CEO And The Twins

CEO And The Twins
Belanja



Tatapan matanya sangat lembut. Aku tak tega memarahinya. Matanya bening dan ....


Tanpa Ian sadari, tangannya bergerak mengangkat kacamata yang menghalangi kedua bola mata sendu milik istrinya itu dan ia terkesima melihat keindahan sesungguhnya dari kedua bola mata itu. Sangat lembut dan kini terlihat tengah berkaca-kaca.


Namun kemudian Ian sadar, ia telah melewati batas yang seharusnya setelah bagian bawah tubuhnya terasa menegang. Segera ia berdiri sebelum ia kehilangan kendali. "Dasar cengeng!" Ia salah tingkah. "Aku bicara begitu agar tidak merugikanku. Eh ... kita memang terikat pernikahan tapi jangan sampai kita juga saling merugikan satu sama lainnya. Mmh ... mengerti?" Ia membelakangi istrinya.


Noura mengerucutkan mulutnya, kesal. Ia mengenakan lagi kacamatanya dan segera duduk.


"Yang pasti, kau tidur denganku malam ini. No excuse!(tidak ada pengecualian)" ancam Ian pada wanita itu. "Aku mau ke kamar mandi dulu." Pria itu melangkah ke kamar mandi. Tak butuh waktu lama, ia kembali keluar tapi ia tidak menemukan istrinya di kamar.


"Noura! Noura!" Ian masih melihat koper istrinya ada di kamar itu. Apa ia kembali ke kamarnya di sebelah? Baru saja ia keluar dari kamar ia melihat istrinya menuruni tangga. "Noura, kau mau ke mana?"


"Belanja."


"Aku antar."


"Tidak usah."


Ian mengejar wanita itu dengan ikut menuruni tangga. Dilihatnya wanita itu tertegun menatap ke meja makan. "Lho, makanan yang ada di meja makan ke mana?"


"Aku suruh pembantu buang." Ian mengalihkan pandangan ke arah lain, karena tahu wanita itu pasti akan marah.


Noura menatap suaminya geram dan memukulnya. "Kamu jahat!"


Ian menangkis serangan Noura. "Kan sudah kubilang, jangan mengurusiku!"


Wanita itu kembali mengerucutkan mulutnya.


"Lagipula sandwich-nya pedas," gumam pria itu pelan.


"Apa?"


"Eh, tidak." Kenapa aku membocorkan rahasia? "Aku antar saja, nanti takut ketemu keluargamu lagi di jalan."


Noura yang menautkan alisnya mendengar pernyataan Ian tadi, mau tak mau mengikuti permintaan suaminya.


Sebenarnya setelah Ian makan sepiring nasi goreng, segigit sandwich, dan 2 potong apple pie ukuran besar, barulah ia menyuruh pembantunya untuk membuang semua makanan itu. Ia sebenarnya sayang membuang apple pie itu karena sangat enak dan ia sangat menyukai apple pie buatan istrinya itu tapi apa mau di kata ia harus lakukan itu agar wanita itu marah padanya.


-----------+++-----------


Sepanjang perjalanan mereka banyak diam tapi tidak saat di supermarket.


"Bagaimana kalau masak steak?"


Noura melihat heran pada suaminya. Kenapa ia terlihat antusias?


"Biar terlihat hubungan kita harmonis, kau memasak makanan yang aku suka biar aku terlihat banyak makan, begitu, dan kau terlihat mengerti akan kesukaanku."


Noura masih menatapnya penuh tanya.


"Eh, yang lainnya kan bisa makan steak juga 'kan?Vika dan suaminya?"


"Tapi ayah sedang diet makanan berlemak."


"Eh, ya sudah ...," jawab pria itu kecewa. Ia sebenarnya ingin mencicipi masakan Noura yang lain demi mengetahui istrinya pintar masak.


Noura melihat kekecewaan di wajah Ian dan akhirnya memutuskan untuk membuatnya. "Ya sudah, aku buatkan, tapi sedikit saja."


Ian senang bukan main. "Tapi wortelnya pakai baby carrot(wortel mini), ok?"


Noura memang sedikit bingung dengan sikap suaminya yang terlihat kadang menyenangkan dan kadang menyebalkan tapi ia tak punya pilihan selain mengikuti keinginan kepala rumah tangga. "Ya sudah."


"Aku akan bayar semua belanjamu, jangan takut. Jadi belanjalah sesukamu."


