
Kenapa ia harus punya saudara seperti Vika? Padahal mereka kembar. Hanya wajah saja yang mirip, selebihnya mereka adalah orang yang berbeda.
Vika yang cantik selalu menjelek-jelekkan Noura semasa mereka masih sekolah tapi tidak semua orang terpengaruh. Walaupun Noura tidak cantik, ia berprestasi di sekolah, hingga orang-orang yang mempedulikan penampilan saja yang terpengaruh pada ucapan Vika.
Noura memang tidak begitu mempedulikan penampilan sehingga ia yang dulu, tidak begitu punya banyak koleksi pakaian, bahkan cenderung tomboi karena banyak berteman dengan para kutu buku yang sebagian besar adalah laki-laki. Walaupun begitu, ia suka dengan pekerjaan wanita yang membersihkan rumah dan memasak. Di rumah orang tuanya saja, saat ibunya berhalangan masak, Noura memasak untuk orang rumah.
Beda dengan Vika yang sering berpergian dan tak betah di rumah. Sejak SMA saja, tak terhitung Vika sudah beberapa kali ganti pacar hingga masa kuliah. Noura melanjutkan bekerja tapi Vika memutuskan menikah.
"'Kan aku sudah katakan, kami menikah karena sudah sama-sama setuju, dan tidak ada paksaan di antara kami berdua karena kami memang saling mencintai."
Vika tidak percaya, Noura kembarannya seberuntung itu, dicintai bule tampan dan kaya raya. "Alah, pria seperti itu, paling hanya cari status agar dia aman di belakangmu, mendua. Kalau tidak percaya. Lihat saja nanti," cerocos Vika yang masih iri padanya.
"Memangnya begitu ya?"
Noura hampir saja termakan omongan Vika kalau saja tidak ada suara dering telepon yang menghentikannya, dan dering telepon itu berasal dari HP-nya. Wanita itu segera mengangkat telepon dari dalam tas.
Dari Ian. Noura malas mengangkatnya tapi ia lebih malas lagi mendengar ocehan saudara kembarnya. "Halo."
"Halo kau di mana?"
Sambil menunduk, Noura menjawabnya dengan malas. "Di restoran."
"Di restoran mana? Kau mau pulang sekarang atau aku jemput?" Nada suara Ian sedikit keras.
Noura masih memainkan makanan di piring dengan sendoknya. Ia masih sangat sangat malas menjawabnya.
"Noura! Mau aku jemput sekarang juga? Kau di mana? Kau bersama siapa?!!"
"Vika," jawab Noura pelan.
Bukan main marahnya Ian. "Kau ... kalau tidak mau pulang sekarang juga, akan aku jemput! Pulang!!" teriak pria itu berang.
"Iya," jawab Noura dengan suara kecil. Ia sebenarnya sedikit heran kenapa suaminya tiba-tiba marah, tapi saat itu ia tidak mood untuk mempertanyakan sikap suaminya. Yang ia inginkan saat itu, menghindar dari Vika, karena ia takut salah bicara bila terlalu lama bersama kembarannya itu.
"Maaf, aku pulang dulu," katanya pada Vika. Ia minta pada pelayanan restoran untuk membungkuskan makanannya untuk dibawa pulang.
Vika melihat saja Noura pulang tanpa berkata apa-apa dan ia tetap di sana. Sepertinya ia tengah menunggu seseorang di restoran itu.
Sesampainya di rumah, Noura membawa makanannya ke dapur. Ia memindahkan makanan itu ke piring dan membawanya ke ruang makan dengan segelas air putih. Ia kemudian makan di meja makan.
Ian ternyata memperhatikan semua gerak-gerik istrinya dari lantai atas. Ia lega istrinya telah pulang. Ia tidak ingin istrinya menggosipkan tentang dirinya dengan Vika karena ia takut, wanita itu mempengaruhi Noura hingga ia tak lagi bisa mengontrol istrinya. Ian pun kembali ke ruang kerja.
------------+++-----------
Saat kembali ke kamar, dilihatnya istrinya sedang membaca sebuah buku di atas tempat tidur. Ian mendatangi meja nakas dan kembali mengambil kartu hitam dari dalam dompetnya. Ia menyodorkan kartu itu pada istrinya. "Noura, aku memang berniat memberimu ini. Terimalah."
Wanita itu hanya melirik sekilas, tapi kembali membaca buku.
