
Karena pemilik rumah masuk dapur, para pembantu kebingungan dan merasa enggan. Satu-satu dari mereka keluar menyisakan 2 orang pembantu yang berniat membantu mereka berdua, Noura dan Ian.
Ian memperhatikan Noura yang membuat adonan untuk membuat kulit pie. Saat Noura mengambil apel dari lemari es, Ian menawarkan diri untuk mengupasnya.
"Bolehkan?"
Noura menyerahkan bungkusan berisi apel itu pada suaminya.
Selagi suaminya mengupas apel, wanita itu menipiskan adonan itu dengan rol kayu. Ketika ia menyebar tepung ke adonan agar tak lengket, sebaran tepung yang mengudara mengenai wajahnya. Wanita itu reflek mundur sambil memejamkan mata. "Ah!"
"Oh, ada apa, Sayang?" Ian bergegas meletakkan apel dan pisau di atas meja, lalu menghampiri istrinya.
"Oh, sepertinya kontak lens-ku terlepas satu." Noura mengerjap-ngerjapkan mata lalu menunduk mencarinya. "Bagaimana ini? Aku kurang begitu lihat."
Ian mencuci tangan dan kembali mendatangi istrinya. Ia meraih kedua lengan wanita itu. "Mana coba lihat?"
Mereka saling berhadapan dan saling menatap.
Ian bisa melihat, satu mata istrinya bercahaya dan satunya lagi tidak. Pastilah yang tidak bercahaya itu tidak memakai kontak lens. "Sulit kalau sudah begini. Kita harus pelan-pelan mencarinya di bawah."
"Kalau begitu, aku pakai kacamata saja ya, Bang, karena aku tidak bisa lihat kalau begini," keluh Noura.
"Ya sudah, kalau begitu copot saja lagi yang satunya. Biar aku ambilkan kacamatamu di atas." Ian segera keluar dari dapur dan wanita itu segera mencuci tangan. Sebentar kemudian, pria itu sudah turun membawa kacamata istrinya. "Sudah kau copot kontak lens-nya?"
"Sudah."
Pria itu memasangkan kacamata itu pada wajah Noura. "Nanti aku akan belikan yang baru."
"Tidak usah."
"Kenapa?"
"Aku lebih nyaman pakai kacamata. Aku tidak peduli penampilanku tapi aku nyaman dengan yang ini."
"Kau tidak ingin dipuji cantik?"
"Carilah wanita yang sesuai keinginanmu." Wanita itu menjauh.
"Noura, bukan begitu maksudku ...." Ian menghela napas pelan.
Walau diabaikan, Ian terus mengekor istrinya dan membantunya memasak. Memasang kulit pie pada loyang, memasak apel dan apa-apa yang dikerjakannya membuat takjub Noura. Ian ternyata bisa memasak.
"Kamu bisa masak?"
"Mmh, dari kecil aku sudah tidak punya ibu. Daddy kalau ada waktu luang bersama kami, ia masak di rumah. Daddy pintar masak tapi kalau aku, 'no'. Hanya bisa membantunya saja." Ian tersenyum lebar.
Sebenarnya kalau dia mau, dia pasti bisa pintar masak tapi ... ah aku tak perlu memusingkan itu sekarang.
Setelah memasukkan apple pie dalam panggangan, Noura baru bisa bernapas lega.
"Sudah, Honey, sekarang kau mandi saja."
Noura melepas celemek dan mengikuti saran Ian. Setelah mandi, ia kembali turun dan pergi ke dapur.
"Apple pie-nya sudah jadi, Sayang. Ini sudah aku keluarkan. Baunya harum sekali, seperti dirimu," ujar suaminya saat menghirup tubuh wanita itu yang mendekat, menghampirinya.
Noura reflek mundur dan mengerut kening.
Pria itu tersenyum lebar. "Maaf, tapi aku selalu tergoda."
"Jangan dulu dibuka karena masih panas. Didinginkan dulu saja di sini. Nanti kita berangkat jam berapa?"
"Berangkat ke mana?"
"Lho, katanya mau piknik?
" Iya, benar, tapi aku tidak bilang keluar. Kita 'kan bisa piknik di taman belakang."
"Apa?"
"Aku lebih suka yang privasi. Tidak mengumbar ke orang lain saat kita berduaan."
"Berduaan?"
Wajah wanita itu mulai terlihat lega, walaupun sedikit tidak percaya.
"Kau cari saja tempat yang bagus di taman belakang dan pindahkan makanan ke sana dengan dibantu para pembantu kita. Sebentar lagi pizanya juga akan datang. Ok, aku mandi ya?" Ian kemudian pergi meninggalkan dapur.
