CEO And The Twins

CEO And The Twins
Inikah Cinta?



Ian tak sabar. Dengan merapatkan gigi geraham dan derap langkah pasti, ia mendatangi keduanya dengan menerobos keramaian.


Istrinya Noura, tengah duduk di samping sebuah meja di tempat terbuka berhadapan dengan pria itu. Mereka sedang makan dan mengobrol seraya tertawa bersama.


"Apa yang tengah kalian lakukan di jam-jam segini berdua, hah?" ucap Ian yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka.


"Abang?" Noura terkejut.


Demikian pula Ryan. Ia berdiri. "Oh, maaf Pak tapi kami sedang tugas kantor—"


"Tugas kantor katamu?!! Kamu pikir aku buta apa?" potong Ian. Ia terus mendekati pria itu dengan wajah garang.


Tiba-tiba Noura berdiri di antara mereka untuk menghentikan suaminya. "Bang, lihat!" Noura menunjuk pada kursi di samping Ryan. Ada tumpukan plastik belanja yang meninggi. "Kami disuruh kantor untuk berbelanja alat kebutuhan kantor. Ini biasa dilakukan tiap awal bulan dan kebetulan untuk bulan ini kami yang mendapat gilirannya," terang Noura.


"... oh." Ian serasa mati kutu karena tidak bisa menjatuhkan mereka berdua tapi ia tetap menyangka keakraban mereka berlebihan sehingga mencari cara untuk mengetahuinya. Ia melirik ke arah jam tangan. "Tapi kenapa jam segini kalian masih berkeliaran di sini?"


"Ini kan jam makan siang."


"Jam makan siangnya SUDAH HAMPIR SELESAI," ucap Ian geram.


"Ok, ok, ok. Maafkan kami Pak. Kami akan segera kembali." Kini Ryan yang berusaha berada di tengah suami istri itu agak tidak terjadi pertengkaran di antara keduanya gara-gara dirinya.


"Kata siapa kamu boleh bawa istriku?"


"Apa?" Ryan tercekat.


"Kau bisa membawa sendiri 'kan, barang-barang belanjaan kantor?"


"Eh, iya."


"Nah, kalau begitu, Noura akan izin pulang karena sudah dijemput oleh suaminya. Katakan itu pada bosmu." Pria itu langsung menarik tangan istrinya.


"Bang!"


Namun protes Noura tak diindahkan. Ian terus membawa istrinya pergi sedang Ryan hanya menggaruk-garuk kepalanya melihat tingkah suami Noura.


Di mobil, "Bang."


"Kenapa? Kau ingin kembali padanya?" ledek Ian.


"Kamu bicara apa sih Bang? Aku mau kembali ke tempat kerjaku!" pinta wanita itu kesal. Ia tak habis pikir kenapa tiba-tiba suaminya membawanya pulang.


"Jangan membantah. Ikuti saja yang aku minta."


"Tapi ini sudah keterlaluan. Katamu, kita hidup sendiri-sendiri saja, tapi nyatanya kini kau malah menyusahkanku."


"Lalu, apa kau tidak menyusahkanku juga kemarin?" Ian berusaha fokus menyetir walaupun sebal, Noura mulai mempertanyakan niat baiknya.


"Aku 'kan tidak memaksamu untuk membantuku menyambut keluargaku kemarin. Kau 'kan bisa beralasan ketemu klien di luar, jadi tidak usah bersamaku terus-terusan."


"Lalu orang akan berpikir, aku menantu macam apa?"


"Kenapa kamu sibuk memikirkan pendapat orang lain, Bang? Lalu bagaimana dengan dirimu yang mempermainkan pernikahan kita? Pernikahan itu cuma sekali dan—"


"Sudah, jangan mengajariku!!!" teriak Ian keras. Setiap pria itu mendengar istrinya membahas soal pernikahan, kepalanya buntu. Ada sebentuk rasa bersalah saat mengingatnya tapi demi tujuan balas dendamnya ia berusaha tetap abai.


"Bang, menikah itu berjanji pada Allah—"


Kittt ... Buk!!


Tiba-tiba mobil berhenti mendadak membuat kepala Noura terantuk di kaca depan. "Aduh!"


"Bisa diam tidak, atau menyetir mobilku bisa menggila," ancam Ian dengan amarah yang berusaha ditahan. Ia berusaha merapatkan geraham agar amarahnya tidak meledak.


Noura hanya bisa diam. Ketika mobil mulai dijalankan, wanita itu hanya bisa memandang keluar lewat kaca jendela mobil di sampingnya. Perlahan tapi pasti, mata wanita itu mulai berkaca-kaca.


Noura melepas kacamata dan membersihkannya dengan menyeka pada ujung kemeja. Saat itu juga ia melihat tetesan air matanya masih jatuh bahkan pada kacamatanya.