"Noura ...."
Kembali wanita itu melirik dan kemudian tenggelam pada buku yang sedang dibacanya.
Pria itu meraih tangan istrinya agar bisa meletakkan kartu itu pada telapak tangannya tapi wanita itu dengan cepat menarik tangannya dan segera berdiri.
Noura meninggalkan pria itu dengan membawa bukunya tanpa mengucapkan sepatah kata.
"Noura."
Wanita itu membuka pintu dan pergi. Tinggal Ian yang diam tak tahu harus berbuat apa.
Melihat suaminya datang wanita itu tetap tak bicara. Ini membuat pria itu bingung. Biasanya wanita itu menyapa, walau tak dipedulikannya. Rasanya sangat aneh bila ada istri tapi wanita itu tak bicara.
Ian mencoba membaringkan diri di atas tempat tidur, tapi tetap saja ia tak bisa memejamkan mata. Sikap Noura membuat pria itu uring-uringan. Diliriknya Noura yang telah memejamkan mata di sampingnya. Pria itu tak tahan dan akhirnya bangun. Ia turun dan menghampiri istrinya. "Noura."
Wanita itu membuka matanya tapi cuma sebentar dan kembali menutup mata.
"Noura."
Wanita itu malah berbalik dan memunggungi suaminya.
"Noouraa." Ian menarik tangan istrinya agar duduk dan mendengarkannya.
Noura yang membuka matanya tiba-tiba, terpaksa duduk dengan wajah kesal.
"Mmh, malam ini kita jadi teman."
Mmh, apa maksudnya ini?
"Kamu ikut aku ke luar."
Dengan pakaian seperti ini? Noura membulatkan mata seraya menatap pakaiannya.
Kenapa dia tak mau bicara sih? Ian kemudian memasangkan jaketnya di pundak Noura dan ia sendiri memakai jaket lainnya.
Noura terpaksa mengenakan jaket itu dengan memasukkan tangan karena sudah telanjur diletakkan sang suami pada bahunya dan tak lupa, jilbab instan dan kacamata.
Pria itu kemudian menggandengnya turun hingga masuk mobil. Dengan enggan ia mengikuti suaminya. Tak lama, mobil itu sudah keluar dari daerah perumahan itu.
Noura tetap bungkam dan menatap ke jendela di sampingnya sementara Ian, entah, ia ingin membawa istrinya ke mana.
Mobil kemudian berhenti di pinggir jalan. Dekat situ banyak penjual makanan pinggir jalan yang sudah buka dari tadi dan mulai didatangi pembeli. Ian kembali menggandeng istrinya ke sana.
Noura sedikit heran, kenapa Ian begitu aneh saat ia ngambek. Apa pria itu tidak tahan kalau dirinya ngambek? Wanita itu tersenyum kecil. Kalau begitu, aku ngambek saja tiap hari.
Pria itu membawa istrinya ke pedagang sate. Mereka duduk di sana sambil menunggu satenya selesai dibakar. Ian memesan sate ayam untuk mereka berdua.
Sambil menunggu, Noura melirik suaminya dan merasa heran kenapa pria itu membawanya ke sana. Terlebih mereka jadi perhatian orang bukan saja karena Ian bule yang lancar berbahasa Indonesia, tapi karena keduanya datang dengan berpakaian tidur ke sana, tapi pria itu seakan tak peduli.
Sate pun dihidangkan. Noura hanya memandangi sate miliknya dan tak menyentuhnya sama sekali sedang Ian makan sate itu sambil menyoroti istrinya.
"Kenapa? Makan saja. Aku tahu kau belum makan malam jadi aku pesankan."
Noura hanya mendengarkan perkataan suaminya, tapi ia tetap tak bergerak.
Ian pun berhenti makan. "Kenapa?"
Noura bergeming.
"Look(dengar ya), aku membawamu ke sini karena aku ingin memberitahumu bahwa ini makanan Indonesia pertama yang aku makan. Sate ayam."
Noura melirik sate ayam miliknya.
"Noura, kita tidak akan ke mana-mana sebelum kau menghabiskan sate ayam ini. Aku akan menunggumu sampai kau selesai." Ian memberi ultimatum.
"Udah, Mbak. Kasihan suaminya. Ngambek boleh tapi harus makan," celoteh salah seorang pembeli yang ikut memperhatikan mereka berdua dari tadi.
Mau tak mau Noura mencoba makan.