CEO And The Twins

CEO And The Twins
Memulai Yang Baru



"Nah, yang ditunggu datang juga," sahut Ayah.


Vika yang datang dengan suaminya Deni, sekilas memandang Ian dan Noura sedikit sinis sedang Ian melirik istrinya yang terlihat serba salah menanggapi lirikan kembarannya itu.


Segera saja Ian mengalihkan perhatian istrinya dengan menyentuh lengannya. "Sayang, bisa ambilkan aku minum?"


"Oh, iya." Noura beranjak berdiri.


"Aduh, anak Ayah. Sini." Ayah merentangkan tangannya menunggu pelukan dari Vika.


Wanita itu menyambutnya. "Ayah." Ia memeluknya hangat.


"Eh, coba lihat kembaranmu, sekarang dia tambah cantik lho pakai kontak lens." Ayah memberitahu.


Vika melirik Noura yang baru kali ini disadarinya tanpa kacamata. Sedikit iri melihat kembarannya wajahnya terlihat lebih baik. Pakaiannya pun terlihat mulai memakai pakaian yang bermerek.


"Oh iya benar." Orang-orang di sana terkejut karena kini ada orang lain lagi yang ikut memuji Noura yaitu Deni, suami Vika. "Pertahankan penampilanmu, kau terlihat berkelas. Aduhh!"


Ternyata Vika kesal hingga mencubit lengan suaminya.


"Apa sih, Sayang? Cintaku padamu takkan berubah," goda pria itu pada istrinya.


Ian tersenyum dan yang lain tertawa melihat tingkah Vika yang mencubit suaminya.


"Gak boleh begitu dong Vika. Suamimu 'kan sebatas memberi semangat pada Noura," ujar Ayah pada Vika. "Kamu juga, beri semangat pada kembaranmu, karena semenjak menikah penampilannya jadi lebih keibuan. Tidak tomboi seperti dulu. Mudah-mudahan saja kalian bisa cepat punya anak."


Mendengar kalimat 'anak' membuat mulut Vika kembali mengerucut, seakan menyinggung ketidakmampuannya untuk mempunyai anak, padahal kedua suami istri itu dinyatakan sehat oleh dokter.


Noura merasa tak nyaman karena suasana terlihat mengangkat harkat dan martabat dirinya tapi mengesampingkan Vika. Ia takut di belakang hari, Vika kembali akan menyalahkannya.


Ian melihat kekhawatiran istrinya, segera ia mengambil tindakan. Ia langsung berdiri. "Eh, maaf kami tak bisa berlama-lama. Kami sudah janjian mau pergi. Jadi maaf, kami undur diri dulu." Ian menyatukan tangannya di depan wajah dan kemudian menggandeng istrinya.


"Eh, kita? " Noura terkejut tapi segera ikut dalam sandiwara suaminya dengan diam.


"Lho, gak makan siang di sini saja, sebentar lagi kan jamnya makan siang?" tanya Ayah.


"Maaf ya Yah, karena aku belum mengajak Noura bulan madu jadi mau ajak dia jalan-jalan dulu."


Ayah menoleh pada Noura yang hanya diam.


Ian mengeratkan genggamannya. "Kita mau nonton di bioskop, ya Sayang ya?" Ia menatap istrinya yang kemudian mengangguk menuruti sandiwaranya.


"Ya sudah, Ayah tidak mau ganggu lagi," ujar ayah sambil tersenyum.


Keduanya pamit, Ian dan Noura. Ian membawa mobilnya keluar dari halaman rumah itu.


"Kenapa kamu membawaku keluar dari rumah orang tuaku?" tanya wanita itu penasaran.


"Lho, bukankah kamu tidak nyaman dengan Vika?"


Noura terdiam sebentar. "Kasihan Ayah, sepertinya dia rindu ingin mengobrol dengan anak-anaknya."


"Demi Ayah kamu, kamu kesampingkan perasaan kamu sendiri? Noura, realistislah, kalau tidak nyaman kenapa harus berada di sana?"


Wanita itu melirik Ian.


Pria itu tahu maksud dari lirikan itu. "Noura, ini kasus berbeda. Pernikahan memang harus dipertahankan, sebisa mungkin agar kita tidak dibenci Allah."


"Bukankah dulu kamu menikahiku karena taruhan? Bukankah itu lebih dilaknat Allah daripada perceraian?"


Mempunyai istri cerdas membuatnya mengerti arti ego pria, tapi di situlah letak masalahnya. Ia menyadari bahwa ia sangat mencintai istrinya sehingga apapun fakta yang dikatakan istrinya harus secara cerdas pula ia membantahnya atau kalau tidak ia akan disebut egois. Kini ia memilih untuk mencari aman.


