CEO And The Twins

CEO And The Twins
Cinta Atau Luka?



Ini benar-benar di luar dugaan. Bukankah suaminya menikahinya karena taruhan, tapi kenapa kini statusnya berubah? Apa dia kini mulai menyukaiku?


Saat Ian menjeda ciuman hangatnya, Noura berusaha mengatur napas seraya bertanya, "apa kau berubah pikiran?"


"Apa?" Napas pria itu pun tersengal-sengal. "Noura, jangan buat aku bingung dengan pertanyaanmu."


"Kau yang membuat aku bingung. Aku tidak tahu apa yang kau lakukan? Kau sebenarnya, maunya bagaimana?"


Ian kini menatap wanita di hadapannya. Lembut. Tidak biasanya ia memandang Noura seperti itu. Kemudian ia mencoba membuka jilbab istrinya itu.


Dalam kebingungan, Noura membantunya dan Ian membuangnya ke lantai.


"Aku hanya penasaran," jawab pria itu.


"Mmh?" Bola mata Noura kembali menatap suaminya.


"Kau kan istriku," terang pria itu.


Noura masih mendengarkan kalimat suaminya yang diucapkan sepotong-sepotong.


"Ah, sudahlah!" Pria itu seperti menyerah menerangkannya dan lalu menunduk. Kemudian ia mengangkat kembali kepalanya dan menatap wanita itu. "Kau tak ingin melakukannya, 'kan?" Ia juga tak ingin memaksa wanita itu walaupun tahu ia telah menikahinya. Karena Noura mempertanyakannya, ia makin bimbang.


"Bu-bukan begitu maksudku." Noura merasa bersalah karena merasa telah menolak suaminya. Dilihatnya pria itu terdiam. Ia makin merasa berdosa. Bukankah ia juga ingin tidur bersama suaminya?


Tiba-tiba Ian menggerakkan tubuhnya maju ke depan, membuat Noura terkejut dan mundur ke belakang. Wajah mereka kembali berdekatan, tapi pria itu hanya diam dan menatap istrinya. Menatap lekuk-lekuk wajahnya, matanya, bibirnya.


"Ka-kamu mau apa, bikin kaget saja," gumam Noura kesal karena sempat terkejut.


"Bisa tidak kau tidak bicara, kata-katamu selalu membuatku bingung."


"Apa? Apa maksudmu?"


"Just shutted up and feel.(Tutup saja mulutmu dan rasakan)"


"Mmh?"


Pria itu mulai mendekatkan lagi mulut mereka dan menyambung yang terputus tadi. Kali ini pria itu melakukannya dengan lebih lembut. Noura merasakan kenyamanan. Ian bisa melihat, istrinya kali ini tak menapik dan mempertanyakannya lagi tindakannya. Tubuh wanita itu lebih relaks dengan mata terpejam.


Ia mencoba menyentuh tubuh wanita itu, dan sepertinya Noura menyerah pada sentuhannya hingga pria itu lebih berani menjelajah lebih jauh. Mulailah mereka melewati penyatuan yang tertunda itu dengan penuh perasaan.


Noura pun tak menyangka suaminya memperlakukannya dengan lembut dan penuh cinta. Berbeda dengan kesehariannya yang acuh dan bicara kasar. Wanita itu seperti bertemu lagi dengan Ian, seperti saat awal ia mengenalnya.


Jadi kepribadian mana sebenarnya yang milik suaminya? Apa yang membuat ia berubah? Apa benar suaminya tak mencintainya karena dari awal ia hanya barang taruhan ... tapi saat bercinta, suaminya terlihat sangat menginginkannya. Sangat berbeda dengan yang diucapkannya waktu itu.


Sebenarnya, ada apa dengan suaminya hingga ia jadi berubah seperti itu?


Noura tak bisa banyak bergerak, karena suaminya mendekap erat tubuhnya dari belakang. Ditemani selimut yang menutupi tubuh mereka berdua yang makin menghangatkan.


Air matanya meleleh. Ingin rasanya saat-saat seperti ini bertahan lama. Bertahan sangat lama karena ia bahagia. Tak bisakah ia berharap?


Pria itu bergerak sedikit. Sepertinya terbangun dari tidurnya, tapi bangunnya kali ini makin mengunci tubuh istrinya dalam kungkungannya.