Kembali kalimat suaminya membuat wanita itu heran. Bukankah memang seharusnya begitu, dia suamiku dan gajinya lebih banyak dari aku kan?


"Oh ... i-ini demi kelancaran acara besok," dalih Ian. "Jangan lupa puding."


"Kan tidak ada anak kecil?"


"Aku suka puding dan itu untuk pencuci mulut."


"Aku tidak mau, lagipula kita belanja dengan uangku jadi kau harus dengarkan apa kataku," titah pria itu. "Bukankah membuatnya tidak susah?"


Noura menghela napas pelan. "Iya, baiklah."


Ian dengan semangat menemani istrinya berbelanja dengan mendorong kereta belanja ke sana kemari. Ia menerima saja apapun yang dibeli istrinya selama makanan pesanannya akan dibuatkan. "Sudah?"


Noura mengangguk.


----------+++----------


Noura mengikuti satpam rumah yang membawakan plastik belanjanya ke dalam rumah. Ia tak lupa membawa juga sisa plastik belanja itu di belakang pria itu.


"Sudah ibu, nanti aku bawakan."


"Tidak apa-apa. Sebagian ada yang aku ingin susun di lemari es dan sisanya ada yang ingin aku buat lebih dulu sekarang."


Ian hanya memperhatikan saja Noura berjalan hingga ke dapur bersama satpam. Dengan pelan ia menaikki tangga, tapi rasa penasarannya membuat ia berhenti di tengah-tengah dan setelah melihat satpam itu keluar, ia menuruni tangga. Pelan ia melangkah ke arah dapur. Ternyata Noura mempekerjakan seluruh pembantu yang sedang ada di dapur untuk membantunya.


"Ibu, ini agar-agarnya langsung dituang susu Bu." tanya seorang pembantu.


"Oh, iya. Eh, sebentar. Takarannya."


"Ibu, dagingnya langsung direbus?" tanya yang lainnya.


"Iya, tapi nanti air rebusannya jangan dibuang ya?"


"Iya, Bu."


Ian tersenyum. Kelakuannya mengingatkanku pada seseorang. Ia akhirnya kembali keluar.


-----------+++-----------


Terdengar derap langkah sepatu yang berjalan mendekat tapi kemudian berhenti. Ian segera membuka pintu dan melihat keluar. "Noura."


Wanita itu tengah berdiri di depan kamarnya dan membuka pintu.


"Kamu mau apa? Mau sholat?" tanya pria itu.


"Iya."


"Sholat saja di kamar."


"Eh, aku sholat di kamarku saja," elak wanita itu.


"Sholat saja di sini. Aku mau ke ruang kerja."


Mmh, selalu saja memaksa, Noura merengut. "Iyaa."


Noura mengambil kain sholatnya di kamar dan membawanya ke kamar Ian. Pria itu sudah tak ada di kamar hingga ia dengan leluasa bisa sholat dan membongkar koper. Wanita itu menghapus make up-nya dan mengganti jilbab dengan yang instan. Sempat ia melihat tempat tidurnya dipisah dengan dua guling di tengah.


Huh, percaya diri sekali dia, aku akan menggodanya di tempat tidur. Noura keluar dengan mengerucutkan mulutnya.


Beberapa jam berlalu dan Noura akhirnya kembali karena sudah menyelesaikan masaknya. Tinggal besok, sisanya.


Ia merasakan tubuh yang letih dan kaki yang pegal dan ia bersyukur Ian tidak ada di kamar sehingga ia bisa pergi mandi dan memakai daster untuk tidur, tak lupa ia sholat Isya. Baru saja ia selesai, Ian masuk.


"Kenapa koper belum dibongkar?"


"Eh, besok saja. Aku capek."


"Aku tak suka ada koper menghalangi jalanku."


Ck, orang ini! "Ya sudah, aku pindah ke sebelah."


"Eits, mau mengancamku ya?" Ian mengangkat jari telunjuknya. "Lakukan!"


Seperti titah-titah raja Ian sebelumnya, ia selalu menang karena Noura bukan tipe wanita pembantah yang kuat seperti Vika. Di tengah wanita itu membongkar kopernya, Ian menghilang. Pria itu rupanya ingin mencicipi puding buatan istrinya.


Rasanya tadi aku lihat dia buat puding. Apa sudah jadi? Di mana ia meletakkannya? Ian membuka lemari es. "Wahhh." Ia menggosok-gosokkan telapak tangannya puas melihat Noura membuat puding di banyak gelas kecil pada satu rak lemari es. Ia mengambil satu.