CEO And The Twins

CEO And The Twins
Harus bagaimana?



Pria itu segera menaiki tubuh istrinya dan kini ia telah mengurung wajah lembut wanita itu dengan kedua lengannya. Ian memiringkan kepala hendak menyatukan bibir mereka tapi istrinya melengos ke samping.


"Kalau kau hanya menginginkan tubuhku, maka lakukanlah, tapi kalau kau tanya tentang hatiku, ia mulai merayap entah ke mana." Mata wanita itu mulai berair, bahkan kacamatanya berembun. Ia menahan isak.


Ian terdiam menatap istrinya yang kembali menangis. Ia tak sanggup menatap kesedihannya pun menanggung duka. Ia hanya sanggup membukakan kacamata sang istri dan meletakkannya di atas meja nakas. Setelah itu ia berguling ke samping tapi masih mencari tangan istrinya untuk digenggam.


Untuk beberapa lama, mereka memandang ke arah yang berbeda tapi pria itu masih menggenggam erat tangan istrinya.


Perlahan Noura menarik tangan yang masih di genggam suaminya. Setelah hampir terlepas, pria itu malah berbalik dan meraih tubuh istrinya. Ian mendekapnya dari belakang.


"Bang!"


"Kita tidur saja sekarang, seperti ini. Besok pagi kita akan lupa bahwa kita pernah mengucapkan hal-hal konyol seperti tadi. Kita hanya ingat, aku menjemputmu, makan di restoran dan pulang. Tidak ada hal-hal emosional seperti tadi. Hari ini seperti hari kemarin, dan seterusnya, dan seterusnya, dan seterusnya." Pria itu mengeratkan dekapan hangat pada istrinya.


Air mata wanita itu mengalir membasahi bantal. "Tapi Bang ...."


"Ssssttt, kita tidur ya?" ucapnya lembut tepat di telinga sang istri.


Noura tak berdaya di dalam kungkungan suaminya. Setengah hatinya ingin terus didekap suami, tapi setengah lagi ingin meninggalkan walau konsekuensinya hatinya pasti takkan terselamatkan.


Ia kini dalam dilema, setelah mulai jatuh cinta kini ia harus rela melepaskan, dimana sebenarnya suaminya malah berusaha bertahan.


Ia tak bisa berpikir jernih saat ini. Ucapannya sendiri tentang perceraian membuat dirinya kalut. Ia memilih mendengarkan suaminya daripada sendiri menanggung luka.


Jadilah mereka dua orang yang terluka yang sedang menunggu waktu. Dapatkah keduanya menyelesaikan masalah mereka pada akhirnya? Biarkan waktu yang menjawabnya.


-----------+++-----------


Pagi itu, Ian terbangun dan mendapati istrinya tengah bersiap-siap berangkat kerja. "Noura? Jangan pergi dulu, aku akan mengantarmu." Ia segera turun dan mendekap tubuh istrinya.


"Bang."


"Kamu mulai tidak mendengarkanku ya? Kau belajar dari mana?" Ian mulai menginterogasinya.


Noura meraih lengan suaminya yang melingkar di bahunya. "Bang, aku tidak mau bergantung padamu. Bukankah kamu yang bilang, kita hidup sendiri-sendiri saja?" Ia berusaha melepaskan diri dari pelukan suaminya tapi pria itu tetap memeluknya.


"Tapi kamu harus memikirkan posisiku juga, karena ada Vincent temanku yang bekerja di kantor itu. Apa katanya kalau aku tidak mengantarkanmu ke kantor?"


Noura menghempas lengan suaminya dengan kasar. "Penting mana? Kau lebih mementingkan perasaan orang lain daripada perasaanku!"


Ian tercengang. Baru kali ini, istrinya berani bersikap kasar padanya. "Noura, aku 'kan mengantarmu? Apa ada yang salah dengan itu?"


"Ada."


"Apa?"


"Kau selalu curang!"


Ian terperangah. Kenapa dalam satu hari istrinya kini berubah?


"Kalau aku tidak bilang padamu, kau tak pernah tahu 'kan? Kamu curang!"


"Noura ... apa maksudmu?" Ian masih syok.


"Kau selalu mengatakan sesuatu yang tak bisa kau pegang. Bang, jangan bilang aku berubah karena kalau itu benar, itu pasti gara-gara kamu. Bukankah suami adalah contoh untuk keluarganya? Apa mungkin seorang istri memberontak bila suaminya tak ada masalah?"


Ian kembali pusing mendengar perkataan istrinya. Sebagian dirasa benar adanya, tapi bukan itu masalahnya. Bagaimana menghentikan mulutnya yang mulai mengganggu mood-nya pagi itu. Dengan serta merta ia mencondongkan tubuhnya ke depan dan ....


