CEO And The Twins

CEO And The Twins
Sakit



Noura terbangun lebih pagi karena mendengar suara batuk. Ia mencari suaminya yang ternyata sedang memunggunginya. Dari situlah suara batuk itu berasal.


"Bang?"


Ian menoleh sedikit ke belakang. "Oh, Noura. Maaf aku membangunkanmu."


Wanita itu menyentuh kening suaminya dan juga leher dan tubuhnya. "Bang, kamu demam. Kamu flu ya?"


"Sedikit."


"Kamu minum obat saja, Bang, tapi harus makan dulu. Aku buatkan roti ya?"


"Mmh."


Noura turun ke lantai satu dan membuatkan setangkup roti coklat kesukaan suaminya. Pria itu malah menghabiskannya.


"Kau lapar?"


"Eh, tidak." Namun mata pria itu tak bisa berbohong. Terlihat sekali ia merasa bersalah.


"Mau kubuatkan lagi?"


"Noura, ini belum lagi pagi. Tidak usah."


"Ya sudah, minum dulu obatnya. Mau kubuatkan 2 lagi?"


"Eh? Mmh ...." Pria itu meminum obat dan wanita itu kembali turun. Kembali 2 potong roti tandas.


"Kau masih lapar?"


"Eh, kita tidur saja, Noura. Kamu 'kan masih mengantuk." Ian sedikit malu karena makannya banyak sekali padahal sedang sakit. "Nanti kamu ngantuk di kantor, gara-gara kurang tidur."


"Mmh." Noura meletakkan kembali kacamatanya di atas meja nakas dan kembali tidur.


------------+++----------


Ian terbangun. Tubuhnya terasa lebih baik. Dilihatnya istrinya sedang sholat. Oh, sholat Shubuh! Segera ia melangkah ke kamar mandi. Saat ia keluar, Noura telah kembali berbaring di atas tempat tidur.


Ah, biarkan saja dulu. Mungkin dia masih mengantuk. Pria itu kemudian sholat shubuh. Seusai sholat, ia kembali tidur.


Tak lama, pria itu kembali terbangun dan mendapati istrinya telah bersiap untuk berangkat ke kantor. "Sayang, kau mau ke kantor?"


"Iya, Abang gak mandi?"


"Aku istirahat dulu ya, hari ini." Pria itu menarik selimutnya.


Noura mengerut kening. Ia naik ke atas tempat tidur dan kembali memeriksa tubuh suaminya. Keningnya masih hangat.


"Kamu masih gak enak badan, Bang?"


"Mmh. Tidak apa-apa. Aku hanya perlu istirahat saja. Kau berangkatlah."


"Kau sudah sarapan?"


"Nanti saja."


"Bagaimana kalau kubelikan bubur kemarin?"


Ian segera terduduk. "Benarkah? Oh, aku mau, Noura."


Wanita itu tergelak. "Ok." Ia kemudian turun dari tempat tidur dan pergi keluar.


Lima belas menit kemudian, Noura telah kembali. "Ini." Wanita itu naik ke atas tempat tidur dan membuka wadah makanan itu.


Suaminya yang menunggunya sambil duduk, kini menatapnya. "Kau tidak ke kantor?"


"Tidak." Wanita itu menyuapi suaminya.


Pria itu, karena mengunyah, ia ingin bicara dengan memberi kode menunggu.


"Jawabannya, aku di sini mengurusmu."


Pria itu tersenyum lebar. Selesai mengunyah, ia membuka mulutnya dan Noura kembali menyuapi pria itu. Ian tampak begitu bahagia.


------------+++------------


Noura kembali ke meja dengan memegangi perutnya.


"Kenapa Ra?" tanya teman wanitanya, Ajeng yang duduk di sampingnya.


"Ngak tahu. Sudah seminggu haid masih banyak aja."


"Ke dokter dong, barangkali perlu diperiksa."


"Ngak ah, malu. Kan cuma haid aja."


"Tapi bahaya, Ra. Kalau terlalu lama itu namanya pendarahan."


"Ya sudah lihat besok deh!"


Ryan yang duduk tak jauh dari situ sempat menguping pembicaraan. Ia sedikit khawatir.


---------+++--------


Ian berbaring dan menatap istrinya di atas tempat tidur. "Kamu belum selesai juga?"


"Belum. Maaf, Sayang."


Pria itu menyentuh hidung bangir istrinya. "Biar aku memelukmu saja malam ini. Mmh?"


"Tidak apa-apa walaupun yang dibawah sana sudah ingin berdebat karena belum juga bertemu jodohnya."


Noura tertawa kecil.


"Bagaimana kalau kau ke dokter saja? Ini sudah hampir sepuluh hari kamu belum selesai juga."


"Sudah mulai berkurang kok, Bang."


"Benarkah? Ya sudah, Abang tunggu."


"Mmh."


"Eh, Sabtu ini, apa kita menonton lagi?"


"Abang mau ke tempat lain?" Noura menengadah.


"Di internet ada film baru, bagus kelihatannya."


"Abang, mau nonton?"


"Ayo!"


"Ok."


Terdiam sebentar, pria itu kembali bicara. "Aku sudah ingin cepat-cepat punya anak darimu."


