
"Besok kita ke Belanda."
"Iya, Bang. Kita mau lihat apa di sana?" tanya Noura pada suaminya.
"Tidak ada. Aku ingin lihat kotanya saja."
Noura melirik suaminya dan tertawa. "Masa begitu? Pergi itu harus ada tujuannya."
"'Kan kita liburan? Ke mana saja, tak ada tujuan 'kan tidak apa-apa?"
"Ya tidak apa-apa sih, Bang, tapi sebaiknya terarah karena uang tidak terbuang percuma."
"Selama ini aku tidak tahu bagaimana menghabiskan uangku. Selain dapat dari perusahaan Daddy, aku juga bekerja, tapi sejauh ini aku tidak pernah menggunakan uangku secara berlebihan karena itu uangnya makin menumpuk. Baru kali ini bersamamu, aku bisa menikmati hidup sambil menikmati uang itu."
"Iya, tapi menggunakan uang sebaiknya jangan digunakan secara sembarangan. Segala sesuatu yang kau dapat dan kau pergunakan itu dihisab, Bang. Jadi gunakan dengan teliti. Lihat orang-orang di luar sana. Mereka banyak yang mencari uang dengan susah payah, bahkan untuk sesuap nasi. Kita yang berlebihan juga harus bisa mensyukuri apa yang kita punya juga menghargainya."
Pria itu diam dan sedikit merengut. "Kita 'kan bulan madu. Tidak bisakah kita memilih tanpa berpikir?"
Noura menangkup wajah suaminya yang sedang bersandar di kepala tempat tidur. Ia mengusapnya pelan merasakan rambut-rambut halus di sekitar rahang itu. "Boleh saja, Sayang, tapi alangkah baiknya lagi kita punya tempat-tempat pergi yang spesial yang tidak akan mungkin kita lupakan saat kita tua nanti."
"Ke mana itu?"
"Entahlah, kau ingin ke mana?"
Pria itu terdiam sejenak, kemudian menatap istrinya. "Otak ini harus disegarkan."
"Caranya?"
Pria tampan itu segera meraih tubuh istrinya. "Aku ingin tidur dulu dengan istriku."
Noura tertawa pelan.
-----------+++-----------
Dan tujuan berikutnya adalah Belanda. Begitulah akhirnya, Noura mengikuti permintaan sang nahkoda kapalnya.
Mereka sedang berjalan bergandengan di sebuah daerah pertokoan yang sedang ramai. Bukan tempat mewah tetapi dipenuhi banyak pengunjung termasuk orang asing yang mencari suvernir murah di sini.
Noura dan Ian hanya melihat-lihat saja.
"Kenapa sih, kamu tetap datang ke sini? Ada yang menarik yang perlu kau lihat?"
Pria itu melirik istrinya dan tersenyum. "Nanti kalau aku bilang kenangan mantan, kamu marah."
Noura tersenyum kecil.
"Enggak sih. Esensinya bukan ke mana tapi dengan siapa. Aku sih, tidak begitu penting pergi ke mana tapi dengan siapanya itu, karena bila pergi ke tempat mewah, atau ke tempat hiburan termahal sekali pun, kalau tak ada kamu, percuma. Aku tetap tidak bisa menikmatinya."
"Kau berlebihan, Bang, memujiku," ucap wanita itu malu.
"Kau segalanya untukku, Noura." Ian berhenti melangkah.
"Nanti Tuhan cemburu. Yang harus dicintai adalah Allah bukan mahklukNya."
Ian mendekat dan menangkup wajah istrinya sambil menatap bola mata bening itu. "Noura, ketaatanmu pada Allah membuatku makin sayang padamu." Pria itu mengecup kening istrinya. "Semoga doa-doa kita dikabulkan oleh Allah ya?"
"Bang." Wajah wanita itu sudah memerah. "Ini tempat umum, Bang. Jangan bermesraan di tengah jalan," ujarnya malu.
Pria itu tertawa geli.
Mereka kemudian makan di sebuah restoran siap saji, dan setelah itu kembali ke hotel.
"Noura kenapa makanmu tidak banyak? Aku khawatir kamu sakit lagi. Cobalah makan sedikit banyak. Aku membawamu ke sini karena kamu bisa beristirahat."
Noura yang sedang melipat mukenanya hanya diam.
"Apa perutmu masih sakit?"
"Tidak."
"Tapi kenapa makannya masih sedikit? Apa kamu tidak selera dengan makanan di sini?"
"Aku memang makannya segitu."
"Coba tambah lebih banyak lagi dari biasanya biar aku tak khawatir padamu."
"Aku heran. Biasanya pria suka wanita yang bertubuh kurus." Noura mempertanyakan.
"Tapi kamu terlalu kurus, tidak enak dipeluknya."
Noura memukul pangkal paha suaminya dengan mesra. "Ih, Abang, ada-ada saja."
Ian terbahak.
Demi kesehatan istrinya, mereka tidak pulang walaupun sudah lewat seminggu di luar negeri.
"Besok kita pulang, Bang?"
"Besok kita ke Thailand," terang Ian.
"Tidak apa-apa. Kalau dipecat, lamar lagi di tempat lain."
