CEO And The Twins

CEO And The Twins
Suka



"Bagaimana? Kamu mau nonton?"


Bola mata Noura terlihat ragu-ragu. "Ya sudah."


"Ayo, Sayang." Ian kini menyodorkan tangannya untuk digenggam.


Perlahan, wanita itu menyambutnya sehingga Ian bisa menggandengnya ke mobil.


Di dalam mobil, Ian memasang seatbelt-nya. "Film apa?"


"Action hero."


"Kau suka action hero?"


"Kelihatannya yang ini bagus."


"Mmh." Pria itu menjalankan mobilnya. "Bisa kau pesan langsung tiketnya, biar saat datang nanti kita tidak dalam antrian panjang atau kehabisan tiket."


Noura menurut. Setengah jam kemudian, mereka sudah ada di dalam tempat keramaian bioskop di dalam sebuah Mal. Mereka sedang mengantri di pintu masuk ruang menontonnya. Saat mereka masuk, petugas mencarikan letak kursi mereka dalam gelap.


"Di sini, Pak."


"Terima kasih," sahut Ian yang diangguki petugas.


Noura dan Ian kemudian duduk. Bertepatan dengan itu, film di mulai. Mereka mengeluarkan popcorn dan kola dari bungkus plastik yang dibawanya. Pria itu sengaja membeli popcorn yang besar agar bisa diletakkan di pangkuan istrinya.


"Disini saja."


Noura melirik suaminya.


"Kamu tidak mau kalau ambil dari pangkuanku 'kan?"


Noura mengalihkan perhatiannya ke layar lebar di hadapannya.


"Sayang."


"Mmh."


Ian mendekatkan mulutnya ke telinga istrinya. "Aku ingin punya banyak anak darimu."


Noura melirik dengan sudut matanya kesal. Namun, belum sempat ia berbicara, pria itu telah mengecup pipinya. Dengan serta merta, ia berdiri sambil memegangi kotak popcorn-nya. "Bang!"


Ian terkejut, begitu pula orang-orang yang berada di dekat mereka karena berisik hingga banyak yang menoleh.


Pria itu segera berdiri. "Eh, maaf ya? Istriku terkejut. Maaf, maaf." Ia menyatukan tangan di depan wajah pada penonton di depan dan di belakang mereka.


Beberapa orang terkejut karena Ian seorang bule, membuat banyak wanita yang melihatnya salut pada pria itu.


"Eh, suaminya bule. Sayang kayaknya sama istrinya."


"Iya."


Noura duduk perlahan dengan sedikit malu tapi ia bersyukur, suaminya mau mendinginkan suasana.


Pria itu duduk di sampingnya. "Maaf ya, Sayang. Aku bikin kaget kamu ya?"


Wanita itu hanya diam. Terselip sedikit rasa bersalah di kedua bola matanya walaupun juga kesal.


"Maaf."


"Bang, aku lagi nonton, jangan diganggu, Bang," rengek Noura.


"Iya, iya, Sayang. Maaf."


Dan setelah itu, terlihat sekali Noura cepat sekali tenggelam dalam film yang ditontonnya. Matanya yang berbinar ceria karena senang dengan apa yang dilihatnya, mengukir sebuah senyuman pada bibir pria itu.


"Sayang, ini popcorn-nya dimakan."


"Mmh? Iya." Wanita itu mengambil sedikit dan mengunyahnya. Kemudian ia lupa untuk melanjutkan karena sibuk dengan film yang ada dilayar lebar yang berada di hadapannya.


Sementara Ian mengagumi wajah lembut istrinya, ia bersyukur Tuhan telah menjodohkannya dengan wanita itu. Kali ini, ia bertekad untuk tak ingin kehilangan apa yang kini ia telah raih.


Pria itu kemudian mencoba melingkarkan tangannya pada lengan sang istri dan bersandar di kursi.


Noura kembali melirik suaminya lewat sudut matanya.


"Eh, cuma begini saja, Sayang. Jangan marah. Boleh 'kan?"


Menimbang sebentar, wanita itu kemudian kembali menonton film.


Ian pun kembali fokus pada film sambil sesekali mencoba menyuap istrinya dengan popcorn.


"Bang, aku bisa sendiri," protes Noura.


"Abang tak perlu khawatir, nanti akan aku habiskan kok! Aku memang tidak makan kalau sedang menonton," jawab wanita itu kesal.


"Oh, bukan begitu maksudku. Eh, maaf."


Noura masih melirik suaminya dari sudut matanya sebelum kembali menonton. "Jangan ganggu aku, Bang, kalau lagi nonton."


"Iya, iya, maaf." Ian kembali tenang. Ia memang tidak tahu kebiasaan istrinya yang tidak makan saat menonton.


