CEO And The Twins

CEO And The Twins
Dingin



Setelah sholat zuhur berjama'ah, mereka kembali ke taman belakang untuk makan siang.


Sebelum makan siang, Ian sudah menghabiskan 2 potong piza dan beberapa buah stroberi dan anggur dan kini, makan siang pun, ia tengah menghabiskan sepotong besar apple pie yang ia buat bersama istrinya. Ia mengusap mulut dengan punggung tangannya saat telah menghabiskan satu potong apple pie di piringnya. "Mmh, boleh tambah lagi?" Ia menyodorkan piring itu pada Noura.


"Mmh." Sedikit terkejut, suaminya makan banyak sedari tadi, wanita itu tetap melayaninya. Ia meletakkan lagi satu potong apple pie di atas piring milik suaminya.


"Ada yang lebih enak lagi, menikmati apple pie di cuaca yang sedikit panas seperti ini. Apple pie-nya dihangatkan dan diberi satu scoup(sendok bulat es krim) es krim. Mmh, aku sudah bisa membayangkan kelezatannya," ucap pria itu memejamkan mata seraya tersenyum.


Badannya tidak gemuk tapi makannya banyak juga ya? "Kamu tidak takut gemuk, Bang?"


Pria itu mengambil piring dari tangan istrinya. "Tidak. Sehabis ini, aku masih bisa olahraga. Lagipula, hidangan lezat buatan istriku kenapa pula harus dilewatkan?" Ia mulai menyendoki pie-nya. "Bahkan kini, aku masih lapar. Aku akan makan piza setelah ini."


Noura melihat kedua netra suaminya yang bercahaya karena begitu bahagia bisa piknik berdua dengannya, seakan bahagia untuknya hanya sesederhana itu saja.


Noura mulai tersenyum. Pelan-pelan ia mulai mempercayai suaminya.


-----------+++-----------


HP Noura berdering. Wanita itu mengangkatnya.


"Sayang, maaf hari ini aku tak bisa mengantarmu pulang. Tiba-tiba saja ada trouble(masalah) di pabrik di pinggir kota. Aku harus ke sana dan tidak tahu akan pulang jam berapa. Kalau terlalu malam, kau langsung tidur saja ya, jangan menantiku pulang.


"Oh iya. Hati-hati ya, Bang." Wanita itu mengingatkan.


"Iya, Sayang."


Noura mematikan HP-nya. Padahal sudah waktunya pulang, dan ia sudah berkemas.


"Noura, suamimu gak bisa jemput?" tanya salah satu temannya yang duduk di sampingnya.


"Mmh. Dia lembur sepertinya."


"Oh, gitu."


Ryan mendengarkan. Mereka kemudian bersama-sama turun dan hanya Ryan yang turun hingga lantai dasar.


Ternyata hujan lebat. Noura dan teman-temannya kebingungan bagaimana caranya harus pulang. Mau tidak mau mereka menunggu di lobi. Lobi juga sesak dengan para pegawai satu gedung itu yang mulai menumpuk di sana. Ada beberapa orang mulai memesan taksi online tapi mereka harus antri karena banyak yang membutuhkannya.


Teman-teman Noura juga memesan taksi tetapi sulit. Hanya ada satu orang saja yang mendapatkan taksi.


"Eh, bagaimana kalau kita patungan?"


"Apa?"


"Kita patungan, jadi naik taksi berempat. Pokoknya nanti yang sampai duluan, bayar sesuai tarif, kemudian sisanya tinggal dikurangi saja, gimana?"


"Ok juga. Ya sudah, aku ikut. Noura, kamu ikut kan?"


"Ya, boleh juga." Noura tersenyum.


Kemudian mereka berempat keluar gedung. Bersamaan dengan itu sebuah mobil melintas di dekat mereka dan membunyikan klakson hingga mereka terkejut.


"Ryan?"


"Wah, Ryan bawa mobil. Wah, baru ya? Ryan punya mobil baru, oi."


Mobil itu berhenti dan pria itu mendekati jendela mobil yang satu lagi lalu membukanya. "Mau pulang ya? Mau kuantar pulang?"


"Siapa nih? Kita semua?" tanya Wuri yang kebetulan berada paling dekat dengan mobil itu.


"Iya, ayo!"