Noura merengut kesal. Ia mencubit pipi suaminya.
"Aduuh, kenapa memangnya? Kamu 'kan pergi sama suamimu, bukan diculik, kenapa pusing sih?" Pria itu menatap istrinya sambil mengusap-usap pipinya yang kemerahan dicubit wanita itu.
"Abang kalau jawab suka semau-maunya," protes Noura yang masih merengut.
Ian menghela napas. "Atau begini saja. Kau naikkan sedikit berat badanmu, baru kita pulang."
Noura menautkan alisnya.
"Deal(sepakat) gak?" Ian menyodorkan tangannya.
Wanita itu terdiam sejenak. Perlahan ia menyambut tangan suaminya. "Deal."
Awal-awalnya wanita itu kesulitan makan banyak, karena setelah itu ia muntah di toilet. "Udah, Bang. Aku gak bisa sepertinya."
Pria itu menghela napas panjang.
-------------+++----------
"Kita sudah ke Thailand. Setelah itu kita pulang ya?"
"Tidak, berat badanmu belum bertambah."
Noura merengut. "Bang ...." Ia menepuk bahu suaminya kesal. "Aku rindu rumah, Bang. Aku rindu Ibu dan Ayah," rengeknya.
"Kan kamu sudah janji, setelah berat badanmu naik, kita pulang."
"Tapi ini sudah 3 minggu, Bang, kita gak pulang-pulang. Aku cuma bisa telepon Ibu, Bang, kalau kangen. Sampai Ibu tanya kenapa lama sekali aku bulan madunya."
"Orang tuamu pasti maklum, kamu pergi denganku."
"Mmh!" Wanita itu menggulung bibir bawahnya.
"Eh, begini saja. Besok, kita ke Amerika. Kita ke tempat orang tuaku," bujuk pria itu.
"Ngak mau ah, aku sudah bosaaan!" Noura menghentak-hentakkan kakinya saat duduk di atas tempat tidur.
"Ya sudah. Ini yang terakhir ya?"
Kekesalan Noura terlihat reda. Ia menatap suaminya dengan masih merengut.
"Biar aku telepon dulu. Mudah-mudahan Daddy ada di tempat." Ian mengambil handphone-nya yang berada di atas meja nakas dan menelepon. Ia beranjak dari tempat tidur. "Dad, how are you?(Ayah, apa kabarmu)." Pria itu bergerak menjauh dan berbicara di telepon. Sesaat ia melirik istrinya ketika menelepon.
"Yeah, ok. Ok." Ia menutup teleponnya dan kembali pada Noura. "Sayang, Ayah tidak di Amerika. Ia sedang di luar negeri."
"Jadi gimana? Kita pulang saja ya?" bujuk istrinya.
"Mmh." Pria itu menatap istrinya. "Kita di sini dulu sebentar ya?"
Noura kembali mengerucut mulutnya.
"Oh, sebentar. Aku mau ke kamar mandi dulu." Ian meletakkan HP-nya di atas meja nakas dan langsung ke kamar mandi. Tak lama, HP itu berbunyi, telepon masuk.
Noura hendak memanggil suaminya tapi kemudian ia sadar akan posisinya. Aku 'kan istrinya. Boleh 'kan angkat telepon suami?
Namun Noura kaget ketika melihat foto yang ada dilayar handphone ketika berbunyi. Foto seorang wanita yang sedikit menunduk dipeluk oleh suaminya. Keduanya terlihat sedang tertawa.
Siapa wanita ini? Ada hubungan apa dengan suamiku?
Karena terlalu lama tak diangkat, bunyi handphone itu pun terhenti. Tak lama sebuah pesan masuk. Noura yang penasaran membukanya. "Honey, I miss you. You're in Bangkok, right?(Sayang, aku merindukanmu. Kamu di Bangkok ya?)"
Noura tersentak kaget.
_________________________________________
Halo reader, masih ngintipin novel ini kan? Jangan lupa kasih semangat author dengan vote, like, komen atau hadiah. Ini visual foto yang dilihat Noura di HP suaminya. Salam, ingflora 💋
Ayo, intip novel yang satu ini. Bagus kayaknya.
Ini adalah kisah dari anak-anak Rian dan Ayla. Bagi yang belum tau kisah mereka, boleh mampir di novel Tidak ada cinta dari suamiku.
Salsabila Erlangga. Gadis cantik berumur delapan belas tahun, yang selalu dijadikan princes oleh keluarga besarnya. Harus menerima pernikahan dengan seorang laki-laki bernama Kenzo yang sudah berumur dua puluh dua tahun. Mereka berdua menikah karena di jebak oleh seseorang.
Kenzo merupakan musuh kakak kembarnya yang bernama Arsyaka Ardian Erlangga. Lalu bisakah Kenzo dan Arsya berdamai, untuk Salsa?
Siapa yang akan Salsa pilih, kakak tersayang atau suaminya?
Apakah Salsa akan bahagia dengan pernikahannya? Mungkinkah mereka bisa saling mencintai seperti pernikahan Rian dan Ayla.
Yuk simak kisah cinta princes Erlangga.🤗