Seusai menonton film, mereka masih duduk di sana sambil menunggu antrian keluar berkurang. Noura kini menikmati popcorn-nya.


"Jangan banyak-banyak makan itu, Noura. Nanti kamu tidak bisa menghabiskan makan malammu."


Wanita itu terperangah. "Tadi katanya disuruh makan popcorn, tapi sekarang kok dilarang? Lagipula aku tidak ingin makan malam. Aku ingin sholat Ashar saja. Sesudah itu langsung pulang. Aku tadi sempat mendengar azan."


"Noura, 'kan sudah kubilang. Kalau tinggal denganku kau harus makan malam."


Wanita itu merengut, tapi masih mengambil popcorn-nya.


"Sayang." Pria itu kembali mengingatkan untuk berhenti.


"Iya." Noura menurunkan tangannya dengan mulut mengerucut.


Sehabis sholat Ashar, mereka mendatangi sebuah restoran Itali. Saat Ian memeriksa menu makanan, wanita itu kembali memakan popcorn yang dibawanya.


Ian melirik terganggu. "Noura, aku tidak memintamu menghabiskan popcorn itu. Daripada kamu kekenyangan makan itu, lebih baik kau buang saja popcorn itu ke tempat sampah."


"Eh, jangan!" Noura memeluk wadah popcorn itu. "Aku mau ini, lagipula dosa 'kan membuang-buang makanan."


"Nouraaa."


"Mmh, jangaaan. Aku suka ini, jangan dibuaaang," rengek Noura seraya memeluk wadah popcorn itu erat.


Ian terkejut. "Kau ... suka popcorn?"


"Iyaaa, tapi aku tidak makan kalau lagi nonton," rajuk wanita itu lagi.


Pria itu terdiam sebentar. Sebenarnya lucu juga karena baru kali ini ia melihat istrinya merajuk sedari tadi dan wajahnya terlihat seperti anak kecil, tapi ia berusaha memperlihatkan wajah seriusnya agar istrinya tak marah padanya. "Mmh, ya sudah, tapi tolong kesampingkan dulu makanan itu. Kita makan malam dulu."


"aku 'kan tadi bilang, aku tidak suka makan malam. Bisa tidak kau tidak memaksaku? Aku tidak ingin makan malam!" rengut Noura kesal.


Ian menghela napas pelan. "Baiklah, tapi bisa tidak kamu temani aku makan malam dengan memakan sesuatu?"


"Iyaa," terdengar gumaman istrinya pelan yang masih menahan kesal.


"Eh, tapi tidak dengan makan popcorn itu." Pria itu menunjuk ke wadah popcorn.


Noura yang sudah terlanjur memasukkan tangan ke dalam wadah popcorn akhirnya menarik tangannya keluar dari wadah itu. Pria itu menyodorkan buku menu pada istrinya.


"Iya, baiklah."


Ian memesan lasagna dan Noura memesan salad.


Seusai makan, dalam perjalanan pulang, wanita itu kembali makan popcorn di dalam mobil. Ian bisa melihat bahwa walaupun pelan, Noura bisa menghabiskan popcorn dalam wadah besar itu yang tinggal setengah, sendirian.


"Maaf, harusnya tadi aku beli minum. Aku takut kau tersedak," sesal pria itu.


"Tidak apa-apa. Lagipula, sudah habis." Noura memperlihatkan isi wadah itu.


"Mmh."


-----------+++----------


Ian menatap ke langit-langit kamarnya. Ia ingin bermesraan dengan istrinya tapi ternyata tak mudah. Tidak pindah ke kamar sebelah saja, sudah untung. Noura sedari tadi dibujuk, ia tak mau disentuh. Apa ia harus menunggu istrinya tidur lagi, baru bisa memeluknya, seperti yang ia lakukan malam sebelumnya?


Pria itu menghela napas panjang. Diperhatikannya wajah istrinya yang sedang tidur di sampingnya. Ia harus bersabar karena katanya buah kesabaran itu sangat manis.


Pria itu merapikan selimut istrinya sekali lagi dan kemudian beranjak tidur.


-----------+++--------


Ian terbangun. Dilihatnya sang istri sedang sholat Subuh sendirian. Segera ia bangkit dan mengerjap-ngerjapkan kedua bola matanya, lalu turun dari tempat tidur. Ia kemudian ke kamar mandi.


Saat keluar, ia tak melihat istrinya hingga ia buru-buru sholat Subuh dan menyusulnya ke lantai bawah. Tak juga ditemui istrinya di manapun di dalam rumah membuat ia segera bertanya saat seorang pembantunya lewat.


"Eh, Nyonya sudah pergi, Tuan."


"Pergi? Ke mana?"


"Aku tidak tahu, Tuan."


Noura, sepagi ini? Ke mana dia?