"Asyik ...."


Teman-teman Noura memilih duduk di belakang, menyisakan Noura yang terpaksa duduk di depan bersama Ryan. Mereka menyebutkan alamat mereka masing-masing.


"Oh, Noura. Alamat kita dekat ya? Kamu terakhir saja ya?" ujar Ryan pada wanita di sampingnya.


"Iya, gak apa-apa."


Sepanjang perjalanan, mereka sibuk mengobrol. Ada yang meledek mobil baru Ryan hingga pekerjaan kantor. Mereka pun diantar pria itu hingga ke rumah masing-masing, sampai akhirnya mereka hanya tinggal berdua bersama Noura.


"Iya, hati-hati."


Noura membuka pintu mobil dan segera turun. Ia menutup pintu dan berlari-lari kecil ke arah pintu gerbang yang telah terbuka.


Pria itu hanya bisa menatap punggung wanita itu yang kemudian menghilang di balik pintu gerbang rumah besar itu.


Ia sadar wanita itu bukan miliknya, karena itu ia selalu berdoa agar wanita itu selalu diliputi dengan kebahagiaan.


------------+++-----------


Sudah lebih dari jam sebelas malam dan tidak ada tanda-tanda suaminya akan pulang membuat Noura gelisah berbaring di atas tempat tidur. Akankah dia pulang malam ini?


Noura tak berani menelepon karena takut mengganggu pekerjaan suaminya hingga yang dilakukannya hanya menunggu.


Di luar masih hujan deras. Wanita itu bisa melihatnya dari kaca jendela di kamarnya yang diterpa air hujan yang sangat banyak, di balik gorden tipis yang berwarna putih itu. Sedari sore hujan belum juga berhenti. Hanya reda sebentar kemudian lebat lagi.


Noura sempat tertidur sebentar tapi ia terbangun ketika mendengar suara pintu yang dibuka dengan sangat hati-hati. Ia melirik ke pintu dan melihat sosok yang dirindukannya itu tengah berjingkat-jingkat masuk ke dalam kamar.


"Bang?"


"Oh, Noura." Pria itu terkejut. Ia terlihat basah kuyup. "Aku tak bermaksud membangunkanmu."


"Bang, ya Allah." Noura segera turun dan membuka lemari. Ia mengeluarkan handuk baru dan langsung menghampiri suaminya. Sambil berjinjit ia langsung meletakkan handuk itu menutupi kepala pria itu dan menggosok-gosoknya agar cepat kering.


Pria itu terpaksa sedikit menunduk agar sang istri bisa menggosok seluruh kepalanya. Ia terharu atas perhatian Noura. "Eh, sebaiknya aku mandi saja karena aku mulai kedinginan."


"Oh, iya." Noura segera melepasnya. "Akan kubuatkan teh hangat."


"Terima kasih, Sayang."


Tak lama, Noura kembali. Pria itu telah berganti pakaian dan tengah mengeringkan rambutnya yang basah di tepi tempat tidur.


"Ini, Bang, tehnya." Noura menyodorkan secangkir teh hangat pada suaminya.


Ian menyesap sedikit tehnya dari cangkir itu. "Mmh, hangat."


"Cepat tidur, Bang. Sudah malam."


"Iya, kau benar." Pria itu meletakkan cangkirnya di atas meja nakas.


Keduanya kemudian masuk ke dalam selimut dan segera tidur, tapi ... tak lama. Noura merasakan tubuh suaminya yang bergerak gelisah saat tidur. Ia mencari suaminya dan memperhatikannya. Pria itu memang terlihat gelisah.


"Kamu kenapa, Bang?"


Pria itu membuka matanya. "Oh, Noura? Maaf. Apa kamu terganggu?"


"Abang kenapa, gak bisa tidur?"


"Aku eh ...."


Wanita itu menatapnya tak berkedip.


"Aku hanya kedinginan."


Dilihatnya bola mata wanita itu tak bergerak.


"Eh, lupakan. Kau takkan percaya."


Tiba-tiba wanita itu bergeser mendekat. Noura memeluk suaminya.


"Noura ...."


"Cukup kan?"


Pria itu malah mendekapnya erat. Noura menyandarkan kepala pada dada bidang suaminya.


"Ini lebih dari cukup. Aku menyukainya."