Ian mulai memperhatikan Noura ketika wanita itu melepas kacamatanya. Ia menyadari istrinya tengah menangis. Hatinya bimbang. Sampai kapan ia bisa bertahan seperti ini.


Melihat istrinya menangis saja sebenarnya ia tidak tega tapi di sisi lain ia selalu yakin Noura dan Vika bersekongkol ingin menjatuhkannya, mentertawakannya di suatu tempat saat ia tidak tahu bahwa dirinya telah terperangkap dalam cinta wanita kembar. Ia membiarkan dirinya masuk perangkap tapi dirinya tidak sadar bahwa ada cinta yang benar-benar tulus tumbuh di antara permainan hati ini.


Mobil memasuki pintu gerbang rumahnya yang dibukakan oleh satpam rumah. Ian segera memarkir mobilnya di depan pintu utama. "Sudah jangan cengeng! Kau mau semua pegawaiku tahu, kau sedang menangis?!" Ian mengomel seraya membuka seatbelt.


Tahulah Noura bahwa suaminya sedari tadi mengetahui dirinya menangis. Wanita itu mengambil beberapa lembar tisu dan membersihkan air matanya. Ia kemudian mengikuti suaminya turun. Baru saja ia menutup pintu, suaminya sudah menarik lengannya dan membawanya masuk ke dalam rumah, menaiki tangga hingga masuk ke dalam kamar. Pria itu lalu mengunci pintu. Entah, komentar pedas apalagi yang akan pria itu lontarkan pada Noura, wanita pasrah.


"Seberapa dekat kamu dengan teman laki-lakimu itu?"


Apalagi ini? "Ryan?" tanya Noura memastikan.


"Memang kamu pikir siapa lagi? Namanya Ryan 'kan? Memangnya ada orang lain lagi selain dia?" Sorot mata Ian semakin tajam. "Kau memang suka bermanis wajah pada banyak pria ya? Pada Ryan dan pada siapa lagi di kantormu?" Rentetan interogasi yang mirip tuduhan meluncur mulus dari mulut pria itu.


Namun kalimat itu begitu sangat menyakitkan di telinga Noura seakan-akan ia senang bermain-main dengan banyak pria padahal ia tengah berusaha mengubah pandangan banyak orang bahwa orang-orang yang bekerja di departemen Keuangan tidak identik dengan wajah menyebalkan dan kini suaminya tiba-tiba menuduhnya hanya berwajah manis pada banyak pria? Dari mana ia dapat kesimpulan itu padahal Ian tidak pernah melihat lingkungan kerjanya sekali pun.


Noura hanya mampu terperangah.


"Kenapa tidak menjawab?" Ian mengerut kening.


"Bang, hari ini untuk pertama kalinya pergi dan mengobrol dengan Ryan. Biasanya dia tidak banyak bicara tapi saat pergi dengannya, hari ini, dia ternyata tidak sependiam itu." Wanita itu coba menerangkan.


Namun pernyataan itu membuat Ian kesal. Ia mendadak menarik lengan istrinya hingga mereka benar-benar dekat. "Oh, jadi selama ini kau memperhatikannya ya?" Matanya menyorot tajam pada wajah istrinya.


"Eh, bukan gitu." Wanita itu jadi serba salah. "Aku tidak begitu!"


"Bohong!"


Noura berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan Ian pada lengannya yang mulai menyakitinya. "Bang."


"Buktikan!"


"Apa?"


"Buktikan kau tak tertarik pada laki-laki lain."


"Apa maksudmu?" Noura kian tak mengerti.


Kini Noura ditarik ke tempat tidur.


"Kau mau apa?" tanya wanita itu makin terheran-heran.


Pria itu langsung menempelkan mulutnya pada bibir wanita itu yang membuat wanita itu terkejut seketika. Pria itu begitu menghayatinya hingga Noura tak tahu harus berbuat apa. Suaminya bahkan menekan kepalanya ke arah pria itu agar lidahnya bisa menjelajah lebih jauh tapi tiba-tiba ia berhenti karena melihat tubuh istrinya yang tetap tegang.


"Apa? Kau menginginkannya atau tidak?"


Pertanyaan itu malah terdengar aneh oleh Noura. "Kau ...." Wanita itu menatap suaminya dengan heran.


"Jadi benar, kau tertarik dengan pria lain?"


"Bukan itu maksudku."


Ian menghela napas. Ia sendiri berharap sedang mabuk dan tidak tahu apa yang sedang ia lakukan tapi kenyataannya ia melakukannya secara sadar.


Pria itu menatap istrinya sekali lagi. Ia kemudian melepaskan kacamata istrinya itu. "Bagaimana kalau begini? Kau bisa melihatku dengan jelas?"


"Tidak begitu."


"Bagus!" Ian menarik istrinya naik ke atas tempat tidur dengan kembali menyatukan bibir mereka.