Noura kembali mengalirkan air mata bahagia. Wanita hanya ingin yang sesederhana ini. Begitu diinginkan oleh suaminya. "Bodoh, Noura. Kamu bodoh," gumamnya seraya tersenyum lebar.


"Kau mau makan apa Bang?"


Ian yang baru keluar dari kamar mandi, mengangkat wajahnya, ketika tiba-tiba Noura menanyakan itu. Ia tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.


Noura sendiri sepertinya telah mengeringkan rambut dengan hair dryer karena rambut ikalnya itu telah setengah basah terikat ke belakang. Gelombang rambut yang besar-besar tergerai indah di belakang punggung.


"Aku akan memasak makan malam hari ini."


Pria itu hanya mendengarkan, tapi ia kemudian melangkah ke arah meja nakas. Ia mengambil kartu hitam dari dalam dompet dan melemparnya ke hadapan istrinya yang duduk di tepian tempat tidur. "Ini, pakai saja. Anggap saja aku membayar jeri payahmu tadi, tapi kata-kataku tetap sama. Kita urus urusan kita masing-masing. Jadi jangan libatkan aku dengan masalahmu lagi, ok?"


"A-apa?"


Pria itu melirik lewat sudut matanya seraya mengeringkan rambut. Mulutnya rapat dengan pandangan mata terganggu, ke arah istrinya.


"Kau pikir aku wanita murahan ... aku istrimu Ian!" Hampir saja Noura menangis melihat perlakuan suaminya padanya. Kenapa ... kenapa kau membayar tubuhku?


Noura yang kecewa segera menyambar jilbab instan dan tas kecilnya seraya melangkah keluar. Ia merasa sayapnya akan patah, bila terus-terusan bersama pria ini.


"Noura!"


Namun panggilan Ian tak diindahkannya. Wanita itu terus keluar dan menuruni tangga seraya mengenakan jilbab instannya itu.


Padahal suaminya memberikan kartu hitam itu karena merasa bersalah. Ia yang seharusnya memegang teguh pendiriannya, tergoda pada istrinya sendiri, dan ia tidak tahu cara menyelesaikannya selain memberi wanita itu kartu hitam itu agar Noura tak lagi mempertanyakan apa yang telah ia lakukan, karena ia sendiri juga tak tahu jawabannya.


Ian mengambil kartu hitam itu yang masih berada di atas tempat tidur dan menghela napas.


Noura yang pergi keluar dari rumah itu, tanpa sengaja menemukan taksi kosong yang menyebabkan dia bisa dengan mudahnya naik. Tujuannya, ia teringat pada sebuah restoran dekat sekolah SMAnya dulu, di mana ia sering makan di sana bila sedang kesal.


Restoran itu ternyata masih seperti dulu. Bentuknya, bahkan kursi-kursinya. Noura memasuki restoran itu dan memesan makanan yang sama. Mpek-mpek dan es teh manis. Segera ia duduk di tempat favoritnya, meja belakang di sebelah kiri yang bila dari pintu masuk, tidak terlihat. Benar-benar tempat yang tersembunyi.


Noura mengaduk-aduk makanan tanpa benar-benar ingin memakannya. Dulu saja, butuh waktu 2 jam untuk bisa menghabiskannya.


Kenapa aku bisa menikah dengan orang seperti ini? Kenapa ... aku berhasil ditipunya? Noura hampir saja meneteskan air mata, jika saja orang itu tidak memanggilnya.


"Noura!"


Wanita itu menoleh. Vika?


"Ada apa kok kamu sendirian ada di sini?" Kembarannya datang menyambanginya.


Tentu saja, Vika tahu tempat itu karena sekolah SMA mereka ada di seberang jalan, tapi bagaimana Vika bisa berada di sana juga saat itu? Sebuah kebetulan yang mengecewakan.


Noura berpaling ke arah sebaliknya dan mengedip-ngedipkan matanya agar air matanya tak keluar.


"Oh, aku tahu. Kalian habis bertengkar ya?" Vika menarik kursi di hadapan Noura dan duduk di sana. "Tuh 'kan, kalau curang, kelihatan!" Ia menunjuk wajah Noura, kembarannya.


"Curang apanya ... aku tidak curang." Noura membela diri.


"Noura ... Noura ...." Vika menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kalau pria tak cinta dari awal, dia takkan mungkin cinta hingga akhir. Percuma saja, toh ujung-ujungnya kalian berdua pasti akan bercerai." Vika mengompori.


Saat itu dada Noura terasa sesak.