"Mmh ...." Pria itu merapikan rambutnya. "Aku harus mengakui bahwa aku kini tak bisa menolak pesonamu. Sebenarnya bukan aku yang menang tapi kamu. Kau membuatku bertekuk lutut mengharapkan cintamu." Pria itu berusaha menyanjung istrinya.


Noura mengerucutkan mulutnya sambil berucap pelan, "bohong pasti."


"Lho, benar aku tidak bohong."


Walaupun terlihat marah, pipi wanita itu bersemu merah. Ian bisa merasakan istrinya tidaklah benar-benar marah padanya hingga dia tersenyum.


"Eh, kita ke mana?" Noura menyadari mobil tidak berjalan ke arah rumah mereka.


"Kan aku sudah bilang, kita mau jalan-jalan."


"Kita mau ke mana?"


"Kemarin kan sudah? Aku tidak mau belanja-belanja lagi. Bosan."


"Lalu, kau mau ke mana? Pantai?"


"Pantai? Ah, jauh."


"Ah, tidak juga. Ayo, kita ke pantai." Ian mengganti haluannya menuju arah pantai.


Wanita itu melirik suaminya. Apa dia sudah mulai berubah? Haruskah aku percaya?


Mobil kemudian memasuki sebuah hotel di pinggir pantai.


"Kenapa kita ke sini?"


"Kita makan dulu ya, Sayang. Ini saja sudah terlambat setengah jam." Ian memarkirkan mobilnya di samping hotel.


Seusai sholat, mereka makan siang di restoran hotel. Setelahnya mereka jalan-jalan di pantai. Noura banyak diam sehingga suaminya bingung untuk mulai bicara.


"Kau tak suka ke sini?"


"Bajuku terlalu rapi. Dandananku juga berlebihan. Harusnya tadi kita pulang dulu," keluh wanita itu.


Ian tersenyum. "Aku pikir kau tak suka datang ke sini. Memangnya kenapa dengan dandananmu? Kamu cantik kok. Kau tak mau dibilang cantik?"


"Habis, kamu memaksaku berdandan seperti ini menyambut Ayah, tapi kalau ke pantai lain lagi, Bang. Harusnya dandannya tipis saja," gerutu wanita itu.


Ian malah tertawa. "Aku pikir semua wanita senang berdandan cantik seperti ini."


"Aku tidak terbiasa, Bang berdandan berlebihan seperti ini. Wajahku terasa aneh."


"Tapi aku malah makin cinta."


Pernyataan pria itu membuat pipi Noura memerah. Wanita itu melangkah mendului. Tiba-tiba sebuah bola menggelinding dan berhenti tepat di samping kaki Noura. Seorang anak kecil baru saja menendangnya dan kini berlari-lari ke arahnya.


Noura berhenti dan mengambil bola itu lalu di serahkan pada bocah cilik itu.


"Makacih Kak."


"Eh, kok 'Kak'? 'Tante'," ucap seorang wanita di belakang bocah itu.


"Tante," tiru bocah itu.


"Makasih ya Mbak," ucap wanita itu.


"Iya, gak apa-apa," jawab Noura.


Kedua ibu dan anak itu kemudian pergi.


"Noura." Tiba-tiba Ian meraih pinggang istrinya dan berbisik tepat di telinganya, "kita bikin anak yuk!"


Noura mengerut kening. Ia mendorong dada bidang suaminya agar menjauh, kemudian ia pergi meninggalkannya.


Pria itu hanya bisa garuk-garuk kepala. Namun ia tak menyerah. Ia mengajak istrinya nonton bioskop di Mal.


"Untuk apa? Kita pulang saja."


"Kamu, tidak ada film yang ingin kau tonton?"


"Film apa?"


"Tidak tahu. Kau tak ingin nonton? Coba cek di HP-mu, mungkin ada film bagus yang ingin kau tonton."


Sambil menggerutu, Noura membuka HP-nya. "Kenapa sih kita tidak pulang saja? Kan kita sudah jalan-jalan ke sini?"


"Lho, memangnya tidak boleh suamimu berduaan saja denganmu? Lagi pula kita kan belum bulan madu. Apa kita pergi saja Minggu depan?"


Noura melirik kesal. Ia belum sepenuhnya mempercayai pria itu. Kembali ia melihat HP-nya. "Eh, ada nih Bang. Film bagus."


____________________________________________


Hai reader. Author masih semangat menulis ditengah kesibukan. Jangan lupa penyemangat author, like, komen, vote dan hadiah. Ini visual Noura di pantai.