CEO And The Twins

CEO And The Twins
Wanita



Ibu membungkuk dan meraih tubuh Noura dan memeluknya. "Jangan sakit-sakit lagi ya, Nak."


Ayah menarik Ian dan duduk di sofa. "Kau bisa bantu Deni dan Vika? Mereka Ayah dengar sedang bertengkar hebat hingga Vika kini tinggal di rumah."


Ian melirik Noura yang ternyata juga mendengarkan. "Eh ...."


"Eh, kau masih repot mengurus Noura ya? Maaf, Ayah jadi merepotkan. Ya sudah, urus Noura saja sampai ia sembuh kembali."


Ian tersenyum. "Rencananya kami mau bulan madu, ke beberapa tempat di luar negeri. Doakan saja Noura cepat sembuh."


"Mmh, pasti."


Ibu mendengar dengan suka cita. Ia kembali mengusap kepala anaknya. "Akhirnya kalian bisa bulan madu juga, ya Sayang ya?" Ia mengusap lembut kening Noura.


"Mmh," sahut wanita itu pelan.


Tak lama kedua orang tua Noura pamit. Ian mengantar sampai ke pintu kamar.


"Jaga Noura baik-baik ya?" ucap Ayah sebelum pergi.


"Iya, Yah," jawab Ian sambil mengangguk.


Masih tampak kesedihan di wajah Ayah Noura ketika pergi. Tentu saja, ia tak sepenuhnya senang saat salah satu anaknya sedang berada di rumah sakit, tapi anaknya yang satu lagi juga sedang bermasalah sedikit rumit dengan suaminya. Kedua-duanya kini jadi kekhawatirannya.


Ibu meraih satu tangan ayah dan menggenggamnya. "Sudah, Yah. Kedua anak kita sedang belajar berumah tangga. Biarkan mereka dewasa dengan masalah mereka sendiri. Kita sebagai orang tua hanya bisa mendorong mereka ke arah yang lebih baik."


"Aku hanya khawatir ada yang salah jalan."


Ibu menggenggam tangan ayah lebih erat. "Tidak mungkin, anak kita 'kan cerdik-cerdik, Yah."


"Mmh, kau benar." Pria itu tersenyum dan meraih tangan istrinya sambil menepuk-nepuk punggung tangannya. "Kau benar," ulang pria itu lagi.


Sementara Ian duduk di tepi tempat tidur istrinya dan sedang bercakap-cakap dengannya. "Jadi, nanti kita akan ke mana, Sayang?"


"Mmh ... ke mana ya?" Wanita itu tersenyum melihat suaminya. "Aku mungkin masih lama pulihnya, kau sudah membicarakan ini."


"Tidak apa-apa 'kan berencana. Malah lebih bagus agar kita tidak kehabisan tiket dan hotel menginap. Ayo, Sayang, kau mau ke mana?" desak Ian pada istrinya.


"Ke mana saja aku ikut, tapi sekarang aku 'kan juga habis perjalanan jauh, jadi lebih suka tinggal di rumah."


Ian mencondongkan tubuhnya ke depan, dan mengurung tubuh istrinya dengan kedua tangan kokohnya di sisi. "Mmh, kamu rindu rumah ya? Kamu tidak rindu aku?" Ia mendekatkan wajah mereka.


Noura tersenyum malu. "Kamu ada-ada saja. Tentu saja aku rindu suamiku. Sudah sebulan lebih tidak bertemu." Ia menakup wajah suaminya dan merasakan bulu-bulu halus yang menghiasi rahang kokoh pria itu. Ia mengusapnya pelan.


Wajah itu, selalu membuatnya sendu sekaligus rindu. Berjuta perasaan mengharu-biru setiap kali bertemu pria itu. Walaupun ia kadang menyebalkan, Noura bersyukur wajah tampan itulah yang halal diberikan Allah untuknya. "Kenapa kamu tidak membantu Ayah?"


"Menolong Vika? Noura, kamu ini, benar-benar aneh." Ian menjatuhkan dirinya di samping istrinya. "Kalau aku dekat-dekat saudara kembarmu, kau marah, tapi kalau aku tidak membantunya, kau malah mempertanyakannya." Ian terlihat kesal. Pria itu kini memiringkan tubuhnya menghadap istrinya. "Noura, aku dengan Vika itu ...."


"Aku tidak mau dengar."


Ian menatap istrinya dengan wajah heran. "Wanita itu aneh, selalu membuat pria serba salah."


Noura tersenyum di wajah pucatnya.


"Kau itu sebenarnya ingin mendengar masa laluku dengan Vika atau tidak? Aku akan jujur padamu," tanya pria itu penasaran.


"Sebenarnya sedikit penasaran tapi tidak. Sebaiknya tidak saja."


Ian memperhatikan kedua bola mata wanita itu yang berwarna coklat tua yang telah berhasil mengaduk-aduk hatinya. Kenapa wanita ini selalu saja membuat ia penasaran.


"Kamu ini ... gemes aku, sama kamu, lama-lama." Pria itu mengecup pipi istrinya dan memeluknya.


Noura tersenyum bahagia.


"Oh, aku ingin ke kamar mandi." Wanita itu meminta dengan tiba-tiba.


"Oh, iya, Sayang." Ian segera turun dari tempat tidur. "Mau kugendong?" Ia membuka selimut istrinya.


"Tidak, aku bisa sendiri." Noura mencoba menggeser turun tapi merasakan nyeri di bagian bawah perutnya hingga ia harus menahan rasa ngilu dengan memicingkan mata. "Ah!"