Noura melihat peralatan dapur yang dipakainya tadi telah dicuci oleh para pembantunya. Ia pun kemudian pergi ke taman belakang untuk mencari tempat yang pas untuk piknik.
Seusai mandi, Ian kembali turun mencari istrinya yang ternyata tengah berada di taman belakang menyusun makanan di bawah sebuah pohon besar. Ia menyambanginya.
Cahaya matahari tidak begitu saja bisa masuk ke tempat itu karena pohon besar itu berdaun lebat sehingga membuat tempat itu terasa teduh.
"Nice place.(tempat yang bagus)"
"Mmh." Noura mengeluarkan piring dan sendok di atas sebuah alas dari kain. Ia juga menata kotak dus berisi piza yang baru datang, apple pie yang sudah dipotong-potong di atas sebuah piring dan sepiring buah anggur dan stroberi. Juga beberapa minuman kaleng dingin pesanan suaminya. "Sudah?"
"Sudah, Sayang. Aku saja sudah membawa sebuah buku untuk bersantai di hari Minggu ini. Apa kau tak ingin membawa buku bacaanmu ke sini, Sayang?"
Wanita itu melirik buku yang berada di tangan suaminya. "Mmh, iya." Noura pun berdiri. Ia lalu melangkah masuk ke dalam rumah.
Tak lama ia kembali. Dilihatnya suaminya tengah menikmati buah anggur sambil membaca buku.
Pria itu menengadah dan melihat aneh pada penampilan istrinya. Padahal wanita itu sudah memakai baju dress panjang tapi sepatu berpergiannya diganti dengan sepatu olahraga seraya memegangi sebuah buku. "Kenapa sepatumu diganti? Ah, ya. Kau lebih suka sepatu ini ya?" Ia menjawab sendiri pertanyaannya membuat Noura merengut.
Wanita itu duduk dengan kesal di atas alas kain itu, bersebrangan dengan suaminya.
"What?(apa)" Ian tidak mengerti sumber kekesalan istrinya.
"Tidak." Masih merengut seraya membuka buku.
"Nouraaa."
Wanita itu melirik dengan masih merengut.
"Aku 'kan bicara benar, kamu suka sepatu itu 'kan?"
"Dan terlihat aneh."
"Aku tidak bicara apa-apa, Noura."
"Dalam hatimu."
"Astaghfirullah alazim." Kenapa dia bisa tahu? "Noura, aku bahkan ingin membelikanmu lagi kalau sepatu olahraga itu memang sepatu favoritmu."
"Bohong," ucap wanita itu pelan.
"Iya."
Wajah sendu itu masih merengut.
"Noura." Pria itu berdiri dan mendekati istrinya yang terlihat tidak peduli dan sibuk membaca. Ia duduk di samping sang istri dan tiba-tiba membaringkan tubuhnya dengan meletakkan kepala di pangkuan wanita itu. Noura terkejut karena suaminya menatapnya dari pangkuan.
"Noura, aku akan membelikan apapun yang kamu suka, karena aku mencintaimu."
"Tidak perlu. Aku punya uang sendiri untuk membelinya," ujar wanita itu dengan nada marah yang dipendamnya. Ia mengalihkan pandangan.
Ian menyentuh pipi wanita itu. "Hei, kenapa kamu marah, aku pasti membelikannya untukmu karena kamu istriku."
"Untuk apa? Kamu 'kan tidak suka, apa-apa yang aku suka. Kacamata, lalu sepatu olahraga ini ...."
"Noura, apa masalahnya? 'Kan pada akhirnya aku membiarkanmu memilih yang kamu suka. Aku tidak mengekangmu. Silahkan saja kalau kamu menyukai barang-barang aneh lainnya yang mungkin tidak masuk dalam daftar hal-hal yang aku suka.
Itulah indahnya pernikahan. Walaupun kita tidak menyukai hal-hal yang sama tapi kita bisa bersama.
Noura, biarkan aku memanjakanmu. Kau bisa beli sepatu olahraga lainnya atau juga kacamata yang kau suka. Semua akan aku belikan untukmu, jangan khawatirkan itu. Sebab apa? Sebab kau istriku. Aku sayang padamu, Noura." Pria itu mengelus pipi mulus istrinya.
Mulut wanita itu masih mengerucut kesal, tapi dari kedua bola mata wanita itu mengisyaratkan ada secercah cahaya terang yang mulai menyinari hatinya, secerah udara siang itu.
___________________________________________
Masih semangat membaca 'kan? Jangan lupa vitamin author ya? Like, komen, vote dan hadiah. Ini visual Noura sedang piknik di taman belakang rumahnya. Salam, ingflora💋