karena acap kali Ian berubah seperti saat ini. Entah tokoh apa yang sedang dimainkannya kini, tokoh jahat atau tokoh baik.


"Coba kau periksa makanan di dapur agar tak ada yang melihatmu menangis." Kembali Ian memberi kecupan di kening.


Pipi Noura kembali merona. "Mmh." Sedikit canggung wanita itu segera melangkah ke dapur. Vika memperhatikan Noura.


Ian kembali pada keluarga istrinya. "Ada yang mau teh atau kopi, mungkin? Atau mungkin minuman dingin?"


Noura di dapur sedang menenangkan hatinya. Rasanya berdebar-debar. Ia mengipasi wajahnya karena gerah dan pipinya masih memerah.


Suamiku menciumku tadi ... dua kali. Wanita itu senyum dikulum, membayangkan. Ah, Noura. Betapa bodohnya kamu. Hanya dengan diberi kecupan saja kamu sebegitu bahagianya sampai lupa ia sempat membentakmu tadi.


Ah, tak apa. Hal kecil ini membahagiakanku. Tiap orang punya cara yang berbeda untuk bahagia. Aku 'kan penganti baru, jadi kalau aku cukup bahagia dengan hal-hal seperti ini, orang pasti makluminya 'kan?


Lagipula, mungkin saja ia berubah pikiran tentang malam pertama. Noura tersipu-sipu dengan pemikirannya sendiri.


Setelah sholat berjamaah, mereka pun makan siang bersama. Noura mengambilkan makanan untuk suaminya, begitu pula ibu pada ayah. Hanya Vika dan suaminya yang mengambil makanannya sendiri-sendiri.


"Terima kasih Noura," ucap Ian sambil menunggu.


"Noura, kamu buat gado-gado ya?" tanya ibu.


"Iya, kan banyak yang suka Bu." Noura meletakkan piring yang sudah berisi steak ke hadapan suaminya. Pria itu terlihat bersemangat.


"Mmh ...," kata pria itu dengan mata bercahaya, memotong dan mengunyahnya. "Rasanya tidak cukup satu, Sayang."


"Iya, masih ada kok, kalau mau tambah lagi." Noura tersenyum lebar.


"Aku boleh coba?"


Keduanya melirik ke piring Deni.


"Pakai nasi?" tanya Ian heran.