Cup!


Ia mengecup tepat di bibir istrinya.


"Bang!" protes Noura.


Pria itu tertawa. "Awas ya kabur lagi. Tunggu aku di bawah." Ia melangkah ke kamar mandi.


Noura menghentakkan kakinya karena kesal. Titah suaminya, mau tak mau harus didengarkan.


Ian senang, saat turun ada istrinya menunggu di meja makan. Sebenarnya ia sudah tak peduli lagi apa yang dikatakan istrinya. Marah, kesal atau mengamuk, selama tidak mengungkit-ungkit masalah perceraian. Ia rela. Padahal Noura sengaja mencoba menjadi makhluk menyebalkan agar suaminya mau menalaknya, tapi ... segala sesuatu tak berjalan dengan semestinya.


Noura mengerut kening. Kenapa pula dia berubah minta dilayani? Biasanya dia ambil sendiri kecuali itu masakanku. Namun mau tak mau Noura membuatkan. Ia memanggang rotinya di mesin pemanggang roti.


Ian terlihat senang. Berarti sepembangkang apapun, Noura tetap patuh padanya. Tes kecil ini tidak disadari Noura, tapi dengan itu Ian tetap mengukuhkan diri mempertahankan istrinya.


"Ini." Noura menyodorkan piring yang berisi roti bakar dengan selai coklat ke hadapan Ian.


Pria itu mengambil roti itu dan mulai memakannya. "Oh ya, pulangnya aku jemput."


"Untuk apa?"


"Kan aku suamimu." Pria itu tersenyum lebar.


Kembali curang! Untuk apa ia bermanis-manis padaku?


"Oh, jangan lupa."


Noura melirik dengan sudut matanya saat mengangkat cangkir tehnya.


"Angkat teleponku ya?"


Kenapa maunya jadi tambah banyak sih?


Kembali pria itu tersenyum lebar. Seusai sarapan, Ian mengantar istrinya ke kantor.


Noura mencium punggung tangan suaminya sebelum turun dari mobil. "Nanti aku bisa pulang sendiri."


Tiba-tiba tangan pria itu bergerak cepat dengan meraih lengan istrinya. "Kau tidak boleh membantahku. Aku suamimu," ujarnya dengan suara baritonnya. Mata elangnya menatap istrinya lekat.


Noura berusaha melepaskan diri tapi cengkraman suaminya lebih kuat. "Aku ingin pulang sendiri!"


"Tidak boleh."


"Kamu curang!"


"Apa pantas seorang istri menolak permintaan suaminya yang baik-baik?" Netra pria itu masih memandangi Noura tanpa berkedip.


Ini perintah bukan permintaan dan pria itu selalu menang. Noura menghela napas pelan. "Iya." Wanita itu menjawab seraya tertunduk.


"Good.(Bagus)" Pria itu mengecup kening istrinya. Ia melepaskan pegangannya sehingga wanita itu bisa keluar dari mobil. Ia melambaikan tangan sebelum membawa mobilnya pergi.


----------+++---------


Noura heran melihat suaminya yang tidak membawanya pulang tapi malah pergi ke kantor suaminya. "Kita di mana?"


"Kantorku. Kamu belum pernah ke sini 'kan? Aku masih ada pekerjaan jadi kamu tunggu di ruanganku saja."


"Kenapa aku tidak boleh pulang sendiri saja tadi? 'Kan aku jadi tidak merepotkanmu." Dilihatnya pria itu hanya memandanginya saja tanpa berniat menjawabnya. Noura menghela napas. Pria itu kembali menang.


Noura memandang berkeliling ruangan suaminya. Kurang lebih sama besarnya dengan ruangan yang dipunya bosnya yang juga sahabat suaminya, Vincent.


Ada deretan buku yang bertengger di salah satu rak yang menarik perhatiannya. Ia mengambil salah satu buku di sana untuk dibaca, saat suaminya tak ada di ruangan.


Sebenarnya Ian mencoba membatasi ruang gerak Noura agar istrinya tidak bertemu dengan orang-orang yang bisa mengganggu hubungan mereka terutama Vika. Ia yakin Vikalah penyebab Noura berubah dan ingin bercerai, karena itu sebisa mungkin ia mengontrol istrinya agar tidak bertemu dengan banyak orang sepulangnya dari kantor.


Ian kembali ke ruangan dan menemukan istrinya sedang asyik membaca buku.


"Oh, aku hanya iseng saja," jawab wanita itu saat ketahuan membaca salah satu buku koleksi suaminya.


"Aku 'kan tidak marah. Ayo, kau sudah selesai bacanya? Kita pulang."


Noura mengangguk. Keduanya kemudian pulang ke rumah, tapi ... mereka kedatangan tamu.


"Noura."


"Ibu?"