Noura tersenyum dan kembali menengadah menatap kedua bola mata pria bule yang berwarna biru muda itu. "Kita nikmati yang ada saja. Untuk apa memaksakan diri kalau Tuhan belum memberi."


"Mmh, benar juga. Kau selalu bijak, Sayang." Pria itu menyatukan kening mereka dan mengecup pipi istrinya. "Ya sudah, kita langsung tidur saja ya?"


"Mmh."


Pria itu merapatkan selimut dan mulai tidur sambil mendekap istrinya mesra.


------------+++-----------


Vika sudah berjalan berputar-putar mengelilingi Mal itu, tapi ia tak punya tujuan. Hatinya resah bukan kepalang.


Sudah berhari-hari ia tak nyaman berada di rumah bersama suaminya. Setiap kali ia harus marah-marah karena suaminya tak kunjung memberi penjelasan kenapa uang bulanannya dipotong dan ada apa dengan perusahaan sang suami.


Ia sudah merasa perusahaan suaminya sedang bermasalah tapi ia sangat takut bila perusahaan suaminya benar-benar bangkrut.


Ia memasuki bioskop. Seperti hari kemarin, ia akan memilih menonton film perang atau action hero dan kemudian menangis diam-diam saat film diputar.


Ia seorang Vika. Tak ada yang boleh melihat ia menangis karena ia seorang wanita yang kuat.


Wanita itu terkejut ketika menemukan Ian duduk sendirian di sebuah kursi panjang di salah satu sudut ruangan. Pasti ada Noura di sekitar sini. Di mana dia?


Vika menangkap sosok Noura yang sedang sibuk membeli popcorn dan minuman di bagian penjualan makanan. Wanita itu tersenyum lebar. Akhirnya kesempatan untuk balas dendam itu datang juga.


Bagus! Tunggu saat dia menoleh, aku akan mendatangi suaminya. Ingat Noura, aku TAKKAN RELA KAU BAHAGIA DI SAAT AKU JATUH. Ingat itu Noura, ingat itu!


Noura selesai belanja dan membalikkan tubuhnya ke belakang. Di saat itulah, Vika bergegas mendatangi Ian. Saat hampir dekat, Ian melihat Vika.


"Kamu?"


"Kamu masih menyukaiku 'kan?"


"Apa?"


"Jangan munafik Ian. Setelah putus dariku, kau tak bahagia 'kan? Karena itulah kau mendekati Noura, kembaranku. Benar 'kan? Karena dia mirip denganku?"


Pria itu beranjak berdiri dan mengacungkan jarinya. "Hei, jaga mulutmu. Kita putus waktu itu ...."


"Apa ...." Noura berdiri di hadapan keduanya. "Kalian pernah pacaran?" wanita itu terlihat syok.


"Noura, apa suamimu tidak pernah cerita padamu kalau kami pernah pacaran? Saat kami putus, ia memohon-mohon padaku untuk kembali." Vika dengan hasutannya.


Kedua wanita kembar itu kini menatap pria itu. Vika menatapnya dengan menyeringai licik sedang Noura menatapnya karena butuh penjelasan.


Ian diposisi sulit karena Vika bisa setiap saat tiba-tiba membalikkan keadaan, sedang masalah yang ingin diceritakan juga masalah yang sangat sensitif. Salah-salah ia bisa kehilangan istrinya kembali. "Noura, dengar dulu. Aku bisa jelas—"


"Apa? Katakan apa?!!" potong Noura dengan sorot mata nanar menatap ke arah suaminya. Matanya mulai berkaca-kaca.


"I-itu semua ...."


"Benar 'kan?" Sebutir air mata wanita itu kini jatuh.


"Noura ...."


Noura menjatuhkan belanjaannya ke lantai. Ia berlari keluar.


"Noura!"


Saat itu banyak orang yang menyaksikan kejadian itu karena bioskop hampir padat dengan pengunjung, tapi Ian tak peduli. Ingin rasanya ia mencekik wanita yang kini berada di hadapan tapi ia berusaha menahan kedua tangan dengan mengepal erat.


"Egh ..!! Dia itu istriku! Dia itu saudara kembarmu! Kenapa kau tega melakukan itu padanya, mmh! Wanita macam apa kamu itu, hah?!! Sakit!!!" Ian mengetuk keningnya sendiri dengan kasar sebagai penekanan karena ia sangat marah. Matanya hampir menangis karena tidak menyangka Vika akan menusuknya dari belakang seperti ini.


Ian menutup mata. Bodohnya aku. Harusnya aku mengejar Noura. Segera ia membuka mata dan berlari ke arah mana istrinya pergi tadi.


Tinggal Vika sendiri di situ tersenyum tapi hatinya sakit. Membuat kedua orang itu tercerai-berai ternyata tidak membuat hatinya semakin membaik tapi malah semakin hancur berkeping-keping. Ia kini merasa kesepian. Butir air matanya deras membasahi pipi saat ia berusaha tersenyum.


_____________________________________________


Halo reader. Masih semangat baca kan? Jangan lupa vitamin untuk author ya? Like, vote, komen dan hadiah. Ini visual Ian yang makin pusing menghadapi masalahnya yang tak kunjung usai. Salam, ingflorađź’‹