"Tuh 'kan. Ya sudah, abang gendong saja." Ian langsung meraih tubuh istrinya, menggendong dan membawanya ke kamar mandi.


Noura harus berpegang erat-erat pada leher suaminya karena pria itu melakukannya dengan cepat.


------------+++-----------


"Vika. Kasihan, Nak. Suamimu. Ia sudah menunggumu dari tadi di bawah," bujuk ibu pada Vika yang masih duduk di atas tempat tidurnya.


"Biarkan saja, Bu. Vika pokoknya gak mau turun!" Vika tetap bersikukuh.


"Pokoknya Vika gak mau pulang!" rungut wanita itu.


Ibu menghela napas panjang dan kemudian meninggalkan Vika sendirian di kamarnya.


Masih terngiang bagaimana kesalnya Vika pada suaminya yang sudah membuat hidupnya sengsara, kini malah membuat ulah baru. Tiba-tiba saja, suaminya yang penurut dan lembut tutur katanya itu, berubah menjadi seorang yang rewel dan pengatur. Ia yang melihat perubahan ini tentu saja protes.


Di lantai satu, Deni mendengar dari ibu kalau Vika tidak mau turun menemuinya.


"Maaf lho Nak Deni. Vikanya ngambek ngak mau turun."


"Boleh aku ke atas, Bu. Menemui Vika?"


Ibu sedikit terkejut. "Eh, ya sudah, silahkan saja."


Pria itu kemudian menaiki tangga. Ia mengetuk kamar Vika. "Vika, aku masuk ya?"


Vika terlihat masih terduduk di atas tempat tidur ketika Deni masuk. Ia melengos seketika saat melihat suaminya datang.


Pria itu mendekati tempat tidur dengan kedua tangan berada di dalam kantong celana depan. Ia sedikit bingung memulai. "Mmh, sebaiknya kau pulang, jangan menyusahkan orang tua." Kepalanya sedikit dimiringkan.


"Aku tidak mau!" Mulut wanita itu dikerucutkan dan mata disipitkan, sinis. Ia ingin tahu sampai di mana suaminya akan tahan kalau ia ngambek seperti ini.


Yang lalu, suaminya selalu mengalah, mengatakan yang baik-baik dan melakukan yang baik-baik padanya, tapi melihat suaminya kemarin marah, ia meradang. Ia ingin suaminya tahu, bahwa merugilah dirinya yang berani membuat masalah dengan istri cantiknya itu.


"Vika, kau sudah dewasa. Sudah bukan waktunya kau lari dan sembunyi bila ada masalah. Kau harus menghadapi dengan pikiran sebagai orang dewasa."


"Apa sih yang Mas katakan. Yang kau lakukan sudah melewati batas. Aku tidak suka cara kamu membatasi ruang gerakku."


"Lho, tapi 'kan itu benar. Kau tidak boleh lagi pergi sembarangan ke mana-mana tanpa tujuan. Jadilah ibu rumah tangga di rumah. Bagaimana kalau kita punya anak-anak nanti?"


"Hah, untuk apa berandai-andai. Aku kan masih belum punya anak? Kenapa membatasiku?"


"Karena kau seorang istri. Kau istriku."


"Ya, tapi kita 'kan masih belum punya anak?"


"Tapi aku tidak ingin kau keluyuran sampai tengah malam begitu. Pergi seperlunya saja atau sama aku."


"Hei, siapa yang betah tinggal di rumah dan tak punya uang?!!" teriak Vika kesal.


"Justru karena tak punya uang harusnya di rumah saja, jadi suami tak khawatir dan cemburu."


"Untuk apa menemani suami yang tak punya uang!" ledek Vika lagi.


"Jadi bener nih, kamu sudah tak mau denganku lagi? Ya sudah, kita cerai," jawab pria itu enteng.


Vika menoleh cepat. "Apa maksudnya itu?"


"Ya, kamu 'kan sudah tak mau denganku lagi. Kenapa tidak bercerai saja. Beres 'kan?"


Vika terperangah.


_____________________________________________


Halo reader, ketemu lagi dengan author di sini. Jangan lupa beri like, vote, komen atau hadiah buat penyemangat author. Ini visual Vika, si gadis cantik nan egois. Salam, ingflora 💋



Yuk kita intip punya author yang satu ini.



Kamu milikku mulai dari sekarang bahkan saat kakiku sudah 3," ucap seorang laki laki di depan perempuan yang selalu ia claim sebagai miliknya.


"Dih apaan, aku juga perempuan butuh yang namanya kepastian bukan seperti ini."


"Oke kamu butuh kepastian yang seperti apa? Mau aku lari lari di lapangan cuma buat kamu?"


"Ish gak boleh, nanti kamu banyak yang suka."


"I Love You."


Dua anak manusia yang memiliki sifat dan kepribadian yang beda kini disatukan dengan yang namanya status perjodohan yang akhirnya malah membuat mereka lengket tak mau pisah.


Dewi Arabella gadis berusia 18 tahun yang sangat blak blakan, ceria dan apa adanya, dia tak akan mau berbohong hanya untuk membuat orang bahagia.


Dewa Sanjaya Putra pria berusia 18 tahun yang memiliki sifat berbanding terbalik dengan Dewi. Dewa sangat tertutup dan dingin tapi jika sudah dengan Dewi sifat itu hilang entah kemana. Bahkan Dewa sangat manja dengan Dewi sejak perjodohan dilakukan.